
Langkah seorang pria perlahan mendekat saat Rega menatap seseorang itu dengan pandangan penuh dengan pertanyaan di benaknya.
"Hey! udah lama lo nunggu? sorry sorry, gue kejebak macet tadi" ujar pria itu sembari duduk dihadapan Rega yang kini menatap serius Andra. Sejujurnya Andra sendiri juga bingung, tiba-tiba saja Rega mengajaknya untuk bertemu seperti ini dan mendadak pula. Ditambah suasana canggung yang tak seperti biasanya.
"Ga?-"
"Langsung aja ya, gue kesini bukan datang buat basa-basi. Tapi gue kesini buat bahas soal Velyn" tegas Rega membuat Andra membulatkan matanya seraya menatap Valdo dengan pandangan menegang. Sepertinya Velyn tidak mungkin memberitahukannya kepada kakaknya perihal hubungan mereka, tapi dilihat dari sudut pandang Andra ia juga tidak bisa menwbak apa yang hendak diutarakan oleh Rega.
"Ve-Velyn? kenapa lo nanya soal adek lo ke gue?"
"Ndra, please deh. Nggak usah pura-pura, gue udah tau hubungan lo sama adek gue itu dulu kaya gimana.Nih!" Rega mengeluarkan sebuah buku tebal berwarna putih yang membuat Andra tercengang. Ia syok bukan main ketika Rega mengeluarkan beberapa foto polaroid ketika Velyn masih bersamanya dulu.
Yah, waktu berlalu begitu cepat, sampai Andra terlalu bodohnya untuk tidak memilih untuk melupakan Velyn hingga saat ini. Bisa dibilang, meskipun nanti Andra akan menemukan perempuan yang tepat, tapi Velyn tidak dapat tergantikan dalam hatinya.
Namun saat ini yang ia hadapi bukanlah takdir, melainkan Rega, kakak kandung Velyn sekaligus sahabatnya. Tatapan mata Rega juga tidak mengancam, itu berarti Rega tidak bermaksud untuk membuat Andra merasa terbebani.
"Iya, gue emang pernah pacaran sama adek lo. Cuma dua hari"
"What? gue nggak salah denger kan?" sontak saja Rega terkejut dengan pernyataan Andra. Hanya dua hari? bahkan setelah lelaki dihadapannya satu ini mengagumi sosok Velyn bertahun-tahun lamanya. Rasanya Rega ingin sekali menghajar habis sahabatnya itu saat ini juga. Namun ia tidak ingin gegabah, ia ingin mendengar langsung akar masalah yang terjadi, dengan begitu pikiran buruknya itu bisa diterima dengan nalar jika memang Andra yang bersalah.
"Gue juga nggak nyangka kalo hubungan sama dia bisa sesingkat itu. Mau gimana lagi, dia udah terlanjur dijodohin sebelum gue memperkenalkan diri ke orang tua lo."
***
"Bunda udah selesai? mau aku bantuin?" ujar Velyn yang keluar dari kamarnya setelah wanita itu selesai beberes dengan perlengkapannya. Menempuh waktu selama dua puluh jam lebih lamanya membuat tubuh Velyn dan bunda terasa lelah, belum lagi mereka harus menata kembali keperluan yang mereka bawa setelah sampai di Amerika.
"Belum, kamu tunggu diluar aja dulu nak. Bunda bisa sendiri" ujar bunda dari dalam kamarnya membuat Velyn menghela nafas seraya melangkah kearah ruang TV dan menyalakan televisi tersebut dengan remote di meja depannya.
Apartemen yang tidak terlalu besar, sekiranya cukup untuk menampung Velyn juga sang bunda selama mereka tinggal di New York. Sebenarnya Rega ingin membelikan rumah saja pada adik dan bundanya, namun keinginan itu urung saat bunda menolak untuk diberikan rumah ditempat itu. Yang benar saja, mereka ke New York bukan untuk pindahan, tapi untuk menyembuhkan penyakit Velyn juga menyelamatkan bayi yang berada di dalam kandungannya.
Lagipula membeli rumah ditempat seperti itu pasti sangatlah mahal. Velyn tidak ingin membebani kakaknya setelah ayahnya meninggal.Entah mengapa, mengingat Rega membuat Velyn menjadi rindu dengan ayahnya. Walaupun kalau mereka berkumpul rindu itu akan hilang dengan sendirinya, tapi tetap saja. Sosok hangat yang menjadi penopang untuk hidup mereka kini tidak lagi ada dalam kehidupan ini.
Velyn meraih ponselnya, ia membuka galeri miliknya dan menatap beberapa foto kenangan dengan keluarganya. Foto saat kebersamaan mereka diwaktu Velyn masih kecil sampai menjelang ia dewasa. Kenangan itu takkan terlewatkan begitu saja. Ditambah foto wisuda Rega yang berada di Jerman dulu, membuat kenangan manis itu berubah menjadi pahit saat Velyn mencoba untuk melawan kenyataan.
Kehidupan sempurna yang ia lalui tidak semulus apa yang ia pikirkan. Tuhan pasti memberikan ujian sebaik apapun kita berusaha untuk melakukan yang terbaik, termasuk dirinya. Ujian yang datang bertubi-tubi, membuat Velyn ingin sekali segera melewati masa-masa sulit ini, agar ia segera terlepas dari beban yang menyiksa, juga perasaan khawatir tak terduga.
__ADS_1
Tiba-tiba jemarinya berhenti untuk menggeser foto saat melihat foto dirinya dengan mantan suaminya. Velyn sempat berpikir, ia yakin ia masih memiliki perasaan terhadap pria brengsek itu. Tapi dari awal mungkin Velyn yang bodoh. Velyn terperangkap dalam kenyamanan sampai ia lupa bahwa posisinya tidak bergandengan dengan Valdo. Velyn menarik nafasnya dalam-dalam, ia mengusap lembut foto tersebut dan memilih untuk menghapusnya. Bagaimanapun, Velyn ingin menghapus masa lalu dan menciptakan masa depan yang begitu indah.
Dengan mengingat kenangan manis bersama Valdo membuatnya tak bisa melupakan sosok itu. Tapi dengan mengingat pengkhianatan yang dilakukan olehnya, mungkin bisa membuat Velyn melupakan lelaki itu dengan cepat. Setidaknya bukan dendam yang tertanam, tapi mencoba melupakan bayang masa lalu.
Toh saat ini Valdo sudah bahagia bersama keluarga kecilnya. Itu yang ia inginkan sejak dulu, serta harta yang diberikan untuknya secara cuma-cuma dari Gaisan. Setidaknya Valdo sudah memiliki semua yang ia punya, bahkan memutus hubungan dengan Gaisan agar pria paruh baya itu tidak lagi membebaninya dengan drama penculikan Lisa lagi.
"Mikir apa Lyn?" tanya bunda yang tiba-tiba keluar dari kamar dan mendaratkan bokongnya di sofa, membuat Velyn mengangkat pandangannya dan menatap bunda dengan senyuman.
"Enggak kok, Velyn cuma keinget aja sama ayah. Kangen, padahal kan sebelum ayah meninggal Velyn belum pernah ketemu ayah sekalipun" mendengar putrinya berkata demikian membuat hati Malia seakan teriris. Apa yang dikatakan Velyn memang benar, Malia tidak pernah berpikir bahwa Velyn juga harusnya berhak bertemu dengan ayahnya walaupun cuma sekali saat Rahadian dirawat dulu, namun karena Malia berpikir Velyn baik-baik saja dengan suaminya ia sampai tidak mau mengganggu kebahagiaan Velyn.
Malia takut Velyn akan down ketika mendengar Rahadian yang semakin parah dengan penyakitnya. Ia yakin Valdo pasti akan menjaga dan menghibur Velyn saat keduanya bersama, tapi apa yang ia pikirkan malah meleset jauh dari perkiraan. Velyn yang datang sendiri ke Singapura membuat Malia sempat menaruh curiga dengan teka-teki keberadaan Valdo yang tidak terlihat batang hidungnya.
Namun pikiran buruk itu ia tepis saat mengingat keadaan Velyn yang baik-baik saja sampai Singapura dan ia semakin menutup firasat itu rapat-rapat saat mereka harus mengetahui kenyataan yang pahit dan dalam.
"Bunda"
"Heum?" tiba-tiba saja panggilan Velyn padanya membuat Malia membuyarkan pikirannya dan seketika menatap senyuman putrinya yang teduh. Senyuman yang menutup akan penyakit keras dalam tubuhnya yang semakin hari semakin menggerogoti.
"Besok aku mau jalan-jalan ah"
"Sehari aja bun, aku pengen jalan-jalan sama bunda ya? em, sebelum aku dirawat. Pasti nanti kalau aku nginap di rumah sakit aku nggak akan ada kesempatan buat jalan-jalan sama bunda"
"Kalo itu yang kamu mau, bunda juga nggak bisa nolak"
"Wah! makasih ya bunda. Emuachh!" peluk cium dari Velyn membuat senyum terulas diwajah Malia. Saat ini yang paling dibutuhkan untuk Velyn adalah dukungan juga kebahagiaan. Wanita yang memeluknya saat ini masih seperti anak-anak bagi Malia. Velyn yang manja dengan kedua orangtuanya membuat Malia khawatir sejak gadis itu tumbuh menjadi sosok wanita yang cantik.
Dulu saat perjodohannya gagal karena penolakan dari Valdo, Malia tidak memperhatikan bagaimana Velyn tumbuh. Namun lambat laun, ketika gadis nya beranjak dewasa, ia baru mengetahui bahwa kehidupan tidak selembut yang ia pikirkan. Velyn yang tumbuh semakin dewasa banyak sekali orang yang datang untuk melamar, namun lamaran itu ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tua Velyn yang pastinya Velyn tidak pernah tau jika banyak sekali teman-teman dari Rahadian yang mencoba untuk melamar kan anaknya pada putri cantiknya.
"Bunda, coba liat sini dong!"
Cekrek!
Satu kali hasil jepretan saat Velyn sudah tidak sabar mengeluarkan ponselnya dari dalam tas ketika samap
di danau yang indah itu. Velyn juga menarik lengan bundanya untuk mengajak wanita yang sudah tidak muda lagi itu untuk berfoto selfi. Berkali-kali, bahkan banyak sekali foto yang diambil oleh putrinya itu.
__ADS_1
Musim gugur telah tiba, daun gugur termasuk daun maple terjatuh satu persatu bersama dengan terpaan angin. Rasanya amat berbeda sekali dengan hawa tropis di Indonesia yang hanya memiliki dua musim setiap tahunnya. Velyn dan bunda saling memakai Coat karena angin yang berhembus dingin menerpa.
Setelah puas berswa foto, kini mereka memutus
untuk duduk dipinggiran danau dan melewati senja dengan obrolan ringan. Melihat putrinya sesenang ini membuat hati Malia sesak. Seandainya dulu ia tidak memaksa kehendak Velyn untuk menikah dengan Valdo, dan ia menyetujui lamaran dari Andra. Mungkinkah Velyn akan lebih bahagia lagi, setidaknya di sisa waktu ia bertahan dalam bayang penyakit yang tidak bisa menjamin kelangsungan hidupnya.
"Bunda pemandangannya bagus banget ya. Sayang banget kak Rega nggak ikut kita" hening, mungkin itu yang Velyn rasakan saat mengajak sang bunda berbicara. Velyn menoleh, namun yang ia dapatkan malah air mata bundanya yang terjatuh di pipi wanita paruh baya itu. Velyn mengerutkan keningnya, ia tak tahan melihat bundanya seperti itu, rasanya Velyn ingin ikut menangis saja. Velyn segera merengkuh bundanya dengan lembut.
"Bunda kenapa? bunda sakit ya? atau aku yang salah ngomong?"
"Maafin bunda ya Velyn. Bunda gagal jadi ibu yang baik buat Velyn"
"Bunda apaan sih, bunda itu udah jadi ibu yang terbaik buat Velyn. Velyn bahagia kok bun, bunda nggak perlu ngomong kayak gitu lagi" Malia semakin terisak, ia memeluk erat tengkuk Velyn, ia mengusap lembut anak rambut Velyn yang sudah tidak selebat dulu. Rambutnya amat tipis, hingga bisa Malia tebak pasti di dalam kupluk yang Velyn kenakan terdapat kulit kepala yang tidak ditumbuhi rambut lagi. Wajahnya yang pucat pun ia tutupi dengan make-up natural agar tidak ada yang menyadari jika wanita itu tengah berada di ambang kematian. Tapi siapa sangka jika Velyn semakin menyembunyikan hal itu, semakin bunda merasa bersalah dan menjadi lebih sakit lagi.
"Kalau aja dulu bunda nggak maksa kamu, kalau aja dulu bunda dan ayah ngasih kamu izin buat nikah sama Andra yang udah jelas-jelas sayang sama kamu. Mungkin kamu-"
"Bunda, aku dan Andra itu nggak ditakdirkan buat bersama. Sekuat apapun kami ingin bersatu, tapi kalau Tuhan sudah berkehendak kami tidak berjodoh, maka aku dan Andra juga nggak mungkin bisa bersama bunda. Sama halnya aku dan Kak Valdo, sekuat apapun aku mempertahankan hubungan ku dan dia, sebesar apapun dia berjuang, kalau Tuhan nggak berkehendak, kami pasti juga nggak akan bertahan lama. Jadi stop buat nyalahin diri sendiri. I'm fine, I don't mind the past and I'm grateful for today" Senyum Velyn membuat hati Malia kuat kembali. Padahal rasa sakit yang paling dalam dirasakan oleh orang yang mengalaminya, tapi Velyn sudah tidak lagi merasakan pahitnya kehidupan itu lagi. Setidaknya Malia berharap jika senyuman itu bukanlah senyum palsu. Malia berharap agar Velyn selalu tersenyum karena ia memang sudah move on dan kuat menjalani hari kedepannya.
"Sekarang kebahagiaan Velyn itu bunda, Kak Rega dan dia. Kita kuat bunda, kita pasti bisa!" ujar Velyn memberikan semangat. Meskipun Malia tidak bisa membaca isi hati Velyn, tapi ia cukup yakin dengan apa yang Velyn tekad kan. Kepercayaan diri Velyn adalah penguat bagi bundanya agar tidak runtuh lagi.
Entah apapun hasilnya nanti, ia pasti bisa melalui semuanya. Setidaknya untuk saat ini Malia hanya bisa memenuhi satu persatu permintaan Velyn tanpa mencegahnya untuk menghalangi kebahagiaannya yang sempat tertunda.
"Iya, kita pasti bisa. Kamu janji ya, jangan pernah ninggalin bunda dan kakakmu" ujar bunda membuat Velyn mengerutkan keningnya, ia menatap mata bunda yang terlihat kilatan penuh harap dari seorang Velyn. Sejujurnya Velyn agak berat untuk mengabulkan permintaan Malia, karena itu sama saja ia tidak terima dengan apa yang akan diputuskan oleh takdir.
"Bunda, aku cuma bisa berusaha. Aku nggak bisa ngerubah takdir" isakan Malia terdengar begitu dalam saat Velyn mengatakan hal demikian. Siapa ibu yang tidak terluka jika putrinya mengalami hal yang tidak diinginkan nantinya. Hati Malia begitu hancur mendengar apa kata Velyn, seolah ia tidak memiliki rasa percaya diri.
"Kamu nggak mau bertahan demi bunda? apa karena dulu kamu kecewa sama bunda?"
"Bunda, bukan kaya gitu. Asal bunda tau, aku udah ngelupain semuanya, karena aku nggak pengen menjadikan beban masa lalu untuk aku tanggung sekarang. Tapi aku nggak mau kita mendahului takdir. Kita cuma bisa berusaha semaksimal yang kita mampu bunda, tapi bukan berarti kita bakal marah kalau hasilnya nggak seperti yang kita harapkan"
"Tapi Lyn-"
"Apapun hasilnya nanti, aku berharap bunda maupun aku bakal ikhlas. Selama kita berusaha dan berdoa, Tuhan pasti bakal bantu kita kok. Mau berhasil atau tidak, itu pasti jalan yang terbaik" dengan mengatakan hal demikian mungkin Velyn tidak akan memberikan harapan lebih untuk bundanya. Selama ini ia sudah cukup untuk berbohong dan menyembunyikan ini sendiri. Sehingga sampai waktunya tiba, bunda nerasa bersalah dan menyesal. Hal itu tidak akan terjadi lagi selama Velyn mencegahnya.
"Velyn" pelukan hangat bunda membuat Velyn menyambut hak itu dengan hati yang berlapang dada. Ia tau bagaimana rasanya kehilangan. Ada banyak hal yang hilang darinya, termasuk orang yang paling ia cintai juga ayah yang selalu ada untuknya. Kini ia tak mau membuat bundanya berharap lebih maupun bergantung padanya.
__ADS_1