
Tiga tahun kemudian....
"Papa!" pria berjas yang kini duduk di jok depan mobilnya kini melepaskan kacamata saat seorang pria kecil berseragam merah dan putih tersenyum dan memanggilnya dari balik jendela mobil yang terbuka. Pria kecil yang kini sudah menginjak masa kanak-kanak, tak terasa sudah sebesar ini.
"Masuk" titahnya pada sang putra. Meski hanya terlihat bagian matanya saja, dari balik jendela itu sudah menjadi hal yang lumrah karena Valdo takut untuk keluar dari mobil. Bukan karena alasan, tapi ada satu guru Nino yang membuatnya terganggu. Meski Nino sendiri juga sudah tahu, tapi ia juga sedikit risih pada gurunya satu itu.
"Nih pa"
"Apa tuh?" tanya pria itu saat Nino memberikan sebuah paper bag berwarna pink, ia melirik Nino yang hanya bisa menggeleng dan mengerutkan keningnya saat papanya bertanya.
"Tau! dari bu Diah. Katanya suruh ngasih ke papa" Valdo hanya mampu bergidik saat putranya mengatakan hal demikian dengan malas. Valdo menggeleng, ia kemudian menghela nafas dan meraih paper bag itu kemudian ditaruhnya dibelakang jok mobil.
"Papa nggak capek ya diganggu terus sama orang itu. Kenapa papa nggak nikah lagi aja?" ucap santai Nino pada ayahnya yang kini menyandarkan punggungnya dengan berdecak pada putranya satu itu, pria kecil itu memang sengaja menekankan kata 'orang itu' karena memang yang ia lihat hanya Bu Diah sebagai guru wali kelasnya yang mencoba untuk merayu ayahnya, padahal diluaran sana, banyak sekali yang sering menggoda Valdo karena ketampanan dan juga hartanya, tapi karena Valdo adalah pria cuek dia tidak ingin memberitahu kepada putranya sembarangan.
Nino yang berpikiran dewasa saat ini bukan lagi menjadi hal yang mengejutkan bagi Valdo. Anak yang masih menginjak umur delapan tahun itu bisa berpikir sedewasa itu karena Valdo yang terpaksa harus mendidiknya dengan keras. Yah, meskipun pada awalnya Nino amat kecewa dengan kenyataan bahwa dia bukanlah putra kandung Valdo, tapi lama-kelamaan Valdo memberikannya arahan dan jalan yang benar untuk meyakinkannya bangkit bersama.
Valdo tidak ingin Nino seperti dirinya, meski nanti ia akan menikah lagi atau tidak, mempunyai anak lagi atau tidak, tapi prioritas utama saat ini adalah puta angkatnya yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Meski Nino harus mempersiapkan mentalnya sejak dini, tapi akhirnya pria kecil itu mengerti saat Valdo terang-terangan menceritakan perihal masa lalunya yang kelam karena keegoisannya sendiri.
"Memangnya kamu udah siap kalau papa punya istri baru? kamu nggak takut papa telantarkan?" ucap asal Valdo agar putranya tidak lagi membahas tentang pernikahan dirinya lagi. Valdo tidak tahu mengapa putranya sampai berpikiran terbuka seperti itu tentang pernikahan. Tapi salah satu alasan Valdo tidak ingin menikah lagi karena ia masih ingin menunggu, menunggu wanita yang menjadi sosok berharga untuknya sampai saat ini. Bayangan rambut hitam nan panjang yang bersinar dari balik senyum manis itu, takkan mungkin tergantikan oleh siapapun.
"Nggak tuh, papa kan udah bilang mau berubah. Nggak mungkin papa narik omongannya lagi, karena laki-laki yang narik omongannya itu bukan laki-laki sejati"
"Pinter juga kamu ngomongnya ya"
"Papa yang ngajarin" meskipun Nino mengatakan hal demikian tanpa ekspresi, tapi Valdo amat paham jika apa yang dikatakan Nino secara tidak langsung mengancamnya untuk tidak melakukan kesalahan yang kedua kalinya. Tapi Valdo tidak mempermasalahkan itu, ia takut jika apa yang dilakukannya untuk mendidik Nino masih salah, bukan malah membuatnya menjadi orang yang positif tapi malah sebaliknya.
"No?"
"Ya pa?"
"Kalo kamu tertekan sama didikan papa, kamu bilang ya" Valdo sadar, kata-katanya dulu amat begitu menyakitkan jika diulang kembali dan Nino harus menelannya secara mentah-mentah.
"Nggak sama sekali kok pa. Malahan aku berterimakasih, karena papa nggak jadi nitipin aku ke panti asuhan. Aku bakal balas budi kok ke papa, tenang aja"
"Heh! kamu ngomong apa sih?! papa nggak pernah mengharapkan balas budi dari kamu tau!" Nino melirik papanya dan menghela nafas. Hidupnya benar-benar bebas dan santai, ia ingin hidup cukup dan tidak memiliki drama apapun lagi. Ia lelah dengan kedua orangtuanya sendiri yang menciptakan berbagai macam hal hingga membuat pria sebaik Valdo goyah dan tersesat.
"Tau kok pa, balas budi itu bonus. Jadi papa tenang aja, nggak perlu dijadikan beban. Aku yang pengen, bukan papa yang minta" Valdo kemudian menghela nafasnya lalu menghidupkan mobilnya saat Nino sudah memakai sabuk pengaman. Ia segera menancap gas dan membelah jalanan ibukota yang terbilang macet dijam seperti ini.
***
Seorang pria bertubuh tinggi tegap memakai setelan kemeja berwarna hitam, ditangannya membawa sebuket bunga mawar merah kesukaan wanita yang amat ia cintai. Ia berjalan perlahan diantara batu nisan yang berjajar rapi. Tiga tahun berlalu, dan pria itu masih sendiri, ia masih menunggu untuk menjadi suami dari wanita yang bertahun-tahun ia cintai.
Langkah pria itupun terhenti, ia berjongkok dihadapan makam wanita yang ia tuju. Senyuman tipis nan manis ditorehkan oleh Andra yang kini melepaskan kacamata hitamnya dan langsung mengusap batu nisan yang berada dihadapannya. Kedua jemari Andra menyatu, diangkatnya untuk berdoa pada seseorang ynag sudah tak lagi bernyawa. setelah selesai Andra meraup wajahnya dan menatap makam itu lamat-lamat, perlahan air matanya menetes, entah mengapa hati Andra kembali teriris.
"Andra!" suara wanita membuat pria itu buru-buru bangkit, ia menghapus jejak air matanya seraya terkejut dengan kehadiran wanita yang memakai dress hitam senada dengannya. Wanita itu menghampiri Andra lalu menatap batu nisan dibawah, wanita berambut pendek sebahu itu memegang jemari Andra dan menatap matanya lamat-lamat. Namun tatapan Andra segera beralih dan memilih untuk menutup rasa sakit dihatinya.
"Kamu ngapain kesini Velyn? bukannya kamu mau ziarah ke makam Om Dian ya?" Velyn menggeleng, ia merenggangkan jemarinya pada jemari Andra lalu duduk berjongkok untuk menyentuh batu nisan dihadapannya. Ia tersenyum, namun matanya berkaca.
"Kamu berhak bahagia Ndra" Andra ikut berjongkok lalu menatap kuburan mamanya dengan hati yang teriris. Kini tidak ada lagi sosok orang tua yang selalu ada untuknya. Bahkan ayahnya, meski sudah bercerai lama dengan mamanya tapi sama sekali tidak perduli pada keadaannya saat ini.
"Itu yang selalu mama bilang. Mama suruh aku buat cepet-cepet nikah lagi" Andra masih ingat jelas bagaimana mamanya mengatakan perihal kebahagiaannya yang seharusnya ia tata semenjak usai bercerai. Ia sangat ingat betapa mamanya menginginkan putranya bahagia setelah melewati berbagai rintangan dalam kehidupannya.
"Aku juga berharap gitu" gumam Velyn dengan suara lirihnya. Ia tidak bisa menahan kesedihan yang ia rasakan. Meski sudah berobat jauh-jauh sampai ke negeri Paman Sam, namun kanker Velyn tidak bisa menemukan titik terang. Hidupnya hanya bergantung pada obat-obatan yang selama ini menjadi teman hidupnya setiap detiknya. Rasanya Velyn ingin mati saja daripada harus tersiksa dalam ketidakpastian akan kesembuhan dan nyawanya. Rasanya setiap hari ia selalu terbayang akan batu nisan yang terukir namanya seperti apa yang ia lihat saat ini.
__ADS_1
"Apa?!"
"Aku juga punya harapan seperti Tante. Kamu berhak bahagia Ndra, kamu harus menemukan seseorang yang bisa jaga kamu" Andra membulatkan matanya saat mata mereka bertemu. Andra amat tau apa maksud Velyn, wanita itu membuat pandangan seolah kebahagiaan Andra adalah hal yang paling ia inginkan. Tapi Andra tidak sebodoh itu untuk tidak menilai, ia bisa melihat bagaimana setitik kepedihan berada dalam pupil matanya yang bergetar.
"Kenapa mikirnya gitu? bukannya kamu tahu, berapa banyak pengorbanan aku?" sakit, mungkin hal itu yang dapat Velyn rasakan saat ini. Ia amat tersiksa dengan penyakitnya, sampai ia lupa bukan hanya ia yang menunggu untuk kesembuhannya. Ia lelah, oleh sebab itu Velyn tak mau orang yang mencintainya juga sama lelahnya seperti dirinya. Ia takut Andra semakin sedih ketika suatu hari Velyn tak lagi bernyawa meski sudah berjuang sekuat tenaga.
"Tapi kamu tahu kan perjuangan kita nggak ada hasilnya. Aku pengen kamu bahagia Andra-"
"Velyn! apa kamu tahu betapa bahagianya aku saat kita lalui hari bersama?! betapa aku cinta sama kamu, sampai aku rela buang waktuku. Karena lebih dari semua itu nggak ada artinya kalau dibandingkan dengan beberapa waktu yang aku habiskan bersama kamu!" Velyn bangkit, ia menunduk takut menatap Andra yang kini juga ikut bangkit dan memeluknya. Velyn menangis, bukan karena apa. Tapi biar ia saja yang menyerah, biar dia yang menderita tanpa orang lain terseret dalam hari yang buruk karena penyakitnya. Andra terlalu berharga untuk semua itu, meski dulu Velyn pernah menepis semua itu tapi kini rasa itu kembali muncul, dan membuat hatinya terganggu.
Velyn melepaskan pelukan Andra darinya, ia kemudian menatap lamat pria yang kini tersenyum padanya. Senyuman yang tidak akan pernah berubah meski ia sudah kehilangan semuanya.
Setelah selesai, mereka akhirnya berjalan kembali kearah mobil. Meskipun hari belum terlalu terik, namun baik Velyn maupun Andra sudah merasa lelah untuk hari mereka saat ini. Saat Velyn semakin mendekat kearah mobil, lengan wanita itu tiba-tiba terjerat oleh sebuah jemari yang membuat langkahnya terhenti, begitu juga Andra yang kini menatap tajam seseorang yang meraih lengan Velyn tanpa permisi.
"Ve-Velyn?!" Velyn menatap pria itu dengan pandangan datar, namun beda halnya dengan Andra yang amat murka dengan pandangan pria yang kini menarik tubuh Velyn dan berakhir dipelukan pria itu.
"Hey! apa-apaan!"
"Lepasin!" kesal Velyn saat ia memberontak dari pelukan pria satu itu. Pria yang membuat hidup Velyn menderita. Mau apalagi dia datang dalam hidup Velyn yang sudah tentram dan damai?. Velyn buru-buru menjauh dan berlindung dari balik tubuh Andra yang siap menghadang pria satu itu.
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Andra khawatir. Velyn menggeleng, ia kemudian menggenggam jemari Andra dan tak ingin sedikitpun menatap pria yang kini hendak mendekat lagi meski Velyn sudah tidak mau berhubungan dengannya.
"Velyn, ada hal yang perlu aku jelasin-"
"Ndra, pulang yuk!" ajak Velyn seraya menarik lengan pria itu untuk menjauh dari Valdo yang kini masih antusias untuk mengejar Velyn. Pria satu itu masih saja tidak akan pernah menyerah untuk mengejar Velyn dan mengajaknya untuk rujuk. Andra pun mengangguk dan melangkah kembali dengan Velyn yang merasa ketakutan saat Valdo menatapnya meski tatapan itu adalah tatapan penuh harap.
"Velyn tunggu, aku cuma pengen ngomong sama kamu" Velyn tidak menghiraukan, ia segera masuk kedalam mobil dengan Andra yang membukakan pintu mobil untuknya. Wanita itu hanya terdiam sejak tadi, meski Andra enggan untuk membahas mantan suaminya yang tiba-tiba tanpa sengaja bertemu, tapi dapat disimpulkan jika Velyn masih terkejut bertemu dengan pria yang pernah menghancurkan hidupnya itu.
Meski Velyn tau resiko yang harus ia ambil jika ia kembali dengan keadaan seperti ini. Mau tidak mau ia harus siap bertemu dengan Valdo. Tapi, meski sudah bertahun-tahun, perasaan Velyn masih terasa sakit untuk mengingatnya.
Braaakkk
Valdo membanting pintu mobil dengan suara yang amat keras, hingga membuat anak yang kini sudah berada di luar mobil itu tersentak. Entah ada angin apa, sejak pulang dari ziarah makam tadi Valdo seperti uring-uringan sendiri. Nino hanya bisa terdiam tanpa berkata melihat ayahnya berkelakuan tidak biasa, yang sudah jelas dan pasti Valdo mengalami hal yang membuat jiwanya emosi.
"Kenapa sih pa? ketempelan arwah anjing gila ya?!" ujar Nino asal pada papanya yang kini melangkah masuk tanpa memperdulikannya. Nino kemudian menghela nafas seraya ikut melangkah kedalam rumah. Ia amat lelah ditambah dengan perubahan mood yang terjadi pada ayahnya.
***
"Velyn" sudah beberapa menit mereka terdiam didalam mobil. Andra memanggil nama Velyn yang masih terdiam melamun sejak tadi, tapi ia tak kunjung mendapat jawaban dari wanita satu itu. Pandangan Velyn yang kosong serta jemarinya yang menggenggam kuat membuat Andra khawatir bukan main.
"Lyn!" jemari Andra yang menyentuh punggung tangannya kini segera Velyn tepis tanpa sengaja. Wanita itu menyentuh pelipisnya yang amat pening setelah bertemu dengan pria yang tidak ingin ia temui sebelumnya.
"Ma-maaf ya, aku cuma-"
"Kamu belum bisa ngelupainnya dia?" mata Velyn membulat, ia menangkap wajah Andra yang amat kesal tanpa mau melihat ekspresi wanita itu yang kini terlihat jelas matanya yang sayu.
"Ndra, aku cuma-"
"Jangan ngomong apa-apa lagi Lyn, aku takut aku bakal kecewa kalau kamu bilang sesuatu yang seharusnya nggak aku dengar"
"Tapi Ndra, aku-"
"Turun Lyn, aku mau pulang. Kerjaan aku masih banyak"
__ADS_1
"Katanya tadi mau mampir"
"Nggak jadi, lain kali aja" Velyn menghela nafasnya, ia kemudian turun dari mobil Andra lalu menatap wajah pria tampan itu dari balik mobilnya seraya tersenyum. Namun sayangnya, Andra malah tak menggubris yang ada pria itu langsung menutup jendela mobil seraya pergi dari hadapan Velyn yang kini hanya mampu mematung setelah lambaian tangannya tak mendapat jawaban dari Andra.
Lagipula ini memang salahnya, ia memikirkan seseorang yang seharusnya tidak perlu ia pikirkan lagi dan fokus untuk membangun masa depan yang indah. Tapi entah mengapa, tiba-tiba langkah Velyn yang yakin dan ringan menjadi berat seolah semuanya berubah. Velyn hendak masuk kedalam rumah, namun sebuah mobil hitam berhenti didepan rumahnya. Wanita itu tersenyum, ia kira Andra yang datang kembali padanya, namun siapa sangka pria yang membuat semuanya kacau itu yang terlihat jelas didepan matanya. Senyum Velyn yang semula terukir kini berubah masam. Wanita itu buru-buru menyentuh daun pintu gerbang sebelum Valdo menghentikannya.
"Velyn, please kasih aku kesempatan. Sekali lagi aja Lyn, aku mohon" mohon pria satu itu membuat Velyn menghentikan langkahnya. Velyn dengan ragu menatap wajah Valdo yang penuh dengan peluh keringat karena mengejarnya.
Bukankah hidupnya sudah bahagia? bukankah ada Lisa yang selalu bersamanya. Ditambah adanya Nino ditengah-tengah mereka, seharusnya Valdo merasa bahagia karena telah melepaskan pengganggu seperti Velyn. Namun wajah kusut pria itu tidak dapat dibohongi, mendadak rasa bahagia yang dulunya pernah ada kini seolah hilang dari aura seorang Valdo. Velyn menghela nafasnya, ia kemudian memutar bola matanya lalu menatap Valdo dengan pandangan kesal karena telah mengganggu kehidupannya. Meski begitu, Velyn juga tidak bisa mengabaikan Valdo begitu saja.
"Kenapa?"
"Kita perlu bicara-"
"Nggak ada yang perlu dibicarakan, kita udah selesai" Valdo menggaruk tengkuknya, ia kemudian mengacak rambutnya asal seraya mencoba meyakinkan wanita dihadapannya. Bagaimanapun Valdo masih amat mencintai Velyn, ia sudah mencarinya selama ini dan susah payah Velyn kembali. Kini Valdo tinggal menarik hatinya lagi seperti dulu dan tidak akan pernah melepaskannya.
"Velyn, please! Nino, Nino pasti seneng banget kalau kita bisa berkumpul bertiga lagi" Velyn sejenak terdiam, ia yang hendak masuk kedalam rumah urung dan menatap manik mata Valdo yang penuh harap padanya.
Sejujurnya Velyn amat merindukan Nino, bocah kecil yang selalu memanggilnya Mama, kini bertumbuh menjadi seperti apa? Velyn selalu bertanya dalam hatinya saat ia diam-diam merindukan keluarga kecilnya dulu.
Namun dibalik itu semua, sebuah tatapan kekesalan menjurus pada mereka. Ditambah Velyn yang tiba-tiba masuk kedalam mobil hitam tersebut membuat mata Andra memanas dan mau tidak mau mengikuti mobil tersebut berjalan. Meski Andra sudah memperingatkan Velyn, tapi sepertinya wanita itu masih memiliki perasaan terhadap mantan suaminya. Andra kemudian menghentikan mobilnya saat mereka telah sampai disebuah cafe. Andra hanya mengamati mereka berdua yang berbicara entah mengatakan apa, tapi yang jelas hati Andra amat sakit dan pilu melihat kedekatan keduanya.
Padahal Andra sengaja kembali karena ingin minta maaf atas kata-kata kasarnya tadi, tapi dia amat terkejut dengan pemandangan itu. Betapa bodohnya Andra masih mengharapkan wanita yang seharusnya masih bersama pria itu. Terlihat jelas jika Velyn juga masih memikirkan masa lalunya. Andra mengusap kasar wajahnya lalu menyandarkan punggungnya di jok mobil untuk beberapa saat.
tok tok tok
Suara ketukan pintu mobil membuat pria itu tersentak dan membuka kaca mobil untuk melihat dengan jelas seorang bapak-bapak berkacamata yang tersenyum padanya.
"Anda siapa?" tanya Andra dengan tatapan menyelidiki, namun pria asing itu malah tersenyum dan melihat sekilas wajah Andra yang kini tampak kebingungan menatapnya.
"Boleh kita bicara?"
"Maaf, tapi saya tidak kenal anda, dan saya punya banyak urusan. Sepertinya saya harus permisi du-"
"Antonio Prasetya"
"Apa?! anda kenal papa saya?" pria asing itu mengangguk, Andra akhirnya menyetujui usulan mereka untuk berbicara empat mata meski ada sedikit ragu dalam hatinya.
Meski Andra sendiri tidak berharap banyak bisa berkumpul lagi dengan papanya, tapi cuma papanya satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini. Mama Andra adalah anak tunggal dan itu lebih tidak mungkin untuk menemukan sanak saudara dari papanya kalau mereka tidak pernah berkomunikasi sebelumnya.
Andra masih terdiam merenung disebuah restauran, ia bersama pria asing itu tengah membahas bagaimana papa Andra mencarinya selama ini. Papa Andra memang bercerai dengan mendiang Mama Andra sejak Andra berada di bangku SMP. Sejak saat itu Antonio jatuh bangun dalam kegagalan disetiap mencari pekerjaan, itulah salah satu alasan mengapa selama ini Antonio tidak pernah menemui putranya. Ia malu dengan kekayaan mantan istrinya hingga membuat Andra menjadi orang yang sukses, sedangkan nasib Antonio yang begitu-begitu saja. Hingga akhirnya perjuangan jatuh bangun yang Antonio dapat berbuah manis.
Antonio direkrut sebagai staf manager disebuah perusahaan, selama setahun pekerjaannya pun mendapat pujian dari atasan dan akhirnya mendapat sertifikasi sebagai karyawan terbaik dan akhirnya naik jabatan dalam waktu yang singkat. Pada saat itu kira-kira Andra pasti sudah lulus kuliah, meski sedikit terlambat tapi Antonio ingin sekali membahagiakan putranya. Sayangnya saat ia kembali, rumah itu sudah dalam keadaan kosong tanpa penghuni.
"Papa kamu sudah mencari keberadaan kamu selama bertahun-tahun, tapi hasilnya" pria itu memotong kata-katanya dengan isyarat menggeleng. Tentu saja Andra tidak percaya dengan semua itu. Selama ini yang selalu berjuang kerasa untuk kehidupannya adalah mama lewat warisan dari kakek nenek yang merupakan seseorang ternama.
"Bohong!" meski Andra menyangkal semua itu, tapi keyakinan dari pria asing suruhan papanya tidak mungkin berkata yang tidak-tidak. Pria satu itu memberikan sebuah lembar foto yang membuat tubuh Andra bergetar. Mana mungkin Andra tidak mengingatnya, sebuah foto yang menggambarkan dirinya tengah bermain bersama sang ayah.
"Kamu boleh nggak percaya dengan semua omongan saya. Tapi selama ini saya adalah sahabat dari papa kamu yang menemani dia dari nol. Saya sudah dengar bagaimana papa kamu banyak bercerita soal kamu yang luar biasa pandai sampai kadang membuat papa kamu sendiri malu dengan usahanya yang selalu gagal" pria itu menghela nafas, menatap manik mata hitam milik Andra yang sama persis dengan Antonio yang selama ini ia kenal.
"Papa kamu orang yang gigih, dia rela melakukan apapun agar dia layak membawa kamu bersamanya. Tapi satu pesan dari papa kamu kalau saya menemukan anaknya"
"Saya tidak boleh memaksa kamu, karena kamu sudah dewasa. Kamu bisa membuat pilihan untuk tinggal bersamanya atau malah meninggalkannya dan tidak mau menatapnya lagi. Papa kamu menitipkan ini, dan kamu bisa ke alamat pada surat itu kalau kamu masih ingat dengan beliau" pria itupun bangkit setelah memberikan sepucuk surat pada Andra. Surat usang yang sudah kelewat zaman untuk dikatakan bahwa surat itu pernah ditulis oleh Antonio selama masa sulitnya. Meski ragu, tapi Andra dengan rasa penasaran akhirnya mengambil surat itu untuk ia bawa.
__ADS_1