Velyn Love

Velyn Love
Salah paham


__ADS_3

Setelah kejadian tadi Velyn hanya diam membisu dengan pikirannya yang dipenuhi masalahnya yang tanpa henti silih berganti menerpa hidupnya.


Perjalanan dari restoran ke perusahaan memakan waktu lima belas menit, namun belum juga sampai, Adrian membelokkan mobilnya kearah berlawanan.


"Ian, mau kemana? bukannya kantor itu arahnya ke kanan ya?"


"Kita makan siang dulu yuk, kamu kan juga belum makan"


"Tapi-"


"Udah, aku yang traktir" Velyn hanya mampu berdecak. Padahal saat ini rasanya ia tak bernafsu untuk makan. Ia lebih memilih untuk bergelayut pada pekerjaannya untuk menghilangkan fikirannya. Tapi lihatlah, tanpa perasaan dan dosa sama sekali Adrian malah mengajaknya ke sebuah cafe.


Velyn turun dari mobil berwarna putih itu dengan perasaan kesal. Ia memang sedang tidak mood kali ini, dan seharusnya Adrian tau. Tiba-tiba saja setelah Adrian keluar dari mobilnya ia ikut menyandarkan punggungnya di mobil bersejajar dengan Velyn yang kini tampak poni tipis itu yang diterpa angin. Ditambah lagi rambut Velyn yang digulung, memperlihatkan pipi tembamnya yang begitu membuat Adrian gemas saja. Bibirnya yang mengerucut itu semakin membuat Adrian tak bisa menahan senyuman saat melihat wanita disampingnya ini membuang muka darinya.


Andaikan yang dijodohkan itu dirinya, bukan Valdo. Mungkin dari awal Adrian akan amat sangat bersyukur, memiliki wanita cantik dan baik seperti Velyn. Wanita yang berbeda dari ribuan wanita yang pernah Adrian tiduri maupun Adrian kenal. Tapi Adrian cukup sadar, ia tidak pantas sama sekali untuk Velyn. Hidupnya dipenuhi dengan gelapnya dunia malam dan juga telah rusak karena pergaulannya sendiri.


'Kalau aja hidupku nggak sehancur ini Lyn, aku pasti nggak akan segan buat ngerebut kamu dari Valdo."


Dengan tatapan dingin, Velyn menoleh Adrian yang kini tampak terdiam dan menatapnya lamat-lamat. Kenapa orang ini, bahkan dahi Velyn dibuat mengernyit oleh tatapan Adrian yang seperti ada pikiran tersembunyi tentangnya.


"Kenapa liatin aku kaya gitu?" Adrian menggeleng, ia terkekeh seraya membuyarkan lamunannya yang hanya sebuah angan-angan saja.


"Nggak. masuk yuk!" ajak Adrian seraya menarik lengan Velyn, membuat gadis itu mengerutkan keningnya dan melepaskan tangannya dari jemari Adrian.


"Maaf Yan" Adrian tersenyum, ia paham. Mungkin rasanya tidak nyaman jika disentuh oleh pria lain sedangkan statusnya saja sudah bersuami.


"Santai aja, aku tau kok" Velyn mengangguk, ia kemudian mengekor pada Adrian yang kini melangkah mendahuluinya. Entah mengapa berada disisi Adrian membuat Velyn sedikit lebih nyaman. Mungkin karena sebelumnya pria ini pernah menolongnya. Hal itu membuat Velyn percaya akan orang yang baru saja ia kenal. Berbeda dengan sikap aslinya yang tidak suka dekat dengan orang yang baru saja ia jumpai.


"Kamu mau makan apa Lyn?" tanya Adrian yang kini tengah duduk dihadapan Velyn seraya menyerahkan buku menu padanya. Velyn menggapai buku menu itu, ia memilah-milah makanan yang ingin ia santap siang ini. Pumpung dapat makanan gratis dari bos.


"Aku mau spaghetti, minumnya frappuccino ice"

__ADS_1


"Yakin nggak nambah?" tanya Adrian dengan seringainya, membuat senyuman Velyn mengembang dibuatnya.


"Emang boleh?"


"Ya boleh lah, kamu mau ngremehin gaji aku sebagai manager di perusahaan suamimu sendiri" Velyn terkekeh, humor pria satu ini benar-benar tinggi sekali. Setelah pelayan menuju kearah mereka Velyn pun tak segan untuk menambah beberapa makanan lagi. Ia begitu ingat jika Nino menyukai ayam goreng. Nanti Velyn akan minta untuk dibungkus saja, sekalian membelikan oleh-oleh untuk Marni dan juga Santi.


Setelah mereka selesai makan siang, kini akhirnya Velyn dan Adrian keluar dari cafe, dengan Velyn yang membawa satu kresek besar ditangan kanannya.


"Yakin mau habisin semuanya?"


"Ini buat anakku sama dua pembantuku tau" sewot Velyn seraya memasuki mobil Adrian dengan bibirnya yang sengaja ia manyunkan itu.


Adrian terkekeh, ia mengikuti langkah Velyn untuk masuk kedalam mobilnya dan duduk disamping wanita yang kini beralih tersenyum padanya.


"Jangan lupa loh, kamu juga masih punya utang ke aku" Velyn mengernyit, hutang? apakah pertolongan dari Adrian waktu itu dihitung sebagai hutang?.


Adrian terkekeh, ia tersenyum pada Velyn seolah mengerti akan isi pikirannya. Pria itu kemudian mengacak rambut Velyn seraya menyalakan mobilnya.


"Kamu punya hutang penjelasan waktu kabur dari rumah aku diam-diam" Velyn yang kini membenahi rambutnya menatap intens pada Adrian yang tengah fokus untuk menyetir seraya masih saja tersenyum jahil pada wanita disampingnya ini.


"Oh itu ya, aku-aku minta maaf"


"Santai aja, eh, kita ke taman depan yuk. Aku pengen ngobrol bentar" Velyn membulatkan matanya, ia menatap arloji yang menunjukkan pukul 13.20, itu artinya jam makan siang sudah selesai. Tapi dengan santainya Adrian malah mengajaknya mampir ke taman.


"Ian, udah jam segini lo, kita harus cepet balik ke kantor"


"Udah santai aja, nanti kalo ditanyai bilang aja klien kita telat"


"Tapi kan?"


"Udah nggak apa-apa" Velyn hanya mampu menggeleng saat Adrian benar-benar menghentikan mobilnya disebuah taman yang rindang. Mau bagaimana lagi, Adrian sekarang adalah bosnya. Lagipula mungkin ini hanya berlangsung sebentar saja.

__ADS_1


***


Sedari siang ponsel Velyn dimatikan, membuat langkah kaki Valdo yang berulangkali mondar mandir di kamar seraya mengintip pada jendela itu terus menatap jalanan yang berada didepan gerbang rumahnya.


Kali ini kemana wanita itu? apa Velyn ingin balas dendam padanya?. Bahkan Valdo dengan sengaja pulang lebih awal dari biasanya untuk menjelaskan semuanya pada istrinya itu. Entah apa yang wanita itu pikirkan terhadapnya. Apa Velyn marah? bahkan sudah hampir isya dirinya juga belum pulang juga.


Valdo mengintip dari balik jendela lagi, ia terkejut saat sebuah motor besar berwarna merah dengan pria berperawakan tinggi dan memakai jaket kulit membonceng wanitanya. Rahang Valdo mengeras saat Velyn turun dari motor berwarna merah itu. Velyn tersenyum dan tertawa saat berbincang dengan pria itu yang kini hendak menjalankan motornya lagi.


Velyn juga tampak melambaikan tangannya saat pria asing yang wajahnya tertutupi helm itu melambaikan tangannya juga.


Valdo mengacak rambutnya seraya bergegas untuk turun dari kamarnya. Ia buru-buru menghampiri Velyn yang hendak masuk kedalam rumah, bersamaan dengan dirinya yang telah berdiri dihadapan Velyn seraya menatap datar wanita itu yang kini sepertinya tengah gugup.


"Mas"


"Darimana aja kamu?!" Valdo melirik kresek besar berwarna putih yang dibawa Velyn ditangan kanannya. Ia menatap sinis Velyn yang masih berusaha menunduk untuk menghindari tatapan Valdo yang mengintimidasi.


"Jawab aku Lyn?!" Valdo meraih lengan Velyn lalu sedikit mendorongnya. Matanya menangkap ruam merah di leher jenjang Velyn yang agak sedikit tertutupi blazer yang ia kenakan. Valdo semakin menatap tajam wajah Velyn yang kini masih bertahan menunduk.


"Siapa cowok yang nganterin kamu tadi?! kamu nggak liat ini jam berapa ha?! kamu nggak ingat kalo kamu punya suami?!"


"Jangan lupa mas, hubungan kita cuma sekedar perjanjian di atas kertas. Kamu nggak perlu berlebihan" Velyn kemudian beralih berjalan melalui Valdo. Tatapannya tak kalah tajam dari pria itu yang tiba-tiba mencengkram erat lengannya.


Valdo menarik blazer yang dikenakan Velyn, membuat gadis itu terkejut dan sedikit merintih.


"Ini apa?! kamu mau selingkuh dibelakang aku?!" mata Velyn memerah dibuatnya, matanya berkaca. Apa Valdo tidak ingat perbuatannya semalam?, bahkan Velyn saja tidak sanggup membayangkan perlakuan Valdo yang kasar padanya. Ditambah lagi, suaminya satu ini menyebutkan nama wanita lain saat mereka melakukannya.


"Aku nggak akan pernah ngelakuin hal hina kaya gitu mas! seharusnya kita nggak pernah nikah sebelumnya kalau emang nggak ada rasa percaya dari diri kamu. Aku juga nggak tau apa yang kamu lakuin diluar sana seminggu ini-" Velyn menjeda kalimatnya sejenak, ia kemudian melepaskan blazernya dan menyisakan tank top berwarna putih dengan bekas ****** dipunggung dan masih banyak lagi jika pria itu mau menelanjangi Velyn sekarang juga.


"Aku udah berusaha percaya mas, aku percaya kalau kamu pasti sibuk dan nggak sempat hubungi aku. Tapi kenyataannya setelah kamu kembali, kamu perkosa aku mas! kamu paksa aku buat ngelayanin kamu dan nyebut nama wanita lain dalam hubungan kita!" Velyn melepaskan tangan Valdo dari lengannya. Pria itu hanya terdiam ketika Velyn mengatakannya seraya terisak dan buru-buru pergi meninggalkan Valdo yang masih berdiri mematung.


'Kamu salah paham Lyn!' gumam Valdo dalam hatinya seraya menatap kepergian Velyn yang melangkah cepat menuju dapur.

__ADS_1


__ADS_2