
Velyn kini telah keluar dari gerbang rumahnya, chat yang berada di ponselnya menunjukkan bahwa Andra sebentar lagi akan segera tiba. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, rasanya menegangkan sekali bisa kencan dengan dosen tertampan di kampusnya, sekaligus idola bagi para mahasiswi.
Tak lama kemudian mobil berwarna putih tiba, menampilkan sosok pria idaman yang kini tengah tersenyum kearahnya. Hati Velyn mendadak berdenyut kencang, tangannya bergetar saat melihat Andra yang kini mempersilahkannya untuk masuk kedalam mobilnya. Lain halnya dengan wajah Velyn yang kini menampakkan mimik wajah biasa saja, karena memang ia tak ingin Andra kegeeran.
"Lyn, masuk" ujar pria itu membuat Velyn mengangguk, tak lupa ia juga menampakkan senyum tipis pada dosennya satu itu. Ya meskipun Velyn bersikap cuek, namun sesekali ia ingin bersikap ramah terhadap pria itu.
Velyn memasuki mobil tersebut tanpa ragu, ia duduk dijok depan tepat bersebelahan dengan Andra yang kini menampilkan senyum manisnya. Hanya saja Velyn harus menahan gejolak dihatinya, ia tak ingin termakan perasaan sendiri.
"Kamu cantik" kata Andra tiba-tiba, gadis itu yang mendengar perkataan sang dosen hanya bisa menatapnya tak percaya. Velyn terpaku, ia menatap Andra yang kini mengunci pandangannya pada sosok gadis yang begitu cantik untuknya, dari dulu hingga sekarang.
"Kamu masih sama Lyn, nggak berubah."
Gumam Andra dalam hatinya.
Jantung Velyn semakin bergetar, tatkala Andra tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya pada Velyn, ia bahkan bisa merasakan hembusan nafas Andra yang semakin mendekat ke wajahnya. Velyn memundurkan wajahnya, ia memejamkan matanya bersiap untuk menerima ciuman dari pria itu.
Namun siapa sangka Velyn malah terperanjat kala Andra tiba-tiba saja menarik sabuk pengaman dibelakangnya.
"Kamu kenapa Lyn?" pertanyaan itu membuat Velyn menggeleng. Wajahnya kini bersemu merah, ia buru-buru memalingkan muka, tak ingin jika Andra melihat wajahnya yang kini berubah seperti kepiting rebus.
"Kita jalan sekarang?" pertanyaan dari Andra membuat Velyn mengangguk, meskipun sebenarnya gadis itu enggan untuk menatap Andra, tapi dirinya masih merasa malu dengan kejadian barusan. Velyn dengan PD nya menganggap bahwa Andra akan menciumnya.
"Bodoh kamu Lyn, bodoh."
Batin Velyn yang kini menepuk kepalanya beberapa kali, mengingat kebodohan yang baru saja ia fikirkan.
__ADS_1
Hening menyelimuti keduanya, tatkala kini gadis itu tengah asik menggerutu dalam batinnya. Andra yang menatap gadis disampingnya hanya bisa tersenyum kecil, andai Velyn tau apa yang Andra fikirkan saat ini. Ia sendiri tau jika tadi Velyn menganggap dirinya hendak menciumnya, sebenarnya tidak salah fikiran itu. Namun Andra memikirkan hal setelahnya jika ia benar-benar mencium Velyn tadi, bisa jadi Velyn akan berfikiran aneh-aneh terhadapnya.
"Pak, kita mau kemana?" pertanyaan Velyn membuat Andra terperanjat dari fikirannya. Kini setelah sekian lama kebungkaman gadis itu, akhirnya is terbuka juga.
"Mau kemana ya? em, kalo kita ke pasar malam gimana?" pertanyaan itu membuat Velyn terdiam. Pasar malam, kalau tidak salah Velyn terakhir kali ke pasar malam saat dia SMP. Saat itu ia bersama dengan supirnya mengantarnya malam-malam, kata Isan sahabat dari sang ayah, ia sudah mengatur pertemuan malam itu bersama dengan pria yang pernah ia kagumi dulu.
Namun sayangnya, ingatan itu membuat Velyn semakin sakit, saat pria dewasa yang ia idolakan ternyata membawa seorang gadis cantik. Pria itu merangkul pundak gadis itu dan membawanya pada Velyn saat Velyn dulu masih gendut dengan kacamata besarnya. Saat itu Velyn telah tepat berada dibawah biang lala, ia menunggu kehadiran pria yang memang katanya hendak menemaninya bermain disana. Namun siapa sangka, ia malah menunduk dengan air mata yang mengalir deras dipipinya.
"Lyn, lo udah liat kan? gue udah punya cewek baru, gue harap lo peka, lo ngerti kalo gue nggak cinta sama lo, dan gue nggak akan pernah berharap buat bisa barengan sama lo" ditengah perkataan pria itu, Velyn masih saja menunduk, air matanya bergulir begitu saja sepeninggal pria yang kini malah pergi dari hadapannya.
Kala itu Velyn tidak mau pulang, ia bermain sendirian disana. Meskipun tiada yang menemaninya, tapi ia hiraukan kesedihan itu, ia hanya ingin keluarganya dan keluarga Isan tak khawatir melihatnya pulang begitu cepat.
"Lyn kamu kenapa? kamu nggak mau ya? kalo nggak mau kita bisa kok ke tempat lain" kata Andra yang kini membuat kesadaran gadis itu kembali. Velyn mengerjapkan matanya beberapa kali, ia melirik Andra yang sepertinya menaruh harapan besar padanya.
Terlihat kini Andra tersenyum manis mendengar jawaban dari gadis itu. Mungkin Velyn lupa, tepat enam tahun lalu tatkala Andra jalan-jalan malam ke sebuah pasar malam. Ia melihat gadis gendut dengan kacamata besar bulatnya bermain sendirian dan menaiki biang lala, makan gula kapas sendirian dengan wajahnya yang mencoba
untuk menghibur dirinya sendiri. Gadis yang selalu menjadi pusat perhatiannya, bukan hanya disekolah, tapi dimanapun dia berada gadis itu selalu menjadi kenangan indah Andra. Meskipun Velyn saat itu begitu gendut, tapi Andra bisa merasakan kehangatan ketika tatapan mata hitam milik Velyn berbinar, rasanya ia juga ikut bahagia.
'Lyn, saya harap kamu ingat ya sama saya' gumam Andra dalam hatinya.
Sesampainya di sebuah pasar malam, Velyn terlihat berdecak kagum dengan pasar malam yang tidak berbeda dengan beberapa tahun silam.
"Gimana, kamu mau apa? atau mau main apa?" pertanyaan itu membuat Velyn tersenyum senang, akhirnya setelah sekian lama, ia merindukan tempat itu dan kini dirinya seperti kembali ke zaman dulu.
"Saya mau gula kapas pak" ujar Velyn tanpa ragu dengan menunjuk stand gula kapas berwarna-warni tak jauh dari tempat mereka berdiri. Andra kini hanya bisa tersenyum, ia mengajak gadis itu untuk mendekat dan membeli gula kapas yang diinginkan gadis itu.
__ADS_1
"Kita naik komedi putar yuk?!" ajak Andra yang membuat Velyn tersenyum seraya mengangguk. Ia bahkan bisa merasakan genggaman jemari Andra yang hangat menggandeng jemarinya, Velyn hanya bisa tersenyum dibelakang pria itu. Ia menatap genggaman tangan Andra yang seolah membuat hatinya begitu nyaman.
Velyn kali ini menaiki patung kuda berwarna putih sedang Andra menaiki gajah disamping Velyn duduk. Tiba saatnya komedi putar itu berjalan, Velyn tertawa seraya memakan gula kapas ditangannya.
"Bapak mau?" tanya Velyn disela mereka bermain komedi putar, Andra mengangguk. Ia tak mau kehilangan kesempatan untuk melihat keceriaan gadis itu.
"Mau dong, tapi suapin ya?" perkataan Andra membuat Velyn menaikkan sebelah alisnya, namun sedetik kemudian ia menyuapi Andra ditengah permainan mereka menaiki komedi putar. Velyn tertawa kala gula kapas di mulut Andra belepotan kemana-mana. Hal itu membuat Andra mengusap mulutnya dan ikut tertawa. Selama permainan mereka Andra tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk semakin dekat dengan pujaannya.
Setelah selesai bermain komedi putar, kini Velyn dan Andra beralih bermain memancing ikan tak jauh dari tempat itu.
"Ini namanya ikan lele" kata Andra yang mengambil ikan mainan yang baru saja ia dapatkan dari kail pancing magnetnya. Velyn hanya bisa terkekeh, jelas itu namanya ikan buntal karena bentuknya yang bulat dengan duri-duri diseluruh tubuhnya.
"Pak itu namanya ikan buntal, bukan lele" perkataan Velyn membuat Andra mengernyitkan keningnya.
"Masa sih?" pertanyaan itu membuat gadis itu mengangguk. Lalu Velyn beralih menarik ikan plastik ditangannya.
"Kalau ini apa namanya?" tanya gadis itu yang membuat Andra tiba-tiba berfikir dengan keras seolah benar-benar tak mengerti apa yang berada ditangan Velyn.
"Bintang laut ya?" Velyn menggeleng keras, jelas saja itu adalah kuda laut tapi Andra malah tidak tau.
"Kuda laut pak, ih kok bapak nggak tau sih soal ikan-ikan" kata Velyn yang membuat Andra terkekeh.
"Saya taunya kamu Lyn"
"Ih apaan sih" kata Velyn seraya tertawa. Andra dan Velyn saling berebut ikan, kadang-kadang pria itu menunjuk ikan dengan nama yang asal hingga membuat Velyn tak bisa menghentikan tawanya.
__ADS_1