
Rambut yang basah dengan tubuhnya yang lemas, wanita dengan kimono yang menyelimuti tubuhnya itu kini hanya mampu terdiam, duduk di atas ranjang king size di kamar hotel. Rintik hujan beserta suara petir yang menyambar diluar sana masih dapat ia dengar dengan jelas. Tak lama berselang, pintu kamar mandi pun terbuka, menampilkan sosok pria tinggi bertubuh tegap dengan memakai kimono yang sama dengan yang Velyn pakai saat ini.
Pria itu menggaruk tengkuknya seraya berjalan pelan kearah dimana Velyn duduk, rasa canggung, jantungnya yang berdegup kencang serta tubuhnya yang bergetar tak karuan membuat dirinya tak lagi bisa menahan gugup saat ini. Pria itu duduk dengan mengambil jarak sekitar setengah meter dari tubuh Velyn yang hanyalah mampu membuang muka, menutupi wajahnya yang bersemu merah.
"Ma-maafin aku ya, aku nggak ada pilihan selain check in di hotel, karena kalau aku ngajak kamu pulang ke rumah papa pasti bakal tau" ucap Andra dengan suaranya yang bergetar membuat Velyn menggeleng. Ini juga keinginannya untuk tidak mau pulang ke rumah, karena kalau Velyn pulang malam ini pasti akan mendapat beribu pertanyaan dari bundanya, belum lagi nanti jika ia menampakkan wajah murung. Kalau bunda tahu jika papa Andra tidak menyetujui hubungan mereka, bisa jadi Malia juga akan berpikir hal yang sama tanpa mendapat penjelasan dari Andra.
"Nggak apa-apa kok Ndra" ucap wanita itu seraya melirik Andra yang tampak salah tingkah sendiri.
"Gara-gara aku asal masuk hotel, kita cuma kebagian satu kamar kosong. Hem, atau kamu mau kita pindah hotel aja? nanti aku bisa reservasi lagi"
"Nggak apa-apa Ndra, aku percaya sama kamu baginda Raja. Dulu kan kita sering tidur bareng kalau aku nggak bisa tidur waktu masih di New York" wajah Andra kini semakin memerah mengingatnya, pria itu benar-benar tak habis pikir saat Velyn mengatakan hal itu dengan sangat mudah. Lagipula dulu itu kan memang Velyn tengah sakit dan tak berdaya, mana mungkin Andra tega bertindak lebih jauh pada wanita yang dicintainya. Sedangkan, saat ini situasinya berbeda.
"Yang mulia Ratu percaya banget ya sama saya. Kalau nanti kelepasan gimana?" ucap jahil pria itu seraya tersenyum nakal pada wanita yang kini melirik kekasihnya itu dengan tatapan membunuh.
"Andra!"
"Ya saya kan laki-laki normal Ratu, punya hasrat dan punya *****" mata Velyn kini melotot menatap Andra yang semakin berbicara tak karuan padanya. Sejujurnya Velyn sendiri tergoda dengan tubuh Andra yang amat atletis itu, namun saat ini ia mampu berpikir dengan jernih dan masih kepikiran dengan apa yang terjadi baru saja.
"Eh, iya-iya sayang. Jangan ngambek dong" Velyn menghela nafasnya, ia kemudian berjalan mendekat kearah Andra dan duduk berdempetan dengan kekasihnya itu.
Andra sedikit terkejut dengan sikap Velyn yang tiba-tiba, apalagi saat ini Velyn menyandarkan kepalanya tepat di pundak pria satu itu. Terdengar helaan nafas yang terasa lelah meski hanya samar.
"Ndra, aku cinta sama kamu. Cintaaa banget. Aku sampai nggak berhenti buat bersyukur akan hadirnya kamu dalam hidup aku" Andra tersenyum, ia meraih jemari Velyn dan menggenggamnya dengan erat. Bukannya seharusnya Andra yang mengatakan hal itu?. Cinta yang diimpikan olehnya sedari dulu, kini berada dalam pelukannya dan hampir menjadi miliknya untuk selamanya. Cinta pertama Andra sekaligus cinta yang ia doakan dalam setiap harinya agar menjadi yang terakhir untuknya.
"Aku juga cintaaa banget sama kamu Ratu ku. Seandainya ini mimpi, aku bakal minta sama Tuhan supaya Tuhan nggak ngebangunin aku dari tidur untuk selamanya"
"Ssstt, Andra kok ngomong gitu sih!" kesal Velyn seraya menatap pria itu dengan matanya yang berkaca membuat Andra mengerutkan keningnya dan menatap mata Velyn dalam-dalam.
"Aku nggak bercanda. Aku bener-bener sayang sama kamu Velyn, dari dulu sampai sekarang. Dengan segala kekurangan kamu, dengan segala kelemahan kamu. Aku cinta kamu dan semua yang ada dalam diri kamu" mata Velyn semakin berkaca mendengar Andra mengatakan hal puitis itu. Meski Velyn tidak ingin, namun air matanya terlanjur jatuh dan membuat pria dihadapannya menyeka air mata diwajahnya. Pria sempurna yang membuatnya bahagia meski dengan keadaannya yang serba kekurangan seperti saat ini.
"Atas nama papa aku, aku minta maaf banget. Maaf karena papa aku udah ngomong yang enggak-enggak ke kamu. Aku memang nggak cerita ke papa kalau aku pernah gagal, karena aku nggak pengen buat papa kepikiran, tapi aku juga nggak pernah cerita apapun tentang kamu ke papa. Aku nggak tau papa-"
"Aku tau semuanya Ndra, ini semua rencananya Valdo" Velyn mulai membuka mulutnya meski suaranya terdengar parau.
Kejadian flashback itu terngiang saat ia menceritakan dimana wanita itu keluar dari kediaman Andra, namun tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat dihadapan Velyn. Sebuah mobil yang tidak asing baginya, pria yang pernah menjadi bagian dari hidup Velyn namun kini menjadi masa lalu terburuk untuknya, ia membukakan kaca mobil dan tersenyum pada Velyn seolah bahagia melihat Velyn yang tengah meneteskan air mata.
"Velyn!" suara yang memanggil namanya, yang membuat hati Velyn semakin benci dan sakit hati. Ia menatap Valdo yang seolah terlihat senang melihatnya terpuruk sebelum pria itu tahu akan apa yang terjadi barusan.
__ADS_1
"Kamu ngapain kesini? kamu ngikutin aku?!"
"Hah? buat apa aku ngikutin kamu. Ini rumah klien aku, Pak Anton yang udah aku anggap papa sendiri. Tapi kok bisa kebetulan ya kita ketemu disini. Apa jangan-jangan kita jodoh?" kata Valdo seraya tersenyum penuh kemenangan membuat mata Velyn menyipit dan menatap Valdo penuh kebencian.
"Heh! jangan ngarep. Kamu pikir aku nggak tahu. Kamu kan yang udah bilang ke Om Anton semua hal tentang aku?! pantes Om Anton bilang kalau aku mau rujuk sama mantan suami aku. Ternyata kamu ya dalangnya"
"Maksud kamu apa Lyn?-"
"Nggak usah pura-pura lagi. Mau sampai kapan kamu ganggu hidup aku terus? mau sampai kapan kamu hancurin hidup aku? kamu belum puas dengan harta yang kamu ambil dari Om Isan? kamu belum puas dengan Lisa? wanita yang kamu cintai, ibu dari anak kamu?" Valdo kemudian turun dari mobilnya, ia hendak menyentuh jemari Velyn namun wanita itu buru-buru mundur beberapa langkah dari pria satu itu.
"Kamu salah, aku masih sayang kamu Velyn. Aku memang punya rencana mau ngelamar kamu" tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya bersamaan dengan petir yang menyambar di atas tubuh mereka yang telah basah.
"Jangan pernah mimpi aku bakal mau sama kamu lagi Valdo! Berapa banyak kesempatan yang aku berikan, tapi kamu malah buang itu semua dengan percuma"
"Tapi Velyn-"
"Aku udah cukup ngerti gimana kamu yang sebenarnya. Aku bersyukur karena kita pernah pisah sebelumnya, yang harus kamu tau dan kamu pahami. Aku nggak akan pernah sudi berhubungan sama orang kaya kamu" ungkap Velyn seraya berlari menjauh dari Valdo yang kini terdiam tanpa kata. Pria itu ingin berteriak, memanggil nama wanita itu, namun entah mengapa kata-kata Velyn yang terlontar padanya seolah membuatnya tak berdaya.
***
Tok tok tok
Suara ketukan pintu bersambung bell rumah yang terdengar bersahutan membuat pria yang baru saja usai mandi di larut malam itu terganggu. Pria itupun keluar dari kamarnya dan turun dari tangga rumahnya. Malam-malam seperti ini siapa yang bertamu? apalagi saat ini hati lelaki itu masih terganggu akan penolakan dari wanita yang paling ia cintai.
Akal pria itu seolah sudah tidak lagi bermain, saat seharusnya ia tertidur dan terlelap kini ia malah bangun dan meladeni tamu yang datang di jam yang terhitung tidak wajar seperti saat ini. Biasanya yang datang seperti ini hanyalah asisten pribadinya, namun juga cukup jarang mengingat dalam Minggu terakhir pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak. Tanpa banyak pertimbangan dan berpikir panjang pria itu buru-buru membuka pintu utama dan matanya menangkap siluet seorang pria yang tiba-tiba memukul wajahnya dengan brutal.
"Arrgghht"
"Sialan kamu Valdo! kamu yang rencanakan ini semua agar hubungan saya dan anak saya merenggang seperti ini?" ujar pria itu seraya menghantam tubuh pria itu dengan pukulan penuh emosi. Valdo kemudian tersadar dari lamunannya, pria itu menatap Antonio dengan tatapan nanar tak percaya. Valdo segera menghindar dari pukulan pria satu itu dengan segenap tenaga.
"Pak Anton!"
"Kamu mau beralasan apa lagi?! kamu buat rencana agar saya tidak menyetujui hubungan Andra dan Velyn?! dasar laki-laki busuk!" meski Valdo mengelak, tapi ia masih kalah kuat dengan tenaga pria yang kini memukul wajahnya habis-habisan. Valdo sudah tidak kuasa lagi, ia akhirnya ambruk dengan tubuhnya yang lemah dan lebam penuh luka.
"Ini balasan buat kamu Valdo! jangan kira, saya bisa memaafkan kamu" satu pukulan lagi hendak mendarat di wajah pria satu itu, namun usahanya gagal saat seorang satpam melerai dirinya dan menjauhkannya dari tubuh Valdo yang kini terkapar di lantai.
"Pak, stop pak!"
__ADS_1
"Lepaskan saya! saya mau ngasih pelajaran ke dia?!"
"Sabar pak, sabar. Kalau bapak melukai orang seperti ini saya terpaksa akan melapor pada polisi" ucap satpam tersebut memberi nasihat pada Antonio yang kini masih berambisi untuk memukul pria satu itu dengan membabi buta.
"Pak, Anton. Uhuk uhuk" Valdo yang kini terkapar hendak bangkit, namun sayang usahanya sia-sia. Suara kecil yang memanggilnya papa seolah tak terdengar oleh suara hujan diluar sana yang masih terdengar jelasnya. Pria kecil yang mengintip dari balik tembok dengan tatapan dingin meski sedikit takut.
"Papa" ucapnya pelan dan bergetar.
"Kamu mau ngomong apalagi Valdo ha?! saya sudah tahu semuanya! saya sudah menyelidiki tentang ayah kamu, pernikahan kamu dengan Velyn, dan apa yang kamu lakukan. Jujur saja Valdo, saya merasa jijik. Kok bisa-bisanya ada manusia seperti kamu, kotor, penuh dosa, bukannya bertaubat sekarang kamu malah menambah dosa kamu sendiri" teriak Antonio geram, ia menghempaskan lengan satpam yang kini tak lagi menahan tubuhnya itu dan menatap Valdo dengan pandangan berapi-api.
"Saya nggak perduli kalau mau dilaporkan ke polisi. Saya akan menuntut balik perbuatan kamu selama ini. Saya sudah terlalu banyak bersabar Valdo, tapi kamu dikasih hati malah minta jantung. Salah saya karena hati saya terlalu baik hingga kamu memanfaatkan simpati saya. Kamu pikir, saya nggak tahu kalau kamu menilap uang perusahaan?" senyum sinis Antonio membuat pria yang terkapar lemah itu perlahan-lahan bangkit dibantu oleh satpam.
Kini Valdo sudah tidak dapat berkutik lagi, kepercayaan yang ia dapat dari pria dihadapi itu kini sudah tidak berarti lagi. Sekali saja Antonio bertindak, maka semua kiat yang dilakukan olehnya akan terbongkar meski hanya dalam hitungan menit. Belum lagi perasaannya yang baru saja tumbang oleh penolakan wanita yang paling ia cintai, meski lebih sakit untuk kehilangan Velyn daripada semua hartanya, tapi ia sudah tidak lagi memiliki siapa-siapa untuk mendukungnya.
"Maafin saya Pak" ucapnya pelan dengan suaranya yang bergetar dan air mata yang menetes membasahi pipinya. Pria itu kemudian berlutut, ia bersimpuh dihadapan pria yang seharusnya dari awal tidak pernah ia ganggu kehidupannya.
"Saya nyesel pak, tapi saya nggak pernah bohong. Saya memang mau melamar mantan istri saya. Saya-"
"Mau ngomong apalagi kamu? kamu mau cari muka lagi didepan saya? saya tegaskan sekali lagi ya, saya nggak perduli lagi sama kamu. Dan saya sudah hilang respect dengan karma kamu itu" Antonio melangkah hendak keluar dari rumah Valdo. Ia sudah amat kesal dengan pria satu itu, terlebih ia sangat menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia sampai mau termakan oleh hasutan pria yang baru ia kenal beberapa bulan lalu.
"Jangan berlagak seperti seorang korban ketika kamu memanglah pelaku atas semua penderitaan yang kamu alami semua ini. Bukannya memperbaiki diri, tapi kamu malah melakukan hal yang sama. Saya teramat kecewa dengan kamu Valdo. Saya harap, kita nggak akan berurusan lagi setelah ini dan selamanya" ujar Antonio diambang pintu rumah besar itu. Pria itu kemudian berjalan keluar dan memasuki mobilnya. Meski Valdo masih berlutut ia masih meneteskan air mata tanpa bersuara. Ia hanya berharap semoga Antonio tidak melaporkan perbuatannya pada polisi.
"Papa" suara kecil itu seolah membuat akal Valdo sedikit tersadar. Namun ia masih terdiam dan menatap punggung satpam yang pamit pergi setelah kehadiran Nino yang kini hendak mendekati dirinya.
"Sudah aku bilang kan, papa nggak perlu ngejar-ngejar Tante Velyn lagi. Tapi papa tetap berjuang meskipun itu salah" ucap pria kecil itu seraya menghela nafasnya pelan. Padahal sebelumnya mereka pernah berjanji untuk hidup dengan damai berdua saja. Tapi siapa sangka jika Valdo mengingkari janji mereka demi keegoisannya sendiri.
"Kirim aku ke panti pa. Aku bakal siap-siap malam ini. Jujur, aku kecewa sama papa" ujar Nino yang kini berlari tanpa memperdulikan Valdo yang masih terdiam, menangis dan meringkuk di atas lantai selepas putranya naik lantai atas.
***
"Dasar sinting! kok kamu baru cerita sekarang sih sayang?! Valdo itu udah gila kali ya!"
"Maaf, tapi aku masih tertekan sama perbuatannya. Aku nggak nyangka dia bakal ngelakuin hal senekat itu buat misahin kita" ujar Velyn seraya memeluk lengan Andra yang kini termakan emosi oleh cerita Velyn tentang Valdo yang masih mengganggu hidupnya.
Padahal dulu, Andra lah yang berjuang mati-matian untuk Velyn. Namun tanpa disangka, Velyn malah menikah dengan pria itu yang pernah membuat hati Velyn menjadi sakit. Velyn juga berusaha menjadi yang terbaik untuknya, namun usaha wanita itu sia-sia dan dibalas dengan kelabilan serta rasa sakit yang diberikan oleh Valdo berulang kali. Bukan hanya mental, tapi fisik Velyn juga dihancurkan olehnya. Sakit hati Andra mengingat hal itu, dan sekarang ketika Velyn hendak menjalani kehidupannya yang normal terlepas dari trauma dan rasa sakit, dia malah memungut Velyn lagi seolah Velyn adalah serbet yang tiap kali ia abaikan jika tidak perlulah.
"Besok kita jalan-jalan yuk. Sekalian cek up ke dokter dan beli obat-obatan buat kamu. Kan bulan ini belum kontrol lagi kan?" Velyn tersenyum seraya menatap mata Andra lamat-lamat, binar mata yang bahagia saat ini adalah tujuan Andra untuk selalu melihat bagaimana wanita yang paling ia cintai tidak lagi merasakan sakit seperti masa lalunya maupun keadaannya saat ini.
__ADS_1
"Iya, tapi aku yang nentuin kita mau jalan-jalan kemana ya"
"Setuju" ucap Andra penuh semangat dan mengecup puncak kepala Velyn searaya menyentuh kepalanya dengan lembut.