
Mobil terparkir didalam garasi rumah besar Valdo, pria itu kemudian membukakan pintu untuk istrinya seraya tersenyum hangat.
"Makasih mas" Valdo pun mengangguk, ia kemudian memeluk pinggang Velyn membuat wanita itu membalasnya dengan memeluk lengan Valdo dengan erat.
Velyn pun baru ingat jika besok adalah hari yang penting untuk Valdo, bagaimana tidak. Hari dimana pria disampingnya itu akan resmi menceraikan Lisa setelah prosesnya tertunda untuk waktu yang lama. Velyn melirik Valdo dengan tatapan ragunya. Walau bagaimanapun, Lisa adalah masa lalu Valdo sekaligus ibu kandung dari putranya.
"Besok sidang perceraian kamu ya mas?" sejenak Valdo menghentikan langkahnya sebelum naik ke atas teras rumah mereka. Valdo menatap dalam mata istrinya itu, tatapan khawatir bercampur takut, seolah tercermin dalam ekspresi Velyn yang jelas ketara.
"Kamu inget sayang?" tanya Valdo dengan senyumannya, ia mencoba untuk mencairkan suasana, sekaligus memberikan ketenangan bagi istrinya.
"Mana mungkin aku bakal lupa" ujar Velyn dengan kerutan di dahinya. Valdo kemudian menangkup kedua pipi Velyn, ia mencium bibir wanita itu sekali kecup, membuat Velyn membulatkan matanya.
"Kamu itu pilihan aku sayang, keputusan aku yang nggak bakal aku rubah. Aku pengen hidup ku dipenuhi kebahagiaan bersama"
"Kamu janji?" ucap Velyn seraya menunjukkan jari kelingkingnya, begitupun Valdo yang menautkan jari kelingkingnya untuk wanita yang begitu dicintainya.
"Aku janji" Velyn pun merasa lega kali ini, ia tersenyum dan menatap Valdo dengan tatapan dalamnya. Mungkin harusnya Velyn jujur tentang penyakitnya saat ini. Sudah lama sekali ia menyembunyikan rahasia yang seharusnya Valdo ketahui semenjak mereka menikah.
Ketakutan yang Velyn alami kini tidak lagi ada, seolah musnah dan hanya diliputi kepercayaan pada suaminya. Velyn menggandeng tangan Valdo, menuntunnya untuk kembali berjalan kedalam rumah setelah sebelumnya mereka berhenti sesaat.
"Mas, ada satu hal penting yang pengen aku kasih tau"
"Apa?" Velyn memejamkan matanya erat-erat, ia menarik nafas panjang dan menghembusnya perlahan.
"Kamu nih mau ngomongin apa sih, kayanya serius banget?" tanya Valdo seraya terkekeh, tampaknya Valdo memang tidak terlalu menanggapi serius pembicaraan Velyn.
__ADS_1
"Aku emang serius, dan ini soal aku. Mas setelah kamu dengerin semuanya, aku mohon kamu ngertiin aku ya, kamu jangan marah"
"Iya-iya sayang, aku nggak pernah marah kok sama kamu. Kamu ngomong aja, aku pasti bakal memaklumi itu" seraya melangkah mendekati ambang pintu Velyn menggandeng jemari Valdo, dengan tatapannya yang tak lepas dari pria itu.
"Mas, sebenarnya aku, selama ini"
"Kalian datang juga, nggak sia-sia dong aku nungguin dari tadi" tiba-tiba saja suara wanita yang membuat Velyn menghentikan kata-katanya itu membuat mata Valdo menajam. Diikuti dengan Velyn yang menatapnya dengan penuh kekesalan.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Valdo dengan tatapan datarnya membuat Velyn semakin mengeratkan jemari mereka yang bertaut. Sedangkan Lisa hanya mampu tersenyum miring seraya memicingkan matanya pada Velyn yang terlihat ikut kesal padanya.
"Besok adalah sidang perceraian kita Lisa, mau kamu ngomong apapun nggak bakal ngerubah keputusan aku buat pisah dari kamu"
"Aku cuma mau jenguk istri muda kamu aja kok Do" kata Lisa datar dengan pandangannya yang mengarah pada Velyn. Velyn mengerutkan keningnya, entah mengapa atmosfer di ruang tamu mereka menjadi semakin menegang saja. Dan perkataan Lisa tadi seolah menyiratkan sesuatu untuknya.
"Apa? maksud kamu?"
"Heh! nggak usah pura-pura Lyn, di malam pernikahan kamu dan Valdo-"
"Stop!" teriak Velyn dengan nada tinggi membuat Valdo menatap kedua wanita itu bergantian. Seolah paham dengan situasi ini, dan Velyn seolah ketakutan. Saat ini prioritasnya adalah Velyn, bisa jadi Lisa hanya ingin membuat Velyn ketakutan.
"Aku capek mas, aku pengen istirahat" gumam Velyn dengan suaranya yang bergetar membuat Valdo menatap tajam kearah Lisa dan membuat Lisa hanya mampu terkekeh melihat tingkah Velyn yang begitu ketakutan. Bahkan aura sombongnya hilang seketika saat Lisa mengatakan di malam pernikahan mereka.
"Pergi Lis! jangan buat aku maksa kamu. Kamu dengar kan, istri aku capek"
"Oh ya?"
__ADS_1
"Mas! ayo kita ke atas mas, aku-aku pengen istirahat" gumam Velyn dengan nada ketakutan yang membuat Valdo semakin bertanya-tanya. Namun pria itu tak akan mudah dipengaruhi oleh Lisa, ia segera mempererat genggamannya seraya mengangguk dan menggandengnya untuk masuk kedalam rumah, langkahnya melalui tubuh wanita yang kini masih tak segan untuk tersenyum pada Velyn.
"Valdo, aku heran kenapa kamu nggak biarin aku bicara dulu? kenapa juga istri kamu jadi takut liat aku? emangnya kamu nggak penasaran sama apa yang bakal aku omongin" Valdo menaikkan sebelah alisnya, ia kemudian menatap Velyn yang masih terdiam tanpa mau memandang dirinya. Bahkan ekspresi ketakutannya pun amat ketara ketika Valdo merasakan bagaimana keringat dingin di tangan Velyn yang begitu membuat jemarinya basah.
"Kamu jangan pernah coba buat mempengaruhi aku Lisa"
"Oh wow! kita lihat sebesar apa hati nurani kamu saat kamu tau bahwa istri kamu sendiri sudah membuat aku kecelakaan di malam pernikahan kalian! bahkan dia dan Om Gaisan bekerjasama buat nyingkirin aku dari kehidupan kamu Valdo!" tangis Lisa pecah begitu ia mengungkapkan isi hatinya, begitupun dengan Velyn yang masih tak bergeming walaupun kenyataannya tidak seperti itu.
"Cukup Lisa! kamu jangan pernah nuduh Velyn. Dia wanita terbaik yang pernah aku kenal, dan aku nggak akan terpengaruh cuma dengan kata-kata ngawur kamu!" Valdo melanjutkan langkahnya lagi, membuat Velyn mengikutinya dari belakang meninggalkan Lisa yang masih terbawa emosi.
"Valdo! yang aku bilang semuanya itu nggak salah! dia nggak sebaik yang kamu kira Valdo!. Aku punya bukti yang udah aku kirim ke email kamu kalau di malam itu dia dan Om Gaisan nabrak aku dijalan. Dia sengaja Valdo, dia sengaja buat kamu nggak bisa nemuin aku" rahang Valdo mengeras, ia menatap Lisa penuh amarah, namun amarah itu kemudian luntur disaat Velyn hanya terdiam dengan beberapa tetes air matanya yang terjatuh di pipi mulusnya.
"Velyn-" keyakinan yang tadinya kuat dan kokoh menjadi keraguan karena sikap Velyn yang tiba-tiba mendadak terdiam. Valdo segera mengecek ponselnya, ia benar-benar mendapatkan video itu, dimaa mobil ayahnya benar-benar menabrak seorang wanita dengan sengaja, dan setelah itu Velyn keluar dari mobil.
"Velyn? ini bukan kamu kan?" Velyn hanya mampu terisak, ia masih terkejut karena kehadiran Lisa dan perkataannya yang membuat hatinya terguncang.
"Mas, itu aku" hanya satu kata itu mampu membuat Valdo lemas tak berdaya, jemarinya merenggang seraya terlepas dari tangan Velyn.
"Nggak! aku nggak percaya, pasti kamu bohong kan dan soal rencana papa, apa benar kamu memang udah tau?" Velyn terdiam, namun tidak dengan isakannya. Ia menyeka air matanya seraya mengangkat pandangannya dan menatap Valdo dengan penuh penyesalan.
"Bilang Lyn kalau semua itu nggak bener! aku percaya sama kamu sayang? kamu diancam hah?" Valdo mengguncang tubuh Velyn yang kini mendongak menatapnya.
"Soal itu aku bisa jelasin mas, dengerin aku-"
"Apa?!" Valdo melepaskan jemarinya dari pundak Velyn, ia menatap wanita yang begitu ia cintai itu dengan tatapan nanar yang begitu tak menyangka dengan kenyataan kejam yang ia terima.
__ADS_1