Velyn Love

Velyn Love
Setelahnya


__ADS_3

"Hallo, dokter Irawan. Sudah saya putuskan, saya mau sembuh, saya ingin kemoterapi itu dijalankan" ungkapan bahagia Velyn kini akhirnya bisa ia utarakan lewat dokter spesialisnya. Setelah beberapa waktu lalu ia sempat menolak untuk berobat. Tapi kini, tiada alasan lagi untuk menyerah. Ada Valdo yang selalu berada disampingnya, juga ada Nino yang selalu menjadi kebanggaan mereka berdua. Velyn begitu bahagia, senyuman terpancar indah saat ia mengutarakan hal demikian pada sang dokter lewat ponsel genggamnya.


"Iya, besok bisa dok. Baik, terimakasih dok" kata Velyn seraya mematikan ponselnya untuk kemudian menatap pantulan dirinya didepan cermin rias.


"Velyn, kamu berhak bahagia. Kamu dan mas Valdo saling cinta, bener kata Adrian, kamu nggak boleh egois sama perasaan kamu sendiri. Kamu pasti bisa" ungkapnya seraya menyemangati diri membuat semangat Velyn kembali setelah sekian lama ia menyerah.


***


Velyn menghela nafasnya saat ia mengamati bantal disampingnya yang terasa kosong tanpa ada Valdo disana. Setidaknya, semalam mereka sudah menikmati malam atau sekedar tidur bersama setelah perang dingin selama seminggu ini. Sayangnya pesan dari Valdo mengatakan bahwa ia tidak bisa pulang karena pekerjaan.


Sedikit ada rasa kecewa dihati Velyn yang masih mengganjal. Namun ia sudah berjanji untuk menunggu suaminya, menunggu Valdo untuk menjelaskan segalanya. Velyn menatap langit-langit kamar dengan perasaan berkecamuk dalam hatinya, ia menggeleng seraya membuyarkan perasaannya yang kian kacau untuk kesekian kalinya.


Velyn memutuskan untuk bergegas menuju kantor. Lagipula keputusannya juga sudah bulat, ia ingin bersama Valdo selamanya, maka dari itu Velyn harus sabar. Semua kekacauan ini juga salahnya karena terlalu egois, jika saja ia jujur dari awal maka mungkin akan terasa mudah baginya.


Senyuman manis dan semangat baru dari aura Velyn kali ini membuat Adrian terheran-heran. Mungkin tebakannya akan hubungan suami istri itu memang sudah membaik semalam.


Ingin rasanya Adrian bertanya, tapi dia tidak ingin didalam pekerjaannya membicarakan hal pribadi, apalagi dengan bawahannya. Adrian adalah orang yang begitu profesional, jadi lebih baik ia menyimpan segala pertanyaannya sampai jam istirahat tiba.


"Velyn, tolong bawa ini ke ruangan owner ya?" Velyn membulatkan matanya. Apa? owner lagi?! perasaan Velyn semakin menggebu mendengarnya. Ini kali kedua Velyn akan masuk keruangan suaminya. Entah mengapa sepertinya Adrian memang sengaja.


"Baik pak"


Langkah Velyn semakin mendekat kearah dimana ruangan suaminya berada. Namun belum sempat ia berbelok, tiba-tiba saja asisten Valdo yang kala itu biasa duduk didepan ruangan Valdo kini seperti hendak cepat-cepat pergi dan mengabaikan Velyn begitu saja.

__ADS_1


Padahal Velyn ingin bertanya, namun gerakannya ia urungkan saat wanita itu tak menggubrisnya. Velyn hanya mampu menggeleng seraya mengerutkan keningnya. Seperti ada hal janggal yang terjadi, tapi Velyn mencoba untuk tetap tenang dan mengatur nafasnya dengan baik.


Saat ia mulai mendekat kearah ruangan Valdo, ia seperti mendengar suara seorang wanita didalam ruangan tersebut. Tidak terlalu jelas, namun Velyn yakin Valdo tidak sendirian didalam sana.


Jemari Velyn mengepal dibuatnya, nafasnya memburu. Ia menghela nafasnya beberapa kali sebelum mengetuk pintu itu dari luar. Dan setelah mengetuk beberapakali akhirnya Valdo berteriak dari dalam untuk menyuruhnya masuk.


Velyn menatap tajam Valdo yang kini tampak terkejut. Wanita itu menelisik setiap detail ruangan yang terlihat sepi tanpa seseorang pun didalam sana.


"Permisi pak, saya mau mengantarkan berkas ini" Valdo hanya mampu tersenyum seraya memijit pangkal hidungnya sekilas. Ia menghela nafasnya seraya menerima berkas dari Velyn dengan senyuman manis sekali.


Sejujurnya Velyn tak mengerti, apa yang ada dipikiran Valdo saat ini, siapa sebenarnya wanita yang tadi berbincang dengannya. Velyn hanya mampu membuang nafasnya kasar seraya melupakan apa yang barusan terjadi. Nyatanya ia tidak menemukan siapapun diruangan ini. Mungkin itu hanya firasat Velyn saja.


"Sayang" Velyn mengerjabkan matanya kala Valdo memanggilnya dengan manja. Ia menatap Valdo dengan perasaan campur aduk. Bisa-bisanya suaminya ini memanggilnya dengan kata sayang di saat bekerja.


"Ke-kenapa?"


"Apaan sih mas! ini tuh jam kerja tau"


"Ya nggak apa-apa dong, aku kan bosnya" Velyn hanya mampu menahan senyum seraya menggeleng dengan cepat.


"Ehem, oh ya, boleh kamu terangin dulu ke aku tentang berkas ini?" Velyn menghela nafasnya, ia dengan ragu mengangguk seraya mendekat kearah Valdo yang kini tersenyum jahil padanya. Sayangnya Velyn tak menggubris itu, maupun memperhatikan gerak-gerik Valdo yang terlihat mencurigakan.


"Ini-"

__ADS_1


"Sayang, aku kangen banget sama kamu" belum sempat Velyn menjelaskan isi berkas itu, tiba-tiba saja Valdo segera meraih pinggang wanita itu dan menempatkan bokong Velyn di pahanya. Velyn membulatkan matanya seraya menatap tajam Valdo yang kini tampak dengan manja memeluk pinggangnya dengan erat.


"Mas, nanti kalau asisten kamu masuk gimana? aku pasti bakal-"


"Bakal apa? di gosipin lagi? gampang aja kok, aku bakal bilang kalau kamu adalah nyonya Valdo" Velyn benar-benar tak mengerti dengan apa yang difikirkan Valdo saat ini. Bahkan Velyn ingin sekali bangkit dari posisinya yang berada dipangkuan suaminya. Namun sayangnya, tenaganya tak cukup kuat untuk menghindar.


"Sayang, aku kangen sama kamu. Kangen sama masakan kamu, kangen sama-"


"Mas, nggak usah mesum gitu ih!" Velyn tau apa maksud Valdo saat pria itu dengan sengaja meremas bokong Velyn. Suaminya ini benar-benar membuat dirinya kehilangan akal. Bahkan bisa terlihat dari wajah Velyn yang semakin memerah kali ini. Valdo hanya mampu terkekeh, ia menggeleng seraya membenamkan wajahnya ditubuh Velyn.


"Lepasin mas"


"Nggak mau"


"Mas Valdo, aku mau kerja. Kita lanjutin dirumah aja ya" ujar Velyn dengan manja seraya bergelayut mesra dileher suaminya. Valdo tersenyum puas, ternyata istrinya satu ini bisa merayunya juga.


"Oke, tapi ada syaratnya" Velyn mengerutkan keningnya, ia memberikan isyarat seolah bertanya 'apa?' pada sang suami.


"Mulai besok, aku mau dibawain makan siang hasil masakan kamu" Velyn menggigit bibir bawahnya, ia tampak ragu seraya menampilkan ekspresi tidak yakin akan permintaan suaminya.


"Kamu tenang aja, nggak akan ada orang lain kok di kantor aku di jam istirahat. Bahkan kalau kamu mau, aku bisa jadiin kamu asisten aku biar kita bisa berduaan terus" Valdo sangat tau perasaan Velyn. Ia memang tidak ingin mengungkapkan identitasnya, dan Valdo tidak ingin memaksa. Tapi Valdo yakin, cepat atau lambat semua orang akan tau bahwa wanita yang kini berada dipangkuannya adalah istri kebanggaannya.


"Kalau kamu bisa jamin, aku bakal buatin kamu makan siang kok tiap hari" senyuman kemenangan kini ditunjukkan oleh Valdo pada istrinya. Ia mencium pipi Velyn sepihak membuat wanita itu terkejut dan buru-buru bangkit dari pangkuan Valdo.

__ADS_1


"Mas!"


"Udah sana balik kerja. Aku tungguin loh masakannya besok" kata Valdo seraya tersenyum tanpa dosa melihat tingkah Velyn yang begitu amat kesal karena dicium tiba-tiba.


__ADS_2