
Velyn mengemasi kopernya, ia hanya membawa pakaian sedikit saja. Mungkin sampai sana ia hanya ditahan untuk beberapa hari, karena bundanya selalu menyuruhnya untuk berada di samping Valdo. Jika saja bundanya tau akan keretakan rumah tangga yang sudah ia bina dalam ikatan perjodohan itu, mungkin saja bunda sangat amat kecewa padanya, atau berakhir menyalahkan diri sendiri.
Bagi Velyn saat ini itu tidaklah penting, yang paling penting wanita itu harus segera menemui ayahnya. Jangan sampai kabar ini terdengar terlebih dahulu ketelinga mereka, karena bagaimanapun itu pasti juga akan mempengaruhi kesehatan ayah nantinya.
Velyn menghela nafasnya, setelah selesai bersiap wanita itu kemudian beralih melangkah untuk membuka pintu kamarnya. Ia menatap langit-langit kamar, memandangi setiap sudut kamar yang tiada bingkai foto sama sekali maupun pajangan yang indah seperti dulu. Semua kenangan yang indah itu setidaknya sudah ia singkirkan untuk melupakan apa yang terjadi di masa lalu.
Kali ini Velyn akan melangkah maju, demi orang-orang yang ia cintai dan demi masa depannya nanti, serta bayi didalam kandungannya yang menjadi semangat untuknya.
Velyn kemudian menutup rapat pintunya, ia keluar dari kamarnya dan segera turun kebawah. Bersiap untuk berangkat ke bandara, bahkan semua persiapan pun sudah selesai.
"Lyn, lo beneran mau berangkat sendiri? serius nggak apa-apa?" tanya Dira seraya melirik Christyn yang juga menatap Velyn penuh kekhawatiran. Dengan apa yang Velyn alami selama ini, bahkan cukup membuat kedua sahabatnya prihatin, terutama masalah Velyn yang baru saja bercerai dengan suaminya.
"Nggak apa-apa kok, lagian gue disana cuma sebentar aja" hibur Velyn seraya tersenyum pada mereka berdua. Sejujurnya Velyn tidak ingin membuat dua sahabatnya itu khawatir tentangnya, apalagi yang dikhawatirkan mereka sudah usai dan perlahan diikhlaskan olehnya.
Velyn tidak selemah itu, ia pernah membayangkan akan mengalami posisi dimana Valdo menceraikannya, dan kini hal itu terjadi juga. Meskipun Velyn juga sangat menyayangkan kejadian itu terjadi, tapi nampaknya melupakan masalah adalah solusi terbaik daripada harus berkelit dan bersedih terus tanpa ujung.
"Lyn, kalau ada apa-apa cepet kabari kita ya? ujar Christyn seraya menyentuh pundak Velyn yang terlihat menghela nafasnya. Velyn hanya berharap tidak akan terjadi apa-apa, dengan begitu ia juga takkan mengabari dua sahabatnya itu.
"Iya, nanti gue kabari kok. Gue berangkat dulu ya?" salam Velyn pada kedua sahabatnya itu yang kini melepas kepergian Velyn dengan hati yang bimbang dan tak tentu arah.
Setelah semuanya siap, Velyn naik kedalam mobil taksi yang menjemputnya tadi, seiring mobil itu berjalan Velyn pun melambaikan tangannya kepada sahabat-sahabatnya. Pikirannya pun mulai terganggu ketika ia keluar dari gang rumahnya. Perkataan manis dan kasih sayang serta cinta dari Valdo kembali membayangi dirinya. Seandainya Valdo tidak menceraikannya, mungkin sudah beberapa minggu ia berada di Singapura. Menikmati bulan madu serta menjenguk ayah setiap hari agar kekhawatirannya semakin berkurang. Ditambah ditemani oleh orang yang paling ia cinta, semua beban terasa ringan dan tenang ketika ada Valdo disisinya. Namun harapan dan juga angan Velyn berbanding terbalik dengan keadaan.
Velyn menitikkan air mata, tanpa kesadaran jika hatinya iku tersiksa dalam lamunan yang ia ciptakan sendiri. Wanita itu memeluk tubuhnya seraya menyentuh lembut perutnya yang masih kecil. Dunianya tidak lagi hampa meskipun ada kesedihan didalamnya. Itu semua karena bayi Valdo yang ada didalam rahimnya, Velyn merasa ditemani dan tidak lagi merasa sendiri.
Taksi Velyn berpapasan dengan mobil hitam yang hendak melewati gang perumahannya. Pria itu menatap luar kaca mobil dengan pandangan datarnya seperti biasa. Rasanya, meskipun ia ingin menolak, tapi tak bisa membuat hatinya tenang jika tidak mengetahui bagaimana keadaan wanita itu setelah kejadian siang tadi dirumah sakit.
Mobil hitam itupun berhenti, disebuah rumah besar dengan gerbang tinggi dihadapannya. Valdo membuka kaca mobilnya, ia menatap rumah tersebut dengan seksama. Sunyi, mungkin itu adalah suasana yang pas jika orang lain menatap rumah besar itu saat ini. Entah bagaimana keadaan wanita itu didalam sana, bahkan amarah dan juga rasa kecewa Valdo telah menutup hatinya meskipun bisa goyah seperti saat ini.
"Pak?"
"Jalan Bet!"
"Tapi-"
"Kita kesini buat lewat, bukan buat mampir. Cuma itu! gue mau pulang sekarang!" perintah Valdo membuat Robert menurut saja dan menjalankan mobilnya setelah mendapat perintah dari bosnya.
Valdo segera menutup kaca mobilnya lagi, ia tak ingin berlama-lama melihat rumah itu, bahkan tak ingin mengingat apapun yang terjadi di masa lalu. Wanita itu bahkan telah menghancurkan harapannya, hatinya yang telah ia korbankan, dan waktunya yang terbuang sia-sia. Valdo paling benci dibohongi, bahkan ketika Valdo meminta wanita itu untuk memukulnya pria itu pun pasti akan bersedia, bahkan tamparan dan juga perbuatan yang akan Velyn lakukan jika ia membalasnya akan lebih baik daripada balas dendam menggunakan perasaan.
Valdo menghela nafasnya, matanya memerah kembali. Ia benar-benar tak mengerti, bagaimana menghentikan perasaan dan juga pikirannya yang seolah tidak sejalan. Ia hanya ingin hidup tenang, meskipun harus menghancurkan kehidupannya, ia rela asalkan bayang-bayang wanita itu menghilang dari pikirannya.
***
"Santi, gue mau minum!" teriak wanita yang kini duduk di sofa seraya menaruh tas mewahnya dimeja ruang tamu.
"Iya nyonya" kata Santi setelah berlari tergopoh-gopoh dari dapur seraya membawakan gelas berisikan air putih untuk dibawakan pada majikannya.
Sejujurnya, semenjak Velyn keluar dari rumah ini kehidupan keluarga didalamnya menjadi berantakan. Jangankan Valdo yang jarang pulang, bahkan Lisa pun hanya bisa menghambur-hamburkan uang seraya berkumpul dengan kumpulan sosialitanya. Apalagi majikan barunya itu seperti menganggap Santi seperti babu saja, suka menyuruh seenaknya dan tidak segan memotong gaji wanita itu jika Santi melakukan kesalahan walaupun dengan tidak disengaja.
"Gue capek, nih bawa tas gue keatas" Santi hanya mampu membungkuk seraya menerima tas majikannya. Lisa benar-benar berbeda dengan nyonya Velyn, wanita lemah lembut dan menganggapnya seperti keluarga serta senyuman hangat yang selalu membuat Santi nyaman. Berbeda dengan Lisa yang seenaknya sendiri, bahkan tidak ada perilaku baik sebagai seorang majikan.
***
Setelah selesai istirahat sebentar di ruang tamu kini akhirnya Lisa bangkit kembali dan memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Wanita itu kemudian masuk kedalam kamarnya, namun belum sempat ia melangkah tiba-tiba saja Lisa dikejutkan oleh seorang pria yang kini menatap dingin dirinya. Tatapan menakutkan meskipun senyum terulas untuknya.
"Val-Valdo? kamu?"
"Nggak usah nyalahin Santi, aku yang suruh dia buat tutup mulut kalau aku ada disini" ucap Valdo tegas, membuat Lisa gelagapan dibuatnya. Bahkan wajah wanita itu terlihat pucat ketika mendapat teguran dari Valdo.
"Kamu kemana aja sih Do? kok jarang banget pulang?" tanya Lisa seraya melangkah mendekat pada pria yang kini duduk disisi ranjang seraya menatap Lisa dengan pandangan kesal.
Apa yang dilakukan Lisa, seluruh kegiatannya, bahkan perbuatan yang melewati batas, tidak ada yang diketahui olehnya. Jangan kira Valdo bodoh ketika menghilang, tapi sebenarnya pria itu tengah menyelidiki motif Lisa agar pria itu tidak terjerumus untuk kedua kalinya.
"Kamu baru tanya aku sekarang? kemarin-kemarin kemana aja, kamu nggak berusaha buat cari aku! kamu malah sibuk datang ke acara perkumpulan sosialita kamu yang nguras harta aku-"
"Ini semua pasti omongan yang nggak bener dari Santi kan?" langkah Lisa yang hendak membalikkan tubuhnya ditahan oleh Valdo yang berlari kearahnya dan mencegah lengannya untuk tidak menghindar.
"Kamu kira aku bodoh ya Lis? kamu kira aku nggak punya otak ha? bukan Santi yang bilang, tapi aku yang mata-matain kamu!" Lisa membulatkan matanya, pupil matanya bergetar ketakutan. Cengkraman tangan Valdo, serta tatapannya yang membunuh membuat nyali Lisa ciut seketika.
__ADS_1
"Aku nggak kaya gitu!" tukas Lisa seraya memberontak, ia mencoba melepaskan diri dari cengkraman Valdo membuat pria itu bertambah erat mencengkeramnya.
"Kamu kirim anak aku ke asrama! dan kamu seneng-seneng disini? kamu pikir kamu siapa?!"
"Aku ini istri kamu Valdo, jangan siksa aku!" teriak Lisa seraya menghempaskan lengan Valdo, membuat pria itu terpaksa melepaskan lengan Lisa dan masih menatapnya dengan tajam.
"Apa? kamu mau siksa aku kaya apa yang kamu lakuin sama Velyn? kamu pengen bunuh aku, seperti apa yang kamu lakuin ke dia!" teriak Lisa seraya menatap Valdo tak kalah tajam. Meskipun begitu, Lisa juga tidak akan kalah, ia tidak mau nasibnya sama seperti wanita lemah itu.
"Ngomong apa kamu tadi?!" Lisa menggeleng seraya keluar dari kamar, ia membanting pintu seraya tak ingin bertemu lagi dengan Valdo untuk sementara waktu. Selain takut diceraikan, Lisa juga takut kehilangan harta serta kemewahan yang selama ini ia rasakan.
"Lisa!" teriak Valdo seraya meninju tembok dihadapannya. Kali ini Valdo benar-benar marah, tangannya yang semula baik-baik saja, kini berdarah dan mengalir disela-sela jemarinya. Valdo berdecak seraya membanting apa saja yang terlihat oleh matanya.
Ia mengumpat, pria itu kemudian mengacak rambutnya seraya berlutut di lantai. Hidupnya kini berantakan, semuanya sudah tidak terkendali. Bahkan semenjak wanita itu pergi, hari-harinya seperti tak lagi ada kebahagiaan.
"Valdo! keluar kamu anak kurang ajar!" suara lantang itu membuat jantung Valdo berdetak kencang. Sejak kapan papanya datang? dan mengapa di situasi yang kacau seperti ini. Valdo kemudian beralih bangkit, ia melangkah keluar kamar seraya menatap papanya yang kini berdiri di bawah anak tangga dengan matanya yang penuh amarah padanya.
"Kenapa kamu disitu? nggak pantes kamu disebut laki-laki ha!" Valdo menatap papanya tak kalah sinis, ia kemudian melangkah menuruni anak tangga. Tatapan bengis dari papanya ketika memandang setiap sudut ruangan yang dipenuhi fotonya dengan Lisa membuat amarah papanya seperti hendak meledak-ledak.
Bagaimana ia tidak marah, usahanya untuk membuat Valdo mengerti kini seolah sia-sia akibat perbuatan putranya. Menjadikan Valdo lebih dewasa lebih menyulitkan untuknya, belum lagi bagaimana perasaan Velyn saat ini?, bagaimana perasaan keluarganya saat pernikahan anak mereka masih di umur jagung dan kini berakhir sia-sia. Memikirkan itu saja, sepertinya kepala Gaisan hendak ingin pecah. Begitu sedihnya pria paruh baya itu sampai ia tak bisa mengekspresikannya lagi.
"Anak kurang ajar! jadi benar, kamu ceraikan Velyn dan rujuk dengan Lisa?!" teriak Gaisan membuat Valdo mengalihkan pandangannya seraya menghela nafas. Valdo lelah, sudah pasti ia akan dimarahi habis-habisan, atau bahkan dipukul untuk kesekian kali. Meskipun sebenarnya Gaisan tidak pernah melakukan itu, karena papanya adalah orang yang takut kehilangan anak satu-satunya, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa hal itu akan terjadi.
Valdo masih terdiam, bungkam dalam tatapan Gaisan yang penuh amarah juga kecewa yang tercetak jelas pada mata tajamnya. Pun halnya dengan Gaisan yang memilih diam sebagai bentuk rasa amarah yang telah mencapai puncaknya.
"Iya, aku-"
Plakkk
Satu tamparan keras mengenai wajah tampannya yang kini berubah memerah usai tangan Gaisan melayang mengenai wajah putranya yang kini hanya bisa menunduk dan terdiam. Hanya dengan kata 'iya' membuat hati Gaisan tergores semakin dalam, ngilu di hatinya takkan mungkin dimengerti oleh putranya yang secara mudah membuat keputusan sebesar itu tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Nggak usah kasih papa penjelasan! kamu udah ngecewain papa Valdo!, papa nggak bisa maafin apa yang telah kamu perbuat-"
"Ini semua juga salah papa! kenapa papa maksa aku buat nikah sama dia pa?! sekarang liat? hidup aku hancur pa!" Gaisan mengeratkan giginya, ia benar-benar tidak menyangka jika Valdo akan berbicara seperti itu. Bahkan setelah melukai hati wanita sebaik Velyn. Bahkan Gaisan tidak pernah menyangka akan mempunyai putra sejahat Valdo. Jangankan berpikir untuk lebih dewasa, mungkin saja Valdo tidak pernah berpikir akan akibat dari perbuatannya. Perceraian bukanlah hal mudah bisa dilewati oleh semua orang, apalagi seorang wanita baik-baik seperti Velyn. Jika saja Gaisan yang berada disposisi Rahadian, pastinya hatinya akan amat hancur dan terluka.
"Papa emang salah nilai kamu! papa kira kamu bisa balas budi dengan keluarga Velyn. Papa cuma pengen anak papa satu-satunya melindungi putri sahabat papa-"
Yang bisa Valdo lakukan hanyalah menyalahkan papanya. Jika Valdo tidak terpaksa, tidak mungkin pria itu berakhir menikah dengan Velyn dan menceraikannya. Hanya karena balas budi saja mampu membuat mata Gaisan tertutup tanpa mau mengetahui keinginan putranya.
"Papa udah ketemu sama istri kamu, bahkan dia nggak nunjukin etikat baik. Dia pergi gitu aja ngelewatin papa, itu yang namanya menantu yang baik ha?!"
"Itu semua karena papa menculik Lisa! papa bikin dia ketakutan!" jemari Valdo yang berdarah bahkan seolah terlupakan karena amarah Gaisan. Entah ia harus bicara apa pada putranya sendiri. Namun kali ini, kesabarannya sudah berada di puncak, ia juga sudah lelah menasihati putranya seperti apa.
Mungkin inilah kekalahan Gaisan sesungguhnya, pria itu kemudian mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam jasnya dan memberikannya pada Valdo. Mungkin ini titik tergagal yang pernah Gaisan alami, tidak untuk harta tapi untuk mendidik anak sendiri. Selama ini Valdo kekurangan kasih sayang dari seorang ibu, itu sebabnya Gaisan memberikan perhatian dan juga memanjakan putranya dengan semaksimal mungkin. Tapi bukannya Valdo berakhir menjadi sosok pria yang hangat dan juga baik hati, tapi malah Gaisan yang ternyata salah mendidiknya.
"Papa capek Do" kata lemah itu yang membuat Valdo kini tersadar dan mendongak, ia menatap papanya yang terlihat lesu tak seperti biasanya. Valdo kira, papanya akan marah dan berteriak kencang seperti yang dilakukannya dulu ketika amarahnya memuncak karena hal ini.
"Mungkin papa sudah gagal, papa gagal membesarkan kamu. Dan mulai hari ini papa juga nggak mau maksa kamu. Kamu bebas Valdo, ini-" Gaisan memberikan dokumen kepemilikan properti dan seluruh hartanya pada putra satu-satunya itu. Pria paruh baya itu tersenyum dan menyentuh punggung Valdo meskipun hatinya amat sakit menelan kekecewaan yang sudah ia tahan sejak lama.
"Semua harta papa, termasuk perusahaan dan properti yang papa miliki, papa berikan ke kamu. Papa tau, sejak awal kamu menginginkan ini kan?"
"Pa, bukan-" Valdo tidak bisa berkata-kata, bahkan aura muram yang ditunjukkan oleh papanya tidak seperti amarahnya seperti biasa. Aura itu dapat membuat hati Valdo teriris amat sakit.
"Mulai sekarang jangan panggil aku seperti itu, karena semenjak kamu milih dia, itu artinya hubungan diantara kita bukan lagi keluarga" tiba-tiba saja petir seperti menyambar tubuh Valdo yang kaku. Ia menatap Gaisan tanpa berkedip, bahkan matanya pun berkaca-kaca. Waktu pun seolah berhenti, mengingatkannya pada kata-kata Valdo yang dulu pernah dilontarkannya pada orang tua satu-satunya itu.
"Kalau papa nggak ngerestui hubungan aku sama Lisa, kita nggak perlu ada hubungan lagi!"
Valdo terdiam tanpa kata, luka lama itu kini kembali bahkan lebih dalam daripada apa yang ia rasakan. Sejujurnya itu adalah ungkapan bodoh dari Valdo yang seharusnya tidak ia ucapkan, dan dengan bodohnya lagi Valdo kini melepas kepergian papanya tanpa sempat berkata-kata.
"Semoga kamu bahagia dengan keluarga kecilmu, tapi asal kamu tau, ada alasan kenapa aku menjauhkan kamu dari perempuan itu. Pada saatnya kamu bakal mengerti, sebagai orang tua aku cuma pengen liat anakku bahagia" ucapan terakhir itu membuat seribu penyesalan dalam hidup Valdo bertambah. Kini ia sadar, betapa harta tak menjadikan kebahagiaan saat orang-orang yang dicintai hilang satu persatu.
Mungkin kali ini adalah penyesalan Valdo yang tidak akan pernah ia lupakan. Setelah Gaisan melangkah pergi, tubuh Valdo bergetar dengan tubuhnya yang kini ambruk dan berlutut. Valdo menangis tanpa bersuara, hidupnya sudah hancur bahkan kebahagiaan tidak lagi berpihak padanya.
Mungkin saja ini adalah buah hasil dari perbuatannya di masa lalu, perbuatan jahatnya pada Velyn yang tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit hati keluarganya. Bahkan Valdo sendiri tidak lagi memiliki keluarga lagi. Dimatanya hanya kesepian yang menemani dirinya.
***
Suara mendaratnya pesawat terdengar walau wanita itu sudah berada diluar bandara. Rasanya ia tak menyangka bisa datang di negara itu hanya dengan menggunakan keberaniannya. Velyn menunggu diluar gedung besar itu, ia meraih ponselnya dan menyalakannya. Tanpa disadari panggilan suara tak terjawab dari Rega membuat wanita itu buru-buru mengubungi Rega kembali dengan perasaan yang tidak menentu.
__ADS_1
"Halo kak? iya? kak? kenapa kakak buru-buru? ayah gimana?" Rega segera menutupnya saat pria itu terlihat tergesa dan hendak menjemput Velyn saat itu juga. Entah mengapa mendengar Rega seperti panik membuat hati Velyn amat tak nyaman. Entah mengapa rasanya seperti luka itu begitu besar meskipun Rega tidak mengatakan apapun.
Matanya berkaca serta tenggorokannya tercekat, ia benar-benar ingin menangis meskipun tanpa alasan. Hatinya amat begitu hancur hanya dengan mendengar suara Rega dari dalam telepon tadi.
Meskipun begitu ia hanya bisa berdoa, semoga semuanya baik-baik saja dan papa akan pulang secepatnya. Setidaknya harapan itu yang mampu membuat Velyn tetap semangat sampai saat ini.
Mobil jemputan Velyn sudah tiba, dengan segera Rega keluar dari dalamnya dan tersenyum pada Velyn. Velyn hanya mampu mematung, menatap wajah kakaknya yang terlihat baik-baik saja, namun berbeda dengan dahinya yang berkeringat akibat berlari menemuinya.
"Kak Rega? ayah-?"
"Gimana kabar kamu?" belum sempat Velyn menjawab, namun Rega segera memotong perkataan Velyn, membuat wanita itu semakin curiga.
"Baik"
"Kalo gitu kita berangkat yuk sekarang" ujarnya seraya mengangkat koper Velyn, membuat wanita itu terdiam dan menatap punggung Rega yang berjalan didepannya. Sebenarnya apa yang terjadi? beribu pertanyaan seperti terngiang dibenak Velyn. Bahkan Rega seperti menghindari pertanyaannya.
Wajar saja kan kalau Velyn bertanya tentang keadaan ayahnya, karena tujuan ia kemari bukan lain dan tak bukan karena ayahnya amat rindu padanya. Tapi suasana itu berubah seketika, meskipun Rega tak menampakkan ekspresi sedih maupun khawatir. Bahkan jelas sekali terlihat dari gerak-gerik pria itu yang panik bukan kepalang saat Velyn datang.
Pria itu langsung membawa koper Velyn dan memasukkannya pada mobil yang tak jauh dari pandangannya. Velyn pun menyusul Rega, ia masuk kedalam mobil itu saat Rega membukakan pintu untuknya.
Didalam mobil pun Rega tak berbicara sepatah katapun, wajahnya pun sama seperti ekspresi biasa. Tapi tidak dengan Velyn yang nampak begitu khawatir dengan apa yang sebenarnya terjadi. Velyn tau bagaimana sifat Rega, pria itu tak mudah untuk mengutarakan ekspresi dari perasaannya. Rega sangat pandai berakting, mungkin hal ini juga yang membuat Velyn semakin bimbang.
"Kak? kenapa kakak nggak jawab pertanyaan aku?" tanya Velyn pada Rega disela pria itu mengemudi mobilnya. Rega melirik Velyn dan tersenyum, ia menyentuh puncak kepala Velyn dan mengacaknya.
"Pertanyaan kamu yang mana sih? apa kamu kira kakak kamu ini nggak kangen sama adeknya sendiri?" tanya Rega seraya mencubit pipi Velyn yang masih terlihat murung meskipun senyuman terlihat jelas diwajah tampan pria itu.
Perjalanan dari bandara menuju rumah sakit hanya memakan waktu seperempat jam jika tidak macet. Namun melihat ekspresi dan juga tingkah Rega yang amat berlawanan membuat hati Velyn amat semakin sakit. Semakin dekat perjalanan mereka, maka makin tersiksa pula hati Velyn dalam kebimbangan yang ia rasakan. Mata Velyn mulai berkaca, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, serta tenggorokannya yang tercekat membuatnya tak sanggup untuk berucap. Hanya diam bungkam tanpa berbicara.
"Kak?" suara sumbang itu membuat hati Rega teriris, meskipun pria itu berpura-pura, pada akhirnya Velyn akan tau juga. Rega melirik Velyn yang tanpa sadar meneteskan air matanya. Wanita itu seolah mengerti dengan keadaan meskipun Rega tak mengatakan apapun padanya.
"Nanti aku ceritain Lyn, yang penting kita harus cepat sampai di rumah sakit" ucap tegas Rega membuat hati Velyn yakin dengan praduga yang ia yakini. Meskipun awalnya ia hanya ingin berpikir positif, namun hatinya tak bisa menutupi kenyataan bahwa kekhawatiran dan juga batin antara ayah dan anak saling terjalin.
Setelah sampai di rumah sakit tempat Rahadian dirawat, kini Velyn dan Rega segera berlari menuju lorong rumah sakit. Velyn memeluk erat bundanya yang tengah menangis, tak sadar air mata Velyn pun ikut terjatuh dalam kesedihan.
Tidak perlu penjelasan, hanya dengan melihat situasi ini Velyn dapat membaca apa yang sebenarnya tengah terjadi.
"Ayah nggak bisa bertahan nak, bunda harus bagaimana?" tanya Malia dengan suara seraknya membuat Velyn semakin erat memeluk wanita paruh baya itu dengan wajahnya yang memerah akibat menangis tiada henti.
"Dokter memvonis ayah kalau hidup ayah nggak akan lama lagi"
"Bunda jangan bilang kaya gitu, nggak ada yang tau umur bunda. Bahkan dokter pun nggak berhak menentukan kapan waktunya. Kita berdoa yang terbaik aja bunda" isak tangis Velyn ditengah pelukannya pada sang ibu yang kini ikut merass amat sedih dengan keadaan suaminya. Bahkan bayangan Rahadian akan segera sembuh masih terbayang dibenaknya, berbeda dengan kenyataan yang begitu berat saat ia tidak bisa menerima.
Setelah berbincang dengan dokter yang keluar dari ruangan itu, Rega kini mempersilahkan Velyn dan Malia untuk masuk. Kini mungkin hanyalah senyuman yang bisa Velyn tunjukkan untuk ayahnya agar tetap semangat. Velyn hanya mampu berharap dan berdoa semoga kenyataan tidak seburuk apa yang ia kira.
"Masuk aja" perintah Rega dengan pandangannya yang lesu. Bahkan ekspresi Rega yang tadinya santai saat dijalan menuju tempat itu kini berubah menjadi amat murung. Velyn hanya bisa menatap kakak satu-satunya itu dengan tangisannya. Ia bangga mempunyai Rega yang masih bisa menghiburnya bahkan disaat-saat genting seperti saat ini.
"Kak?" Velyn sempat berhenti menatap pria itu yang kini berdiri diambang pintu. Dengan tangisannya yang pecah Velyn segera memeluk Rega dan membuang semua kesedihan dipundaknya.
"Masuk Lyn, ayah udah nunggu" perintah Rega membuat Velyn mengangguk seraya melepaskan pelukan dari kakaknya.
Velyn dan Malia masuk kedalam ruangan itu dengan memakai baju khusus agar ruangan tetap steril. Penutup rambut berwarna hijau, dengan jubah senada serta masker yang menutupi mulut kedua wanita itu kini tengah melangkah menuju tirai pada penutup yang menghalangi pandangan keduanya. Velyn amat terkejut ketika para dokter dan suster melepaskan alat-alat dari tubuh Rahadian. Velyn menatap tajam bundanya, ia melirik Rahadian yang kini terbujur sudah terbujur kaku.
"Bunda, kenapa alat-alatnya dilepas?" tangis Velyn pecah seraya menutup mulutnya tidak percaya, ia melirik bundanya yang hanya mampu menggeleng seraya menepuk pundak Velyn untuk menegarkan hatinya. Ditengah isakan Velyn, gadis itupun melangkah mendekati bangsal ayahnya, ia hendak menghentikan para dokter yang hampir menghabiskan alat penyambung hidup pada Rahadian yang hampir tak tersisa dari tubuhnya.
"Mereka nggak boleh ngelakuin itu-" Velyn menghentikan langkahnya saat bundanya menarik lengannya, membuat wanita itu menatap sang bunda dengan beribu pertanyaan yang hadir dalam kesedihannya saat ini.
"Ini yang terbaik buat ayahmu nak, biarkan ayah istirahat"
"Apa?" Velyn melirik ayahnya yang kini masih sama seperti sebelumnya, tak sadarkan diri dengan matanya yang terpejam. Bagaimana Velyn bisa tahan dengan situasi seperti ini. Ia tidak menghiraukan bundanya, Velyn segera berlari dan menatap sang ayah yang amat ia cintai.
"Ayah! jangan tinggalin Velyn yah!. Ayah udah janji sama Velyn bakal nemenin Velyn terus, ayah!"
"Velyn, udah nak" Malia memeluk putrinya seraya menggenggam jemari Rahadian yang semakin dingin, meskipun ia tau itu tidak akan ada artinya, tapi setidaknya akan ada kenang-kenangan terindah saat terakhir Malia melihat suami tercintanya.
"Bun, bilang sama dokter bun, suruh mereka mempertahankan ayah. Ayah pasti bakalan sembuh" Velyn masih percaya akan keyakinannya, namun keyakinan itu runtuh seketika saat mengetahui bahwa Rahadian tidak lagi bernafas seperti semestinya.
"Yah! ayah! bangun yah. Ayah minta Velyn buat kemari kan? Velyn udah ada disini yah. Yah bangun!" Velyn mengguncang tubuh ayahnya yang sudah kaku. Pelukan dari bundanya disisul rengkuhan dari Rega membuat Velyn tak berdaya saat sang perawat menaikkan kain putih pada wajah Rahadian.
__ADS_1
"Ayaahhh!" teriak Velyn seraya menangis dalam dekapan kedua keluarganya yang masih tersisa.