
"Thanks ya Dir, lo udah mau anterin gue" ucap Velyn yang kini tengah duduk disamping Dira yang baru saja mengemudi mobilnya.
"Santai aja Lyn, kalo lo butuh temen curhat, gue selalu siap kok buat jadi pendengar" Velyn tersenyum, sebenarnya ia juga ingin curhat sedikit demi sedikit akan permasalahannya. Tapi, Velyn sebisa mungkin untuk menghindari itu. Ia tak ingin terlalu percaya dengan orang lain. Jangankan teman, ia sudah tidak ingin terbuka dengan siapa-siapa. Berharap pada manusia membuatnya kadang bisa kecewa. Tapi ketika ia berkeluh kesah pada Tuhan, maka hatinya akan lebih tenang.
"Lain kali aja ya Dir, gue lagi pengen sendiri dulu" mau di bujuk seperti apapun juga kalau Velyn saja enggan, Dira juga tidak ingin memaksa. Lagipula itu adalah urusan pribadi Velyn. Dan Dira juga tidak berhak untuk ikut campur.
"Lo mau mampir dulu?" tawar Velyn membuat Dira menggeleng seraya mempersilakan Velyn untuk segera masuk saja.
"Nggak perlu, gue langsung balik aja"
"Ya udah, hati-hati ya kalo gitu" anggukan Dira adalah jawaban atas persetujuannya.
Langkah Velyn berjalan gontai menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Kali ini ia benar-benar lelah sekali. Lelah hati dan lelah pikiran. Seraya menaiki anak tangga, Velyn mengecek ponselnya lagi dan lagi. Namun hasilnya tetap sama seperti hari kemarin.
Pikirannya terlalu terganggu hingga tak fokus pada apapun. Wanita itu kemudian melangkah menuju kamarnya, ia sampai lupa untuk tidak memasukkan baju-bajunya yang sudah dilipat oleh Santi kedalam lemarinya.
Velyn berdecak, dengan malas ia membuka pintu lemari besar itu dan menyibak gantungan baju dibawahnya untuk meletakkan baju-bajunya yang sudah rapi.
Namun Velyn menghentikan aktivitasnya seketika saat melihat koper besar yang tak asing baginya. Velyn mengerutkan keningnya, ia ingat ini adalah koper yang sudah dipersiapkan Velyn untuk dibawa oleh Valdo kemarin itu sebelum suaminya berangkat. Tapi kenapa malah berada disini?. Beribu pertanyaan mengganggu pikiran Velyn.
Wanita itu kemudian menarik koper besar itu hingga terlempar sampai ke lantai. Buru-buru Velyn membuka satu persatu resleting kopernya dan mengecek isinya. Benar saja, isinya masih sama, perlengkapan dan semua yang sudah Velyn persiapkan.
Velyn mengernyit, matanya mengerjab seraya memanas. Jadi artinya, Valdo sudah membohonginya?. Velyn seperti orang bodoh saja, ia masih ling lung. Pikirannya buntu dengan semua teka-teki tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sesak di dadanya membuat Velyn hanya mampu terisak. Inikah yang disebut Valdo ketulusan? benarkah ucapan dan perilaku Valdo padanya kemarin itu benar-benar sungguhan?.
Jika seperti ini jadinya, kenapa juga ia harus bersusah payah khawatir padanya. Sedangkan Valdo, entah apa yang dia lakukan sekarang.
__ADS_1
***
"Mama, kita makan yuk" bujuk putranya yang kini tiba-tiba masuk kedalam kamar Velyn dan mencengkeram baju tidurnya.
Marni memang sengaja menyuruh Nino untuk masuk kedalam kamar Velyn dan memintanya untuk mengajak Velyn makan. Mengingat ucapan Santi yang beberapa hari ini majikannya itu tidak bernafsu untuk makan sama sekali membuat Santi dan Marni jadi prihatin.
Setidaknya dengan bujukan Nino mamou membuat wanita itu tergugah dan mau makan.
Velyn tersenyum, wajah pucatnya sudah menggambarkan segala rasa kecewa dihatinya. Namun ia juga tak mungkin menampakkan wajah murungnya itu pada putra tirinya itu.
"Kamu belum makan ya nak?" tanya Velyn yang baru saja bangkit dari tidurnya seraya tersenyum pada Nino yang kini sudah berdiri didepannya.
"Nino nggak mau makan kalau mama juga nggak makan, mama halus makan ma, nanti kalau mama sakit gimana?" perkataan polos dari putranya itu adalah satu-satunya penyemangat dalam diri Velyn saat hatinya tengah terpuruk saat ini.
"Kalo gitu kita turun yuk, kita makan sama-sama" senyuman Nino mengembang membuat Velyn ikut tersenyum membalas. Saat ini meskipun Nino hanyalah putra tirinya, tapi seperti ada bayangan Valdo yang selalu ada disaat Nino tersenyum.
Ia menggendong tubuh kecil Nino, membawanya menuruni anak tangga seraya bercerita dengan tawa renyah bersama putranya. Rasanya hati yang tadinya hancur kini perlahan-lahan mulai terbiasa. Ia mulai merasakan nyaman akan Nino yang berada disisinya.
Setidaknya hiburan kecil ini adalah hal terindah daripada ia mengurung diri dikamar dengan tangisan dimatanya yang menggenang.
"Nino mau makan apa?" tanya Velyn dengan manja membuat Nino menunjuk ayam yang berada dihadapan Velyn.
"Nio mau ayam, mama juga makan ya?" Velyn mengangguk patuh, ia kemudian mengambilkan putranya itu sedikit nasi dipiring dan menaruhnya dihadapan meja Nino.
Setelah itu Velyn juga mengambil porsi untuknya sendiri. Dua wanita yang kini mengintip Velyn diam-diam dari arah dapur akhirnya bisa menghela nafas lega. Akhirnya dengan bujuk rayu Nino, Velyn bisa luluh dan sedikit ceria daripada sebelumnya. Bahkan meskipun makanan yang diambilnya tidak terlalu banyak namun setidaknya Velyn mau makan.
__ADS_1
"Mama, nanti Nio pengen tidur bareng mama" kata Nino manja seraya masih mengunyah ayam dimulutnya.
Putranya ini benar-benar lucu sekali, Velyn tersenyum lembut seraya mengangguk. Entah mengapa, meskipun Velyn tidak mengatakannya tapi sepertinya Nino mencoba untuk menghibur hatinya.
"Mama pasti bakal temenin kamu kok sayang, tapi makan dulu ya" Nino mengangguk patuh, ia lalu melanjutkan makannya kembali membuat Velyn mengulas senyum tipis seraya menggeleng.
Velyn benar-benar bersyukur memiliki Nino saat ia sedang terpuruk sedih. Rasanya hatinya semakin lebih baik daripada tadi.
Setelah menyelesaikan acara makan malamnya, kini Velyn menuntun Nino untuk naik ke lantai atas. Velyn membawa Nino kedalam kamar, seraya memberikan pelukan hangat untuk sang putra.
"Ma, jangan sedih-sedih lagi ya, Nio sayang sama mama. Mama nggak akan pelnah ninggalin Nio kan?" ceracau Nino seraya memeluk leher mamanya membuat mata Velyn membulat. Bagaimana Velyn bisa mengatakannya pada anak sekecil ini? bagaimana memberikan alasan yang tepat bagi buah hatinya yang masih tidak mengerti tentang kehidupan keras yang harus ia lalui saat ini.
Velyn menarik nafasnya dalam-dalam seraya menghapus jejak air matanya yang berlinang. Ia tersenyum seraya menatap Nino dengan ketulusan.
"Nino, kalau mama nggak bisa nemenin kamu lagi, itu tandanya Tuhan lebih sayang sama mama. Tuhan pengen mama tinggal di surga"
"Mama mau ke sulga?" tanya Nino polos membuat Velyn tersenyum dan menepuk punggung Nino perlahan.
"Iya, mama bakal jadi bidadari buat Nino nanti dan nggak akan pernah ninggalin Nino selamanya" Velyn benar-benar tidak tau lagi harus menjelaskan apa pada putranya. Satu-satunya cerita yang dapat membuatnya mengerti adalah seperti ini.
Setidaknya, ini mungkin mudah dimengerti untuknya daripada ia harus berjanji dan tidak dapat menepatinya.
"Jadi mama bakal pelgi, tapi mama bakal kembali buat nemenin Nino selamanya?" tanya polos Nino membuat Velyn tersenyum dan mengangguk. Nino tersenyum penuh kegembiraan seraya mencium pipi putih Velyn.
"Makasih ya mama udah mau jadi bidadali Nio, Nio sayang banget sama mama."
__ADS_1