
Velyn tampak keluar dari rumah besar itu, ia melangkah perlahan kearah suaminya yang kini memakai kemeja krem dibalut dengan jas hitam miliknya dan benar saja setelan itu tampak serasi dengan gaun yang Velyn pakai. Begitu gagah dan tampak semakin tampan saat pria itu membawa sebuket bunga mawar merah dan diberikannya pada Velyn.
Velyn tersipu, ia menerima bunga itu dengan senyuman seraya menyelipkan beberapa anak rambutnya ke sela telinganya.
"Kamu cantik banget sayang" puji Valdo saat menatap penampilan Velyn dari atas sampai bawah. Ternyata gaun yang ia pilihkan memang benar-benar membuat gairah Valdo bergejolak. Ditambah lagi bagian tubuh sensitifnya yang terlihat sedikit transparan.
Ini semua juga ide gila dari Adrian. Si pria mesum itu yang menyarankannya untuk membeli gaun ini untuk makan malam ini. Saat ini Valdo mendekat kearah istrinya, ia mempersilahkan Velyn untuk menggandeng lengannya dan Velyn hanya menurut saja.
"Makasih buat gaunnya" bisik Velyn membuat Valdo mengangguk dan menatap manik mata Velyn dalam-dalam. Valdo menuntun jemari Velyn untuk masuk kedalam mobilnya dan tak lupa membukakan pintu untuk ratunya malam ini.
Perjalanan tak memakan waktu cukup lama, hanya setengah jam saja dan mereka sudah sampai di hotel bintang lima. Hotel indah dihadapannya membuat Velyn takjub saking besarnya. Velyn memang kaya, tapi menghabiskan makan malam untuk sekali makan di hotel ini sepertinya perlu diperhitungkan lagi.
"Disini kak?" Valdo mengangguk, sebelum ia keluar dari mobil, Valdo melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Velyn. Membuat gadis itu mengernyit seraya menatap Valdo dengan dipenuhi pertanyaan 'kenapa?'.
"Aku nggak mau ada orang lain yang lihat tubuh kamu, cuma aku yang boleh dan aku yang berhak" jelas Valdo membuat Velyn menelan salivanya. Padahal jelas-jelas Valdo sendirilah yang memilihkannya gaun transparan ini. Kenapa jadi dirinya yang sepertinya merasa bersalah ya?.
Setelah Valdo membukakan pintu mobil, Velyn meraih jemari Valdo dan ikut turun bersamanya. Mereka masuk kedalam hotel itu, setelah sampai di lobi Valdo mengisyaratkan Velyn untuk menunggu sebentar, karena hendak mengambil kunci pada resepsionis hotel.
Setelah mendapatkan kunci tersebut Valdo kemudian menggandeng jemari Velyn dan mengajaknya untuk naik kedalam lift. Valdo memencet tombol 15, tak lupa ia juga berbisik mesra ditelinga istrinya, membuat gadis itu menahan rona diwajahnya.
"Malam ini malam kita sayang, tapi sebelum kamu lihat kejutan yang bakal aku kasih, kamu pakek ini dulu" Valdo mengeluarkan penutup mata dari dalam sakunya, ia memasangkannya pada kedua mata Velyn membuatnya menaikkan sebelah alisnya. Sebenarnya apa yang direncanakan suaminya satu ini?. Velyn benar-benar penasaran dengan apa yang akan dilakukan Valdo nanti. Sekaligus ia begitu tak sabar untuk melihatnya.
"Kak, sebenarnya kakak mau bawa aku kemana sih?" pertanyaan itu hanya bisa membuat Valdo menahan senyumnya seraya mengecup pipi istrinya dengan lembut.
"Rahasia dong" senyuman Velyn semakin terulas kala suara denting lift berbunyi. Itu artinya mereka sudah sampai dilantai yang Valdo tuju. Pria itu kemudian menuntun Velyn agar mengikuti langkahnya menuju kamar dan keluar dari kamar itu melalui pintu yang terhubung pada roof top. Setelah sampai Valdo kemudian berbisik pada gadis yang kini berdiri disampingnya dengan perasaan berdebar tak karuan.
__ADS_1
"Udah sampai sayang, coba deh kamu buka" bisik Valdo yang kini memeluk pinggang Velyn membuat nafas pria itu seperti menerpa kulit lehernya.
Velyn takkan menyia-nyiakan waktu lagi demi perasaan penasarannya yang semakin menjadi. Perlahan ia membuka penutup mata dan membuka matanya. Ia benar-benar takjub, kamar hotel yang disediakan roof top diluarnya, menampilkan banyak lilin-lilin cantik yang membentuk hati dengan kelopak mawar ditengahnya.
Balon berwarna pink dan putih menghiasi tempat itu membuat suasana romantis semakin hangat saja. Lalu didepan meja dan kursi yang sudah dipersiapkan, pemandangan malam tergambar didepannya. Bisa Velyn bayangkan bagaimana romantisnya makan malam ditempat ini. Ditemani cahaya bulan dan lampu-lampu ibukota dibawahnya. Mata Velyn berbinar, ia menutup mulutnya tak percaya dengan kejutan dari suaminya.
"Gimana? bagus nggak?" Velyn mengangguk, ia kemudian mengahadapkan tubuhnya kekanan, yang masih menempel pada tubuh Valdo yang enggan untuk melepaskan pelukan di pinggang Velyn.
"Ini bagus banget kak, aku suka" kata Velyn dengan senyuman bahagia yang semakin tercetak jelas diwajah cantiknya. Valdo menatap mata indah dihadapannya ini dengan lama, ia menangkup wajah Velyn dan mencium bibirnya dengan gemas.
Ada rasa menggelitik saat Velyn merasakan lidah Valdo memenuhi mulutnya. Valdo dengan nakal menghisap bibir Velyn dan memperdalam ciumannya, membuat Velyn menghentikan ciuman itu karena kehabisan nafas. Velyn langsung memeluk Valdo, ia bahagia, bahagia sekali malam ini. Tidak pernah Velyn diperlakukan manis bak ratu seperti ini.
"Makasih kak, ini bener-bener indah" Valdo membalas pelukan Velyn dan mengecup puncak kepalanya. Mendengar dan melihat Velyn memeluk serta memujinya membuat hati Valdo berbunga. Ia merasakan getaran di dadanya yang selalu muncul tiap kali berada didekat Velyn seperti saat ini.
"Ini hadiah buat pernikahan kita yang belum sempat aku kasih ke kamu. Aku pengen kamu jadi satu-satunya perempuan yang bisa selalu aku cinta, Arvelyna Putri Chandra" suara Valdo saat menyebutkan nama lengkapnya membuat hati gadis Velyn membeku. Ia merasakan haru saat Valdo kini beralih menggendongnya ala bridal style dan menurunkannya tepat dikursi serta mendudukkannya disana.
Dua piring steak dengan dua gelas jus anggur terpampang jelas didepan mata Velyn yang kini masih terdiam. Menatapnya dengan pandangan bertanya. Valdo yang mengetahui apa yang dipikirkan Velyn pun mengangkat gelas seraya menyesapnya perlahan
"Aku tau kamu nggak minum alkohol, ini cuma jus anggur biasa kok" jelas Valdo membuat mata Velyn berbinar dan mengangguk untuk kesekian kalinya.
Akhirnya mereka makan malam bersama, ditemani cahaya rembulan purnama diatas langit ibukota, dengan pemandangan indah lampu jalanan yang memanjakan mata mereka.
"Aku pengen kamu suapin dong?" sela Valdo saat Velyn sudah selesai memotong steak-nya. Velyn tersenyum, ia menahan tawanya saat Valdo mulai bertingkah seperti bayi saat ini.
"Sayang, kamu cantik banget sih malam ini" kata Valdo seraya menahan dagunya menggunakan tangannya dan menatap Velyn tanpa berkedip. Velyn yang ditatap seperti itu hanya bisa menunduk menahan malu.
__ADS_1
"Wajah kamu merah tuh, malu ya?" tanya Valdo terang-terangan membuat Velyn membuang muka seraya mengerucutkan bibirnya.
"Apaan sih kak, nggak lucu deh!" tukas Velyn seraya memutar bola matanya. Valdo benar-benar gemas ketika ia berhasil menggoda Velyn, bahkan saat ini ketika Velyn hendak menyantap steak dari garpunya, tiba-tiba saja tubuh Valdo maju dan menyambar potongan steak itu.
"Kak Valdo jangan usil deh!" Valdo tertawa renyah seraya mengerlingkan matanya terhadap istrinya yang kini menggembungkan pipinya seperti anak kecil saja. Ia semakin gemas saja terhadap Velyn.
"Maaf deh, eh kamu tau nggak, itu rumah kita loh?" tunjuk Valdo pada lampu kecil dari perumahan yang terlihat jauh dari pandangan mereka.
"Itu tuh yang itu?" dengan polosnya Velyn masih mencari sosok rumah yang ditunjuk asal oleh Valdo. Membuat Velyn memajukan sedikit wajahnya.
"Mana sih kak, bukan itu, itu tu-"
Cup
Satu kecupan hangat dipipi Velyn membuat gadis itu terdiam seketika seraya membulatkan matanya.
"Udah ya, jangan ngambek lagi. Kan udah aku cium" Velyn mengerutkan keningnya. Valdo benar-benar si tukang modus. Ia bahkan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, membuat Velyn hanya mampu terdiam lalu kemudian beralih berdiri dan melangkahkan kakinya untuk duduk dipangkuan Valdo, membuat mata Valdo terperanjat.
Benarkah ini Velyn si pemalu itu? Velyn yang pendiam dan hanya bisa menunduk itu, kini dengan berani duduk dipangkuannya seraya memeluk lehernya.
Valdo tersenyum penuh kemenangan melihat antusias Velyn yang tersenyum penuh makna terhadapnya. Perlahan Valdo memejamkan matanya kala Velyn mendekatkan wajahnya. Namun bukannya merasakan hangat dibibirnya kini hidungnya malahan terasa sakit akibat cubitan dari Velyn.
"Rasain nih!" cubit gemas Velyn pada hidung Valdo yang bangir, seraya terkekeh geli dengan sikap Valdo yang tiba-tiba menutup matanya. Velyn tau, pasti suaminya ini berpikiran mesum dengan melihat posisi Velyn yang seperti tengah menggodanya. Tapi yang dipikirkannya ternyata salah besar.
"Aduh sayang, jangan ditarik dong hidung aku"
__ADS_1