
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00, Velyn kini sudah bersiap untuk mengemasi barang-barangnya. Semenjak pertengkarannya dengan Valdo tadi, pria itu pergi entah kemana dan tanpa berpamitan.
Velyn tidak ingin berharap lebih, ia juga tidak perduli Valdo akan menjemputnya atau tidak. Kenyataannya ketika ia berada di ruangan ini selama tiga hari Valdo juga sering meninggalkannya. Dan Velyn sudah terbiasa.
Ketika semua perlengkapan gadis itu sudah ia susun dengan rapi kini ia melangkah keluar dari ruangan yang tiga hari tiga malam mengurungnya bersama bau obat-obatan yang menyengat.
Suara dering ponsel Velyn membuat gadis itu menghentikan langkahnya. Ia menatap layarnya sekilas setelah mengambilnya dari tas yang ia bawa. Panggilan itu dari Oca, melihat namanya yang tertera dilayar ponsel membuat gadis itu buru-buru mengangkatnya.
"Halo Ca! iya nih gue otw, udah keluar ruangan juga. Oke-oke tunggu bentar ya" kata Velyn seraya mematikan ponselnya sepihak. Velyn memang sengaja menagih hutang Oca yang katanya hendak menjemputnya. Sudah dua hari lalu Oca menjenguknya tapi karena banyak tugas dan berbagai urusan sahabatnya itu tidak menjenguk lagi sampai Velyn keluar dari rumah sakit.
"Iya deh, demi lo gue jemput dari rumah sakit. Tapi hutang kita belum lunas kalo lo belum cerita masalah lo sama suami lo itu!"
Setidaknya kini Velyn sudah siap untuk bercerita segalanya tentang Valdo pada sahabatnya. Lagipula Oca adalah orang yang Velyn percaya. Malam ini Velyn memutuskan untuk tinggal ditempat Oca saja. Velyn sudah muak dengan Valdo dan segala sikapnya yang plin-plan. Apalagi melihat seisi rumah di hiasi foto dirinya dengan mantan istrinya itu.
Velyn benar-benar merasa terhina, kehadirannya seperti tidak dihargai saja. Toh hubungan mereka juga dilandaskan surat perjanjian, secara otomatis membuka celah keduanya untuk bebas.
Velyn memang belum diceraikan, tapi mengingat surat itu, secara tidak langsung Velyn sudah diberikan talak satu dari suaminya.
"Lyn! gue disini!" teriak Oca membuat Velyn menelisik keberadaannya yang berada diparkir dan mendapati Oca yang tengah berdiri bersandar di depan mobilnya.
__ADS_1
Velyn segera menghampiri gadis itu, semenjak keluar dari rumah sakit keadaan Velyn berubah menjadi bugar. Ia kemudian tersenyum dan masuk kedalam mobil Oca dengan senyuman mengembang.
***
Velyn masih terdiam, tatapannya kosong ketika Oca mengamatinya lamat-lamat. Ingin sekali Oca menanyai dirinya perihal masalah yang ia rasakan.
Saat ini mereka tengah berada di rumah kos Oca. Semenjak Velyn masuk mobil, gadis itu masih diam saja, menunduk seraya sesekali berkata tidak apa-apa ketika Oca menanyainya.
Memang hal ini terlalu sensitif hingga Oca tidak berani menyinggung apapun jika Velyn tidak membuka suara duluan.
Velyn pun sama, ia bingung hendak menceritakan awal mula pengalaman pahit yang ia alami. Namun ketika melirik Oca, sahabatnya itu terlihat khawatir sekali.
"Lo bukan Velyn yang gue kenal, Velyn yang gue kenal itu selalu ceria. Jiwa lo kemana aja sih Lyn?! semenjak lo nikah, lo udah beda sama yang dulu" ucap Oca membuat Velyn mengangkat pandangannya dan memeluk Oca dengan erat seraya menangis dipelukan sahabatnya.
Oca tak tau apa yang membuat Velyn sampai seperti ini. Tapi yang jelas jika suaminya itu sampai keterlaluan, Oca benar-benar tidak bisa tinggal diam. Selama ini Velyn berperan seperti saudaranya sendiri. Ditengah Oca hidup sendiri, hanya Velyn yang selalu menemaninya disetiap ia butuh bantuan dan sandaran. Kini giliran Oca yang harus membalas kebaikan Velyn.
Oca membiarkan perasaan Velyn larut dalam tangisannya. Ia tau menangis tidak akan menyelesaikan masalah, tapi setidaknya hati Velyn bisa sedikit lebih lega ketika menumpahkan emosinya sesaat dalam bulir air mata. Setelah tenang barulah Velyn pasti akan siap mengatakan segalanya.
***
__ADS_1
"Suami lo itu gila ya?! gila! bener-bener gila! kebangetan banget sampai lo disiksa kaya gitu!" teriak Oca seraya menahan emosinya karena cerita dari Velyn yang baru saja menceritakan segala permasalahannya.
Tiada yang Velyn tutupi lagi, semua yang terjadi padanya ia ceritakan dengan gamblang bahkan tanpa kekurangan. Namun sebelumnya Velyn juga berpesan pada Oca untuk tidak menceritakan hal itu pada siapapun, dan Oca menyetujuinya.
Velyn hanya menunduk, lamunannya kembali kala Oca mulai marah-marah tidak jelas seraya bersumpah serapah pada suaminya itu.
"Lo cerai aja Lyn, gue nggak terima kalo lo sampek digituin sama suami lo yang keparat itu! emang dia kira dia itu siapa?! udah duda, punya anak satu, giliran diterima sama perawan malah mau balik sama mantannya yang udah ninggalin dia itu. Lo nggak pantes Lyn buat dia! lo terlalu sempurna" ucapan Oca membuat Velyn mendongak. Seandainya Oca tau, bukan Velyn yang sempurna, tapi Valdo pasti akan sangat sial ketika tau keadaannya.
Hanya saja untuk masalah penyakit yang dideritanya tidak ada yang boleh tau termasuk Oca. Velyn meremas baju piyama yang ia kenakan. Memikirkan apa yang dikatakan Oca ada benarnya sebelum penyakitnya semakin parah dan Valdo menyadarinya nanti dan akan lebih membencinya.
"Nggak bisa Ca, gue nikah sama dia itu karena permintaan ayah. Gue nggak mau ngecewain ayah."
"Lyn! tapi kalo ayah lo tau gimana suami lo itu ngelakuin hal itu ke lo, beliau pasti bakal nyuruh lo buat cerai juga. Emang lo mau terus-terusan disiksa, dihina, nggak dihargai, bahkan pengorbanan lo di anggep sampah sama dia!" Velyn mengangkat pandangannya. Memang tidak ada salahnya jika ia meminta untuk cerai lebih cepat. Setidaknya ia bisa bebas dari Valdo. Baik pria itu maupun Velyn juga tidak ada yang dirugikan. Namun ada satu hal yang membuatnya berfikir untuk kedua kalinya.
"Gue bisa aja ngelakuin itu Ca, tapi apa lo pikir gue nggak mikirin gimana perasaan ayah? apalagi ayah lagi sakit Ca, gue nggak mau ayah terpukul sama apa yang gue alamin" Velyn merengkuh lututnya erat-erat. Bisa dilihat betapa menderitanya Velyn saat ini.
Oca sampai tidak pernah membayangkan gadis sebaik Velyn bisa mendapatkan cobaan seberat ini. Velyn yang selalu cuek dan ceria, ternyata punya masa depan yang suram dengan suaminya. Terlebih posisinya saat ini hanya dimanfaatkan saja.
"Lyn, lo yang sabar ya, gue pasti bakal bantu lo. Lo jangan ngerasa sendiri, karena masih ada gue yang selalu ada buat lo. Nggak apa-apa, tumpahin semua ke gue. Gue sanggup nampung semua beban lo asalkan lo bisa lega" Velyn menaikkan pandangannya, ia kemudian memeluk Oca lagi seraya menangis sesenggukan dipelukan sahabatnya.
__ADS_1