
Velyn yang baru turun dari taksi kini melangkah malas kearah rumah minimalisnya yang terlihat
tak jauh dari pandangan matanya. Wanita itu menghela nafas, ia meraih kunci rumah dari
dalam tasnya. Meskipun rasanya ia Lelah sekali, namun setelah ini ia akan istirahat sepanjang
hari untuk mempersiapkan pekerjaan paruh waktunya. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat
saat pesta perayaannya berakhir hanya dalam satu jam saja semalam.
Langkah Velyn kini semakin mendekat, dan kini akhirnya ia berhasil berdiri didepan pintu,
wanita itu menguap dan mencoba memasukkan kunci kedalam lubang kunci tersebut. Kini
harinya dimulai kembali, dan mungkin juga seharian ini ia tidak bisa menjenguk Valdo.
“Velyn!” suara itu sontak membuat punggung Velyn bergetar, ia hendak membalikkan tubuhnya
namun rasanya tidak mampu. Bunda yang selalu ia rindukan selama ini, kini hadir dan berada
tepat tak jauh dari tubuhnya. Entah mengapa air mata Velyn seperti hendak terjatuh, ia bahkan
tanpa sengaja menjatuhkan kunci rumahnya saat wanita itu memeluknya dari belakang.
“Velyn, maafin bunda sayang” terdengar suara isakan dan juga getaran dari balik suara bunda
yang membuatnya semakin lemah. Rasanya Velyn sendiri tak tega jika harus mendengar
bundanya bersedih seperti itu. Karena apapun yang dilakukan bunda, mau itu marah atau
menyia-nyiakannya, bahkan sampai tak perduli akan kepergiannya dari rumah, tapi tetap saja
tak dapat menghapuskan rasa sayang untuk anak dari seorang ibu, begitupun sebaliknya.
“Bunda” tak terasa air mata Velyn terjatuh ketika mendengar isakan dari bundanya. Bahkan ia
masih tak percaya jika bunda masih memeluknya dengan erat. Velyn membalikkan tubuhnya
dan segera memeluk bundanya tak kalah erat. Ia menatap Regayang berdiri tak jauh dari
tempatnya berdiri, pria itu jug ikut menitikkan air mata, air mata yang tidak pernah ia lihat walau
dengan kepergian ayah. Tapi bisa ia rasakan kesedihan yang dirasakan oleh dua keluarganya
yang masih tersisa.
Bunda melepaskan pelukannya dari Velyn, ia menyentuh jemari Velyn dan menatap putrinya
yang tengah menunduk dengan mata ysng masih berlinang air mata. Malia tidak akan membuat
keputusan yang salah lagi, ia akan membuat Velyn sembuh dan sehat kembali. Ia tidak ingin
penyesalannya terjadi dua kali dalam hidupnya.
“Berapa banyak rahasia yang kamu sembunyikan dari bunda dan kakakmu nak?” Pertanyaan
itu sontak membuat Velyn megernyit, ia menatap bunda dan kakanya bergantian. Entah
mengapa rasanya hatinya tambah tidak tenang lagi ketika bunda mengatakan hal demikian.
Atau jangan-jangan?, Velyn membulatkan matanya dan menatap bundanya yang kini meraih pundaknya, dan mengusap lembut anak rambutnya.
“Bun?”
“Iya nak, bunda udah tau semuanya. Leukimia dan kehamilan kamu” mata Velyn semakin
membulat dengan waajahnya yang begitu pucat. Mana mungkin keluarganya bisa tau, dan
bagaimana mereka mengetahui apa yang terjadi?. Bahkan setidaknya tidak ada orang yang tau
sedikitpun tentang penyakitnya sejauh ini. Terkecuali, Adrian tapi tidak mungkin pria itu,
mengingat apa yang terjadi semalam, membuatnya yakin jika itu bukanlah dirinya.
Pikiran itu menghilang seketika saat bundanya kembali memeluknya dengan erat, disusul Rega
yang kini ikut memeluk keduanya denga perasan yang bercampur aduk tiada terkira. Begitupun
juga Velyn yang ikut terisak bahkan menangis tersedu-sedu saat kedua keluarganya yang
masih bersisa memeluk erat dirinya.
“Maafin bunda Velyn, maafin keegoisan bunda yang mikirin omongan orang lain tapi malah
nggak mikirin perasaan anaknya sendiri.Bunda emang jahat nak, bunda bukan ibu yang baik
buat kamu”
“Bunda jangan ngomong kaya gitu, Velyn tau kok perasaan bunda. Pasti berat banget saat
bunda harus nerima ini semu” Bunda semakin mengeratkan pelukannya. Seharusnya bukan
Velyn yang harus mengerti dirinya, tapi sebagai seorang ibu, harusnya Malia lah yang
mendampingi Velyn dan membelanya ketika menghadapi semua itu.
“Akhirnya keluarga kita kembali lagi. Ayah pasti seneng liat kita rukun lagi” ujar Rega setelah
tangisannya mereda. Benar apa yang dikatakan oleh Rega, masalah memang selalu terjadi di
dalam sebuah keluarga. Keselahpahaman, keegoisan dalam salah satu anggota keluarga,
ataupun kesalahan yang dilakukan. Yang terpenting bagaimana kita bisa memperbaiki
keretakan yang terjadi agar bisa menjadi rukun kembali.
***
Kini semua kembali, akhirnya Velyn akan kembali kerumah lagi, meskipun perasaannya masih
diselimuti rasa tidak tenang, namun ia merasa sedikit lega akan dukungan dari keluarganya
yang ia dapatkan.Bahkan akhirnya beban yang ia pikul sendiri, kini bisa dmengerti mupun
dirasakan bersama-sama dengan kedua keluarganya yang masih tersisa. Tapi ia tidak tau apa
yang dipikirkan oleh bunda dan kakaknya ketika mengetahui bahwa kandungannya dapat membahayakan nyawanya.
Velyn memandang langit-langit kamarnya saat tubuhnya tengah berbariing diatas ranjang
miliknya. Kira-kira sudah seminggu lamanya ia meninggalkan kamar ini dan menjalani hari-
harinya dengan mencari pekerjaan juga menjaga Valdo yang berada dirumah sakit. Dan
kebetulan saja saat ia hendak memulai harinya lagi dan memulai pekerjaan yang ia inginkan, ia
malah sudah berada dirumah. Itu semua sangat kebetulan sekali.
“Lyn, boleh bunda masuk?” pertanyaan itu sontak saja membuat Velyn bangkit, sekaligus
sedikit terkejut akan kehadiran bundanya yang sudah berada diambang pintu.
“Bo, boleh kok bun” Malia bergerak mendekat kearah Velyn yang kini tamppak sedikit canggung
dengan bunda, meskipun mereka sudah berbaikan, tapi tetap saja di hati Velyn masih terasa
kaku untuk memulai seperti dulu lagi dengan bundanya.
“Mulai sekarang, bunda nggak akan bahas lagi soal perceraian kamu. Bunda tau kamu sudah
cukup terluka dengan hal itu” Sejujurnya Velyn sendiri sudah tidak apa-apa, meskipun
terkadang masih terbayang dengan apa yang dilakukan Valdo waktu itu. Ia lebih memilih untuk
membuka lembaran baru yang lebih indah, dan menghadapi masa depannya yang tak tau akan
bagaimana.
Bagi Velyn sudah cukup untuknya mengenal cinta, dulu Andra pacar pertamanya, dan yang
kedua adalah Valdo yang merupakan cinta terakhirnya. TIdak ada tiga kali lagi untuk mengenal
cinta. Susah payah Velyn mengorbankan perasaannya, meskipun tak berbuah manis, tapi
setidaknya Velyn sudah pernah merasakannya dalam hidupnya.
“Lyn, kenapa nak? Kamu mikirin apa?” Velyn menggeleng, pikirannya pun buyar seketika saat
bunda mulai bicara. Ia masih terdiam tanpa kata semenjak mereka memutuskan untuk
membawa Velyn pulang. Bayangannya masih saja muram saat mengingat tanggapan apa yang
akan dilakukan oleh keluarganya saat tau ia memutuskan untuk mempertahankan bayinya.
“Bun, apa bunda tau kalau bayi ini berpengaruh sama nyawa aku?” tanya Velyn dengan tatapan
murungnya. Bunda terdiam sejenak, wanita itu kemudia menghela nafas seraya meraih jemari
Velyn, bagaimana Malia tidak tau tentang hal itu, ia bahkan mengetahui segalanya, bahkan
rasa bersalah itu masih terasa dalam benaknya meskipun saat ini Velyn sudah ada
disampingnya.
“Bunda nggak pengen kehilangan kamu nak, seperti bunda kehilangan ayah, bunda harap
kamu bisa paham perasaan bunda sebagai ibu” Velyn terdiam tanpa kata, wanita itu hampir saja meneteskan air mata jika saja ia tidak menggeleng seraya mengalihkan pandangannya
pada hal lain.
“Aku juga seorang ibu bun, aku nggak pengen bunuh anak aku sendiri. Aku nggak mungkin
tega.”
***
38
"Velyn! apa kamu tau gimana sakitnya bunda saat kamu bilang kaya gitu?!" ucap bunda lantang seraya bangkit dari ranjang menatap putrinya dengan tatapan tajam. Sebenarnya apa yang bearada dipikiran putrinya. Apa Velyn sudah tidak sayang pada nyawanya sendiri?.
"Aku tau bun, tapi bunda tau kan gimana keadaan Ayah saat pengobatan. Ayah nggak bisa sembuh sama sekali meskipun kak Rega sudah mendonorkan sum-sum tulang belakangnya!"
"Terus gimana dengan bayi kamu Lyn?! dia juga belum tentu bisa bertahan kalau kamu maksa buat mertahanin dia!" emosi Malia kini mulai meledak-ledak kembali. Ia pikir dengan dirinya berbicara akan membuat Velyn merubah pilihannya, namun ternyata perkiraannya salah. Bujukan bundanya bahkan tidak membuat wanita itu menyerah.
"Lyn-"
"Aku mohon bun" tangis Velyn seraya menyentuh lutut bundanya, Velyn bahkan turun dari ranjangnya seraya berlutut pada bunda yang kini ikut menangis dan mencoba untuk menahan diri. Malia hanya ingin Velyn bertahan, ia ingin membuat Velyn sembuh, tidak seperti penyesalannya terhadap suaminya. Namun apa yang dilakukan putrinya itu, justru membuat Malia berpikir berulang kali.
"Jangan buat bunda maksa kamu-" Velyn segera bangkit dan menarik kupluk yang selalu ia pakai tiap hari. Dan betapa terkejutnya bunda menatap rambut Velyn yang sudah mulai habis di ujung kepalanya. Menyisakan kepalanya yang botak, hal itu membuat Malia menutup mulutnya tak percaya.
__ADS_1
"Karena ini bun, ini yang buat aku pengen dia hidup. Karena hidup aku juga nggak akan lama lagi. Aku mohon izinkan aku" mohon Velyn seraya terduduk menangis dihadapan bundanya yang segera meraih kupluk itu dan memasangkannya lagi dengan segera pada kepala wanita itu. Malia sudah tidak kuat lagi melihat penderitaan putrinya. Tubuhnya yang kurus kering serta wajahnya yang selalu pucat tanpa daya, membuat Malia ikut ambruk dan memeluk putrinya yang menangis sesenggukan.
"Jangan gini nak, bunda nggak bisa tahan kalau kamu gini terus. Kamu harus semangat sayang, bunda pasti bakal dukung agar kamu bisa sembuh. Bunda janji, bunda enggak akan maksa kamu lagi, bunda nggak akan jodohkan kamu sama orang lain lagi. Bunda bakal turuti semua mau kamu Lyn, asalkan kamu mau sembuh" Velyn masih menangis sesenggukan seraya memeluk bundanya. Seandainya bunda mengerti apa yang fia rasakan, pasti bunda sendiri pasti akan melakukan hal yang dilakukan olehnya. Ia menyayangi anaknya, sangat menyayanginya. Velyn bahkan rela mengorbankan nyawanya demi kehidupan baru yang akan ia lahirkan.
***
Setelah menangis cukup lama, kini Malia dan Velyn duduk di kursi tepat dibalkon belakang kamar wanita itu. Dengan pandangan kosong yang dipenuhi perasaan mencekam, membuat keduanya tak bisa berkata-kata. Berbincang dan mencoba mengerti satu sama lain, pasti akan lebih menenangkan daripada berpikir dalam ego diri sendiri.
"Bunda bilang, bunda nggak pengen denger cerita kenapa sku bisa cerai dari kak Valdo. Kenapa? bunda pasti penasaran juga kan kenapa kami memutuskan sampai berpisah" Malia melirik Velyn yang kini menatap pemandangan didepannya dengan pandangan kosong.
"Bunda nggak mau kamu ingat masalah itu lagi, dibandingkan luka lama, luka yang kamu alami sekarang pasti lebih menyedihkan juga" Velyn tersenyum dan menatap bundanya yang juga menatapnya dengan sendu. Bukannya tidak mau tau, tapi Malia lebih mementingkan perasaan Velyn untuk saat ini.
"Bunda tau, ternyata kak Valdo belum cerai dari istri sebelumnya"
"Apa?!"
"Iya, kak Valdo belum cerai dengan istrinya..." Velyn menceritakan semuanya tanpa kurang apapun. Ia hanya berharap agar bundanya mengerti akan keinginannya, ia sudah lelah dipaksa melakukan sesuatu yang bukan inginnya. Semua yang sudah ia lewati akan ia lupakan, begitupun pernikahan yang gagal ia bina. Ia ingin memulai lembar baru yang ia inginkan, bukan diatur maupun dipaksa dalam memutuskan sesuatu.
Namun mendengar hal itu, Malia semakin tidak bisa menghentikan tangisannya. Ia kembali memeluk erat Velyn yang kini hanya mampu terdiam seraya tersenyum. Putrinya itu menghela nafas seraya menyeka air mata bundanya yang terjatuh dari pelupuk matanya. Bagi Velyn air mata bunda terlalu berharga, ia tidak ingin membuat bundanya khawatir. Tapi akan lebih baik Velyn menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, daripada harus menutupinya lagi .
"Velyn, kenapa kamu enggak pernah cerita? berapa banyak lagi beban yang kamu tanggung sendiri? seharusnya kamu bagi itu semua ke bunda nak? bunda, maaf. Ini semua karena bunda yang maksa kamu buat nikah sama dia, bunda-"
"Sstt, udah bunda jangan nangis lagi. Velyn udah nggak apa-apa kok. Velyn nggak semudah itu buat cerita saat ayah lagi dirawat. Bunda pasti bingung dan nggak bisa ngapa-ngapain kalau Velyn cerita. Velyn cuma pengen mempertahankan rumah tangga seperti apa yang bunda bilang. Tapi ternyata Velyn gagal, Velyn-"
"Jangan diteruskan lagi nak, bunda nggak kuat" Velyn kini semakin membaik ketika bunda tau apa yang menjadi bebannya selama ini. Meskipun hal itu sudah terlewati tapi tetap saja, tidak ada yang lebih nyaman daripada pelukan bundanya sendiri.
***
Jemari hangat wanita itu mampu membuat punggung Rega yang sebelumnya bergetar, kini berakhir tenang. Rasanya Rega amat lega, ada seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya, dan mau berbagi apapun tentang penderitaan yang ia miliki.
"Aku yakin, Velyn pasti bisa lalui ini semua. Dibalik cerita kamu, ia sebelumnya juga menemui masalah yang nggak kalah besar. Kali ini, apapun keputusannya aku harap bunda kamu bisa menghargainya" sebagai seorang perempuan Mega tau bagaimana perasaan Velyn, meskipun ia tidak pernah menjumpai situasi terberat itu dalam hidupnya, tapi jika ia berada diposisi Velyn, pasti kebebasan dan juga keputusannya adalah cara terbaik untuk membuatnya bahagia.
Velyn adalah satu-satunya saudara Rega yang amat kuat, semua cobaan dan juga masalah ia pendam sendiri. Hal itu membuat Mega ikut bersedih serta menitikkan air mata. Kalau ia ada diposisi Velyn, mungkin Mega tidak akan kuat lagi, bisa jadi Mega tidak lagi mempunyai semangat untuk hidup. Kehilangan cinta, harga diri, dan juga dukungan yang seharusnya ia dapat. Namun keadaanku malah ia sendiri menghadapi semuanya, menangis tanpa henti dalam setiap langkahnya.
"Kamu kenapa Mega? kamu nangis?" tanya Rega yang kini menyentuh dagu wanita itu saat mata Mega mulai memerah"
"Aku, aku nggak apa-apa. Aku cuma kasihan sama Velyn, kalau aku-"
"Sstt, kamu jangan mengumpamakan Mega, aku nggak pengen orang-orang yang aku sayangi ngalamin hal itu. Dan aku juga bukan laki-laki bodoh kaya Valdo yang bakalan ngelakuin itu" ujar Rega seraya menyentuh bibir wanita dihadapannya. Wanita yang paling ia cinta, dan orang yang paling ia percaya. Bodoh jika ia mengkhianatinya.
"Aku tau, kamu nggak bakalan ngelakuin itu" gumam Mega disusul kecupan hangat dipipi gadis itu yang membuat wajahnya memerah seketika saat Rega menatap lekat matanya.
***
39
Jemari Rega menggenggam erat jemari Mega yang kini tersenyum lembut padanya. Mega
Chalista, juniornya saat ia pindah sekolah di ibukota saat ayah sudah menjadi pimpinan terbesar
bagi para pemegang saham tertinggi. Meskipun ia adalah pria yang suka menyendiri dan tidak
suka sembarangan bergaul, tapi tetap saja banyak para siswi yang menyukainya termasuk Mega
yang awalnya tidak suka terhadap sikap dinginnya. Bagaimana tidak, Mega sering menemuinya
diperpustakaan dan menyapanya karena menghormatinya sebagai kakak kelas. Namun perlakuan Rega ternyata diluar dugaan. Pria itu hanya menatap dingin dirinya hingga membuat Mega terasa muak.
Sampai suatu ketika….
“Rega, Chalista, kalian berdua harus semakin giat untuk belajar mulai saat ini. Karena kalian
akan menjadi perwakilan dari sekolah kita untuk mengikuti olimpiade nasional tahunan. Setelah
jam pulang sekolah, ibu akan memberikan kalian mata pelajaran tambahan di kelas music.”
Awalnya Chalista ingin mengundurkan diri dari olimpiade, tapi karena ia adalah siswi yang
berkompeten dan juga cerdas, sulit sekali bagi para guru untuk mencari pengganti dari Chalista.
“Tapi saya nggak mau bu ikut lomba itu, apalagi-“
“Apalagi?” pertanyaan dan kilahnya juga tak mungkin disetujui begitu saja jika dengan cepat
dikabulkan hanya karena ia tidak mau satu tim bersama Rega. Saat itu Chalista hanya mampu
menyerah pada situasi canggung maupun dingin karena Rega tidak pernah mengajaknya bicara
satu patah katapun padanya.
Hujan mulai turun dan semakin deras ketika keduanya sudah selesai mengerjakan lembar
terakhir dari guru. Chalista melangkah keluar dari Gedung itu duluan, bukan karena apa, tapi
karena ia tidak ingin terlalu lama bertemu dengan Rega setelah kelas tambahan usai. Wajah lesu
gadis itu, dan juga matanya yang seperti memantulkan bayangan hujan. Siluet keindahan itu
takkan pernah bisa dilupakan oleh Rega sampai saat ini. Dalam diam Rega tersenyum, ia
memberikan payung pada gadis yang menatap hujan masih sama seperti sebelumnya. Deras dengan rintik yang amat rendah.
Gadis itu menoleh, untuk pertama kalinya Rega terpesona dengan wajahnya yang manis saat
terdiam dan menatapnya dengan canggung. “Chalista, nama kamu Mega Chalista kan? Mau
kedepan? Aku anterin.”
Sejak berbagi payung itu, mereka semakin dekat, tiada lagi kecanggungan diantara mereka lagi,
begitupun Chalista yang tidak pernah melihat senyum pria itu sedikitpun kini mulai terbiasa dengan senyuman Rega yang hangat. Bahkan rasa kesalnya sudah mulai memudar saat perhatian
dan terbukanya Rega membuat Chalista tertarik setelah sekian lama. Sampai suatu ketika…
mengapa, tapi Chalista merasa ada yang aneh dengan tanggapan dingin dari pria itu. Berawal
dari situ setelah seminggu, kabar yang tidak ingin didengarnya kini mulai terdengar setelah
semenjak Rega menghindarinya selama ini karena pertanyaannya waktu itu.
“Eh lo tau nggak? Anak kelas IPA kakak kelas kita yang ganteng itu, katanya dia mau kuliah di
Jerman loh”
“Oh, Kak Rega ya? Udah denger gue, nggak nyangka ya. Tapi emang nggak bisa diragukan sih,
secara anaknya pinter banget”
Deg!
Hati Chalista berdenyut saat itu juga, ia menghela nafas berat seraya melangkah kasar kearah
perpustakaan, tempat Rega biasanya singgah. Dan benar saja, pria itu duduk dengan tatapan
kosong menatap buku yang terbalik ditangannya. Awalnya ia tidak ingin melakukan ini, tapi
setelah Rega menghindarinya, rasanya Chalista butuh jawaban yang pasti.
Brakkk!
Gebrakan keras terdengar begitu nyaring setelah Chalista memukul meja dihadapan Rega yang
kini menatapnya dengan aura dingin. Begitupun anak-anak yang terkejut saat melihat keduanya
saling menatap dengan pandangan berseteru. Semua orang keluar dari lokasi tersebut,
meninggalkan Chalista dan juga Rega yang masih diam tanpa kata.
“Maksud kakak apa ngehindari aku kaya gini? Sampai kapan kakak bakal nyembunyiin kenyataan kalau kakak bakal kuliah di Jerman?” Rega tersenyum dengan smirknya, namun Chalista amat tidak mengerti dengan situasi yang terjadi, selama ini apa yang dipikirkan oleh Chalista mana mungkin tidak dipikirkan oleh Rega?. Chalista yakin Rega pasti memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Perhatian, kehangatan, dan senyuman yang tidak pernah ia bagi pada siapapun. Saat itu Chalista yang pertamakali mendapatkannya.
“Emang kenapa? Harus ya aku ngasih tau ke kamu?” Chalista mengeratkan jemarinya begitu
erat. Ia menghela nafas berat dengan tenggorokannya yang tercekat dan matanya yang semakin berkaca.
“Ak-aku, aku cinta sama kak Rega!” ungkapan pertama Chalista, juga rasa sakit yang amat luar
biasa terjadi seketika, saat Rega membelalakkan matanya disusul suara yang asing dari telinga
Chalista.
“Rega sayang? Kamu di dalam ya?” suara itu membuat hati Chalista bertambah sakit, amat sakit
sampai hatinya terasa sesak saat gadis itu berjalan semakin mendekat dan duduk dipangkuan
Rega tanpa aba-aba. Tanpa perlawanan dari Rega gadis itu menelisik Chalista yang kini menatap
keduanya dengan pandangan tak dapat mengungkapkan apapun kecuali wajahnya yang amat
kecewa serta matanya yang kini memerah dan mulai berkaca.
“Oh cewek yang mau nembak kamu lagi? Kenapa sih kamu nggak bilang aja sama semua orang
kalau kita udah pacaran selama seminggu ini?” Chalista menatap keduanya dengan pandangan
kesal, bahkan wajah Rega amat begitu dingin tanpa ekspresi yang tidak biasa. Ia tidak melawan,
bahkan memberi tanggapan sedikitpun.
Hal itu membuat Chalista mengerti, apa alasan dibalik menghindarnya Rega selama ini, juga
perasaannya yang terlanjur terungkap, serta bertepuk sebelah tangan begitu saja. Chalista segera
melangkah menjauh dari perpustakaan itu, ia menangis seraya berlari kearah ruang kelasnya dan
mengambil buku jurnal disana. Gadis itu mencoret-coret nama Rega dan Mega disana. Ia
menangis terisak, walau pilu dan amat sedih tapi itu semua tidak ada gunanya. Awalnya ia pikir
Namanya akan serasi jika disandingkan, namun siapa sangka, semua khayalan dan juga harapan
itu runtuh seketika.
“Aku benci kamu kak Rega!”
Helaan nafas Rega terdengar sakit saat ia mengintip gadis itu dari balik jendela kelas. Ingin
sekali Rega menyentuh kepalanya dan mengusapnya dengan lembut seperti yang pernah ia
lakukan saat Chalista tertidur diruang music tempat mereka biasa mengerjakan tugas bersama.
Tapi itu tidak mungkin ia lakukan, karena sejujurnya perasaan Rega juga sama seperti gadis itu.
“Aku juga cinta kamu Chalista.”
Empat tahun berlalu dan akhirnya Chalista ingin bekerja sambilan sembari menunggu
pengumuman wisudanya keluar. Sore itu tanpa sengaja Chalista melirik sebuah lowongan
pekerjaan disebuah perusahaan yang dapat menerima seorang mahasiswa yang baru lulus
__ADS_1
magang. Kesempatan itu tak di sia-siakan begitu saja oleh Chalista, jarang sekali ada perusahaan
yang mau merekrut mahasiswa untuk bergabung bersama mereka. Dan pada akhirnya, Chalista
pun menerima pemberitahuan wawancara kerjanya setelah du hari mengajukan lamaran.
Namun, hal yang tidak ia sangka pun terjadi saat itu juga.Pria berkacamata dengan pandanagan
menunduk itu membuat Chalista hanya mamppu terdiam canggung. Ketua HRD sekaligus anak dari pemegang saham tertinggi di perusahaan tersebut.
“Mega Chalista ya?” entah mengapa, suara itu membuat Chalista teringat akan seseorang yang
selalu membuat pikirannya terganggu beberapa tahun ini.
“Iya pak”
“Panggilannya?”
“Mega” Ya, smenjak saat mereka tak lagi bertemu dan Chalista resmi pindah keluar kota, ia
mengubah nama panggilannya. Nama yang dirasa cocok untuk disandingkan dengan lelaki itu
meskipun hal itu tidak pantas.
“Mega? Jadi kamu bener Chalista?” pandangan yang mengarah padanya itu membuat hati Mega
terasa sakit untuk kesekian kali. Wajah Mega pucat pasi menatap pria tampan dihadapannya,
sudah berapa lama? Bahkan Mega masih saja tetap terposan walau hatinya tengah terkejut.
Gadis itu buru-buru bangkit dan hendak pergi, namun lengannya ditahan oleh pria itu yang
membuat hati Mega tambah sakit lagi. Semenjak saat itu, mereka kahirnya sering bertemu dan
berpacaran. Rega juga mengungkapkan pada Mega jika dulu dirinya terpaksa melakukan itu
karena tidak ingin Mega tersakiti saat ia pergi.
“Sayang? Mikirin apa?” tanya Mega yang menatap wajah tampan dihadapannya dengan tatapan
khawatir saat Rega menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.
“Enggak, aku cuma beruntung aja bisa ketemu kamu lagi” Mega tersenyum malu, rasanya ia juga
tidak menyangka juga bahwa takdir akan seindah ini. Pria yang selama ini mengaguminya
ternyata juga menunggunya. Siapa juga yang dapat menolak pesona dari Rega. Rasanya Mega
sangat beruntung bisa menjadi pilihan dari pria yang dikenal dingin itu.
“Maaf, karena aku, kita jadi LDRan terus dan jarang ketemu. Dan makasih karena kamu udah
setia sama aku” Rega juga tidak menyangka jika Mega amat setia padanya. Semenjak ia kuliah di
Jerman, pria itu tak lepas dari pekerjaan susulan di negara tersebut. Dengan begitu waktu
beertemu mereka juga amat sedikit jika dihitung berdasarka hari. Tapi meskipun Rega
mempersilahkannya untuk putus jika Mega mau, tapi gadis itu tida pernah melakukan itu.
Sebaliknya, ia sangat setia dan tidak akan mau jika putus dari Rega.
***
Dengan tubuhnya yang terasa lemah itu, Valdo dengan gigih meraih ponsel yang berada di meja
pasien, ia sempat bingung dengan keberadaannya ketika saat sadar ia sudah berada diruangan
yang nampak berbeda dengan ruangan sebelumnya. Kini tiada orang yang menungguinya sama sekali, bahkan wanita yang hanya bisa menghabiskan uangnya itu berani-beraniya mengabaikan
dia yang tengah sakit dan tidak berdaya.
Valdo segera hendak menghubungi papanya, namun tindakan itu ia hentikan. Mana mungkin
ayahnya perduli semenjak pria itu memutuskan hubungan dengannya. Siapa lagi yang
mengurusnya sampai dia sudah merasa baikan seperti sedia kala?. Mungkin saja para dokter
yang berada di rumah skit lama tidak ingin membuatnya mati. Hal itu sngat mudah dilakukan
bukan, mengingat Valdo bukan orang biasa, melainkan pengusaha yang dapat membeli seisi
perusahaan jika mau.
Valdo tak ambil pusing dengan hal itu, ia beralih menghubungi sekretaris pribadinya untuk
mengurusi administrasi keluarnya ia dari rumah sakit ini dengan segera. Rasanya ia sudah muak
dengan bau obat-obatan yang menjadi aroma kesehariannya selama ini.
“Hallo, Bet, segera kerumah sakit Wisma Jaya. Sekarang!”
Valdo menghela nafas lelah, sebenarnya berapa lama ia berbaring? Sampai. -sampai badannya
bisa pegal-pegal semua seperti itu. Setelah pulang dari rumah sakit ini, Valdo berjanji akan
menghukum wanita sialan itu dan membuatnya lagi punya kemampuan untuk bernafas lega
sekali saja.
“Permisi” senyuman dari dokter yang telah merawat Valdo untuk beberapa hari ini membuat
Valdo yang jarang menampakkan senyumnya itu kini mulai tersenyum tipis. Lagi pula itu hanya
formalitas saja karena dokter itu telah menyelamatkan nyawanya. Anggap saja Valdo menjilat,
namun sebenarnya itu adalah rasa terima kasih yang tidak mudah ia sampaikan.
“Bagaimana keadaan anda pak Valdo?”
“Baik dok, berapa lama saya berada disini?” ujarnya singkat seraya melirik ponselnya yang
hendak ia ambil karena getar telepon dari sekretaris pribadinya.
“Sudah tiga hari semenjak anda di operasi. Oh iya, sepupu anda kemarin belum datang ya?”
tiba-tiba saja Valdo menghentikan jemarinya ketika hendak mengangkat ponsel itu. Ia lebih
fokus untuk membahas tentang sepupu yang tidak dikenalnya. Jadi bukan pihak rumah sakit
yang merujuknya langsung kemari?, melainkan ada seseorang yang memang sengaja
menolongnya.
“Kita harus ambil tindakan cepat dok, atau kalua tidak nyawa pasien aka nada dalam bahaya”
“Sus, siapkan dokumen untuk mengurus rujukan. Minta pihak keluarga untuk menendatangani persetujuan rujukan" Potongan ingatan satu persatu teringat dibenak Valdo, tidak mungkin jika Lisa yang
membawanya kemari. Kalau wanita itu, dia jelas tidak akan peduli, kalaupun perduli dengan
keadaaannya tidak mungkin juga ia mengaku sebagai sepupu.
“Pak Valdo? Anda tidak apa-apa?” tanya dokter membuat lamunan Valdo buyar seketika. Ia
terlalu banyak berpikir, hingga membuat kepalanya pusing. Valdo menggeleng, sejenak ia
melupakan apa yang terjadi, lebih baik ia mengurus prosedur keluar dari rumah sakit terlebih
dahulu dan meminta Robert untuk menyelidikinya.
“Em, dok bisa saya minta tagihan untuk biaya saya selama dirawat disini? Rencananya, saya
akan pulang hari ini juga”
“Tapi pak, kesehatan anda-“
“Saya tau, tapi saya punya dokter pribadi. Saya mohon izinkan saya pulang hari ini” mohon
Valdo membuat dokter itu menghela nafas dan terpaksa mengangguk untuk menyetujui
keputusan pria itu yang tidak dapat diganggu gugat. Sebelumnya dokter memang sempat ragu,
tapi melihat keadaan Valdo yang sudah mulai bugar kembali, tiada alasan untuk tidak
mengizinkannya pulang. Lagi pula dokter sudah terbiasa menghadapi pasien seperti Valdo ini,
sulit untuk ditangani jika punya kehendak sendiri. Jika dilarang, maka keinginannya pun akan
semakin menjadi.
“Suster, tolong ambilkan nota tagihan pada pak Valdo.”
***
“Christyn Gabriella…”
Valdo tidak pernah mengenal siapa itu Christyn, dan bagaimana perempuan itu bisa berhubungan
dengannya. Bahkan dengan berani meminta uang pada Robert untuk biaya pengobatannya.
Sedangkan dokter juga bilang bahwa wanita itu siang dan malam selalu setia menunggunya,
hingga hampir bermalam karena ketiduran disamping bangsalnya.
“Lo bener-bener enggak kenal siapa dia?” tanya Valdo pada pria yang berdiri dengan kacamata
dan juga beberapa file yang ia bawa. Sejujurnya Robert juga bingung dengan apa yang terjadi.
Sejauh apa yang ia tau, ia tidak merasa curiga sama sekali saat wanita itu meminta transfer untuk
biaya dari sebagian pengobatan Valdo.
“Saya benar-benar tidak tau pak, saya pikir itu benar-benar anda”
“Udah lo selidiki bagaimana ciri-ciri perempuan itu? Dan darimana dia bis atau kalo lo itu
asisten pribadi gue?”
“Menurut informasi yang saya dapat dari para perawat, wanita itu memiliki rambut yang sering
di gulung. Wanita itu juga sering memakai kupluk penutup kepala, jadi tidak ada yang tau pasti.
Tapi yang jelas, tubuh wanita itu kurus tinggi, kulitnya putih dan-“
“Bet, jangan sebutin lagi, gue pusing oke! Please berguna dikit kek. Cari asal-usul dia dan
kenapa dia mau bantu gue. Dan buat Lisa, blokir semua kartu ATM dan fasilitas yang udah gue
kasih!” ujar tegas Valdo membuat Robert mengangguk seraya berjalan keluar untuk mengurus
__ADS_1
masalah yang hendak ia selesaikan saat ini juga. Lebih cepat, lebih baik. Pedoman itu yang
membuat Robert harus selalu kompeten pada pekerjaannya.