
Setelah beberapa jam Velyn merenung di taman kampus, ia baru tersadar bahwa hari sudah hampir mulai gelap. Rasanya kali ini ia bimbang harus kemana? sepertinya Oca sendiri juga sudah tidak mau bersahabat lagi dengannya.
Velyn sadar diri, ia memutuskan untuk berjalan saja sebentar, dan nanti ia akan pulang saja ke rumah orangtuanya. Gadis itu melangkah dan berhenti disebuah persimpangan jalan. Velyn memang sengaja untuk berhenti disana karena ia sudah memesan ojek online.
Nampak dari seberang sebuah mobil terlihat mengawasinya. Sayangnya Velyn tidak sepeka itu. Velyn menaiki motor driver ojek online yang kini memberikannya sebuah helm padanya.
Sore memang semakin cepat berlalu dan kini Velyn sudah sampai tak jauh dari rumahnya berada. Velyn berhenti sekitar satu kilometer dari rumah orangtuanya, karena memang ia sengaja hendak pulang tanpa ada yang tau. Jalanan masih tampak ramai dengan mobil dan kendaraan lain yang bersahutan.
Tidak terkecuali sebuah mobil hitam yang masih membuntutinya dari tadi. Tinggal tiga ratus meter lagi dan ia tinggal masuk ke dalam kompleks perumahannya. Itu tidak masalah jika mengingat ia berjalan di tengah keramaian.
Namun, baru saja ia membatin dalam hati, seseorang menarik lengannya dan mendorongnya kedalam gang sempit tepat dimana biasanya orang akan jarang lewat disitu. Velyn begitu ketakutan saat mulutnya dibekap oleh orang asing itu. Ia meronta, namun kekuatannya terlalu lemah dan tidak sebanding dengan dua orang yang ia yakini adalah seorang berandalan didaerah itu.
"Cewek cantik nih, buruan bantuin gue" Velyn membulatkan matanya. Pikirannya buntu, kala ia didorong semakin kedalam gang sempit itu. Rasanya dadanya sesak dan tidak bisa berteriak. Semakin ia memberontak, semakin orang itu kuat dalam membekap mulutnya.
"Wah, cewek cantik, putih mulus nih, dalemnya pasti legit" ujar pria yang terlihat samar-samar dalam kegelapan itu membuat Velyn bergidik.
Velyn mencoba untuk melemah, ia merasakan cengkraman orang dibelakangnya tidak sekuat tadi, dan itu membuat kesempatan bagi Velyn untuk kabur cukup besar. Velyn tanpa basa-basi menggigit jemari orang tersebut dan menginjak kaki satu temannya lagi.
__ADS_1
Setelah itu Velyn berbalik dan berlari kencang dari gang itu. Velyn benar-benar ketakutan, tangannya mengepal dengan kuat seraya menahan keringat yang membasahi kening dan juga tubuhnya.
Velyn menangis, ia masih dikejar orang yang tadi hendak melecehkannya. Gadis itu buru-buru melihat jalanan yang ramai dan memutuskan untuk menyebrang jalan saja. Namun nasibnya kembali tragis, ia hampir saja ditabrak oleh sebuah mobil dan membuatnya pingsan seketika.
Velyn syok, ia kemudian terbaring di jalan menatap langit yang sudah menggelap. Ditambah pening dikepalanya seolah semuanya menghilang.
***
Valdo mengumpat kala dirinya kehilangan jejak Velyn. Sebenarnya dari tadi ia memang sengaja membuntuti gadis itu untuk mengajaknya pulang. Namun siapa sangka, Velyn malah hendak pulang ke rumah orangtuanya, dan sialnya ada seorang pria yang menariknya kedalam gang sempit.
Ragu-ragu Valdo turun dari mobilnya. Ingin sekali ia menemukan dan menghajar orang yang menyentuh Velyn nantinya. Namun belum sempat Valdo sampai dan masuk kedalam gang itu, Velyn ternyata sudah berlari kencang beserta dua pria yang mengejarnya.
Valdo benar-benar frustasi, ia mencari kesana kemari, ia takut terjadi apa-apa padanya. Kalau saja tadi Valdo langsung menjemput Velyn dari kampus dan tidak ada acara membuntutinya segala, pasti ini semua takkan terjadi.
Valdo merutuki dirinya sendiri, ia memang bodoh, kalau sampai terjadi apa-apa pada Velyn dia takkan memaafkan dirinya sendiri.
Valdo memang tidak menginginkan Velyn, tapi dia tidak sejahat itu untuk membiarkan Velyn menderita. Ia masih waras dengan segala penyesalan yang ada. Termasuk menyesal pernah memukul Velyn dan melakukan kekerasan padanya, serta hari itu saat dirinya mengunci Velyn diluar rumah hingga membuat gadis itu terkena hipotermia.
Valdo sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan membahayakan fisik Velyn lagi setelah saat itu. Tapi nyatanya janji itu hanyalah sebuah perkataan semata dan dia sudah melanggar janjinya.
__ADS_1
Valdo benci, benci pada dirinya sendiri. Ia kemudian melangkah lagi dari persimpangan itu. Ia kembali berharap semoga Velyn tidak menemukan bahaya dan ia sudah kabur dari preman yang hendak bertindak jahat padanya.
"Maaf Lyn, aku nggak bisa jagain kamu lagi. Aku emang nggak berguna Lyn! kalau sampai kamu kenapa-kenapa, aku nggak akan maafin diri aku sendiri" gumam Valdo seraya memukul dadanya sendiri.
Entah mengapa mengingat kejadian tadi membuat hati Valdo terasa tidak tenang. Ia bahkan melapor pada polisi dan hasilnya tetap saja nihil. Tidak ada CCTV di lokasi, membuatnya semakin terpikirkan akan gadis itu.
Kenapa? kenapa Valdo sampai benar-benar takut. Sedangkan ketika Velyn kabur kemarin ia masih bisa mengendalikan emosinya. Tapi kali ini, mengingat gadis itu dalam bahaya didepan matanya, membuat Valdo tak tega. Valdo ingin melindunginya. Padahal Valdo ingin memutus perasaan perduli pada Velyn.
Ia ingin memutus segala perasaan terhadapnya. Untuk menjaga dan melindungi mungkin Valdo bisa memaklumi, tapi kenapa ia harus perduli. Valdo hanya tidak ingin bertindak jahat lagi, tapi juga tidak ingin kembali pada perasaannya sebelum menikah dengan Velyn dulu.
Valdo berjalan kedalam rumahnya, ia duduk di sofa seraya memukul kepalanya kencang-kencang. Yang ada dibenaknya saat ini hanyalah Velyn, bahkan sepertinya Lisa sudah tergantikan oleh sosok itu. Namun Valdo menggeleng, tidak boleh! Valdo sudah memasang foto pernikahan dirinya dengan Lisa, seharusnya bisa menghapuskan senyum Velyn dalam hatinya.
"Nino?" Valdo teringat akan Nino, ketika ia melihat Nino rasanya bayang-bayang Lisa seperti ada di depan matanya.
Valdo buru-buru melangkah, ia masuk kedalam kamar Nino seraya mengintip anak laki-lakinya itu yang tengah terlelap dalam tidurnya. Valdo tersenyum, ia kemudian melangkah mendekat dan mengecup kening Nino dengan lembut.
"Mama?" suara Nino terdengar lirih namun begitu jelas. Valdo mengernyit, ia menatap frame yang di dekap oleh Nino saat ini, memperlihatkan foto dirinya dengan Velyn yang tengah berada di taman, dan Velyn menggendongnya lalu mencium pipinya.
Mata Valdo entah mengapa tiba-tiba memanas, bayangan Lisa yang tadinya ada dibenaknya kini tiba-tiba hilang, tergantikan oleh rasa bersalah dan perlakuannya terhadap Velyn. Velyn yang selalu mencoba untuk memasak dan merawat Nino untuknya. Velyn yang selalu mencoba untuk melayaninya meskipun Valdo sedikitpun tak pernah menghargai usahanya.
__ADS_1
Valdo benar-benar serba salah, ia mengusap kasar wajahnya seraya memukul kepalanya lagi. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? siapa yang ia pilih untuk dirinya dan masa depannya?. Valdo benar-benar tak mengerti, sejauh ini ia hanya merasa bersalah saja, dan perasaan terdalamnya hanyalah sebuah rahasia.