
"Lyn" suara tak asing itu membuat Velyn yang kini duduk termenung disebuah taman tersentak. Ia menatap keduanya sahabatnya yang kini beralih duduk disampingnya seraya menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Ah, kalian ternyata"
"Katanya lo mau cerita, soal pak Valdo. Kenapa wajah lo murung gitu?" Velyn hanya mampu menggeleng ketika ditanya oleh Dira. Wanita itu kemudian menghela nafas lelah seraya menatap kedua sahabatnya itu secara bergantian.
"Seharusnya gue dari awal cerita sama kalian berdua, tapi karena gue nggak punya nyali dan pengecut, gue cuma bisa nyimpen ini dari kalian"
"Kenapa sih Lyn?! kasih tau sama kita? lo ada hubungan apa sama pak Valdo?. Gue tau hubungan lo sama dia nggak sesederhana yang kita pikirin kan?" desak Christyn yang sudah tidak sabar lagi ingin segera mendengar penjelasan dari sahabatnya ini.
"Lyn? apa ini ada hubungannya sama bu Lisa?" pertanyaan itu sontak membuat Velyn menengadahkan pandangannya, ia hanya mampu membuang nafas panjangnya seraya meraih foto dari kantong kemejanya.
"Setelah liat foto ini, kalian pasti paham hubungan gue sama dia" Christyn dan Dira saling menatap, mereka melongo tak percaya dengan foto yang dilihatnya. Sebuah foto pernikahan antara sahabatnya dengan pemilik perusahaan tempat mereka magang.
"Gue tau dipikiran kalian banyak pertanyaan dan dugaan ke gue, tapi gue memang istri sah pak Valdo."
Setelah beberapa saat Velyn bercerita...
"Lyn, yang sabar ya"
"Iya Lyn, gue yakin kok meskipun pak Valdo bukan jodoh lo, tapi diluar sana pasti banyak cowok yang mau kok sama lo
"Lo cewek baik Lyn, kalo gue ada diposisi lo, mungkin gue bakal minta cerai sama pak Valdo dimalam dia ngajuin surat kontrak" ujar Christyn dan Dira bergantian. Menenangkan hati Velyn yang kini tengah gundah. Meskipun begitu, Velyn kini sedikit merasa lega karena ia sudah menumpahkan segala cerita yang ia pendam sendiri. Setidaknya kedua sahabatnya ini mengetahui dari awal akan statusnya dengan Valdo. Sebelum mereka mengetahui dari orang lain dan mendengar versi yang berbeda. Setidaknya, Velyn tidak ingin masa lalu dengan sahabatnya terulang kembali. Velyn ingin lebih terbuka, ia menginginkan sahabat yang benar-benar menerimanya dengan tulus, dengan keadaan apapun meskipun ia tak bisa berbuat apa-apa seperti sekarang ini.
"Gue tau posisi gue kok, cuma bunda dan ayah yang buat gue kuat sampai sejauh ini. Tugas gue cuma jadi istri yang baik buat mas Valdo, meskipun usaha gue nggak dihargai, tapi gue sadar bukan mau mas Valdo buat nikah sama gue. Dia udah punya istri sahnya sebelum gue, dan nyatanya mereka belum cerai. Bagus, jadi gue bisa cepet-cepet pergi dari kehidupan dia"
__ADS_1
"Velyn, gue nggak nyangka ternyata lo punya kehidupan yang serumit ini, gue janji bakal buat ada sama lo" ujar Dira seraya memeluk Velyn dari arah samping, begitupun Christyn yang kini ikut memeluk Velyn.
"Iya Lyn, kita bakal ada sama lo. Kita bakal dukung lo kok, lo berhak bahagia Lyn. Apapun keputusan lo kita bakal dukung, selama itu yang terbaik. Kalo lo emang nggak cinta sama pak Valdo, lo mending cepet ngajuin surat cerai aja" Velyn hanya mampu mengangguk lemah. Kata siapa tidak cinta? justru kali ini Velyn benar-benar sudah terperangkap oleh pesona Valdo. Bahkan Velyn benar-benar amat mencintai suaminya itu. Namun karena sudah ada Lisa, ditambah lagi adegan yang ia lihat tadi, sudah cukup membuktikan bahwa Velyn tiada artinya lagi untuk Valdo.
Velyn benar-benar bodoh bisa percaya begitu saja terhadap Valdo. Jelas-jelas Lisa lebih dulu kenal dengannya, jelas-jelas Lisa adalah cinta pertama Valdo, tidak mungkin semudah itu Valdo melupakan perempuan itu. Mungkin perbuatan manis yang diberikan Valdo padanya hanyalah sebuah pelampiasan saja, tidak tulus seperti perjuangan laki-laki itu selama ini.
***
"Velyn, ambilkan saya berkas yang tadi pagi kamu kerjakan"
"Siap pak" Velyn memberikan berkas yang berada ditangannya pada Adrian yang kini tengah fokus menggarap pekerjaannya yang belum kunjung rampung itu.
"Kamu kenapa? sakit?" tanya Adrian yang ternyata diam-diam melirik Velyn yang tak seperti biasanya. Terlihat wajahnya pucat dan sedikit sembab di area matanya. Tak hanya itu, suaranya bahkan begitu lemah saat bicara pada Adrian.
"Tapi kamu?"
"Saya baik-baik aja" sudah cukup tegas Velyn mengatakan untuk yang kedua kalinya. Rasanya tidak enak juga mendesak Velyn pada saat jam kerja seperti sekarang ini. Sejujurnya Adrian ingin menanyakan lebih lanjut pada Velyn, namun ia sendiri sudah menegaskan bahwa tiada hal pribadi yang bisa dibicarakan saat berjalannya jam kerja seperti saat ini.
Adrian mengangguk, ia kemudian tersenyum pahit seraya membenarkan posisi kacamatanya.
Setelah jam pulang tiba, kini Adrian segera mengemasi barang-barangnya. Adrian berjalan cepat menuju kantor Velyn, seraya membawa tasnya ia buru-buru melangkah untuk masuk kedalam kantor asistennya tersebut.
"Ve-lyn!" senyuman Adrian kini luntur tatkala mendapati Leni tengah duduk di kursi dimana biasanya Velyn bekerja. Ia mengerutkan dahinya seolah bertanya pada asistennya tersebut.
"Maaf pak, Velyn sudah pulang. Saya disini untuk melanjutkan pekerjaan dia"
__ADS_1
"Sudah pulang? kapan tepatnya?"
"Baru saja pak, mungkin sekitar sepuluh menit lalu."
***
"Selalu jaga kesehatan ya Velyn, jangan lupa rajin-rajin cek up minimal sebulan sekali" Velyn hanya mampu mengangguk seraya tersenyum pada dokter spesialisnya.
"Iya dok, makasih" Velyn kemudian berjalan keluar rumah sakit. Ia memegangi tengkuknya yang terasa berat. Kali ini jika bukan demi Valdo, maka Velyn akan berjuang demi ayah dan bundanya. Mungkin memang seharusnya Valdo tidak perlu tau apa yang terjadi padanya. Toh Valdo saja tidak perduli.
Semenjak Velyn menyaksikan Valdo dan Lisa yang tengah bermesraan tadi, hati gadis Velyn benar-benar hancur. Sakit sesakit-sakitnya, bahkan Valdo juga sama sekali tak mengejarnya. Mungkin angan-angan Velyn yang terlalu tinggi, sehingga dia berpikir terlalu jauh tentang ketulusan yang pernah Valdo katakan padanya.
Velyn kini berjalan lunglai, ia kini tengah menunggu bus tiba disebuah halte. Rasanya ia tak ingin pulang ke rumah Valdo dulu, ia ingin menumpahkan segala kesedihannya dan menyendiri sementara waktu, sampai hatinya siap.
Ia menaiki bus yang kini tiba, berjalan beriringan dengan beberapa orang yang searah menaiki bus tersebut bersamanya. Tatapannya mengarah pada jalanan disamping kaca jendela tempatnya duduk. Ia menyandarkan punggungnya, merasakan lelah di sekujur tubuhnya yang amat lemah.
Kini setelah beberapa menit ia menaiki bus, tibalah Velyn didepan rumahnya. Rumah dimana ia dibesarkan oleh kedua orangtuanya. Perlahan tangan Velyn meraih gerbang pintu dan membuka gemboknya. Rumah itu meskipun terlihat sepi nsmun ada bayangan ramai didepan matanya.
Saat bunda Velyn memutuskan untuk menemani ayah berobat ke Singapura, rumah ini dijaga oleh pembantu keluarga. Perlahan Velyn berjalan perlahan menuju pintu yang tertutup itu.
tok tok tok
Setelah beberapa saat mengetuk pintu, kini seseorang dibaliknya membukakan pintu dengan senyuman mengembang.
"Non Velyn"
__ADS_1