Velyn Love

Velyn Love
Berdamai


__ADS_3

Valdo tengah menemani Lisa berbelanja beberapa baju dan tas, inilah kebiasaan Lisa yang tidak disukai Valdo. Wanita itu terlalu menghambur-hamburkan uang dan selalu mengikuti tren jaman sekarang. Berbeda dengan Velyn yang tampil apa adanya dan cuek dengan mode keluaran terbaru.


"Sayang, bagusan yang ini atau yang ini?" tanya Lisa pada Valdo, wanita itu menimbang-nimbang baju mana yang cocok untuknya. Valdo yang tengah memainkan ponsel kini mengangkat pandangannya dan mengangguk.


"Bagus semua kok" jawab Valdo acuh membuat Lisa memutar bola matanya. Pasalnya semenjak ia berbelanja dari tadi Valdo seakan cuek dan tidak memperhatikannya dengan seksama.


"Semuanya dibilang bagus! tadi aku tanya soal tas, sepatu dibilang bagus semua. Sebenarnya kamu peduli nggak sih sama aku?!" Valdo segera mengantongi ponselnya ketika Lisa membuat nada marah seperti itu. Bukannya tidak suka, tapi memang Valdo sendiri amat sibuk dengan pekerjaannya. Mau dikantor ataupun di luar jam kerja.


"Aku sibuk sayang, kan kamu tau sendiri kerjaan aku kaya gimana? menurutku kalau kamu suka kamu tinggal beli aja. Semua yang kamu suka pasti cocok kok kalau kamu pakai" Lisa memanyunkan bibirnya, terlihat sekali jika ia begitu kesal dengan perilaku Valdo yang tidak pengertian padanya.


"Ya udah deh,? nggak jadi beli" kesal Lisa yang membuat Valdo semakin frustasi dibuatnya. Valdo menyadari jika sifat Lisa amat berbeda dengan Velyn yang begitu pengertian dan dewasa. Tidak seperti wanita satu ini yang selalu merengek manja terhadapnya. Mau bagaimana lagi, dulu Valdo juga terlanjur melakukan kesalahan hingga membuat kehidupan mereka terpaksa harus bersama.


Lisa segera menggandeng jemari Valdo saat mata para wanita yang tengah memilih baju menatapnya dengan pandangan kagum oleh wajah Valdo yang amat tampan. Lisa ingin membuktikan jika Valdo hanya miliknya seorang dan tiada orang yang boleh memperhatikannya apalagi mendekatinya.


"Pergi yuk sayang, aku udah muak disini" ujar Lisa seraya melirik beberapa wanita yang terlihat kesal oleh sikap wanita yang protektif itu.


"Lis, kamu nih bisa nggak sih nggak usah cemburuan kaya gitu. Malu-maluin tau" kesal Valdo yang membuat Lisa menghentikan langkahnya seraya menatap pria yang berdiri didepannya itu dengan pandangan tak kalah kesal. Namun Valdo hanya mampu memutar bola matanya lagi ketika Lisa terlihat marah lagi padanya.


"Iya-iya maaf, aku salah lagi!" kata Valdo seraya menarik lengan Lisa yang masih bertahan menunduk itu. Kalau dipikir-pikir Lisa sudah beberapa kali marah dengan hal-hal sepele, sikapnya itu yang terkadang membuat Valdo semakin dibatasi oleh apapun yang Lisa inginkan.


"Aku mau ke toilet dulu" ujar Lisa tiba-tiba seraya melepaskan genggaman tangan Valdo darinya. Valdo hanya mengangguk seraya menatap pusat perbelanjaan di mall itu yang amat ramai. Mata Valdo tak sengaja menangkap beberapa permainan di Timezone. Tiba-tiba saja, bayang-bayang dirinya dan Velyn kembali. Ia ingat ketika Velyn dan dirinya bermain bola basket dan melakukan dance. Ia juga ingat pernah mendapatkan boneka kecil untuk Velyn. Hubungan mereka terasa damai dan bahagia, entah mengapa kerinduan Valdo pada Velyn kian bertambah saat mengingat betapa bahagianya Velyn dengan permainan sederhana itu.


Senyum Valdo ditengah kerinduannya tiba-tiba saja berubah menjadi amarah saat ia melihat wanita yang baru saja dipikirkan olehnya muncul dengan pria disampingnya.


Begitu terkejutnya ia melihat pria yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatnya sendiri, siapa lagi kalau bukan Adrian. Terlihat mereka tengah berboncengan dan sesekali tertawa bersama. Adrian berjalan seraya membawa kresek besar ditangannya sedangkan Velyn membawa Tote bag yang ia bawa ketika mengunjungi kantornya tadi.


Hati Valdo panas melihat pemandangan ini, tangannya mengepal dengan kuat, matanya menajam dan terjepam erat seolah menahan amarah dalam hatinya yang paling dalam. Namun saat bersamaan, amarahnya hilang seketika kala jemarinya digenggam oleh wanita yang tengah ia tunggu sedari tadi. Siapa lagi kalau bukan Lisa, bahkan meskipun kini Valdo amat kesal, ia juga tak mungkin menunjukkan pada Lisa secara terang-terangan.


***


"Yan, makasih ya udah anterin aku belanja. Padahal kan tadinya aku mau belanja dipasar aja, nggak taunya kamu ngajak aku ke mall segala" Adrian mengangguk, namun sepersekian detik matanya menangkap pria yang tak asing, bahkan pria itu sempat bergandengan tangan dengan seorang wanita. Adrian segera menarik lengan Velyn membawanya menuruni eskalator yang tak jauh dari mereka berdiri.


"Kayanya aku nggak jadi beli parfum deh, pulang aja yuk" ajak Adrian yang sebelumnya tak sengaja bertatapan dengan mata Valdo, namun ia tak perduli. Lebih baik segera mengajak Velyn untuk kembali daripada membuat wanita disampingnya bersedih lagi.


"Loh kenapa?" tanya Velyn yang hanya dibalas gelengan dari Adrian saat setelah ia mengabaikan tatapan membunuh dari Valdo.


"Aku lupa ada janji malam ini, aku antar kamu pulang ya?" Velyn mengangguk lemah ia kemudian menuruti perkataan Adrian untuk membawanya pulang. Lagipula Velyn juga sedikit lelah, kesedihan yang ia rasakan semakin menipis dan akhirnya hanya sebuah bayangan saja.


Mungkin memang ini yang Velyn butuhkan, sedikit hawa luar dan teman untuk mengajaknya bicara. Selama ini Velyn selalu sendirian, bahkan untuk melupakan masalahnya sendiri ia harus berjuang agar tidak kepikiran.


Velyn juga menyadari ia hanyalah pengganti, pada saatnya ketika Lisa kembali hal ini akan terjadi juga. Tapi ia tak menyangka jika hal ini terjadi karena kesalah pahaman. Walau bagaimanapun Velyn tetaplah salah, seharusnya ketika ia tau bahwa yang merencanakan drama hilangnya Lisa adalah Gaisan, Velyn mengatakannya pada Valdo dengan tanpa ragu.


Tapi keadaan waktu itu tidak memungkinkan, apalagi Valdo waktu itu masih begitu membencinya, bahkan sampai main tangan terhadapnya. Velyn takut ia disakiti lagi, Velyn takut dengan kata-kata Valdo yang hendak membunuhnya. Mengingat betapa Valdo mengerikannya saat menenggelamkannya di bathtub saja membuatnya trauma hingga saat ini. Tidak, tidak mungkin Velyn bercerita pada situasi yang amat membuatnya tambah terluka. Apalagi keadaan itu adalah hal terburuk dalam hidupnya, hubungannya masih dikatakan tidak baik-baik saja jika ditambah dengan bumbu-bumbu kenyataan yang dilakukan ayahnya, dan semata-mata alasan itu untuk membuat Valdo menikah dengan Velyn mungkin saat ini Velyn sudah tidak bernafas lagi.


"Kamu mikirin apa Lyn? kok tegang gitu?" tanya Adrian yang melihat Velyn memegang erat Tote bag ditangannya. Velyn hanya mampu menggeleng, ia kemudian tersenyum dan menyelipkan anak rambutnya yang terurai kebelakang.


Saat ini mereka berada di mobil, perjalanan untuk menuju rumah Velyn yang memakan waktu cukup jauh dari mall.


"Kenapa kamu nggak pulang ke rumah Valdo aja? kan seenggaknya ada Santi yang nemenin?" Velyn menggeleng, ia tersenyum seraya menatap Adrian dengan pandangan tenang, seolah menyiratkan bahwa ia baik-baik saja.


"Aku lagi kangen sama ayah bunda, nanti aku mau telfon mereka, jadi aku butuh waktu dan tempat buat sendiri. Aku nggak pengen mereka denger suaraku waktu aku sedih."


***


Valdo yang tengah berada didalam kamar mandi bercermin dengan wajahnya yang penuh kegelisahan. Pria itu terus saja memikirkan Velyn dan Adrian ketika ia menemani Lisa tadi. Entah mengapa pikirannya dipenuhi perasaan penasaran dan curiga, apalagi ketika malam Minggu seperti ini Adrian selalu menghabiskan malamnya di club dan ditemani cinta satu malamnya.


Valdo amat takut jika Velyn diajak ketempat seperti itu, sebenarnya Valdo sudah memperingatkan Velyn untuk tidak terlalu dekat dengan pria itu. Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Ini juga salahnya karena tidak menegur, terlebih Valdo amat kesal ketika ia melihat keduanya terlihat mesra berjalan berdua.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar menggema dari dalam kamar mandi, Valdo mengalihkan pandangannya sejenak seraya menghela nafas dengan pandangan kesal.


"Valdo? kamu kok lama banget di dalam? kamu nggak tidur ya?"

__ADS_1


"Kamu duluan aja Lis" perintah Valdo membuat Lisa menghela nafas panjang dan akhirnya menghentakkan kakinya kearah ranjang. Dua Minggu berlalu dan mereka tinggal satu atap, sedangkan Valdo tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Bahkan Lisa sampai memakai baju tidur seksi untuk menggoda suaminya, namun kenyataannya Valdo bahkan tidak tertarik sama sekali padanya.


Valdo hanya berpaling seraya menutup diri menggunakan selimut seraya memunggungi tubuhnya. Lisa tidak bisa menebak apa yang Valdo pikirkan, pria itu bahkan tidak bergerak ketika ia tidur dan memeluknya dari belakang. Ia tau di dalam hatinya masih ada Velyn, tapi bukankah Velyn telah mengecewakan dirinya? hingga membuat Valdo pergi dari rumah dan memilih untuk tinggal bersama istri pertamanya.


Perceraian mereka memang telah dibatalkan, tapi tidak menuntut kemungkinan jika hati Valdo memilih dirinya untuk mengisi kekosongan cintanya. Ini semua terjadi karena Velyn, setelah keluarga kecilnya di curi, hati Valdo bahkan telah direnggut darinya.


Lisa menutup tubuhnya menggunakan selimut seraya menunggu keluarnya Valdo dari kamar mandi. Pria itu bahkan tidak mengatakan sepatah katapun semenjak pulang dari mereka berbelanja. Valdo sering seperti itu, terdiam dan melamun, memikirkan hal yang sudah Lisa tebak bahwa didalamnya terdapat Velyn yang selalu dirindukan olehnya. Setidaknya, Lisa selalu berada disisinya, jika ia bisa mempercepat waktu maka Valdo pasti akan mencintai dirinya setulus cintanya pada Velyn. Namun nyatanya, sabar adalah jawaban dari semua pertanyaan yang muncul dibenaknya.


Langkah Valdo keluar dari kamar mandi begitu tergesa, dari dalam selimut Lisa hanya mampu menyaksikan suaminya menarik kaos dari dalam lemari dan segera memakainya dengan cepat lalu kemudian keluar dari kamar dengan hati-hati.


Sejujurnya Lisa amat sakit melihat kenyataan ini, kenyataan ketika Valdo diam-diam meninggalkannya di malam hari. Namun Lisa sendiri juga enggan menegur, ia hanya berusaha semampunya untuk menghidupkan cinta dan kasih sayang dari Valdo yang dulu pernah ada untuk dirinya.


Sedangkan kini, setelah beberapa saat membelah jalanan yang sedikit sepi dibanding siang hari Valdo segera masuk kedalam kediamannya. Sebelumnya ia sudah memberitahu Santi untuk pulang dan kebetulan Valdo juga membawa kunci rumah cadangan.


Valdo yang keluar dari mobil segera berlari kearah teras ia buru-buru membuka pintu dan berjalan menuju kamar utama. Rumah ini memang tampak sepi dari biasanya, meskipun ini malam hari tapi rumah yang biasanya hangat kini berubah menjadi dingin karenanya.


Valdo buru-buru membuka pintu kamar setelah dirinya sampai di lantai atas, namun jangankan menemukan Velyn, ia bahkan tidak merasakan adanya keberadaan seseorang ditempat itu. Valdo bahkan menyusuri setiap ruangan, ia membuka toilet dalam kamarnya, membuka kamar Nino dan kamar tamu, tapi usahanya sia-sia. Velyn tidak sedang berada dirumah, kini pikiran Valdo melayang dan membayangkan yang tidak-tidak.


Awas saja kalau terjadi sesuatu pada wanitanya, maka Valdo tidak akan tinggal diam dan memaafkan Adrian,p sekalipun dia orang berpengaruh di negara ini.


"Dimana kamu Lyn?!" Valdo mengecek ponselnya seraya menuruni anak tangga. Rasanya sudah amat lama ia tak berhubungan dengan Velyn, bahkan telfon dari wanita itu selalu ditolak olehnya.


Tiba-tiba saja terbersit olehnya saat Velyn menemuinya di kantor siang tadi. Valdo ingat tatapan itu, tatapan yang membuatnya semakin merasa bersalah akan Velyn yang sudah ia usir secara kasar. Velyn yang datang dengan senyuman, pastinya pulang dengan perasaan kecewa dan kacau.


Pergelangan tangan wanita itupun terluka entah mengapa. Rasanya Valdo frustasi ketika mengingat kejadian siang ini, ia juga tidak berdaya. Jalan mana yang harus ia lewati ia juga bingung.


"Santi!" teriak Valdo pada pembantunya dengan suara lantang. Hal itu membuat Santi terbangun dari tidurnya dengan mulutnya yang masih menguap.


Gila! mungkin itu yang Santi pikirkan, dijam seperti ini majikannya teriak-teriak memanggilnya dengan seenak hati. Ia tau bahwa Valdo akan pulang, tapi ia juga tak menyangka bahwa akan terlibat ditengah malam seperti ini. Dengan malas Santi berjalan seraya menghampiri tuannya, ia menatap Valdo dengan mata memerah khas orang bangun tidur.


"Apa tuan?" tanya Santi seraya menguap dan menatap Valdo dengan senyum yang ia buat sedemikian rupa untuk menutupi rasa kesalnya.


"Velyn dimana?"


"Nyonya pulang ke rumah orangtuanya, katanya mau nginep beberapa hari disana"


Sebenernya Valdo sangat merindukan wanita itu, wanita yang kini masih menjadi pengisi hatinya. Namun, entah karena gengsi atau masih menyimpan luka, Valdo sendiri lebih memilih ego untuk diturutinya.


Tak sampai setengah jam berlalu, kini Valdo sudah sampai di kediaman istrinya. Matanya melirik kamar Velyn yang berada di lantai dua, ternyata Santi tidak berbohong atau menutupinya. Velyn benar-benar berada ditempat ini, terlihat lampu kamarnya yang menyala.


Valdo buru-buru masuk kedalam dengan tergesa, ia memencet bel rumah tersebut dengan harapan dan juga rasa ragu yang menyelimuti hatinya. Meskipun ini sudah malam, namun tidak mengurungkan niatnya untuk menemui sang istri.


Setelah beberapa saat menunggu, pria itu terkejut saat pintu tiba-tiba terbuka. Jantungnya mendadak berdetak lebih kencang, ia bahkan belum mempersiapkan kata-kata jika saja ia bertemu dengan wanita itu. Akankah Valdo minta maaf? atau menanyakan kabar saja?.


"Vel-"


"Iya? oh den Valdo!" Valdo menghela nafasnya saat mbok Mirah yang membukakan pintu untuknya.


"Silahkan masuk den" tawar mbok Mirah ketika Valdo berdiri dengan senyuman seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Iya" Valdo kemudian mengikuti langkah mbok Mirah untuk masuk. Mbok Mirah memang dipekerjakan dirumah ini untuk menjaga dan merawat properti maupun setiap sudut rumah ini selama keluarga Velyn berada diluar negeri. Meskipun begitu mbok Mirah tidak sendirian, ada tukang kebun dan beberapa pembantu lainnya yang disewa untuk menjaga bergantian setelah beberapa hari.


"Velyn tadi kesini jam berapa ya mbok?" tanya Valdo seraya membalikkan tubuhnya membuat mbok Mirah tersenyum seraya menatap pria tampan suami sang anak majikannya itu.


"Satu jam yang lalu den. Memangnya aden nggak dikasih tau ya sama non Velyn?"


"Iya sih mbok, tapi saya kerja karena nggak jadi lembur saya mau ngasih kejutan ke dia" sangkal Valdo seraya tersenyum, membuat mbok Mirah manggut-manggut saja.


"Ya sudah kalo gitu den Valdo tunggu disini, saya buatkan teh anget dulu"


"Nggak perlu mbok, saya langsung ke atas aja" mbok Mirah hanya mengiyakan seraya mengangguk dan mempersilahkan Valdo untuk masuk keatas.


Valdo menatap raut wajah istrinya, raut wajah lelah yang menjadikan Velyn sebagai wanita tercantik baginya. Perlahan Valdo mendekat saat ia menatap paha mulus Velyn yang terumbar dan jelas terlihat didepan matanya. Valdo menelan ludahnya saat ia menyadari jika jantungnya berdetak lebih kencang dan tubuhnya serasa menegang saat ia semakin mendekat dan mendengar suara hembusan nafas Velyn.

__ADS_1


Valdo menghirup dalam-dalam aroma parfum yang Velyn gunakan, meskipun sudah dua Minggu lamanya Valdo tidak menyentuhnya, namun rasanya Valdo setidaknya ingin mendekap Velyn dalam tidurnya meskipun sebentar saja.


Valdo mencoba untuk menahan diri, ia takut membangunkan Velyn nantinya dan membuat wanita itu terbangun dari tidurnya. Namun ternyata hasrat lebih kuat daripada akal sehatnya, belum sempat pria itu berbalik dari berdirinya tiba-tiba saja Valdo langsung mencium bibir Velyn, ia menghembuskan nafas kasarnya di leher jenjang Velyn membuat mata wanita itu terbuka dan terkejut akibat perlakuan Velyn yang tiba-tiba.


"Aa... eummm!" belum sempat berteriak, untungnya Valdo segera membungkam mulut Velyn untuk tidak bersuara. Velyn membulatkan matanya saat pria itu menyentuh bibirnya dengan lembut. Sebenarnya apa yang terjadi? bahkan Velyn sampai tidak menyangka jika Valdo tiba-tiba datang dan lantas menggerayangi tubuhnya.


"Kamu ngapain kesini?! tanya Velyn dengan tajam seraya segera bangkit dari ranjangnya" Valdo hanya mampu menghadapinya sekarang, meskipun sebelumnya ia gengsi tapi semua ini tentang kebutuhan biologisnya. Valdo akui ia sangat mencintai Velyn, cinta yang ternyata tidak hanya saling berbagi cinta, tapi juga saling menghargai dan saling terbuka. Namun Valdo telat menyadari bahwa, egonya tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan rasanya terhadap Velyn.


"Aku-"


"Seharusnya kamu sama Lisa kan? ngapain kamu sentuh aku kaya gitu?" deg! Valdo menatap Velyn tidak percaya, wanita itu bahkan tidak mau menatapnya sama sekali. Ini semua memang salah Valdo, ia selalu menyakiti hati Velyn termasuk perlakuannya hari ini di kantor.


"Maafin aku Lyn, aku tau aku gegabah. Tapi semua yang kamu lihat nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku sama Lisa-"


"Kamu nggak perlu cerita apapun tentang hubungan kamu sama dia" deg! mendengar hal itu hati Valdo benar-benar teriris. Ia juga belum menyelesaikan perkataannya namun disanggah oleh Velyn begitu saja.


"Lyn?"


"Aku nggak ada hubungannya sama apa yang terjadi diantara kalian berdua" Velyn menarik selimutnya dan berjalan kearah pintu, namun langkahnya terhenti saat Valdo menghentikannya dan menghimpitnya di dinding membuat Velyn tak bisa berkutik dan hanya mampu menatap mata itu. Mata yang ia rindukan saat ini tapi selalu mengecewakannya berulang-ulang kali.


"Dengerin penjelasan aku Lyn-"


"Kamu mau jelasin apa? kamu mau bilang kalau kamu bakal ceraiin Lisa dan bakal pertahankan aku?"


"Enggak! aku nggak bakalan ceraikan Lisa!" Velyn menatap tajam mata Valdo, ia benar-benar dipenuhi emosi saat ini, bisa-bisanya Valdo dengan terang-terangan mengatakan akan mempertahankan hubungannya dengan wanita lain didepannya.


"Berarti kamu mau ceraiin aku dan milih hidup sama dia?" Valdo terdiam mendengar pernyataan itu. Sesungguhnya hati Valdo teramat sakit oleh perkataan Velyn yang tidak ada dasarnya, namun ia juga tak bisa menghakimi Velyn jika ingin marah padanya.


"Aku juga nggak bakalan ceraikan kamu, aku cinta Lyn sama kamu-"


"Cukup!"


"Velyn! apa kamu nggak mau dengerin semua penjelasan aku dulu, sebelum kamu memberi kesimpulan atas apa yang bakal aku bilang?"


"Aku harus dengerin penjelasan kamu dulu? tapi waktu aku mau jelasin perkara malam itu, kamu bahkan nggak ngasih kesempatan aku buat ngomong dan langsung pergi gitu aja? kamu egois!" deg! hati Valdo terguncang atas apa yang Velyn katakan, memang benar apa yang dikatakan oleh wanita dihadapannya ini. Bahkan sedari tadi Velyn tidak memanggil namanya, menunjukkan bahwa Velyn amat kecewa padanya.


Wanita mana yang mau di madu oleh suaminya, bahkan berbagi cinta untuk wanita lain. Itu sama saja membuat luka yang dulunya tidak pernah ada kini seolah terjatuh sejatuh-jatuhnya. Ia juga tidak bisa menjawab apa yang Velyn katakan, karena apa yang dikatakan Velyn tidak salah. Kenapa harus percaya pada seseorang yang tidak percaya dirimu seutuhnya.


"Maafin aku Lyn, aku selalu buat kamu kecewa berkali-kali. Aku bahkan selalu nyakitin kamu tapi kamu selalu maafin aku dengan gampangnya, sedangkan ketika kamu berbuat salah, aku malah-"


"Aku nggak salah mas! aku nggak salah oke? yang kamu denger dan yang kamu tau itu cuma satu asumsi dari orang lain dan aku belum jelasin apa-apa. Emang bener aku tau semuanya sebelum kamu tau kenyataan bahwa papa yang udah menculik Lisa, tapi bukan aku yang ngerencanain itu buat keuntungan aku sendiri! dan setelah itu, nggak lama kamu nyiksa aku dengan kekerasan. Mana mungkin aku bisa ngomong kalau kamu mau bunuh aku waktu inget nama Lisa disebutkan" deg! perkataan Velyn seolah menampar wajah Valdo dengan sakit di hatinya. Bahkan ia tidak bisa berkata-kata saat ini, hanya terdiam dan menatap mata Velyn yang terlihat berkaca-kaca sampai ingin meneteskan air matanya.


Velyn mendorong tubuh Valdo dan menjauh darinya. Tiba-tiba teringat olehnya kejadian waktu itu, apa yang Velyn katakan memang benar. Bagaimana mungkin ia mengatakannya saat Valdo menggila dan berkeinginan untuk membunuhnya, itu sama sjaa dengan bunuh diri. Penyesalan demi penyesalan datang bertubi-tubi di pikiran Valdo. Bahkan belum lama ia mendapat kesempatan untuk mendapatkan hati Velyn dan kini ia buang dengan sia-sia kesempatan itu.


"Maafin aku sayang!" hanya itu yang dapat dikatakan olehnya saat Velyn hendak pergi dari hadapannya namun dihadang lagi olehnya.


"Kita cerai aja mas, aku nggak bisa nerusin semua ini" hati Valdo semakin terguncang ketika Velyn tiba-tiba mengatakan untuk meminta cerai padanya.


"Nggak! aku nggak mau cerai Lyn! aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu" susah payah Valdo mengambil hati Velyn namun ia lukai hatinya lagi secepat yang tidak terduga.


"Kalo kamu nggak mau cerai dari aku, kamu harusnya lepasin Lisa mas! karena aku nggak mau di poligami kaya gini!" tegas Velyn seraya mendorong tubuh Valdo lagi. Namun Valdo kini malah mengunci tubuhnya agar Velyn tidak bisa bergerak. Bahkan Velyn memberontak namun Valdo dengan brutal mencium bibirnya dengan gemas.


Velyn mencoba untuk mengatur nafasnya, jadi? ini yang Valdo butuhkan darinya jauh-jauh datang kemari. Lelaki dihadapan Velyn hanya membutuhkan sentuhan?. Bahkan sejujurnya Velyn juga menginginkannya, meskipun ia amat kecewa dengan apa yang dilakukan Valdo padanya.


Velyn membalas ciuman Valdo, pria itu bahkan merobek piyama seksi milik Velyn dan menggerayangi tubuhnya dengan ganas. Valdo tak akan menyia-nyiakan kesempatan ketika Velyn memberi tanda bahwa ia mengizinkan sentuhan itu. Ia hanya ingin Velyn mengerti jika sebenarnya Valdo bahkan tidak bisa hidup tanpa Velyn disisinya.


Valdo kemudian membuka resleting celananya, ia memaksa miliknya untuk masuk kedalam, dan membuat Velyn mendesah untuk kesekian kalinya. Valdo mengangkat kedua kaki Velyn dan mengalungkannya di pinggangnya. Valdo menggendong tubuh Velyn dan meletakkan tubuhnya diatas ranjang untuk mempermudah akses mereka menemukan kenikmatan.


"Ah ah!" teriakan Velyn bahkan menjadi penyemangat untuk Valdo sendiri. Sudah beberapa kali ronde berakhir namun Valdo enggan untuk menghentikan kegiatannya, bahkan Velyn sudah lemas dibawahnya.


"Mas!" Velyn segera bangkit dan mencium bibir Valdo, membuat pria itu akhirnya menghentikan kegiatannya dsn ambruk disamping Velyn.


"Aku cinta sama kamu Lyn, aku nggak mau kehilangan kamu" gumam Valdo sebelum pria itu terlelap dalam ketidaksadarannya.

__ADS_1


Velyn menitikkan air mata, ia mencium pipi Valdo dan segera bangkit untuk menarik kimono miliknya yang berada di gantungan. Hati Velyn tidak baik-baik saja saat ini, meskipun ia membalas apa yang dilakukan Valdo padanya. Itu semua semata-mata karena mereka sama-sama membutuhkan sentuhan dan kebutuhan biologis.


Bukan cinta yang Velyn terima, namun sebaliknya. Luka yang tidak ingin ia rasakan kini seolah membawanya untuk pergi. Ia sudah cukup bersama Valdo, cukup merasakan sakitnya ketika mencintai pria yang sudah terlelap di ranjang miliknya.


__ADS_2