Velyn Love

Velyn Love
Tertarik


__ADS_3

29


Mobil Rega kini telah terparkir di halaman rumahnya, ia buru-buru keluar dari mobil seraya berlari menuju rumah dan masuk begitu saja dengan tergesa. Pandangannya mencari keberadaan seseorang yang ia yakini berada didalam rumah meskipun bisa jadi tidak ada disana pada jam makan siang seperti ini.


"Lyn? Velyn? Bunda!" teriak Rega memanggil satu persatu dari penghuni rumah yang masih tersisa selain dirinya. Merasa tak dapat jawaban setelah pria itu menggeledah dapur dan mengintip kamar bundanya, Rega segera berlari kearah lantai atas, tepat dimana kamar Velyn berada. Ia buru-buru masuk kedalam kamar tersebut yang ternyata sedikit terbuka membuat pria itu langsung masuk begitu saja. Gerakannya terhenti seketika saat melihat bunda yang tengah duduk ditepi ranjang seraya menatap kosong jendela kamar Velyn.


"Bun, Velyn mana?" kini Valdo berjalan semakin mendekat, ia bahkan tidak peka terhadap situasi yang dialami oleh bundanya.


"Bun, tadi aku liat Valdo di Cafe, aku-" ucapannya pun terhenti saat bunda tiba-tiba terisak dan menyerahkan selembar kertas yang masih bertahan ia pegang sedari tadi. Malia menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, ia terisak didalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri. Sedangkan Rega, ia masih terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Pria itu kemudian memeluk sang bunda dengan begitu erat, ia mengusap punggung bundanya untuk menenangkan hati seorang ibu yang tengah hancur dengan kenyataan yang baru saja ia terima.


"Bun, udah bun, bunda tenangin diri dulu. Kita tunggu Velyn dulu ya? mungkin dia nggak cerita memang karena belum waktunya yang tepat"


"Sampek kapan dia bakal nyembunyiin ini dari kita Rega?! kenapa dia nggak bilang sama kita? Velyn, putri bunda yang malang. Gimana bisa ia tahan buat bungkam Ga, seharusnya dia bagi penderitaan yang ia terima, bukan disembunyikan kaya gini" Rega semakin mengeratkan pelukannya, serta jemarinya yang ikut mengepal. Memangnya keluarganya bisa seenaknya dipermainkan oleh pria pengecut seperti Valdo?. Padahal Rega sudah berpesan untuk tidak menyakiti Velyn lagi, tapi nyatanya, pria itu masih berani membuat gara-gara dengan adiknya. Valdo benar-benar pria yang tidak tau di untung. Bahkan rasanya jemari Valdo sudah gatal ingin memukuli pria brengsek satu itu.


Kalau saja Rega tau akan begini akhirnya, ia mungkin akan mengusir Valdo semenjak pria itu menampakkan batang hidungnya dirumahnya. Entah mengapa rasanya mengingat semua yang sudah dilakukan oleh pria itu membuat murka Rega seperti sudah berada di puncaknya.


***


Velyn menyedot cappucino kesukaannya disebuah cafe, ia membuka perlahan-lahan informasi lowongan pekerjaan yang berada di koran hari ini. Tangannya juga teliti menggaris beberapa informasi lowongan yang menurutnya mampu untuk dilakukannya.


Velyn menghela nafasnya seraya menatap jalanan yang berada dibalik kaca jendela besar dihadapannya. Sudah ia rencanakan, bahwa ia akan tinggal di kos yang kecil saja, bahkan dengan uang hasil tabungannya nanti akan ia gunakan untuk biaya kelahiran anaknya. Delapan bulan, mungkin cukup baginya untuk mengumpulkan modal persalinannya dan kemudian cukup untuk waktu beristirahat setelahnya.


Tak disangka kehampaan dan juga kesepian Velyn diamati oleh pria yang kini memandangnya dari balik mobil berwarna silver yang tak jauh dari parkiran cafe tersebut, sehingga pria itu dapat menatap Velyn yang kini tengah menikmati sisa santainya.


"Anterin gue kesana sekarang Jef!" bujuk pria itu yang tangan kirinya tergantung dan di gip itu, serta bekas luka diwajahnya membuat Jeff menatap Adrian dengan perasaan kasihan tak terbendung.


"Keadaan pak Ian itu sedang tidak baik, lebih baik tunggu sebentar lagi dan bapak bisa menemui nona Velyn sesuka hati" ucap Jeff yang begitu kekeuh akan menjaga bosnya sampai benar-benar pulih.


Kejadian itu terjadi dua Minggu lalu, pria yang mengalami kecelakaan mobil pada saat hendak menuju rumah Velyn, dan setelah menghajar Valdo habis-habisan. Ditengah perjalanan Adrian menuju rumah wanita itu, ada sebuah truk besar yang hendak menyerempet mobilnya. Pria itu dengan segenap tenaga membanting setir dan akhirnya mobilnya masuk kedalam jurang sedalam 10 meter. Adrian buru-buru keluar dari mobilnya yang terbalik, dengan segenap tenaga dan tubuhnya yang terluka ia akhirnya berhasil keluar dari mobil itu sebelum mobil tersebut benar-benar meledak. Akibatnya Valdo mengalami luka bakar di punggungnya akibat terkena ledakan dari mobilnya yang amat kencang. Setelah itu tangannya harus mengalami patah tulang, dan kakinya yang masih lumpuh akibat kesalahan saraf, juga wajahnya yang dipenuhi luka-luka akibat terjebak dari mobil yang sudah terbalik itu.


Setelah seminggu dirawat dan bahkan tidak bisa keluar dari rumah sakit walau hanya sehari, ia hanya berharap bisa bertemu dengan wanita itu. Sedangkan Adrian juga tidak ingin menghubungi Velyn dan mengatakan alasannya saat menghilang, karena itu bisa jadi membuat wanita itu tambah sedih lagi.


Dan ditengah ia verjuang untuk segera pulih, ia malah mendapatkan kabar bahwa ayah Velyn meninggal dunia. Adrian benar-benar ingin menemui Velyn saat itu juga, namun apalah daya, tubuhnya tidak bisa dipaksakan, bahkan dokter pun melarang keras agar pria itu bertahan di bangsalnya.


Sampai akhirnya perlahan Adrian mengikuti saran dokter untuk terapi berjalan agar ia bisa segera sembuh. Namun nyatanya hal itu tidak mudah ia lakukan hingga sekarang. Meskipun melihat Velyn yang baik-baik saja rasanya hatinya tak tenang jika ia tak melihat wanita itu berada dihadapannya secara langsung. Pastinya hatinya begitu hancur kan? tidak mudah menjadi Velyn yang memiliki penyakit itu dan dihadapkan oleh berita duka itu sendirian. Jalan perceraiannya juga tidak mudah untuk ia lewati, seharusnya Adrian berada disampingnya saat ini, menghiburnya dan menjadi teman setia untuknya. Tapi bagaimana mungkin ia bisa berada disampingnya dengan keadaan seperti ini? Adrian hanya mampu melihat Velyn dari jauh, mendoakan yang terbaik seraya mengetahui langkahnya lewat mata-mata untuk menyelidiki semua masalah yang terjadi padanya.


"Kalo gitu, kita pulang aja sekarang Jeff. Gue udah muak disini, cuma bisa liat dia dan nggak berguna kaya gini" ujar Adrian penuh emosi. Ia menyesali keadaannya, jika saja waktu itu Adrian tidak gegabah, mungkin bisa saja ia datang ke rumah Velyn dengan keadaan selamat tanpa harus mengalami hal mengesalkan seperti ini.


"Tapi pak-"


"Lo ngelarang gue buat kesana, dan lo nggak mau nurutin permintaan gue buat pulang. Sekarang gue tanya, mau lo apa dih Jeff?!" tanya Adrian dengan nada tinggi membuat Jeff mengangguk patuh dan langsung menginjak gasnya. Mungkin ini kali pertama Adrian dapat melihat Velyn semenjak kejadian waktu itu. Ia juga tidak ingin Velyn melihatnya dengan tatapan menyedihkan. Ditambah lagi matanya yang masih terlihat bekas luka sayatan yang masih diperban. Pasti akan sangat mengerikan jika dibuka dan Velyn melihatnya.


***


30


Ceklek


Suara terbukanya pintu disusul Velyn yang kini masuk kedalam rumahnya membuat dirinya seakan sendiri dalam kegelapan. Hening seketika saat suasana yang biasanya ramai kini berubah menjadi menegangkan. Malia yang duduk termenung di sofa ruang tamu membuat wanita itu berjalan melewatinya dan menaruh sepatu ket di rak sepatu dsn menyapa bundanya.


"Malam bun, Velyn pulang. Malam ini kita makan apa?" tanya Velyn yang tiba-tiba berjalan kearah bundanya yang sedari tadi masih diam membisu tanpa berbicara sepatah katapun. Tatapan itu membuat Velyn berhenti melangkah, ia seakan terdiam tanpa kata ketika bundanya tiba-tiba menitikkan air mata.


"Bun? bunda kenapa?" tanya Velyn dengan wajah paniknya membuat bunda segera bangkit dan berjalan cepat kearah putrinya.


"Sejak kapan kamu diceraikan Valdo?" mata Velyn membulat dibuatnya, ditengah tangis Malia yang begitu sesak oleh kenyataan yang disembunyikan oleh putrinya sendiri, bagaimana ia bisa tenang menghadapi masalah sebesar itu.


"Bunda ngomong apa sih?" tanya Velyn seraya mengerutkan keningnya. Mungkin kebohongan ini tidak akan berhasil juga, karena nyatanya Malia tiba-tiba mengeluarkan surat sidangnya dengan Valdo yang sudah terjadi semenjak satu bulan lalu.


"Nggak usah pura-pura kamu Lyn? ini apa?!" kata bunda seraya sedikit mendorong tubuh Velyn dengan menyodorkan secarik kertas itu di dada Velyn, membuat wanita itu melangkah mundur dengan matanya yang merah serta dadanya yang sesak. Velyn membuang mukanya saat bunda mulai terisak lagi. Bahkan Velyn tidak menyangka jika bunda akan tau secepat ini.


"Maafin Velyn bun, Velyn bisa jelasin-" tangan Malia hendak melayangkan tangannya kearah wajah putrinya, namun tiba-tiba saja sebuah tangan besar menahan lengan wanita itu. Membuat Malia menatap putranya dengan tatapan penuh emosi.


"Bunda! udah bun, kenapa bunda sampek kaya gini sih?! kasian Velyn bun" mohon Rega seraya menjauhkan tubuh Malia dari Velyn yang kini ikut terisak akibat tangisan sang bunda yang disertai wajah penuh amarah padanya.


Velyn tau bahwa bundanya marah, pasti ini yang akan terjadi jika nanti ia memberitahukannya sendiri. Jadi apa bedanya? Velyn hanya belum siap saja jika bundanya kecewa dan lebih sedih lagi setelah kematian ayahnya. Tapi tidak ia sangka bahwa Malia akan memukulnya seperti itu.


"Biarin bunda kasih pelajaran buat dia Ga! kamu nggak perlu ngajarin bunda biat ndidik dia. Dia emang pantes di pukul, memang dia pikir pernikahan itu mainan?!" teriak bunda membuat hati Velyn semakin sakit serta tatapan itu menjurus pada bundanya yang juga ikut kecewa dengan perilaku orangtuanya satu itu. Velyn segera berjalan cepat kearah kamarnya, ia tak perduli lagi dengan teriakan bundanya yang menghakiminya dengan sumpah serapah yang dipenuhi amarah itu.


"Hey! mau kemana kamu Velyn?! kamu bikin malu keluarga kita! Velyn!" suara terbantingnya pintu membuat wanita itu menghela nafasnya seraya menghapus jejak air matanya. Sedangkan Rega hanya mampu menenangkan bundanya yang kini tengah dirundung amarah akibat kejadian yang tidak ia ketahui ini.


Velyn menghela nafasnya, ia memerosot kan tubuhnya pada pintu yang menahan tubuhnya. Velyn berlutut seraya menangis disana. Ia meraih ponselnya dan menatap wallpaper keluarganya lengkap dengan almarhum ayahnya. Velyn terisak, ia menghapus jejak air matanya seraya menatap mata ayahnya dalam-dalam dari balik layar ponsel itu.


"Kalau ayah masih hidup, apa ayah bakal nampar Velyn, seperti apa yang akan bunda lakukan? hiks" Velyn memeluk lututnya, ia tak tahan dengan semua derita yang datang silih berganti untuknya. Sudah cukup sakit Velyn mengalami hal yang menyakitkan untuknya, bahkan berkali-kali dalam jangka waktu yang cukup dekat. Ia hanya berharap untuk didukung, diberikan semangat dan juga keamanan setelah ia terbuang sia-sia.


***


Velyn kini telah mengemasi barang-barangnya, ia sudah membulatkan tekad. Awalnya ia akan memulai hidup sendiri tanpa membuat orang lain khawatir, terutama bundanya. Tapi karena sudah terlanjur seperti ini, bunda pasti juga tidak akan menghentikannya walaupun Velyn akan pergi ke ujung dunia sekalipun.


Velyn menghela nafas, setidaknya masih ada Dira dan Christyn yang mendukung dia. Entah apa jadinya jika Velyn keluar tanpa tujuan sebelumnya. Velyn segera menurunkan kopernya, ia membawa tas kecil miliknya juga dan menariknya untuk turun dari lantai atas. Mungkin bunda akan masak seperti biasa, tapi daripada ia berlama-lama dirumah, akan menjadikan dirinya seperti luka yang tak bisa dibendung dan juga menjadi amarah bagi bundanya.


Velyn kini sudah berada di lantai bawah, ia menatap setiap sudut ruangan yang masih sepi. Sepertinya bunda amat syok dengan berita kemarin. Velyn menghela nafasnya, ia kemudian melangkah kearah kamar kakaknya yang terdapat diujung dan mengetuknya. Sepagi ini Rega pasti juga belum berangkat, jadi mungkin Velyn hanya akan memberikan salam terakhir untuk kakaknya itu.


Tok tok tok

__ADS_1


"Kak Rega" panggil Velyn pada pria itu, yabg tiba-tiba membukakan pintu dengan kemeja yang masih berantakan, pertanda baru saja keluar dari kamar mandi. Velyn tersenyum pada kakaknya, pria itu melirik koper yang dibawa Velyn.


"Mau kemana Lyn? kok bawa koper segala?" tanya Rega dengan nada bertanya sekaligus khawatir melanda pikirannya. Rega sampai tidak berpikir jika Velyn akan pergi begitu saja setelah kejadian kemarin. Memang apa yang dilakukan bundanya sedikit keterlaluan. Tapi ia tidak pernah menyangka jika Velyn berpikir untuk menghindar dari keluarganya sendiri.


"Aku mau pamit kak"


"Kemana? kamu sakit hati gara-gara bunda ngomong kaya gitu kemarin? atau kamu tersinggung?"


"Aku cuma nggak mau kalian susah karena aku. Aku nggak pernah sakit hati sama apa yang bunda katakan, karena itu semua emang bener. Aku nggak mau jadi beban buat kalian lagi, aku cuma bikin malu kak, aku-"


"Sebentar, Velyn, bunda ngomong kaya gitu cuma karena emosi. Jadi kamu nggak perlu masukin kedalam hati. Please ya Lyn, jangan pergi ya?" Velyn menunduk, ia tau apa yang dimaksud oleh Rega. Itu karena kakaknya hanya ingin menghiburnya. Selebihnya akan menjadi masalah ketika wanita itu tetap tinggal dan tidak tau batasan.


"Bagi bunda perceraian itu adalah sebuah aib, jadi sebisa mungkin aku pertahanin semua itu. Tapi kalau mempertahankan itu, aku jadi tambah tersiksa batin. Aku terpaksa kak" Rega memeluk tubuh adiknya, tubuh yang dulunya sedikit gemuk kini semakin lama semakin kurus. Jika saja waktu itu Rega bisa mencegah pernikahan itu terjadi, mungkin Velyn tidak akan tersiksa batin seperti ini.


"Kamu nggak salah Lyn, percaya sama kakak. Bunda itu cuma emosi sesaat" Velyn melepaskan pelukan Rega, ia menggeleng seraya menghela nafas menatap kakaknya. Mungkin saja bagi Rega bunda hanya terbawa emosi, tapi Velyn tau bagaimana perasaan bunda. Karena dulu bunda pernah bilang bahwa pernikahan itu bisa membawa sebuah bencana jika kita tidak bisa mempertahankannya. Berapa banyak orang yang akan menggunjing, dan status janda yang disandang rendah.


Mungkin bagi Rega ini adalah hal sederhana, begitu juga Velyn yang awalnya berpikir bahwa keluarganya akan menerimanya kembali. Tapi nyatanya, bayang-bayang Velyn terlalu tinggi seperti mimpi. Tidak seharusnya ia berharap untuk dimengerti jika perceraian dianggap sebagai kesalahan besar.


"Nggak apa-apa kak" suara bergetar dari Velyn membuat hati Rega ngilu seketika. Melihat adiknya menangis membuat ia terenyuh sampai tak bisa berkata-kata. Betapa berat hari-hari yang Velyn jalani, dan kini ia seperti terbuang dalam masalahnya yang harusnya mendapat dukungan.


"Aku nggak mau bunda sakit hati lagi tiap kali liat aku. Biarin aku pergi ya kak? aku juga pengen ngelupain semuanya tentang dia. Aku butuh sendiri dulu" ujar Velyn membuat Rega menggenggam jemari wanita itu dan mengangguk.


"Kalau gitu kakak yang bakal nganterin kamu. Janji sama kakak ya, kamu bakal ngasih tau dimana kamu tinggal. Kakak akan bertanggungjawab sama kamu Lyn, karena setelah papa nggak ada, cuma kakak yang bisa lindungi kamu" Velyn mengangguk, ia memeluk Rega dengan kuat seraya terisak dalam tangisannya yang menjadi.


***


31


Mobil Rega berhenti tepat didepan rumah besar elit yang kini menjadi tujuan Velyn untuk bertemu dengan Dira. Tak lama kemudian wanita yang begitu Velyn kenal membuka pintu gerbang hendak menyambutnya.


",Itu temen kamu?" tanya Rega membuat Velyn mengangguk. Rasanya ia tak menyangka jika harus keluar dari rumah dengan keadaan seperti ini. Tapi untungnya ada sahabatnya yang selalu setia berada disampingnya. Dengan begitu Velyn tak akan ragu lagi untuk meminta bantuan pada siapa.


"Kakak cepet berangkat gih, nanti telat loh" ujar Velyn memperingatkan membuat pria itu mengangguk lemah tanpa bersuara. Rega merasa tak berguna sedikitpun, tawarannya untuk mencarikan Velyn tempat tinggal ditolak mentah-mentah oleh wanita itu. Tentu saja alasannya tidak ingin merepotkan siapapun, tapi Rega adalah kakak kandungnya. Rasanya Rega seperti sudah amat jauh dari jangkauan Velyn. Mungkin karena kebiasaan mereka yang tidak terlalu dekat semenjak pria itu kuliah di Jerman.


"Lyn, kenapa kamu nggak izinin aku buat bantu kamu? kamu kan adik aku Lyn? aku nggak bisa ngebiarin adik aku terlantar diluar sana"


"Aku bakal cari tempat tinggal sendiri kok kak, kalau kakak mau bantu aku, kakak bisa transfer ke rekening aku. Nanti aku bakal ambil uang itu buat bayar kost"


"Kamu mau ngekost? nggak! nggak boleh. Kakak beliin


rumah aja kalo gitu-"


"Apaan sih kak, perusahaannya itu lagi krisis. Kakak lupa kalau perusahaan ayah tahun lalu hampir bangkrut kalau om Isan nggak nolongin kita?" Rega menghela nafasnya, apa yang dikatakan Velyn memang benar adanya. Tapi ia tidak menyangka jika akan seperti ini.


"Satu lagi kak, Om Isan nggak salah. Bahkan dia nggak tau apapun soal perceraian aku dan kak Valdo. Bahkan setelah Om Isan tau, beliau langsung mutusin hubungan dengan anaknya sekaligus ngasih semua harta warisannya" Rega membulatkan matanya. Jadi itu sebabnya anggaran dana dari Gaisan terhenti,. Rega berpikir jika itu adalah bentuk ketidakpuasan Gaisan pada pernikahan anaknya. Tapi yang sebenarnya adalah pemilik IT group bukan lagi pria itu.


"Jadi-"


"Iya, Om Isan tau kalau kak Valdo nikah sama aku cuma karena pengen harta warisan dari beliau aja. Jadi, kalau om Isan datang ke rumah jangan marah sama beliau ya kak" kata Velyn penuh harap, membuat Rega mengangguk seraya tersenyum penuh ketulusan. Setidaknya Rega tau pria paruh baya itu tidak terlibat bahkan tidak bersalah sama sekali. Justru penyebab semua kekacauan ini adalah pria busuk itu.


"Aku pamit dulu ya kak" Rega mengangguk seraya membantu Velyn untuk menurunkan barang-barangnya dari dalam bagasi.


***


"Valdo! keluar lo!"


brakk brak brak


Gedoran pintu dari luar rumah membuat Santi buru-buru membuka pintu itu dan segera berlari. Kenapa ada juga orang yang bertamu sepagi ini, tidak mengetuk pintu seperti biasaz atau memencet bel saja. Hal itu membuat Santi sedikit takut, ia takut jika pria yang tempo hari datang membuat keributan.


Ceklek


"Iya-"


"Mana majikan lo itu haa?!" Santi tersentak oleh perilaku Rega yang tiba-tiba masuk tanpa permisi. Bukannya malah menghentikan pria itu, tapi Santi malah terkagum-kagum akan ketampanannya. Meskipun begitu kesadaran Santi sempat kembali, ia buru-buru menghentikan langkah Rega yang hendak menimbulkan keributan dirumah tersebut.


"Pak! maaf kalau anda cari-"


Tatapan membunuh dari Rega membuat Santi mati kutu seketika, wanita itu kemudian menunduk tanpa berani berkata sepatah katapun.


"Valdo! keluar lo pengecut!"


"Ngapain lo kesini?" tiba-tiba saja Valdo muncul dengan kemeja dan jas kerja yang ia kenakan saat hendak pergi ke kantor. Laki-laki itupun menuruni anak tangga seraya menatap sinis pria yang tengah menatapnya seperti hendak membunuh mangsanya.


Tak tinggal diam, Rega tiba-tiba berlari dan memukuli wajah Valdo, membuat pria itu terguling dan terjatuh dari anak tangga. Rega segera berlari kemudian memukul wajah Valdo lagi dengan bertubi-tubi. Rasanya amarah Rega sudah tidak tertahankan lagi melihat pria ini yang dengan teganya memasang frame besar foto dirinya dan istri palsunya itu. Sedangkan kini nasib adiknya benar-benar ia hancurkan dengan mudah.


"Ini buat adek gue yang selalu lo sakitin"


bukkk bukk bukk


Berkali-kali pukulan itu mendarat di perut dan juga wajah Valdo yang kini hanya pasrah menerima amarah dari Rega yang begitu bengis terhadapnya.


"Salah apa dia ha?! lo sakitin dia! lo khianati dia! itu semua nggak sebanding sama rasa sakit yang adek gue rasain" Rega kembali memukuli wajah Valdo tanpa ampun, dengan sekuat tenaga Valdo menghindari pukulan dari Rega lagi dan mencoba melawannya. Namun usahanya gagal saat Rega mendorongnya dan menghantamnya pada Gucci di ujung ruangan hingga membuatnya pecah bersamaan dengan tubuh Valdo yang terjatuh dan kesakitan.

__ADS_1


"Argghh, gila lo Ga!" Rega segera berlari kearahnya dengan mata yang berapi-api, ia menarik kerah Veldo dan memukulnya untuk yang terakhir kalinya. Rasanya tangannya juga sudah lelah untuk memukul pria yang penuh dosa itu.


"Itu belum apa-apa, daripada lo nyakitin perasaan Velyn" ujarnya kemudian meninggalkan Valdo yang sudah tidak sadarkan diri. Sedangkan Santi yang menutup mulutnya tak percaya sekaligus rasa takut kini mulai memberanikan diri untuk berlari menolong majikannya yang sudah terkapar di lantai dengan wajah yang penuh dengan lebam dan bercak darah dimana-mana.


"Tuan Valdo!"


Rega tidak mau berlama-lama ditempat laknat seperti itu, kini tujuannya sudah tercapai dan amarahnya sudah terlampiaskan. Pria itu kemudian keluar dari kediaman Valdo dan segera menghampiri mobilnya. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat wanita dengan pakaian minimnya serta tank top yang dipakainya bersandar di pinggiran pintu mobilnya dengan mengelap keringatnya setelah selesai joging.


"Minggir!" suara barito itu membuat Lisa menoleh, ia menatap Rega dengan senyuman dan kekaguman tanpa henti. Berbeda dengan Rega yang menatapnya penuh kebencian.


"Lo budek ya?"


"Hay?" sapa Lisa dengan senyuman genit membuat Rega ingin muntah saja. Lisa menghentikan langkah Rega yang mendorong tubuhnya, membuat Rega menghempaskan lengan Lisa yang semakin tak terkendali dan menatapnya tanpa henti.


"Pergi nggak lo!" teriak Rega dengan amarahnya yang menggebu.


"Enggak, asalkan lo ngasih gue nomor ponsel lo" Rega tersenyum sinis , ia tanpa basa-basi mendorong tubuh Lisa hingga wanita itu mundur beberapa langkah darinya. Sejujurnya Rega sangat amat jijik dengan perempuan satu ini.


"Minggir lo, perempuan kegatelan!" teriaknya seraya masuk kedalam mobil. Rega berdecak kesal, ternyata wanita Valdo benar-benar lebih buruk daripada perkiraannya. Lelaki yang bodoh telah membuang sebongkah berlian demi sebiji jagung yang tidak ada harganya.


***


32


Lisa terduduk di meja riasnya, ia menyisir rambut panjangnya seraya tersenyum didepan cermin. Matanya melirik kartu nama dan kartu ATM di atas mejanya. Entah mengapa menatap mata tegas pria siang tadi membuat perasaan Lisa semakin melayang. Semakin dipikirkan, semakin Lisa salah tingkah sendiri.


"Rega Andara Putra Chandra, nama yang indah. Semakin lo menjauh dari gue, semakin gue penasaran sama lo. Liat aja, lo bakal bertekuk lutut nantinya" gumam Lisa seraya tersenyum pada pantulan dirinya didepan cermin. Menurutnya Rega lebih tampan daripada Valdo yang selalu bersikap cuek dan dingin padanya.


Meskipun kesan pertama ketika mereka bertemu sedikit tidak menyenangkan tapi lihat saja nanti, ketika Lisa tampil dengan gaya berbeda, pastinya Rega akan ramah padanya. Lelaki mana yang tidak tertarik dengan wanita berkharisma dan seksi seperti Lisa. Meskipun ia adalah wanita dengan anak satu, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kecantikannya masih terpancarkan.


tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat wanita itu menghela nafas seraya memutar bola matanya malas. Saat ia sedang senang-senangnya berangan ada saja yang mengganggunya. Lisa benar-benar tidak mengerti dengan orang-orang dirumah ini.


Wanita itu melangkah dengan malas kearah pintu, ia membuka pintu dan tampak Santi yang membawa sebuah amplop berwarna putih. Lisa memutar bola matanya lagi seraya menatap Santi dengan kesal.


"Apa sih?"


"Maaf nyonya, tapi Tuan Valdo sedang dirawat dan-"


"Siniin! udah pergi sana, ganggu aja!" ujarnya seraya mengusir Santi yang tampak menunduk seraya bergegas untuk pergi. Lisa kemudian membuka amplop tersebut, diketerangannya bahkan terdapat surat rujukan agar Valdo dipindahkan dirumah sakit yang lebih besar karena ada beberapa tulangnya yang patah.


Lisa benar-benar tak mengerti tentang apa yang Valdo lakukan dengan tubuhnya sendiri. Benar-benar merepotkannya, mungkin jika Valdo tidak kaya raya, ia juga takkan mau bermain trik untuk mendapatkannya kembali. Cinta? bahkan Lisa benar-benar tidak bisa mendapatkannya, lalu kenapa juga Lisa harus bersimpati. Tapi berbeda dengan pria pagi tadi, pria yang memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumahnya dan datang seperti pangeran yang jatuh dari surga.


Kini Lisa tidak ingin diganggu oleh siapapun juga, termasuk berita tentang Valdo dan semua permasalahannya yang pasti Lisa tidak perduli itu semua. Pikirannya tengah berbunga, jadi ia hanya akan mandi busa dan mendengarkan musik tanpa perlu mengurus yang lainnya.


***


"Udah selesai semua" seru Velyn yang baru saja menata bajunya didalam lemari. Rumah minimalis yang sudah ia sewa selama satu tahun penuh itu kini akhirnya menjadi tempat bernaung bagi Velyn yang tengah berbadan dua. Dengan bantuan kedua sahabatnya, ia hanya berharap bisa melewati semuanya dengan indah dan mudah.


Velyn sudah bertekad untuk melupakan masa lalunya, kini yang ada di depannya hanyalah dia dan anaknya. Rasanya sudah tidak sabar menantikan hari itu tiba. Jantung Velyn terasa berdebar hanya dengan membayangkannya. Namun ada rasa takut ketika ia membayangkan kebahagiaan itu. Ia takut tak bisa melihat anaknya untuk yang pertamakali. Ia takut perjuangannya akan sia-sia, takut jika anaknya dan dirinya tidak bisa bertahan.


Velyn menghela nafas beratnya seraya mengusap lembut perutnya yang masih kecil. Ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya ketika perutnya bertambah besar dan bayinya menendang-nendang.


"Loh, bumil jangan capek-capek dong. Istirahat dulu Lyn" ujar Christyn yang kini beralih mendudukkan Velyn yang berdiri didepan lemari kamarnya. Ya, siapa yang menyangka jika kedua sahabatnya adalah orang pertama yang Velyn beritahu akan bayi dalam kandungannya. Jika saja bundanya tau, mungkin saja ia takkan sanggup menerimanya.


"Enggak kok, gue cuma nata baju aja. Lagian kan gue juga bakal kerja buat persiapan lahiran, jadi nggak apa-apa kalau cuma segini" kata Velyn seraya tersenyum pada Christyn yang menatap sahabatnya penuh kelembutan.


"Lyn, Gue udah naruh sayur sama buah di kulkas, dagingnya di freezer, oh ya kalo lo mau makan tadi gue beliin bubur-" Dira terdiam seketika saat melihat mata Velyn yang terlihat berkaca-kaca. Christyn pun melihat Velyn keheranan, namun ia segera menyentuh lengan Velyn dsn menenangkannya.


"Lyn kenapa?" tanya Christyn khawatir, disusul Dira yang duduk disampingnya, membuat Velyn kini semakin terisak dan menatap kedua sahabatnya bergantian.


"Makasih ya kalian udah ada buat gue. Gue nggak tau lagi apa yang harus gue lakuin kalau kalian enggak ada" isak Velyn membuat Dira dan Christyn saling memeluk tubuh wanita ramping itu. Memangnya siapa yang sangka jika Velyn yang dulu dingin dan pendiam akan menjadi sahabat Dira dan Christyn. Velyn pun terharu dengan apa yang kedua sahabatnya ini rela lakukan untuknya. Bahkan saat keluarganya sendiri membuat hatinya ikut terluka akibat statusnya yang menyandang status janda.


"Iya Velyn, kita kan sahabat. Apapun masalah lo, kita bakal bantu semampu kita kok"


"Iya Lyn, apapun yang terjadi, kita tanggung masalah lo sama-sama" ujar Dira dan Christyn seraya semakin mengeratkan pelukannya pada Velyn yang sedikit demi sedikit menghentikan tangisannya.


Ternyata ada hikmah dibalik semua yang terjadi, tidak semua sahabat akan berperilaku sama seperti Oca yang pernah mengkhianatinya. Malahan sebaliknya, kini Velyn lebih terbuka dengan dua sahabatnya daripada siapapun. Ujiannya yang begitu berat kini bisa ia tanggung dengan sedikit lebih mudah meskipun berat baginya.


**"


Suara sendok dan garpu saling bertautan saat Rega sudah tidak nafsu untuk memakan makanannya lagi. Bahkan Malia yang kini tengah mengupas buah apel terlihat sedang tidak terjadi apapun meskipun ia tahu bahwa Velyn tidak tinggal dirumah dan bahkan pergi dari tadi pagi.


"Kenapa bunda jadi kayak gini sih?! apa bunda nggak cukup ya buat keluarga ini berantakan setelah meninggalnya ayah" ujar Rega seraya menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi dan menatap kesal pada bunda yang juga ikut menghentikan kegiatannya mengupas apel.


Tak!


Malia membanting pusau dan apel itu bersamaan dengan gerakan kencang. Bahkan matanya sudah dirundung amarah kala Rega berkata kasar yang tidak biasanya ia lakukan.


"Kamu ngerti apa tentang keluarga? kamu liat adik kamu udah cerai. Setahun Ga! pernikahan diumur jagung berakhir gitu aja. Apa kata orang nantinya-"


"Kata orang, kata orang terus!. Kita itu makan nggak minta sama orang, mau orang ngomong apa kita juga nggak bakal kelaparan. Bunda sakit hati? terus gimana tentang perasaan Velyn yang baru cerai, dan ditinggal ayah pergi, dan sekarang bunda malah bikin hati dia tambah sakit lagi!. Apa bunda pernah mikir itu semua? apa bunda tau gimana rasanya jadi Velyn. Kalau bunda salahin Velyn, gimana dengan Valdo yang udah bikin keputusan tanpa mikirin akhirnya dulu?!" Rega tak ingin mendengar apapun lagi pada bundanya. Lagipula ia sudah mengatakan apa yang ia rasakan selama ini. Pria itu memutuskan untuk pergi dan masuk kedalam kamarnya seraya membanting pintu, meninggalkan Malia yang ikut terisak oleh kata-kata Rega yang semakin melukainya.

__ADS_1


__ADS_2