
Suara bel pintu membuat Velyn buru-buru bangkit dari ranjangnya. Setelah lama berdiam, ia akhirnya tersadar akan malam yang semakin larut saja. Velyn mengerutkan keningnya, waktu pun sudah menunjukkan pukul lewat dari jam sepuluh. Siapa juga yang bertamu semalam ini? bahkan saat ini Velyn tengah sendirian dirumah, sedangkan pembantunya juga sudah pulang sejak tadi.
Velyn segera turun dari lantai dua, ia buru-buru berjalan menuju pintu depan dan segera menyibak korden yang menutupi jendela untuk melihat siapa gerangan yang datang di jam seperti ini. Seketika mata Velyn membulat, ia menatap tubuh Valdo yang tengah terduduk diteras rumahnya seraya berlutut, tubuhnya basah kuyup serta kepalanya yang menggeleng beberapa kali, menandakan ia dipengaruhi oleh alkohol saat ini.
Velyn sempat ragu untuk membukakan pintu itu atau tidak, apalagi dia sudah tidak lagi ada hubungan dengan pria itu. Statusnya bahkan kini adalah seorang janda yang ditinggalkan oleh suaminya dalam keadaan mengandung. Velyn menyentuh gagang pintu dihadapannya, rasanya ia sendiri tidak tega melihat Valdo menderita diluar sana, tapi disisi lain akan jadi apa nantinya jika ia memasukkan orang itu kedalam rumahnya.
Velyn menghela nafasnya, ia segera menguatkan hatinya dan membuka pintu untuk melihat keadaan pria itu yang masih berjongkok bersandar dinding.
"Velyn?" Valdo tersenyum seraya mencoba untuk bangkit menatap wajah Velyn yang samar-samar terlihat didepan matanya. Tubuh basah dengan bibir yang membiru, sejujurnya membuat Velyn tak tega. Apa ini yang dikatakan Robert? ketidakberdayaan Valdo yang menjadi kelemahannya usai mereka berpisah.
"Ngapain kakak kesini?" tanya Velyn dingin seraya mundur beberapa langkah untuk menghindari Valdo. Sejujurnya Velyn tidak menyukai orang yang mabuk, tapi untuk apa juga Velyn melarangnya, Valdo tidak lagi berhubungan dengannya. Jadi cukup baginya untuk menjauh. Lagipula panggilan 'mas' yang dulunya menjadi panggilan wajib itu harus ia hilangkan lagi.
"Kamu Velyn kan?" tanya Valdo semakin mendekat, membuat Velyn mundur lagi untuk mengindari tubuh Valdo yang telah tercium bau alkohol dari tubuhnya.
"Kamu bilang kita seharusnya urusin hidup kita masing-masing, tapi kenapa kamu tiba-tiba datang dan dengan keadaan kaya gini?" ujar Velyn dengan suaranya yang bergetar, entah mengapa, Velyn juga tidak ingin seperti ini, tapi melihat Valdo yang begitu menyedihkan ia juga merasa iba dan tiba-tiba teringat akan masa-masa indah mereka yang kini telah berakhir.
Valdo yang hendak mendekat tanpa sadar kehilangan keseimbangannya, membuat pria itu ambruk dan segera setelah itu pria itu tertahan oleh tubuh Velyn yang memeluknya. Kenapa? bahkan Velyn sendiri sudah diperlakukan layaknya binatang saat Valdo menguncinya dari luar? Valdo juga memukul dan menjambak serta menenggelamkannya beberapakali di bathtub. Tapi hanya ketidakberdayaan ini, Velyn sampai tidak tega dan rela memapah tubuh Valdo yang sebenarnya masih bearda dalam kesadaran.
"Velyn? aku kangen kamu" gumam Valdo dengan suaranya yang bergetar. Tak terasa air mata Velyn terjatuh, bahkan kini telah membanjiri wajahnya. Ia mengeratkan jemarinya oada baju Valdo yang tengah basah akibat hujan yang saat ini masih belum reda.
"Kenapa kak? kenapa kamu lakuin ini? berulang kali! kenapa kamu nggak bisa berhenti buat nyakitin aku. Aku sakit kak, aku sakit waktu tau kenyataan kalau kamu dan Lisa... hiks" Velyn tidak dapat menahan isakannya, ia bahkan tidak bisa melanjutkan perkataannya karena nafasnya seolah tercekat. Velyn menangis, ia bahkan memukul punggung Valdo meskipun akhirnya ia tidak melepaskan pelukan yang telah dibalas oleh pria itu.
"Aku benci kamu kak Valdo! kamu yang buat aku jatuh cinta, tapi kamu juga jatuhkan hati aku sejatuh-jatuhnya. Lebih baik kita berakhir menyakitkan dan saling melupakan, daripada kita berakhir indah tapi nggak bisa mengikhlaskan" Velyn melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Valdo lamat-lamat, wajah yang masih sangat ia cintai namun sekaligus orang yang paling ia benci. Velyn menyentuh lembut wajah Valdo, ia mengusap pelan wajah tanpa goresan sedikitpun itu. Mata Valdo memerah, terlihat jelas sudah lelah yang ia alami selama ini, kesedihan dan penderitaan yang tidak berhenti datang akibat masalah yang terjadi.
"Aku nggak bisa maafin kamu kak, tapi aku cuma bisa berpesan. Kalau nanti anak kita lahir-" Velyn menarik jemari Valdo untuk disentuhkan pada perutnya. Ia hanya berharap semoga bayi mereka merasakan sentuhan ayahnya. Meskipun Velyn juga tidak akan mengatakan yang sejujurnya ketika Valdo sadar, tapi inilah kesempatannya.
"Jaga dia buat aku ya, jangan buat di sakit seperti yang kamu lakuin ke aku. Dia anak kita kak" gumam Velyn seraya terisak membuat Valdo tersenyum meskipun ia dalam keadaan tidak sadar.
***
Suara kicauan burung serta sinar mentari yang memasuki ruang kamar Valdo membuat pria itu perlahan membuka matanya. Ia menatap sekitar dengan kepala yang sedikit pening. Rupanya, Valdo berada di kamar apartemennya. Apartemen yang ia beli untuk menjadi persinggahan ketika dirinya tengah ingin sendiri.
Valdo mengusap kasar wajahnya, sepertinya ia bermimpi. Bermimpi bertemu dengan wanita itu, wanita yang amat ia rindukan meskipun ia juga tidak ingin menemuinya. Valdo tersenyum, mungkin mimpinya memang terlalu nyata jika disebut sebagai mimpi. Nyatanya, wanita itu memeluknya dan menangis. Meskipun itu semua bukanlah hal yang nyata, tapi Valdo bahagia. Ia merasa sudah mengatakan perasaannya, bahwa ia amat merindukan Velyn.
Valdo menghela nafasnya, ia meraih ponselnya dan menelfon seseorang untuk segera menjemputnya. Kini hari-hari suramnya harus kembali ia jalani. Berangkat kerja, makan siang, rapat, dan datang pada hiburan malam yang selama ini ia hindari. Teman setia dimasa suram, kini Valdo tau mengapa Adrian begitu menikmati dunia itu.
"Jemput gue! sepuluh menit lagi, gue siap. Awas kalo lo sampe telat!" ancam Valdo pada Robert yang hanya mampu mengiyakan bosnya dibalik suara ponsel yang siap sedia disisinya.
"Saya mohon, jangan bilang pada kak Valdo tentang apa yang terjadi. Anda bisa kan pak Robert?"
Permohonan Velyn semalam membuat gejolak Robert tersiksa, namun ia juga sudah berjanji untuk tidak mengatakan apapun pada Valdo. Entah bagaimana respon atasannya nanti jika ia tau bahwa dirinya sendiri berjalan 25 kilometer dari tempat mereka berhenti hanya untuk bertemu dengan wanita itu.
Memang benar tidak masuk akal, tapi itulah kenyataannya. Bahkan meskipun tanpa kesadaran, Valdo mampu menerobos hujan dengan selamat dan akhirnya sampai dirumah Velyn meskipun dengan keadaan basah kuyup dan penuh aroma alkohol.
Kalau saja Robert bisa menebak perasaan Valdo, ia juga bisa memilih untuk mengatakannya atau tidak. Tapi kalau sampai Valdo marah, maka pekerjaannya juga akan terancam. Pada akhirnya Robert juga hanya bisa diam, lagipula ia juga sudah terikat janji.
"Mau sarapan dulu pak?" tawar Robert saat Valdo masuk kedalam mobil dan membenahi jas kerjanya. Valdo melirik Robert dengan tatapan membunuh. Ia paling tidak suka jika diperhatikan, apalagi dengan sarapan. Baginya, hal itu hanya akan mengingatkannya pada wanita itu.
"Lo lupa kalau gue ini nggak pernah sarapan? dan gue benci ada yang kasihan sama diri gue!"
"Maaf pak-"
"Bonusan lo bulan depan gue potong, nggak ada libur buat akhir bulan"
"Tapi pak-"
"Kurang? mau nambah lagi?. Gue nggak nerima protes!" ucap tegas Valdo membuat Robert hanya mampu mengangguk seraya tersenyum pada Valdo dari spion.
"Jalan! gue lagi buru-buru" ketus Valdo membuat Robert segera menginjak gasnya seraya menggeleng dengan tatapan pasrah.
***
"Uhuk, uhuk" suara batuk Valdo terdengar begitu kencang setelah sedari pagi pria itu terlihat pucat tak seperti biasanya. Berulang kali Valdo menadatangani tumpukan berkas disampingnya seraya terbatuk-batuk.
"Bet, pulpen! uhuk uhuk" perintah Valdo pada Robert lalu dengan cepat pria itu memberikan pena yang sudah tersisipkan disaku jasnya, membuatnya mudah untuk memberikan pena itu pada pria yang kini wajahnya semakin pucat.
Sejujurnya Robert ingin menghentikan Valdo untuk bekerja, terlihat sekali wajahnya yang lelah dan tubuh yang ia paksakan itu. Walaupun keadaan sakit pun Valdo tetap saja tak mengalihkan perhatiannya pada berkas-berkas yang tiap hari menjadi teman setianya.
Namun sisi lain lelaki itu juga tidak ingin kehilangan pekerjaannya, salah-salah hukumannya akan bertambah berat. Valdo merasakan pening yang amat luar biasa di kepalanya, ia bahkan sulit untuk berkonsentrasi sepenuhnya. Tapi pria itu seolah tidak perduli. Gila kerja, mungkin kata itu yang pantas disanding oleh Valdo.
"Kopi"
__ADS_1
"Maaf pak-"
"Lo budek ya? gue bilang kopi!" jelas Valdo dengan lantang membuat pria itu mengangguk seraya berjalan keluar kantor. Robert segera masuk kedalam lift dan menekan nomor lantai yang hendak ia tuju. Mungkin ia hanya bisa bernafas dan bergerak bebas jika sudah jauh dari jangkauan Valdo, seperti saat ini. Rasanya jantungnya berdetak kencang tiap waktu ketika Valdo menatapnya dengan pandangan seperti hendak membunuh mangsanya.
Setelah sampai di dapur, Robert segera mengambil cangkir kesukaan Valdo dan mengambil bubuk kopi diujung rak. Bubuk tiga sendok teh dengan seduhan air panas tanpa gula, seperti sudah terbiasa ia rasakan kala membuatkan kopi tersebut pada bosnya. Entah sejak kapan Valdo menyukai kopi tanpa gula yang begitu pahit, padahal setahu Robert, sebelum ia direkrut menjadi sekretaris pribadi pria itu, seleranya selalu cappucino. Mungkin ini juga berhubungan dengan kehidupan pribadi bos-nya. Meskipun Robert adalah tipe orang yang tidak suka kepo terhadap urusan orang lain, namun ini berbeda. Kehidupan apa yang membuat perubahan dalam kebiasaan Valdo seperti menyakiti dirinya.
"Eh pak Robert, bikin kopi lagi ya?" celetuk wanita yang tidak asing baginya, siapa lagi kalau bukan Leni.
"Hem, iya" jawab singkat pria itu seraya mengaduk kopi yang berada dibawahnya.
"Tanpa gula?" tanya Leni lagi membuat Robert hanya mampu mengangguk untuk menjawab pertanyaannya yang seolah hapal dengan kebiasaannya, setiap masuk kedalam dapur dan dengan tidak sengaja bertemu.
Leni tersenyum seraya ikut mengambil cangkir dirak piring, seraya melirik kopi yang dibawa oleh Robert, Leni tanpa sengaja memperhatikan gerak-gerik Robert yang dingin dan cuek itu.
"Gimana Pak Valdo? kayanya dulu sebelum beliau cerai sama Bu Velyn baik-baik aja deh, kasian ya. Padahal Bu Velyn itu orangnya baik banget lo, beda sama Bu Lisa" celetuk Leni tiba-tiba membuat tatapan dingin Robert beralih padanya. Leni hanya tersenyum seraya melanjutkan membuat kopi untuk dirinya sendiri. Awalnya Leni sendiri juga tidak menyangka jika Velyn, perempuan yang magang menggantikannya itu adalah nyonya di perusahaan ini. Bahkan desas-desus bahwa ia adalah simpanan Valdo ternyata salah besar, malah orang yang menyebarkan gosip itupun dipecat karena telah menghina istri pemilik perusahaan.
"Saya permisi dulu" ujar Robert dengan tatapan datarnya membuat senyum terulas diwajah perempuan itu yang kemudian mengangguk.
"Iya" jawab singkat Leni, membuat Robert buru-buru pergi dari dapur. Sebenarnya, Robert sendiri tidak pernah mau mendengarkan gosip apapun tentang bosnya. Ia seperti takut jika tak sengaja mengetahui segalanya dan malah salah bicara. Hidup dan matinya berada ditangan bos-nya, jika ia bertahan di dapur lebih lama lagi, mungkin ia akan mengetahui lebih jauh tentang gosip yang beredar.
Tok tok tok
"Ini saya pak, Robert" setelah meminta izin, Robert segera masuk untuk membawa cangkir kopi itu. Ia membuka pintu itu dengan perlahan, namun siapa sangka ia malah menemukan Valdo yang tidak sadarkan diri di lantai. Sontak saja Robert segera menaruh kopinya di meja dan dengan cepat membopong tubuh Valdo.
"Astaga pak Valdo!" Robert segera membawa Valdo dan menaruhnya ke sofa, ia segera menelfon dokter pribadi bos-nya untuk membawakan ambulance, karena terlihat jelas sekali wajah Valdo yang mulanya pucat, kini semakin lama bibirnya berubah membiru. Robert amat takut, sekaligus terkejut dengan apa yang terjadi.
"Halo, dokter bisa tolong saya..."
***
Dokter berkacamata itu menuliskan resep untuk wanita yang kini menatap dokter Irawan dengan pandangan murung. Meskipun terlihat dokter Irawan yang sedikit kecewa dengan keputusan Velyn, namun tidak mengurungkan niatnya untuk mempertahankan apa yang ia mau.
"Setelah ini, kamu pergi ke spesialis kandungan. Selain meminta saran dari saya, sebaiknya kamu juga harus memperhatikan bayi yang sudah kamu kandung, dan bagaimana baiknya" Velyn mengangguk lemah, ia kemudian mengambil kertas dari dokter Irawan yang disodorkan padanya.
"Maaf dok"
"Kamu nggak perlu minta maaf, itu sudah menjadi keputusan mutlak untuk kamu. Saya doakan semoga bayi kamu lahir dalam keadaan selamat dan tidak terjadi apa-apa" Velyn mengangguk seraya tersenyum, ia sudah mengerti konsekuensi jika mempertahankan bayinya, maka nyawanya kemungkinan besar akan terancam. Tapi ia juga tidak punya pilihan, demi memberikan kehidupan yang baru, ia rela mengorbankan nyawanya meskipun taruhannya nyawa.
"*Setelah melalui pemeriksaan, kamu tidak akan bertahan lama jika tetap membiarkan bayi itu hidup"
"Maksud dokter apa?! saya nggak mau dok membunuh bayi saya sendiri! ibu mana yang tega membiarkan bayinya mati begitu saja hanya karena penyakit saya yang tidak menjamin akan sembuh"
"Tapi Velyn, jika kamu membiarkan dia hidup dalam rahimmu, maka kamu juga tidak bisa melakukan prosedur kemoterapi, karena kandungan kamu juga sangat lemah"
"Kalo gitu, saya nggak perlu di kemo lagi. Saya memilih untuk kehidupan bayi ini"
"Velyn, dengan keadaan kamu, saya tidak yakin dengan bayi itu"
"Saya yakin! oleh sebab itu, saya pasti akan berusaha, membuatnya lahir ke dunia meskipun taruhannya nyawa*"
Setidaknya memori itu yang membuat Velyn amat terpuruk sampai sekarang. Bagaimanapun ia juga harus kuat dan tidak boleh terlalu banyak pikiran. Setidaknya ia punya alasan untuk bertahan, demi bayi kecil yang sangat ia idamkan.
Helaan nafas Velyn terdengar begitu kuat dan tegar, ia bahkan menjalani ini semua sendirian, dan bahkan tidak ada yang mengetahui tentang kondisinya saat ini.
Memory Velyn kembali saat Valdo mengatakan bahwa pria itu ingin anak. Padahal Velyn sudah menundanya setelah anjuran dari dokter untuk tidak hamil agar Velyn dapat melanjutkan pengobatannya. Karena dengan adanya kehidupan di dalam tubuhnya, tentu saja akan mengancam nyawa ibu dan bayi, khususnya Velyn yang tidak akan dapat bertahan jika kemoterapi terus dilanjutkan.
Maka dari itu, Velyn memilih untuk meminum obat kontrasepsi. Namun terlepas dari itu, setelah Valdo menginginkannya, Velyn sempat berpikir dengan tidak mudah. Ia harus memilih hidupnya atau kebahagiaan Valdo, dan hasilnya Velyn memilih untuk membahagiakan pria itu, pria yang amat ia cintai.
Meskipun Velyn sudah lama berhenti meminum pil kontrasepsi itu, entah darimana Valdo menemukannya. Ia juga tak menyangka jika dirinya akan hamil setelah bercerai dari pria itu. Velyn menyatukan kedua tangannya, ia masih bertahan duduk diruang tunggu seraya menatap beberapa kaki yang berjalan cepat dihadapannya Silih berganti melewati tubuhnya yang amat dingin.
Velyn bangkit, ia hendak melangkah namun langkah itu terhenti dengan matanya yang berkaca, menatap seseorang yang duduk di kursi roda, seseorang itu juga tengah menatapnya dengan pandangan datar. Jantung Velyn berdegup dengan kencang, tenggorokannya tercekat serta matanya yang sayu beralih kearah lain untuk menghindari tatapan orang itu.
***
Velyn terdiam cukup lama, ia hendak maju namun ragu, pasalnya Valdo juga tidak bergerak sama sekali, hanya memandangnya dengan tatapan dingin yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Velyn bergerak mundur, ia menghindari Valdo yang masih tak bergeming itu dengan Robert yang bertugas mendorong kursi roda Valdo.
"Jalan!" perintah Valdo pada Robert yang kini melirik ruangan yang dimasuki oleh Velyn tadi.
"Apa perlu saya selidiki-"
"Selidiki apa? lo mau gue nyelidiki soal apa?" tanya Valdo dengan aura membunuh seraya masih duduk di kursi roda yang tengah didorong oleh pria berkacamata itu.
__ADS_1
"Enggak pak, saya nggak berani"
"Kalo gue nggak suruh, lo nggak perlu ngomong!" bentak Valdo dengan suara tegasnya membuat Robert gelagapan dibuatnya.
"Ba-baik pak" ungkapnya dengan nada terbata dan ekspresi ketakutan.
***
Velyn berhenti diruang gawat darurat, ia melangkah melewati para pasien yang dibawa masuk silih berganti, membuat kepalanya pusing. Velyn segera keluar dari ruangan itu, ia amat ingat jika ruang gawat darurat juga merupakan pintu keluar dan masuk. Dan ini adalah jalan satu-satunya selain jalan yang tadinya ia lewati.
Seharusnya ia tak perlu perduli, seharusnya Velyn melangkah saja dengan pasti. Tapi siapa sangka, hatinya masih saja goyah jika harus berhadapan dengan Valdo yang sekarang tengah berubah. Valdo yang dingin bahkan ia nyaris tidak mengenalnya. Dulu ketika pria itu bertindak kejam padanya, auranya tidak seperti itu.
Velyn memegang perutnya, ia memejamkan matanya erat-erat seraya menenangkan hatinya yang sempat tertekan oleh keadaan. Velyn yang hendak berjalan kembali kini terhenti sejenak saat dering ponselnya berbunyi, ia mengangkat panggilan itu dengan segera ketika nama Rega tercantum disana.
"Halo kak"
"Velyn, kamu apa kabar?" tanya Rega tiba-tiba, membuat Velyn menaikkan sebelah alisnya seraya berjalan kearah jalan raya didepan sana.
"Baik kak, ayah gimana? bunda?" tanya Velyn balik, namuj bukannya jawaban yang ia dengar, tapi keheningan yang ia rasakan sejenak saat nafas Rega menghembuskan nafas lelahnya.
"Kak? kenapa?" tanya Velyn yang sempat khawatir akan kebungkaman Rega yang tidak ada respon sama sekali.
"Semuanya baik kok"
"Oh ya? Alhamdulillaah"
"Velyn" tegur Rega tiba-tiba setelah Velyn menghela nafasnya.
"Kenapa kak?"
"Kamu ke Singapura sekarang ya? siap-siap, nanti kakak beliin tiket. Mau ya?" Velyn semakin mengerutkan keningnya, pasalnya, tiba-tiba saja hati Velyn semakin khawatir ketika Rega seperti membujuknya.
"Kenapa tiba-tiba? ayah kenapa kak? ayah drop lagi ya?" tanya Velyn dengan suara seraknya. Hati wanita itu semakin tak tenang, matanya semakin memerah tatkala Rega kembali terdiam.
"Kak, jawab?! kenapa kakak suruh aku buat nyusul kesana?"
"Nggak ada apa-apa Velyn, papa cuma kangen sama kamu. Papa pengen liat kamu, kamu mau ya kesini" bujuk Rega lagi membuat Velyn mengiyakan perkataan Rega meskipun masih ada yang mengganjal di hatinya. Velyn segera menutup telepon itu, ia buru-buru mencegat taksi dan segera menumpanginya.
***
Gerakan tangan dokter berkacamata yang tengah memeriksa tekanan darah Valdo membuat pria itu menatap serius Robert yang seolah diancam oleh pria itu.
"Tekanan darahnya sudah baik, detak jantungnya juga normal" ujar dokter menuturkan membuat Robert menghela nafas lega seraya tersenyum pada dokter tersebut.
"Terimakasih dok, berarti hari ini Pak Valdo bisa pulang kan?" harapan Robert satu-satunya adalah dokter mengatakan bahwa Valdo boleh untuk kembali pulang, meskipun dengan syarat apapun.
"Maaf, tapi sepertinya pak Valdo harus menjalani pengobatan lebih lanjut" ujar dokter membuat Robert bergumam dalam hati seraya melirik Valdo yang sudah menatapnya dengan pandangan membunuh.
"Gue nggak mau tau, pokoknya gue harus keluar dari sini hari ini juga. Kalau lo sampek gagal buat minta izin kepulangan gue, jangan harap lo bisa kerja di perusahaan buat seterusnya" ancaman itu membuat bulu kuduk Robert merinding. Bos-nya satu ini memang amat killer dan menakutkan, seolah jika ia bekerja dengannya itu sama saja menggali lubang sendiri.
Pikiran Robert bahkan dipenuhi oleh perkataan dan juga tatapan ancaman dari pria itu. Mau tidak mau ia harus mengupayakan agar Valdo bisa secepatnya keluar dari rumah sakit bagaimanapun caranya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, jaga selalu kesehatan anda ya. Istirahat yang cukup dan minum obatnya tepat waktu" ujar dokter itu untuk kemudian beranjak pergi dari ruangan Valdo. Robert terdiam sejenak seraya menatap punggung dokter, ia kemudian dengan cepat menyusul dokter itu untuk membicarakan perihal kepulangan Valdo yang dimintanya tadi.
"Tunggu dokter"
"Iya ada apa?" tanya dokter itu yang kini membalikkan tubuhnya untuk menatap Robert yang sepertinya amat gugup itu, membuat dokter bertanya-tanya akan sikapnya yang tiba-tiba.
"Begini dok, bisa tidak kalau pak Valdo pulang hari ini. Karena beliau adalah tipe orang yang suka dan lebih nyaman untuk istirahat di rumah" ucap Robert asal membuat kening dokter berkerut. Pasalnya, meskipun keadaan Valdo tidak sesederhana gejalanya, namun tetap saja, efek alkohol yang berlebihan dalam tubuhnya mampu membuatnya lumpuh untuk beberapa waktu, jika penanganannya tidak ditindaklanjuti.
"Pak, apa anda sudah tau kondisi dan situasi pak Valdo itu amat berbahaya jika dibiarkan tanpa pengawasan?" pertanyaan dokter membuat dilema yang begitu besar bagi pikiran pria itu. Sejujurnya Valdo sendiri juga sudah mengetahui akan keadaan tubuhnya yang mulai lelah dengan alkohol tingkat tinggi yang ia konsumsi. Namun dasar Valdo saja yang keras kepala membuat sekretarisnya harus repot tujuh keliling untuk mencari cara agar dirinya terbebas dari rumah sakit yang menyesakkan baginya.
"Saya tau dok, tapi ini juga permintaan pak Valdo sendiri. Saya mohon dok, apapun syaratnya pasti akan saya upayakan agar tidak terulang lagi hal seperti ini" ujar Robert dengan sungguh-sungguh seraya memohon pada dokter tersebut, agar mengizinkannya membawa Valdo pulang dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Setelah permohonan Robert tadi, dokter pun akhirnya luluh dan dengan terpaksa mengizinkan Valdo untuk kembali. Meskipun begitu, sikap Valdo masih saja arogan seperti biasanya. Ia melakukan apapun semaunya sendiri bahkan tanpa berpikir panjang sekalipun.
"Pak Valdo, bagaimana kalau saya antar anda pulang saja? bukannya lebih baik anda dirawat oleh Bu Lisa?" pertanyaan Robert barusan membuatnya sadar akan kenyataan. Bahkan ia sampai lupa dengan temperamen bos-nya satu ini. Salah bicara saja seperti bergantung nyawa didepan mata. Hening, mungkin yang dirasakan oleh Robert saat hawa dingin dan membunuh dari Valdo tercetak jelas dari tatapan datarnya.
"Maaf pak, kalau saya lancang-"
"Ide bagus, gue juga pengen liat gimana respon perempuan itu, kalo liat gue hampir mati kaya gini" Robert hanya mampu menghela nafas lega seraya menelan ludahnya kasar kala Valdo tidak lagi mengeluarkan amarahnya seperti biasa.
__ADS_1