
Pumpung masih di sekitar mall Velyn tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bermain beberapa permainan di Timezone dan mengajak Valdo jalan-jalan. Velyn dengan mesra menggandeng tangan Valdo ia tersenyum seraya menatap beberapa permainan dihadapannya.
"Mau main yang mana dulu?" Velyn mengulum bibirnya, ia berfikir sejenak saat Valdo bertanya, tak butuh waktu lama wanita itu kemudian menunjuk satu permainan dance dan menarik Valdo kedalamnya.
"Ayo mas!"
"Aku nggak bisa Lyn" Velyn menggeleng, ia bersikeras untuk mengajari suaminya itu. Langkah demi langkah dilakukan oleh keduanya atas bimbingan dari Velyn dan akhirnya Valdo mulai bisa menyeimbangkannya dan tertawa lepas saat mereka berdua mulai beraksi.
Setelah itu Velyn mengajak Valdo untuk main tembak-tembakan, kali ini Velyn akui kemampuan Valdo benar-benar tidak bisa tertandingi. Padahal suaminya berkata bahwa ia baru pertamakali main seperti ini di dalam mall.
"Ayo Lyn, masa kamu kalah sih sama mas!" ejek Valdo membuat pipi Velyn mengembung, namun bukan Velyn namanya jika ia kehabisan akal. Buru-buru Velyn menarik lengan Valdo dan mencium bibirnya sekilas membuat Valdo tak bisa berkutik. Ia bahkan terdiam cukup lama seraya memegang bibirnya bekas ciuman manis dari istrinya itu.
"Yey! aku menang!" teriak Velyn kegirangan membuat Valdo membulatkan matanya seraya menatap hasil permainannya yang baru saja kalah.
"Hah?! curang kamu ya!"
"Mana ada aku curang, kamu juga ngapain diem terus dari tadi" Velyn menjulurkan lidahnya, ia kemudian berjalan cepat menjauh dari Valdo dan membalikkan tubuhnya seraya mengedipkan satu matanya kepada sang suami saat setelah beberapa langkah jarak mereka. Melihat penampilan Velyn seperti itu, mengingatkan Valdo pada Velyn yang dulu. Karena semenjak mereka menikah keduanya selalu keluar rumah memakai pakaian yang sedikit formal. Tapi berbeda dengan hari ini, Velyn meminta Valdo untuk memakai kaos dan celana jeans pendek, begitupun dengan dia yang memakai kaos lengan pendek dan jaket jeans serta celana mini sepaha.
__ADS_1
Bukan karena apa, tapi Velyn ingin merasakan pacaran dengan Valdo sekali-kali. Meskipun mereka sudah menikah, tapi tidak ada salahnya juga kan berpenampilan seperti anak muda. Begitu pikir Valdo saat sebelum mereka memutuskan untuk jalan-jalan kemari.
Valdo kini dengan konsentrasi yang tinggi hendak mengambilkan Velyn sebuah boneka didalam mesin capit boneka. Ia menatap pergerakan capit didalam mesin itu seraya berdoa dalam hatinya agar mendapatkan boneka apapun bentuknya.
Valdo tersenyum ketika melihat ekspresi serius dari Velyn. Padahal jika Velyn minta boneka sebanyak apapun pasti akan diberikan olehnya. Tapi siapa sangka Velyn malah meminta jalan merepotkan seperti ini untuk mendapatkan boneka dari tangan Valdo sendiri. Tapi tak apalah, jika membahagiakan istri cukup sederhana seperti ini, kenapa tidak?.
"Yang itu mas, angkat-angkat! jangan sampai lepas!" begitu kiranya perintah Velyn yang begitu gemas setelah beberapa kali Valdo gagal mengambilkan boneka untuk sang istri.
"Dikit lagi mas! Yaaaaa!" Velyn tersenyum kegirangan saat boneka itu jatuh keluar dari dalam kotak dihadapannya. Ia buru-buru mengambil boneka berbentuk beruang tersebut seraya tersenyum pada sang suami yang terlihat lega dengan hasil yang ia dapat barusan.
"Dapat mas! makasih ya" ujar Velyn seraya tersenyum untuk kesekian kalinya. Betapa bahagianya Velyn hanya dengan hal sederhana seperti itu, jika saja wanita lain berada diposisi Velyn saat ini pasti mereka akan meminta hal yang mewah, perhiasan, make up, atau barang lain yang bernilai tinggi. Dulu saja saat Valdo hidup dengan Lisa, banyak sekali permintaan wanita itu. Padahal bisa dibilang kehidupan mereka saat itu sedang terpuruk karena jauh dari keluarga.
Melihat ekspresi Velyn saat ini membuat Valdo ikut senang dibuatnya. Mengingat hal yang sudah berlalu membuat penyesalan demi penyesalan datang kembali dalam pikirannya. Bahkan Velyn jauh lebih baik daripada wanita pilihannya. Wanita sederhana yang hanya menginginkan keluarga hangat dan bahagia. Sayangnya Valdo telat menyadari hal itu, ia terlanjur terjerumus dalam ego dan gengsinya.
Tidak hanya itu, setiap kali melihat senyum Velyn seperti saat ini membuatnya ingat akan derita yang Velyn alami saat Valdo menyiksanya dulu. Entah mengapa, Valdo semakin merasa tidak pantas untuk Velyn yang terlalu sempurna.
"Mas? kok ngelamun? lagi mikirin apa sih?" saat ini mereka sedang berjalan hendak keluar dari mall. Setelah puas bermain-main, kali ini Velyn ingin bersantai dulu. Sejujurnya dari tadi Velyn memikirkan Nino yang entah apa kabar dia dengan Lisa. Meskipun ada Marni yang mengawasi, tapi tetap saja
__ADS_1
Velyn merasa khawatir.
"Enggak apa-apa kok, kamu kayanya juga lagi banyak pikiran. Mikirin apa?" Velyn menyelipkan rambutnya kebelakang telinga, ia tersenyum seraya menggeleng. Meskipun mereka sudah berjanji untuk saling terbuka, tapi tetap saja, Velyn merasa tidak enak untuk menyinggung Nino dan Lisa. Walau bagaimanapun Velyn hanyalah ibu tiri, dan Lisa adalah ibu kandung Nino. Tidak sepatutnya Velyn mengatakan hal yang tidak-tidak karena perasaannya yang terlalu khawatir itu.
Setelah mereka keluar dari mall dan memutuskan untuk pulang, Velyn mengajak Valdo untuk makan dipinggir jalan, tempat biasa mereka makan. Yaitu bebek lalapan dan sambal khas yang Velyn sukai, dan mungkin sekarang sudah menjadi favorit Valdo juga.
"Mas"
"Heum?"
"Buat kamu" Velyn memberikan satu boneka beruang dengan pita pink untuk Valdo, dan boneka dengan pita biru ditangannya. Valdo mengernyitkan alisnya, bukannya tadi Velyn sangat menyukai boneka ini, tapi kenapa tiba-tiba memberikan padanya.
"Kenapa di kasih ke aku?"
"Karena bonekanya couple jadi yang satu buat kamu, harus dijaga baik-baik ya. Jangan sampai hilang, kaya kamu yang nggak mau kehilangan aku" Velyn tersenyum kearah Valdo yang masih membatu akibat perkataannya tadi, ia kemudian buru-buru keluar dari mobil seraya menyembunyikan wajahnya yang merona dari sang suami.
Valdo tersenyum, tatapannya masih terpaku pada boneka yang ia pegang dan wanita yang kini tengah memesan makanan pada pria tua si penjual lalapan.
__ADS_1
"Pasti bakal aku jaga" gumamnya seraya mencium boneka itu.