Velyn Love

Velyn Love
Diagnosa


__ADS_3

Langkah Velyn begitu lunglai, rasanya kakinya masih lemas hanya untuk berjalan. Ia lelah, kini sebelum hari mulai petang Velyn berencana untuk menemui dokter. Entah mengapa hari-hari ini rasanya tubuhnya terasa lemah. Sejak ia lulus SMA berat badannya selalu turun drastis. Mungkin kini saatnya ia harus memeriksakan diri tentang kesehatannya.


Velyn kini menunggu antriannya untuk dipanggil, gadis itu mengeluarkan ponselnya dan membuka pesan yang baru saja masuk. Velyn tersenyum tipis kala ia melihat Valdo yang mengechatnya.


Valdo: "Lyn, udah sampe rumah?"


Velyn terkekeh sendiri melihat perhatian dari pria satu itu. Bukan karena apa, hanya saja ia merasa begitu aneh jika Valdo bersikap begini padanya. Dengan santainya Velyn mengetik pesan untuk membalas pesan Valdo dengan apa adanya.


**Velyn: "Lagi dirumah sakit, bentar lagi pulang"


Valdo: "Penyakit om kambuh lagi?"


Velyn: "Nggak kok, aku yang nggak enak badan"


Valdo: "Jangan capek-capek, banyakin istirahat sama jangan lupa telat makan**"


Velyn menggeleng seraya tersenyum tipis, kenapa tiba-tiba Valdo begitu perhatian padanya?. Velyn benar-benar tidak mengerti dengan sifat pria satu ini, rasanya baru kemarin Valdo dan Velyn bermain bersama, kemudian Valdo menghilang begitu saja. Kini Valdo kembali seperti hendak menjalin hubungan yang lebih baik terhadapnya.


Namun Velyn menghempaskan perasannya begitu saja. Meskipun ia memang sedikit nyaman terhadap pria itu, tapi sekarang ia harus bisa menjaga hatinya dulu untuk tidak menaruh perasaan pada Valdo.


Ia takut kejadian dulu akan terulang kembali. Takut jika ia terlalu jatuh dan akhirnya tidak bisa bangkit lagi. Sudah bertahun-tahun Velyn menjadi gadis dingin tanpa perasaan mematahkan hati para pria. Dan itu semua karena traumanya terhadap Valdo. Kini tiada lagi hal seperti itu, ia tak akan semudah itu terlena dan terbawa perasaan.

__ADS_1


"Arvelyna Putri Chandra?" suara panggilan dari seorang suster dari dalam ruangan dokter membuat gadis itu buru-buru bangkit dan menaruh ponselnya kedalam tas selempang yang ia kenakan.


***


Valdo memukul dahinya, kenapa juga ia mengirim pesan pada Velyn seolah perhatian saja. Pria itu senyum-senyum sendiri membaca chatingannya dengan Velyn. Wajahnya memerah begitu saja. Entah apa yang Valdo pikirkan namun hatinya seolah menggelora dan malu-malu.


Centang membiru itu ia tunggu kesekian detik namun tak kunjung ada balasan dari sebrang sana. Valdo mengumpat, apa jangan-jangan Velyn sengaja tidak membalas chatnya? pikiran Valdo bergerak kemana-mana seolah tidak tenang dengan perasaannya sendiri.


Valdo hendak mengetikkan kata, namun ponselnya yang bergetar membuatnya segera mengangkat panggilan. Wajahnya yang malu-malu tadi kini berubah menjadi semakin serius.


"Gimana?"


Belum lagi rasa malu pada keluarganya juga kemarahan mereka. Valdo memijit pelipisnya, hanya disuruh mencari seorang wanita saja, orang suruhannya ini benar-benar lamban.


"Lo nggak bisa ya cepet dikit geraknya, minggu depan hari H pernikahan gue!" umpat Valdo kesal seraya mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana tidak frustasi jika hari itu tiba ia harus membatalkan pernikahan itu secara sepihak. Ia juga tak ingin lebih melukai Velyn lagi. Sudah cukup masa lalunya yang ia hancurkan karena keegoisannya semata.


"Tapi bos, pinggiran kota itu nggak mudah jangkauannya. Penduduknya padat, belum lagi nanti kita bakal negosiasi sama nyonya. Gue takut bos kalau pergerakan kita salah, nyonya bisa kabur lagi" memang tidak ada jalan lain lagi kecuali pergerakan mereka yang harus hati-hati. Sudah bertahun-tahun Valdo mencari keberadaan Lisa dan nyaris saja ketemu. Namun karena pergerakan mereka terlalu buru-buru akhirnya Lisa mampu lolod dari pengawasan mereka.


Tidak, Valdo tidak akan membiarkan Lisa pergi lagi. Ia juga tidak akan membiarkan nasib Velyn berada dalam hubungan keterpaksaan terhadapnya. Valdo menghela nafasnya kasar.


Valdo membanting ponselnya diatas ranjang, ia menatap frame yang menggantung di dinding kamarnya. Pernikahan dirinya bersama Lisa.

__ADS_1


Valdo mengusap kasar wajahnya, ia memejamkan matanya sejenak. Namun yang terlintas dalam pikirannya kali ini bukanlah Lisa tapi gadis itu. Mengingat saat-saat ia menatap wajahnya yang indah membuat jantung Valdo terasa berdebar.


Hatinya ngilu saat akan melukai Velyn untuk kesekian kalinya. Hatinya menolak untuk menghentikan pernikahan ini. Rasanya berada didalam lingkaran hidup Velyn diri Valdo semakin berbeda. Ia menemukan hasrat untuk membuatnya bahagia.


Valdo mulai ragu, ia menelan salivanya kala kepalanya dipenuhi dengan bayang-bayang Velyn yang mengganggunya. Gadis yang cantik dengan rambut panjang sepinggang. Senyuman tipis yang membuatnya terasa terbang ke awang-awang. Kini ia harus melukai Velyn sekali lagi atau malah mempertahankan hubungan yang tak pasti ini. Pikiran Valdo buntu, seperti tidak ada pilihan dalam masalahnya kali ini.


***


"Velyn, melihat dari gejala kamu dan perubahan drastis yang kamu alami selama ini. Diagnosa saya saat ini adalah leukimia atau kanker darah" dokter wanita itu membuat nafas Velyn seolah berhenti saat ini. Matanya membulat sempurna, ia menutup mulutnya tak percaya.


Ia kira selama ini tubuhnya yang terasa lemas dan sering mimisan adalah bentuk dari kelelahannya saja. Namun ia tak pernah membayangkan jika nasibnya akan berakhir sama dengan sang ayah. Mata Velyn berkaca, ia menunduk seraya memegang dadanya kuat-kuat.


"Kenapa bisa dok? saya tidak merasakan sakit kok selama ini" tukas Velyn yang kini menahan air matanya agar tidak terjatuh. Tenggorokannya tercekat, meskipun begitu Velyn harus kuat. Ia tak mau orang-orang disekitarnya khawatir padanya.


"Mungkin ada keluarga kamu yang mempunyai riwayat penyakit yang sama. Tapi kamu tenang aja, ini hanya diagnosa saya, pemeriksaannya akan kami kirim setelah hasil labnya keluar. Kita sama-sama berdoa semoga hasilnya tidak positif" kata dokter itu lembut memberikan semangat untuk Velyn yang kini tampak terdiam seraya mengangguk.


Setelah konsultasinya selesai, Velyn buru-buru keluar dari rumah sakit itu. Ia ingin sekali menjumpai keluarganya. Ayah, bunda dan Rega, kini merekalah semangat Velyn saat ini.


Velyn menaiki sebuah taksi, tangisannya pecah tanpa bersuara. Ia berdoa banyak-banyak kepada Yang Maha kuasa agar penyakit itu dijauhkan dari dirinya. Melihat bundanya menangis karena Rahardian saja rasanya Velyn tidak tega, ditambah lagi jika memang benar diagnosis dari dokter tadi.


Velyn memegang lengannya kuat-kuat, ia mencoba untuk tersenyum dan menyeka air matanya. Rasanya cobaan selalu menimpanya diwaktu yang sama.

__ADS_1


__ADS_2