
Velyn merebahkan tubuhnya, sejenak ia menatap langit-langit kamar yang berwarna putih itu. Ia memeluk boneka teddy yang selalu menemaninya dalam lelap, rasa gelisah mulai ia rasakan tatkala tatapan ayahnya yang sedikit terkejut oleh pernyataannya tadi.
Velyn meraih ponselnya diatas nakas, ia menggigit bibirnya seraya memperhatikan chat yang tak kunjung online dari pria idamannya. Siapa lagi kalau bukan 'Andra', rasanya ingin sekali ia menghentikan waktu ketika mengingat kejadian romantis yang mereka lalui bersama.
Kini gadis itu perlahan tidur dengan menyamping, menghadap ponsel yang ia mainkan asal sedari tadi. Beberapa kali gadis itu hendak mengetikkan pesan, namun rasanya enggan, mengingat dirinya tak berpengalaman soal hal percintaan.
Entah mengapa rasanya begitu gusar, ia mengkhawatirkan sang pujaan. Padahal ketika ia pamit untuk pulang, Andra sudah berjanji untuk menghubunginya ketika dirinya telah sampai dirumah.
Velyn menaruh ponselnya lagi, ia mencoba untuk menghela nafas sebelum memejamkan matanya. Namun belum sempat gadis itu terlelap tiba-tiba saja ponselnya berdering membuat perasaannya semakin lega.
"Hallo, kamu kok baru hubungi aku sekarang? ini udah malam lo, masa baru sampe rumah sih" kata Velyn panjang lebar, gadis itu segera duduk dari tempatnya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya, membuat pria disebrang sana terkekeh dengan tingkah kekasihnya itu.
"Kamu khawatir ya? maaf ya, tadi aku baru ngobrol sama mama, mama kita di masa depan" seru Andra yang membuat pipi gadis itu memerah. Andra begitu manis, hingga Velyn masih dapat merasakan detak jantung ketika dirinya berada didekat Andra, meskipun kenyataannya mereka mengobrol hanya lewat telfon saja.
"Ih, pak Andra, apaan sih. Ngomongnya ngaco deh" kata Velyn dengan pipinya yang kini bersemu merah, untung saja Andra berada jauh dari dirinya, kalau tidak ia tak tau harus bersembunyi dimana lagi untuk menutupi rona diwajahnya.
"Eh, kok masih pak sih manggilnya"
"Terus apa dong?" tanya gadis itu dengan senyuman manjanya.
"Andra lah, sayang juga boleh" perkataan Andra sontak membuat gadis itu tersenyum malu.
Sejenak lengang menengahi mereka yang kini tengah terhubung lewat panggilan telfon. Beberapa kali gadis itu memejamkan matanya seraya menggigit bibir bawahnya. Rasanya ia ingin saat ini berada didekat Andra.
__ADS_1
"Andra, aku, aku sayang sama kamu" perkataan Velyn membuat pria itu tersenyum mengembang. Ia bahkan masih tak menyangka jika gadis pujaannya yang bertahun-tahun itu bisa ia dapatkan lewat pesonanya kali ini.
"Aku juga sayang sama kamu Velyn" kata-kata itu membuat Velyn tak bisa berfikir dengan jernih. Layaknya air yang mengalir, rasanya Andra sudah semakin cepat membuat hatinya dimabuk asmara.
***
Hari minggu biasanya Velyn menyempatkan diri untuk berolahraga. Gadis itu sengaja mengajak Andra untuk joging pagi-pagi. Gadis dengan setelan jaket pink dengan celana jeans sepaha dan juga sepatu dengan warna senada membuat dirinya kini semakin terlihat cantik meski tak memakai makeup seperti biasanya.
Rambutnya yang dikuncir kuda dengan earphone yang terpasang dikedua telinganya seraya berjalan santai di jalan taman dekat kompleks perumahannya.
"Sayang" suara lembut itu membuat Velyn membalikkan tubuhnya, mata itu mata yang begitu ia rindukan setiap waktu. Seorang dengan sepatu putih, celana training dan juga kaos putih ketat yang membuat tubuh atletis itu semakin terlihat dibaliknya.
Velyn kini hanya bisa menelan salivanya, tatkala Andra tengah berlari kearahnya seraya tersenyum.
"Andra! apaan sih?!" kata Velyn yang kini terkejut oleh perlakuan Andra padanya. Namun sedetik kemudian ia membuang muka seraya merasakan jantungnya yang lagi-lagi berdegup dengan kencang.
"Habisnya kamu terpesona mulu sama aku" seru Andra membuat Velyn tersenyum seraya menunduk. Ia kini berlari menjauh dari pria itu, beberapa meter dari ia berlari Velyn tertawa seraya menatap Andra yang kini masih terdiam memandanginya.
"Kalo bisa kejar dong" teriak gadis itu seraya terus berlari. Hal itu membuat Andra tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya. Ia kemudian menyusul gadisnya untuk berlari.
Ditengah olahraga yang menyenangkan itu, sesekali Andra menyalip Velyn, dan beberapa kali mereka juga terlihat berjalan sambil bergandengan tangan. Tak hanya itu ditengah ramainya orang-orang berjalan-jalan pagi ditaman mereka bahkan seolah tak menghiraukan yang lainnya.
Hanya rasa kenyamanan yang Velyn dan Andra yang mereka rasakan. Sesekali ketika mereka berjalan, Andra menarik lengan Velyn hingga tubuh gadis itu mendekat kearahnya. Kemudian Andra segera menyandarkan kepalanya pada punggung gadis itu dan seketika mengangkat ponselnya untuk diajak foto bersama.
__ADS_1
Tak hanya itu beberapa kali mereka terlihat tertawa seraya bercanda gurau dan duduk di bangku panjang taman itu.
"Andra, nggak ada yang tau kan kalo kita pacaran?" pertanyaan itu membuat Andra yang semula mengacak rambutnya kini beralih menatap Velyn yang tiba-tiba bertanya demikian.
"Memangnya kenapa Velyn? kok kamu tanya gitu?"
"Kamu tau nggak, di kampus kita itu banyak yang ngefans sama kamu, aku nggak mau aja nanti malah aku yang kena."
"Oh gitu, tapi aku nggak suka sama mereka, aku cuma cintanya sama kamu. Kalo mereka mau protes, jangan ke kamu dong, kan aku yang ngerayu kamu duluan."
"Iya sih, tapi rasanya nggak enak juga sih punya cowok yang banyak fansnya" kata Velyn yang kini terlihat memainkan kakinya.
"Jadi kamu nyesel nih pacaran sama aku?" pertanyaan itu sontak membuat Velyn terperanjat.
"Bu, bukan gitu maksudnya, tapi" terlihat Andra yang kini menatap lekat wajah gadis itu, disusul dengan telunjuknya yang kini menyentuh bibir merah muda Velyn.
"Aku nggak akan bilang ke siapapun kok kalau kamu takut, tapi asal kamu tau, lama kelamaan sesuatu yang disembunyikan itu pasti akan ketauan juga kok, dan kalau kamu sampai kenapa-kenapa, aku yang akan lindungi kamu sayang. Kamu harus percaya sama aku" perkataan pria itu membuat Velyn sedikit terharu, bahkan kini matanya tengah berkaca. Gadis itu mengangguk seraya tersenyum pada pria yang kini menjadi kekasihnya.
'Andai saja dulu kamu kaya gini kak sama aku, mungkin sekarang perasaan ini masih sama kaya yang dulu. Tapi aku harusnya bersyukur, karena Andra datang untuk menyelamatkan hati aku. Aku sayang sama kamu Andra, aku juga cinta sama kamu, makasih karena kamu udah datang disaat aku juga butuh penyemangat dalam hidup aku' batin gadis itu yang kini mengalihkan pandangannya seraya memejamkan matanya.
"Ndra, kamu mau minum nggak?" pertanyaan itu membuat Andra tersenyum.
"Kebetulan aku haus, kamu tunggu disini sebentar ya, aku beliin minum buat kamu" perkataan Andra membuat Velyn meraih pergelangan tangannya sebelum pria itu bangkit.
__ADS_1
"Biar aku aja ya, kamu yang tunggu disini" kata Velyn membuat Andra mengalah dan akhirnya mengangguk.