
Mana yang kemarin teriak-teriak suruh Velyn minta balikan sama Andra?
Kalo kalian tim mana nih? Velyn dan Valdo atau Velyn dan Andra ☺️?
______________________________________________
Velyn kini sudah sampai dirumah besar dengan gerbang tinggi menjulang menyambutnya. Gadis itu menatap heran pada rumah sebesar ini. Rumah milik Valdo yang hanya ditinggali dirinya bersama dengan Nino. Apa tidak terlalu besar untuk keduanya? ditambah lagi Nino masih kecil. Velyn segera menggeleng, ia sudah berjanji bukan akan datang di hari minggu untuk menemani Nino bermain.
Hitung-hitung Velyn melepas kerinduannya pada pria kecil tampan itu. Velyn kini bersiap memasuki rumah besar itu, sesampainya di depan pintu rumah Valdo, Velyn hendak menekan bel. Namun belum sempat ia menekan tombol itu, ia dikejutkan oleh terbukanya pintu yang tiba-tiba membuka, seketika gerakannya terhenti.
"Udah sampe ya? tuh Nino di dalem" ujar Valdo dengan senyum yang mengembang. Entah mengapa melihat Velyn dengan tampilan berbeda kali ini membuat hati Valdo menghangat. Ia mempersilahkan Velyn yang kini memegangi tasnya seraya mengangguk.
Velyn memasuki rumah besar itu, ia menatap sekeliling rumah dengan aksen gaya eropa yang begitu mewah lengkap dengan furnitur gaya barat yang membuat rumah ini tampak seperti kastil.
"Kak, aku mau ke toilet sebentar" ujar Velyn seraya menghentikan langkahnya yang mengekor pada Valdo. Pria itu mengangguk, ia menunjukkan jalan menuju toilet terdekat.
"Lurus aja, nanti belok kanan disebrang dapur. Kalau ada apa-apa tanya bibi aja di dapur. Gue tungguin lo diatas, soalnya Nino lagi main sama baby sitternya" Velyn mengangguk, ia menatap Valdo yang kini tersenyum seraya melangkahkan kakinya menuju tangga atas dimana letak kamar Nino berada.
Sebenarnya ia agak canggung, apalagi ini baru pertama kalinya Velyn masuk kedalam rumah Valdo. Namun Velyn buru-buru menggeleng, ia lantas memasuki lorong demi lorong ruangan Valdo untuk kemudian masuk ke kamar mandi yang tepat berada disamping ruang dapur.
__ADS_1
Setelah selesai dan keluar dari kamar mandi Velyn berjalan perlahan, ia menatap sekeliling ruang keluarga yang berisikan foto-foto Valdo bersama dengan Nino. Tak disangkanya ayah dan anak begitu mirip, sangat tampan. Batin Velyn yang kini tengah merona. Velyn memperhatikan setiap foto yang terpampang disana. Namun perhatiannya terkunci pada frame kecil yang berada diujung laci berbentuk kaca. Pantulan frame dari dalam lemari itu memperlihatkan kemesraan Valdo dengan seorang wanita.
Velyn mengernyit, hanya dengan melihat foto ini ia sudah mampu menyimpulkan bahwa dia adalah mama kandung Nino sekaligus mantan istri Valdo. Benar-benar cantik, entah mengapa sedikit sesak Velyn rasakan saat melihat kemesraan keduanya. Dan mengapa juga Valdo masih menyimpan ini? apa dihatinya masih ada perempuan itu?. Velyn menghela nafasnya, fikirannya yang karut marut itu ia buang begitu saja. Apa hubungannya dengannya? ia datang hanya sebagai pengganti bukan? tidak lebih.
Velyn melangkahkan kakinya menuju lantai atas, ia berjalan perlahan dan hendak mengetuk pintu kamar yang bertuliskan Nino Gaisan disana. Namun belum sempat gadis itu mengetuk pintu, sebuah suara samar-samar membuat Velyn menelan ludahnya.
"Nino, kamu nggak boleh ya manggil tante Velyn mama, dia itu bukan mama kamu" jelas-jelas itu suara Valdo yang memberi pengertian pada Nino. Mendadak hati Velyn sesak dibuatnya. Entah mengapa, padahal ia mencoba untuk mengabaikannya, tapi hanya mendengar Valdo bicara demikian membuat hatinya sakit.
"Kenapa pa?"
"Karena tante Velyn udah punya pangeran"
"Pasti pangeran itu papa kan?"
"Nino salah, sekarang papa mau tanya, Nino sayang nggak sama tante Velyn?" sebuah anggukan kecil membuat Valdo tersenyum manis pada putranya satu itu.
Atau jangan-jangan Valdo sudah tau jika sebenarnya Velyn punya hubungan dengan Andra? makanya dia berpikir jika Velyn lebih baik tidak usah sekalian menikah dengannya dan menjadi mama Nino?. Terlalu banyak yang Velyn pikirkan, dan seharusnya ia tak perlu memikirkannya. Sejak kapan ia mulai perduli dan terbawa hati oleh Valdo begini? mengingat Andra saja ia muak. Sudahlah, sejak awal Velyn sudah mempersiapkan hatinya bukan? ia sudah tau jika Valdo menolak pernikahan ini, dan begitupun juga dengan dirinya. Jika Valdo ingin menghentikan pernikahan ini atau berbuat sesuatu itu juga urusannya.
Velyn memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar itu. Rasa sesak di dadanya ia hempaskan begitu saja, seolah tidak terjadi apa-apa.
Velyn hendak melanjutkan ketukannya lagi, namun Valdo kini sudah membuka pintu tersebut dan tersenyum padanya seolah melupakan perkataannya yang tadi. Memang Velyn akui jika Valdo begitu tampan, pria muda yang sudah menjadi papa dihadapannya ini, entah akan menjadi suaminya atau tidak, itu semua terserah pada Tuhan. Ia juga tak melarang Valdo untuk melakukan segala cara agar pernikahan ini dibatalkan.
"Kenapa bengong?"
__ADS_1
"Mama!" teriakan Nino membuat Velyn melirik pria dibawah sana yang kini memeluk lututnya. Kenapa? kenapa rasanya ia tak rela ketika mengingat perkataan Valdo pada Nino tadi?.
Velyn buru-buru menggeleng, ia mengeluarkan sebuah bingkisan dari dalam tasnya seraya memberikannya pada Nino yang kini tampak antusias memeluk tubuhnya. Gadis itu mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi bada Nino dan berlutut dihadapannya.
"Ini mini cupcakes buat Nino, semoga kamu suka ya" tutur Velyn dengan lembut seraya mencium pipi Nino gemas. Tak disangka oleh Valdo ternyata Velyn begitu perhatian terhadap putranya. Ia juga membawakan cupcakes untuk Nino, Valdo tiba-tiba ingat akan kedatangannya kerumah Velyn dan disuguhi kue itu. Benar-benar enak, ia sampai tak sadar hendak menghabiskan cupcakes buatan gadis ini. Valdo terkekeh mengingat peristiwa itu.
"Makasih mama, ma, ayo kita main sama-sama" tangan Nino menggandeng jemari Velyn untuk masuk kedalam kamarnya. Ia menarik Velyn untuk berjalan menuju tumpukan mainan yang berjejer rapi dibawah ranjang Nino.
"Aku mau makan cake sambil di suapin mama" rengek Nino yang kini tengah duduk bersama dengan Velyn yang mengangguk dan tersenyum dihadapannya. Velyn membukakan kotak transparan itu dan mengeluarkan satu cupcakes lalu disuapinya Nino yang kini tampak tersenyum kegirangan.
"Wah, enak ma, papa sini dong kita makan kuenya mama" Valdo yang semula masih terdiam dan menatap keduanya disamping ambang pintu kini tiba-tiba saja tersadar. Ia sedikit terkejut dengan permintaan Nino yang membuatnya agak canggung.
"Kak, mau cupcakes?" tanya Velyn yang kini mencoba tersenyum pada pria itu yang kini membalas senyumannya dan ikut duduk bersama dengan mereka.
"Yeee! akhilnya mama sama papa Nino lengkap juga, ayo ma suapin papa juga, bial papa tau lasanya kue buatan mama" meskipun Nino bersikap seperti itu karena dia masih polos, tapi tetap saja Velyn bisa menangkap maksud dari pria kecil itu yang begitu menginginkan seorang ibu.
"Biar aku makan sendiri aja" gumam Valdo yang kini hendak meraih cupcakes yang berada ditangan gadis itu. Namun belum sempat Valdo menerimanya ia menghentikan gerakannya dan menatap Nino yang kini memohon dengan matanya yang berbinar.
"Jangan pa, bial mama yang suapin. Ayo ma suapin papa" perintah putra kecil Valdo itu membuat Velyn tertegun. Ia bahkan baru sadar jika keduanya masih menyentuh cupcakes bersamaan.
Valdo menatap Velyn begitu dalam, ia pasrah saja jika Velyn akan menyuapinya demi Nino. Valdo melepaskan jemarinya dari cupcakes itu dan menelan salivanya kala Velyn hendak menyuapinya kali ini.
Valdo benar-benar telat menyadari, ternyata Velyn begitu cantik. Mata yang lebar dan bulu matanya yang lentik, bibir tipis yang begitu indah ketika ia tersenyum. Rasanya detak jantung Valdo bertambah kuat saat ia mulai membuka mulutnya dan memakan cupcakes terenak yang pernah ia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
"Yeee!" teriak Nino kegirangan membuat Velyn tersenyum dibuatnya. Benar-benar lucu sekali anak ini. Velyn menaruh cupcakes itu dan beralih memeluk tubuh Nino yang mungil itu. Ia mengabaikan Valdo begitu saja yang masih menatapnya dengan intens.
Kini Velyn dan Nino mulai bermain bersama, tak jarang mereka bertiga bermain dan menemani Nino bermain diatas ranjang.