Velyn Love

Velyn Love
Alasan sebenarnya


__ADS_3

Langkah kaki Velyn mengikuti seorang wanita yang menunjukkannya tepat dimana ruangan manager berada. Rasanya jantung Velyn berdetak tak karuan saat ini, berulangkali ia menarik nafasnya dalam-dalam seraya menghembuskannya dengan perlahan.


Bayangan Velyn tentang manager paruh baya, rambut yang sudah tidak lagi hitam dan rapi, serta janggutnya yang sudah dipenuhi jambang tebal membuatnya benar-benar tidak nyaman. Setelah wanita itu berhenti tepat disebuah ruangan yang masih tertutup Velyn kini hanya mampu menelan ludahnya.


"Silahkan, manager ada di dalam" Velyn hanya mengangguk patuh saat wanita tersebut mempersilahkannya untuk masuk. Tangan Velyn bergerak untuk mengetuk pintu terlebih dahulu setelah wanita tadi pergi melaluinya.


"Masuk!" suara itu membuat tubuh Velyn gemetar. Ia benar-benar masih tak menyangka dengan jabatan yang diberikan perusahaan olehnya. Velyn bahkan sempat berfikir bahwa ini semua ulah Valdo. Namun tidak mungkin juga, dilihat dari kedatangannya semalam serta urusannya yang dilatar belakangi oleh masalah Lisa, tidak mungkin suaminya itu tau kalau dirinya masuk kedalam perusahaan ini.


Velyn menghela nafasnya, ia menggeleng. Memberikan cukup ruang pada pikirannya yang selalu terpacu pada Valdo. Meskipun hatinya amat sakit dan gusar sedari malam itu, tapi ia sebisa mungkin menutupinya. Ia tak mau kegiatan magangnya berakhir sia-sia.


"Permisi" Velyn membulatkan matanya tatkala ia berhasil membuka pintu dihadapannya. Ia menatap manik mata pria yang begitu tak asing untuknya.


'Adrian!' bahkan Velyn pun hanya mampu bungkam dengan seribu bahasa. Ia melangkah masuk dan tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Ia lebih baik bersikap professional karena memang ia datang hanya untuk magang.


Pria itu menatap dingin kearah Velyn seraya mempersilakannya untuk duduk.


"Silahkan" ujarnya singkat, membuat Velyn hanya mampu mengangguk patuh dan mengikuti arahan tangan dari Adrian yang menyuruhnya untuk duduk.


"Jadi kamu yang direkrut menjadi asisten saya selama kamu magang disini" Velyn hanya mampu mengangguk. Sebenarnya ia ditunjuk untuk menjadi sekretaris, tapi karena kemampuannya yang masih minim, ia berusaha untuk membujuk HRD agar meringankan jabatannya, karena pekerjaan itu begitu sulit untuknya.


"Iya pak" jawab Velyn singkat.


Adrian mengulum bibirnya. Ia benar-benar tsk menyangka jika Velyn akan magang di perusahaan suaminya sendiri. Bahkan Adrian saja masih tidak menyangka jika Velyn adalah istri Valdo. Istri yang paling dicintai sahabatnya itu. Meskipun Adrian sendiri sudah banyak mengetahui tentang hubungan keduanya yang tidak baik-baik saja.


Adrian menatap kedalam mata Velyn yang paling dalam. Ia tau ada kesedihan disana seperti ketika ia menyelamatkan Velyn dari para preman yang kala itu mengejarnya. Saat masih berada dalam rumahnya, sejujurnya Adrian ingin selalu melindungi Velyn. Perasaannya dan hatinya bahkan tak bisa dibohongi lagi.

__ADS_1


Sejak pertama kali bertemu dengan wanita dihadapannya ini, rasanya Adrian ingin memberikan bahu untuknya. Memberikan sandaran dari setiap masalah besar yang harusnya ia terima. Meskipun Adrian tau Velyn juga tidak ingin memiliki siapa-siapa dalam hidupnya karena penyakit itu.


"Ada apa pak?" tanya Velyn seraya menelisik setiap pergerakan mata Adrian yang sedari tadi menatapnya kosong.


"Ah, tidak apa-apa. Saya akan kasih tau Leni buat ngajarin kamu beberapa pekerjaan sebagai asisten saya. Saya tau kamu belum berpengalaman, tapi saya percaya jika kamu mampu" Leni adalah wanita yang tadi mengantarkan Velyn keruangan ini. Ia adalah asisten pribadi manager, dan sekarang digantikan oleh Velyn untuk sementara waktu.


Velyn hanya mengangguk patuh. Meskipun jika diluar ia pasti akan menegur Adrian, tapi disini dia hanyalah bawahannya saja.


"Eh, Pak-"


"Ada apa?" tanya Adrian saat Velyn menghentikan nada bicaranya yang sedikit ragu. Velyn hanya menggeleng, ia kemudian tersenyum ramah dengan hati yang sedikit risau.


"Nggak apa-apa, kalau begitu saya permisi dulu" ujarnya membuat Adrian mengangguk dan mempersilahkan Velyn untuk keluar dari ruangan.


Sebenarnya Velyn ingin sekali mengatakan jika dirinya tidak ingin Valdo tau mengenai kegiatan magangnya yang dilangsungkan di perusahaan ini. Namun ia juga ragu, bagaimanapun juga, tidak mungkin Adrian akan setuju ataupun menanggapinya. Itu adalah masalah pribadi, dan meskipun dirahasiakan seperti apa, pastilah Valdo akan mengetahuinya cepat atau lambat.


Valdo yang baru saja datang kini masuk kedalam kantornya. Rasanya kepalanya sedikit pening mengingat dirinya yang semalam banyak mengonsumsi alkohol.


"*Aku mau kita cerai Lis"


"Kenapa Do! bukannya kamu terpaksa nikah sama dia? bukannya kamu masih cinta sama aku" Valdo hanya terdiam dengan seribu bahasa saat Lisa tengah terbaring* *dengan infus ditangannya. Setelah sekian tahun ia menemukan Lisa dihadapannya, dan Valdo terpaksa harus melepasnya.


Beberapa bulan ini bahkan Lisa tengah koma karena kecelakaan malam pernikahannya dengan Velyn. Sedikit tak tega ia rasakan saat tiga hari perawatan Lisa dilakukan dengan ditangani dokter terbaik agar Lisa dapat kembali dan berakhir dari masa penderitaannya. Benar saja setelah tuju hari menjaga wanita ini, Lisa akhirnya bisa siuman kembali.


Hanya itu yang dapat Valdo lakukan untuk menebus segala kesalahannya. Bahkan ia rela membiayai semua kehidupan Lisa selanjutnya. Meskipun ikatan itu akan segera ia lepas setelah keadaan wanita ini membaik.

__ADS_1


"Atau, jangan-jangan kamu udah jatuh cinta ya sama dia?!" Valdo mengernyit, ia kemudian bangkit dan hendak pergi. Namu. tangannya dicekal oleh Lisa yang kali ini menatapnya dengan pandangan nanar.


"Kalau gitu, aku mau Nino kembali! kamu boleh kejar wanita itu, tapi aku nggak terima kalau Nino kamu ambil juga dari kehidupan aku*!"


Pikiran Valdo benar-benar melayang mengingat kata-kata itu. Ia sangat menyayangi Nino, ia tidak ingin melepaskan putranya yang menjadi semangat dalam kehidupannya setelah Velyn.


Pilihan itu membuat Valdo stress beberapa waktu ini. Pekerjaannya bahkan belum selesai dan hanya tumpukan dihadapannya. Belum lagi memikirkan Velyn yang selama ini tidak pernah ia hubungi. Bukannya Valdo tidak perduli lagi, justru ia tak mau membohongi Velyn. Ia takut Velyn tau dan tidak mempercayainya lagi, lebih baik sekarang ia menyembunyikan masalah ini dulu.


Ceklek


Suara pintu yang terbuka membuat kesadaran Valdo kembali. Ia menatap tajam pada Adrian yang kini tersenyum padanya seolah mengejek.


"Lo bisa nggak sih ketuk pintu dulu! gangguin orang lagi kerja aja tau nggak" ketus Valdo membuat Adrian hanya bisa menyengir kuda seraya beralih duduk dihadapan temannya satu ini.


"Hehehe, gue kira lo nggak bakal masuk hari ini, ternyata masih punya tenaga juga lo" Valdo hanya menggeleng. Ia kemudian menatap datar Adrian yang kini tampak seperti punya maksud lain dalam pandangannya itu.


"Lo kenapa senyum-senyum sendiri?"


"Gue baru tau kalo ternyata istri lo cantik juga"


"Tau darimana lo?!" sontak saja mendengar hal itu Valdo membulatkan matanya.


"Lo lupa ya, gue kan semalem nganterin lo pulang. Dan disambutlah sama istri tercinta lo, sayang banget cantik-cantik masih di madu, buat gue aja lah, lagian lo kan juga mau balikan sama si Lisa" pancing Adrian membuat matanya menajam menatap sahabatnya yang benar-benar brengsek ini.


"Jangan macem-macem ya lo! udah gue bilang, gue berubah pikiran. Kalo lo mau istri, cari cewek yang selalu nemenin lo tiap malam itu. Sampek kapanpun, gue nggak bakalan ceraiin istri gue!"

__ADS_1


"Yah kali aja lo berubah pikiran lagi. Dulu aja lo juga bilang gitu, bakal merjuangin Lisa dan buat istri lo itu pergi dari hidup lo. Sekarang lo malah berubah pikiran lagi. Gue bakal tunggu kok sampek pikiran plin plan lo itu mau ngelepasin istri lo, terus gue nggak bakal nyia-nyiain kesempatan buat-"


"******** lo!" teriak Valdo seraya meraih kerah baju Adrian, membuat pria itu hanya tersenyum miring seraya menahan tawanya.


__ADS_2