
33
"Lyn, lo beneran nggak mau kita temenin kerumah sakit?" tanya Dira yang kini bersama dengan Christyn mengantarkan Velyn di depan gerbang rumah minimalis itu. Perumahan tempat Velyn menyewa tempat tinggal. Mungkin bagi sebagian orang rumah itu terlalu sempit untuk dihuni, bahkan Christyn dan Dira hendak mencarikan rumah yang lebih besar daripada itu. Tapi Velyn bersikeras untuk mempertahankannya. Ia tidak mau orang lain kesusahan karenanya. Terlebih lagi, ia akan tinggal sendiri, jadi cukup wajar jika Velyn menempati rumah sekecil itu.
"Nggak apa-apa kok guys, gue cuma sebentar. Lagian ini kan emang rutin sebulan sekali"
"Kalo gitu lo hati-hati ya, kalo ada apa-apa langsung telfon kita oke?" ujar Dira seraya menyentuh punggung Velyn dan mengangguk memberikan jawaban atas kekhawatiran sahabatnya.
"Kita juga bakal nungguin lo disini" lanjut Dira membuat Velyn menggeleng.
"Enggak perlu lah, kalian kan udah nungguin gue semalaman. Itu udah cukup kok, gue malahan berterimakasih banget karena kalian mau nemenin gue buat tinggal pertama kali dirumah ini" ujar Velyn membuat kedua sahabatnya tersenyum. Meskipun begitu Dira dan Christyn tetap saja tidak tenang jika harus meninggalkan Velyn sendiri. Namun keyakinan hati wanita itu dan juga senyuman yang terulas begitu tenang itu membuat dua sahabatnya bisa sedikit bernafas dengan lega.
Taksi pun berhenti tepat dihadapan ketiga perempuan itu, sebelum Velyn masuk kedalamnya, ia sempat bercikipa-cikipi dengan Dira dan Christyn. Lalu kemudian masuk kedalam mobil berwarna biru tersebut dan tak lupa melambaikan salam kepada mereka.
***
"Dijaga kandungannya ya nyonya Velyn, ini vitamin untuk darah dan kalsium" ujar dokter kandungan pada Velyn yang kini hendak pamit untuk undur diri.
"Iya, terimakasih dok"
"Jangan lupa, tebus obat untuk memperkuat kandungan" ujar dokter tersebut sebelum Velyn melangkah untuk keluar dari ruangan itu. Velyn mengangguk patuh dan tersenyum tipis, mungkin ada rasa ragu dihatinya begitupun dokter kandungan yang tidak berani memberikan obat itu secara langsung. Velyn yang keluar dari ruangan itupun kini terduduk lemas di ruang tunggu. Ia menghela nafas beratnya seraya memegang kepalanya yang amat pening.
Sejujurnya ia takut untuk mengkonsumsi obat itu, ia takut jika sebelum ia melahirkan nyawanya akan terancam. Efeknya pun akan sangat mempengaruhi berat badannya, namun bisa memperkuat janinnya. Setidaknya Velyn akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan hidup bayinya apapun yang terjadi.
Velyn berjalan kearah apotik didepan pintu keluar, ia hendak ingin menebus obat yang dituliskan oleh dokter tadi padanya. Ia memberikan resep obat pada apoteker dan tersenyum pada wanita itu yang sudah menjadi langganannya semenjak ia sering berada dirumah sakit itu.
"Ini ya mbak, sehari cukup diminum dua kali" Velyn mengangguk, ia menyerahkan lembar merah dari dalam dompetnya dan memberikan pada wanita itu. Namun siapa sangka ditengah ia menunggu kembalian, tiba-tiba saja mata Velyn menangkap Malia yang kini berjalan semakin mendekat kearahnya. Velyn membulatkan matanya, ia kemudian menutupi wajahnya dan membalikkan tubuhnya.
"Mbak, kembaliannya ambil aja. Saya buru-buru*
"Tapi mbak, ini sudah-" wanita itu terheran oleh tingkah Velyn yang seperti tengah panik. Padahal kembalian dari uangnya juga sudah didepan mata, tapi ia malah tidak perduli.
Velyn menghela nafasnya saat ia sudah merasa menjauh dari pandangan Malia. Sejujurnya Velyn tidak ingin menghindari bundanya seperti ini. Tapi ia tidak ingin kecewa dengan respon bunda yang nantinya membuat hati Velyn terluka. Wanita itu kemudian melangkah kearah toilet, ia mencuci mukanya dengan air yang mengalir di wastafel.
Rasanya Velyn ingin menangis saja, begitu berat beban cobaan yang diberikan Tuhan untuknya, sampai kadang wanita itu tak sanggup untuk menerima apa yang sudah menjadi kodratnya. Velyn menitikkan air matanya, disaat seperti ini ia hanya butuh dukungan dari keluarganya. Kalau saja ayah masih hidup, mungkin Velyn akan memeluk erat pria itu dalam dekapan hangat yang ia rindukan.
Kalau saja Valdo tidak berhasil mengkhianatinya, maka ia tidak akan mundur dan berbohong dengan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan. Maka semua masalahnya tidak akan seburuk ini, bahkan meskipun bersama penyakit yang ia derita Velyn masih sempat merasakan bahagia.
Perlahan bayangan kebahagiaan ketika pelukan dan juga kasih sayang Valdo kembali dalam ingatannya. Bayangan indah yang masih tidak dapat disangka olehnya. Valdo menjadi cinta yang sangat ia impikan dalam hubungan keluarga. Tapi semua perasaan itu hilang seketika saat kenyataan jahat yang membuat Velyn sadar jika pria itu tidak ditakdirkan untuknya.
"Kenapa kak, kenapa kak Valdo kaya gini?" Velyn mengepalkan jemarinya saat ia mulai merasa sakit hati dengan penghianatan yang Valdo lakukan padanya. Sakit terasa dari dalam dadanya, ia merasa sudah dibohongi akan perkataan Valdo yang tidak akan meninggalkannya. Janji palsu yang Valdo buat semakin membuat batinnya tersiksa.
"Aku benci kamu kak Valdo!" Velyn segera menghapus jejak air matanya. Ia memang selalu begini ketika sendiri dan memendam rasa sedihnya saat tiada siapapun disisinya. Padahal Velyn sudah ingin bertekad untuk melupakan pria itu, pria yang selalu membuatnya menangis.
Velyn keluar dari dalam toilet seraya menenangkan hatinya yang masih terasa bergetar. Ia kemudian memutuskan untuk pulang sebelum hari semakin petang. Namun sebelum ia melangkah, tiba-tiba saja kakinya langsung lemas seketika saat beberapa suster membawa lari seseorang yang tidak sadarkan diri berbaring diatas bangsal. Suster tersebut mendorong bangsal tersebut sekuat tenaga dengan cepat.
Wajah pria itu bahkan membiru, lengan kaki dan seluruh tubuhnya lebam dan terluka. Velyn menutup mulutnya tidak percaya, ia berlari mengikuti suster tersebut yang ternyata membawa Valdo ke ruangan ICU. Velyn memaksa untuk masuk saat dokter menghalanginya.
"Dok, dia kenapa dok? saya mau masuk dok" ujar Velyn seraya mengintip tubuh Valdo dari tubuh dokter yang menghalanginya. Namun sebesar apapun usaha Velyn untuk mencoba, tapi ia tidak bisa melawan dokter yang tidak memperbolehkannya masuk kedalam ruangan darurat itu.
,"Pak Valdo sedang dalam masa keritis, tolong anda minggir dulu. Kami perlu cepat-cepat menangani organ dalamnya yang terluka cukup parah"
"Apa yang terjadi, kenapa kak Valdo sampai bisa kaya gitu dokter?"
"Ibu yang sabar ya, Pak Valdo mengalami pukulan yang terlalu kencang. Hingga membuat ia tidak bisa bertahan jika tidak dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar, tapi kami akan mencoba sebisa mungkin untuk mengatasinya. Sekarang ibu tunggu sebentar disini, dan tunggu kabar baik dari kami" Velyn kemudian mengangguk lemah, meskipun sejatinya hatinya begitu khawatir tentang keadaan pria itu yang terluka separah itu. Velyn mengusap kasar rambutnya kebelakang, wanita itu kemudian terduduk dan berdoa untuk keselamatan mantan suaminya.
"Jangan pernah pergi kak, kamu harus terus hidup. Kamu harus hidup kak Valdo" isak Velyn bersama dengan jemarinya yang menggenggam erat seolah begitu takut dengan apa yang akan terjadi pada Valdo.
Velyn kemudian meraih ponselnya, ia dengan ragu hendak menelpon seseorang yang harusnya tau apa yang sebenarnya terjadi hingga berakhir seperti saat ini.
"Halo mbak Santi..."
***
34
"Selamat siang" ujar wanita dengan dress putih bunga-bunga yang tengah berbicara pada resepsionis, gaya tampilan Lisa memang agaj berbeda dari biasanya. Bahkan ia sengaja tampil lebih feminim dan anggun untuk menarik seseorang dalam hatinya.
"Bisa saya bantu mbak?"
"Em, saya mau ketemu Pak Rega" ujarnya dengan nada lembut membuat wanita itu mengangguk.
"Apa sebelumnya anda ada janji dengan beliau" Lisa terdiam sejenak, ia berpikir akan posisi Rega yang pastinya memiliki posisi tinggi di perusahaan ini. Kalau tidak, tidak mungkin harus membuat janji terlebih dahulu ketika bertemu dengannya.
Rasanya Lisa seperti tertiban durian runtuh, sudah tampan kaya raya pula. Kali ini Lisa tidak akan melepaskan pria itu begitu saja. Apapun caranya, Lisa akan mendapatkan pria itu dengan segala cara.
"Em, sebenarnya saya menemukan ini" Lisa memberikan kartu ATM bertuliskan nama Rega disana, dan berharap semoga rencananya berjalan dengan lancar.
"Ini kartu ATM milik pak Rega ya?"
"Iya, kebetulan sekali kartu nama pak Rega juga jatuh tergeletak bersama kartu ATM itu. Saya cuma mau ngasih itu, sekalian ada barang yang ketinggalan ketika beliau datang ke rumah saya . Kalau boleh, saya ingin mengantarkannya sebentar" ujar Lisa yang kini tersenyum pada wanita itu. Mungkin saja dengan trik ini ia akan diizinkan untuk masuk. Begitu Rega melihatnya nanti akan jadi apa nanti. Lisa sangat menantikan itu saat ini.
"Kalau begitu, silahkan anda titipkan saja pada resepsionis. Ketika sekretaris pak Rega senggang kami akan memberikannya" Lisa menatap wanita itu dengan matanya yang menajam. Bahkan bertemu dengan Rega saja rasanya sesulit ini. Sepertinya memang benar jika Rega bukan orang biasa jika dilihat dari backgroundnya saja.
Tapi, bukan Lisa namanya jika ia tidak kehilangan akal untuk merayu seseorang. Ia akan berperang sampai akhir dan membuat pria itu bertekuk lutut padanya.
"Apa anda yakin mau ngusir saya? saya ini teman dekat pak Rega lo, jadi anda jangan macam-macam" ujar Lisa seraya menampakkan smirknya.
"Maaf?" wanita itu kemudian menghela nafas dan memutar bola matanya. Ia sendiri merasa amat jengkel sekali jika di ancam seperti itu.
"Oke, silahkan masuk saja. Ruangan pak Rega ada di lantai sepuluh, cari saja ruangan Chief Executive Officer" ujar wanita itu mengalah, membiarkan senyuman kemenangan pada wanita yang kini sepertinya amat puas dengan usaha membujuknya barusan.
"Terimakasih ya" ujarnya lalu pergi begitu saja, meninggalkan wanita itu yang kini memutar bola matanya malas. Wanita itu kemudian meraih ganggang telepon dan segera memencet beberapa tombol disana.
"Halo, Pak Hans, tolong beritahu pak CEO ada yang mau bertemu dengan beliau" ujar wanita itu dengan wajah kesalnya. Ia sampai tak habis pikir jika jabatan CEO yang baru saja disandang pria itu sudah tidak lagi memberikan efek sibuk padanya, dapat dilihat dari wanita yang datang kekantor dan memaksa untuk masuk itu.
"Hah? siapa? sepertinya pak Rega nggak ada janji tuh"
"Katanya teman dekat, mana saya tau. Sudah, lebih baik pak Hans beritahu pak CEO yang terhormat sekarang juga"
"Tapi Meg-"
__ADS_1
tut tut tut
Belum sempat mengatakan sesuatu tapi wanita itu buru-buru mematikan panggilannya secara sepihak. Sepertinya ia amat kesal karena ada wanita yang mengaku sebagai teman dekat dari pak Rega.
***
"Permisi, pak Rega?" suara terbukanya pintu disusul Hans yang kini masuk secara tiba-tiba membuat pria itu menaikkan alisnya seraya menatap Hans dengan pandangan bertanya.
"Apa?" tanya Rega dengan nada datar tidak seperti biasanya. Hans menelan salivanya saat tatapan tajam itu mengarah padanya.
"I-itu-"
"Hay!" tiba-tiba saja wanita yang mengaku sebagai teman dekat Rega menyusul masuk dan menyapa tanpa permisi. Hal itu membuat mata Rega semakin tersulut emosi dan menatap Hans dengan pandangan membunuh.
"Hans, kamu tau kan betapa sibuknya jadi saya?"
"Ya, tapi dia?"
"Rega, aku cuma pengen ketemu kamu aja kok dan ngembaliin ini" ujar Lisa seraya menyodorkan black card miliknya yang tertinggal. Pantas saja Rega tidak bisa menemukan kartu ATM-nya. Berbeda dengan Rega yang menatap wanita itu penuh kebencian, Lisa dengan manja malah tersenyum tanpa dosa dan penuh kemenangan saat bisa menatap Rega saat ini.
Ternyata ketika sedang serius pria itu begitu tampan. Bahkan Lisa sampai tidak menyangka jika pria satu itu merupakan CEO dari perusahaan yang notabennya setara dengan perusahaan Valdo. Tapi tetap saja, meskipun Valdo sendiri adalah pemiliknya tapi pria itu bahkan tidak bisa menyandang gelar setinggi Rega yang mempunyai tanggungjawab besar itu.
"Hans, lain kali kalau ada yang mau ketemu bilang dulu pada saya, kecuali ibu dan adik saya. Jangan memasukkan sembarangan orang kedalam kantor ini, apalagi orang yang tidak dikenal"
"Tapi pak, Mega yang mengizinkannya untuk masuk" mata Rega membulat dibuatnya. Ia kemudian menghela nafas, dan menatap Lisa dengan tatapan membunuh. Wanita murahan dan pengganggu, semakin Rega melihatnya semakin ia sangat amat jijik pada wanita itu.
"Rega" suara manja dari Lisa membuat Rega rasanya ingin muntah saja. Dengan penampilannya seperti itu bahkan Rega sendiri melarang kekasihnya untuk tampil dengan minim karena amat tidak sopan dan pastinya menganggu pemandangan.
"Please Ga" ujarnya lagi membuat Hans menelan salivanya.
"Ma-maaf pak, kalau begitu saya permisi dulu" Rega masih terdiam dengan pandangan membunuhnya pada Lisa yang kini tersenyum bahagia dan semakin mendekatkan langkahnya pada pria yang kini tampak semakin tampan dengan kemeja birunya.
"Boleh aku duduk?" tanya Lisa yang tiba-tiba mengambil alih kursi dihadapannya membuat Rega semakin muak saja jika melihat wanita rubah ini bertingkah. Kalau diingat saat pergi ke rumahnya wanita ini juga bersikap sama seperti sekarang, membuat pria itu merasa ingin mual saja.
"Ngapain lo kesini? emang gue kenal ya sama lo?"
"Makanya aku kesini buat ketemu kamu, sekalian mau ngasih ini" Lisa meletakkan kotak bekal beserta kartu ATM hitam itu diatas mejanya. Rega meliriknya dengan tajam, lakat satu ini begitu mengganggunya sampai Rega sendiri ingin sekali memakinya. Tapi tidak semudah itu, Rega akan melihat, sampai mana wanita ini akan berakting.
"Rega, aku-"
Brakkk
"Kak Rega!" suara yang tidak asing bagi wanita itu membuatnya membalikkan tubuhnya saat hendak mendekatkan wajahnya pada pria yang kini tercengang oleh kedatangan Velyn dan Mega yang berdiri dibelakangnya.
Rega begitu syok sampai wajahnya pucat pasi, pun begitu dengan Lisa yang kini menatap Velyn dengan tatapan kesalnya karena telah mengganggu hari-hari senangnya seperti saat ini. Memangnya siapa dia sampai berani-beraninya masuk tanpa izin seperti itu?.
"Dia siapa Ga?" tanya wanita itu membuat Rega bangkit dan menatap Hans yang kini berada diambang pintu.
"Hans, buang semua barang yang ada di meja ini, ganti kursi dan juga meja yang udah disentuh sama orang asing kaya dia" ujar Rega dengan tatapan bencinya pada Lisa yang kini hanya mampu menatap kepergian pria itu menghampiri Velyn.
Velyn melirik Mega yang berdiri dibelakangnya, ia juga menatap kakaknya yang kini seperti tengah kesal karena waktunya diganggu. Lisa kini bisa menyimpulkan bahwa Velyn bukan wanita biasa bagi Rega. Bahkan setelah bercerai dari Valdo, bisa-bisanya dengan cepat wanita itu mendapatkan pria yang lebih hebat, dan itu adalah incarannya sejak awal. Tidak, Lisa tidak akan membiarkannya, bagaimanapun Rega akan menjadi miliknya. Velyn, si tukang perebut itu tidak akan pernah bisa mendapatkan pria idamannya.
"Oh ya? malam apa ya, kok aku sampai lupa?"
"Malam Minggu, kamu dari sore ngajakin aku mabuk kan di bar, dan kita tidur semalaman!" Mega dan Velyn saling melirik dan menahan tawa, begitupun juga Hans yang kini menunduk seraya terkekeh mendengar pernyataan wanita itu yang melantur tanpa ujung.
Jelas saja, karena malam Minggu kemarin Rega ada kencan dengan pacarnya dan itupun ia lakukan dari siang hingga malam, dan pulang pada pukul sembilan malam. Hans tau segalanya karena memang ia yang mengatur jadwal kencan bos-nya. Sedangkan Velyn tau karena kekasih Rega memang dibawa sebentar untuk pulang mengambil kunci motor.
"Hans"
"Iya pak,?"
"Bawa wanita gila itu keluar, dan jangan sampai dia masuk ke perusahaan ini, apalagi ke kantor saya" ujar Rega pada Hans yang mengangguk seraya masuk kedalam ruangan Rega tersebut dan menghampiri Lisa yang kini sepertinya memberontak.
"Apa?" jemari Rega menarik lengan Velyn dan hendak mengajaknya menjauh, membuat tatapan Lisa menajam dengan sempurna saat melihat kenyataan ini.
"Apa? Rega?! kamu-"
"Maaf anda harus keluar dari sini sekarang juga" Lisa semakin mengepalkan jemarinya, ia menatap tajam Velyn yang kini dibawa pergi oleh Rega.
Sedangkan pria itu berhenti sejenak untuk membisikkan sesuatu pada gadis yang bernama Mega itu.
"Aku bisa jelasin" Mega hanya tersenyum tipis dan membiarkan Velyn dan Rega untuk pergi. Walau bagaimanapun pasti ini berkaitan dengan masalah keluarga.
***
35
"Maaf ya mbak, anda harus keluar sekarang juga" ujar Hans seraya menarik lengan wanita itu membuat Lisa memberontak dan menatap Mega yang tengah terkekeh menatapnya.
"Lepasin! gue itu pacarnya Rega, awas aja ya kalo gue udah jadi nyonya, gue pecat lo dari perusahaan ini!" ujar Lisa mengancam membuat Hans menaikkan sebelah alisnya dan melirik Mega yang kini mengerutkan dahi menatap wanita gila itu. Sedangkan Hans dengan sekuat tenaga menarik Lisa untuk pergi dari kantor itu atas perintah bos-nya.
***
"Kenapa Lyn?" tanya Rega yang kini sudah berada di ruang istirahat miliknya. Velyn melirik kakaknya itu dengan tatapan kesal dan segera duduk di sofa. Sebenarnya Velyn juga tidak mengira bahwa Rega dengan nekat membuat Valdo kritis sampai saat ini.
"Apa yang kakak lakuin ke Kak Valdo?" suara datar itu sekali lagi membuat wajah Rega pucat pasi. Darimana Velyn tau? dan sejak kapan adiknya perduli dengan keadaan mantan suaminya.
"Kamu tau darimana?"
"Jadi bener kalo kakak mukulin dia? apa kakak tau gimana keadaan dia sekarang?!" Rega menghela nafas beratnya, sampai saat ini ia masih tidak paham dengan jalan pikiran Velyn yang masih saja memikirkan pria kejam itu.
"Iya, aku yang datang buat mukulin dia. Itu karena aku nggak terima kalau kamu diperlakukan kaya gitu. Kita udah kehilangan ayah Lyn, kamu udah kehilangan kebahagiaan, sampai bunda tega menghiraukan kamu. Sedangkan dia? dia enak Lyn. Dia nikmati kebahagiaan dan tinggal duduk manis sama selingkuhan murahannya itu!"
"Cukup kak! aku nggak perlu balas dendam. Aku nggak perlu buat balas perbuatan dia dengan kaya gini-"
"Kenapa Lyn?! kenapa? dia pantes buat dapatin itu semua!" teriak Rega tak kalah lantang membuat Velyn terisak dan mengusap rambutnya kebelakang. Kalau saja Velyn tau semua akan berakhir seperti ini, mungkin dari awal ia akan jujur. Jujur dengan keadaannya yang sekarang tengah hamil. Setelah ia melahirkan nanti, dan ia meninggal. Jika terjadi apa-apa dengan Valdo, ia tak tau lagi bagaimana nasib anaknya.
"Aku hamil kak! aku hamil" tangis Velyn pecah membuat Rega semakin tak percaya dengan keadaan yang ditimpa oleh adiknya. Rega berlutut dihadapan Velyn dan menatapnya penuh pertanyaan dibenaknya.
"Kamu bohong kan?"
__ADS_1
"Ngapain aku bohong! kalau kakak bikin dia kenapa-kenapa, gimana dengan anak aku nanti? anak aku bakal kehilangan ayahnya" Rega menyentuh kedua tangan Velyn, ia ikut terisak dengan keadaan adiknya yang tidak ia ketahui sebelumnya. Mengapa Velyn tidak memberitahukannya. Atau mungkin adiknya takut jika bunda tau dan semakin mengutuk kehidupannya.
"Lyn-"
"Udah, kak Rega nggak perlu ngomong lagi. Mulai sekarang kakak jangan ganggu hidup aku dan kak Valdo. Aku benci kamu kak Rega!" Velyn bangkit dan buru-buru keluar dari ruangan itu. Ia berlari seraya terisak menahan amarah sejak tadi. Ia masih tidak percaya dengan tindakan Rega, sampai ia membuktikannya sendiri, dan ternyata hal itu benar adanya.
Kalau sampai terjadi apa-apa pada Valdo, Velyn tidak akan memaafkan kakaknya itu. Ia hanya berharap Valdo dihukum atas karmanya, ia dihukum untuk merawat anak didalam kandungannya sendiri tanpa dirinya. Tapi rencana itu nyaris gagal jika Velyn tidak bersikukuh untuk memindahkan Valdo ke rumah sakit yang lebih besar lagi.
***
Velyn merengkuh tubuhnya sendiri saat ia berada dirumah sakit, bahkan dari keluarga pun tidak ada yang menjenguknya. Sejujurnya Velyn ingin sekali memberitahukan keadaan Valdo pada Isan, tapi mengingat perseteruan mereka rasanya tidak mungkin jika ayah Valdo itu akan kemari dengan mudah. Padahal dilihat dari luar, Lisa sangat ingin mendapatkan Valdo seutuhnya, namun siapa sangka wanita itu dengan sengaja mengabaikan suaminya dan malah mengejar kakaknya.
Mungkin Lisa pikir Rega ada hubungan khusus dengannya, hingga membuat dirinya membual seperti orang gila. Tapi nyatanya semua orang tau jika Rega bukanlah orang seperti itu.
Pintu pun terbuka, menampilkan sosok dokter yang kini berdiri dihadapannya dan membuat Velyn bangkit seketika. Wanita itu kemudian mengintip sedikit Valdo yang kini masih tak sadarkan diri didalam sana.
"Gimana keadaan kak Valdo dokter?" tanya Velyn dengan pandangan khawatir yang tiada terkira.
"Syukurlah pihak keluarga dengan cepat merujuk Pak Valdo kemari, kalau tidak, mungkin saja kami tidak bisa berbuat apa-apa dan selamat, karena operasinya berjalan dengan lancar. Tapi untuk sementara, mungkin beliau belum bisa membuka matanya dulu" Velyn menghela nafasnya seraya mengeratkan jemarinya. Ia benar-benar bersyukur tidak terlambat membawa Valdo untuk rujuk dan menangani operasinya.
"Alhamdulillah, tapi saya boleh jenguk dia kan dok?"
"Tentu saja, tapi harus diingat, jangan sampai mengganggu kesehatan pasien ya?" Velyn pun mengangguk, akhirnya senua berjalan dengan lancar. Lagipula ini juga bentuk tanggungjawabnya karena perbuatan kakaknya yang membuat pria itu jadi seperti ini.
Sedangkan untuk biaya, Velyn sudah meminta anggarannya pada sekretaris Robert, dengan mengaku menjadi Valdo lewat ponselnya dengan alasan jika Valdo ingin liburan. Tentu saja Robert tidak curiga sama sekali. Sebelumnya Velyn ingin menyuruh pria itu saja untuk menangani semua prosedur yang dibutuhkan. Namun karena durasi juga keadaan Valdo tidak sempat, maka Velyn memilih untuk menanganinya sendiri.
Velyn duduk di kursi disamping bangsal, ia menatap wajah Valdo yang banyak sekali lebam disana. Tubuhnya semakin kurus, dan rambutnya semakin panjang dari sebelumnya. Velyn hendak menyentuh dahi Valdo, namun urung seketika saat ia mengingat hal yang menyakitkan untuknya. Luka yang timbul itu bukan karena Valdo berbohong padanya, bukan pula saat Valdo mengabaikan perjuangannya menjadi istri terbaik, juga bukan karena pria itu menyiksa wanita itu dengan kasar. Tapi karena pengkhianatan yang dilakukannya sudah menjadi bagian yang terlalu sakit untuk diingat kembali.
Tanpa sadar, Velyn terisak, ia menutup mulutnya seraya menghapus jejak air matanya yang tanpa sadar berlinang.
"Kenapa kamu tega ngelakuin ini sama aku kak? aku salah apa? kenapa kamu-" Velyn sudah tidak sanggup lagi untuk mengatakannya. Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping saat mengingat jika Lisa hamil anak kedua dengan Valdo setelah mereka bersama. Sekarang, bahkan wanita itu juga mengandung anaknya, bagaimana ia akan kuat menghadapi pengkhianatan yang menyulitkan untuknya. Dan kenapa Velyn juga masih perduli? padahal ia bertekad untuk maju dan melupakan masa lalu.
"Ini yang terakhir kak, setelah aku nolong kamu, aku nggak akan masuk kedalam urusan kamu lagi" Velyn mengusap air matanya yang kini semakin lama semakin surut dan sudah tidak lagi menetes. Bagaimanapun ia juga tidak boleh stres dan sedih berlebihan. Ia harus tetap tenang dan menjaga hormon dalam tubuhnya agar anak yang dikandungnya tetap sehat.
"Ini anak kita kak, kamu pasti nggak nyangka kan kalau kamu ceraikan aku disaat aku lagi mengandung? dan aku harap kamu juga nggak akan pernah tau sampai aku pergi dengan meninggalkan dia untuk kamu."
***
36
Ceklek
Suara terbukanya pintu membuat pria yang menatap pemandangan luar dibalik bangunan kaca dihadapannya menghela nafas berat. Pemandangan sore ternyata jauh lebih indah dari yang Rega bayangkan. Langit senja berwarna oranye membuat hatinya yang mulanya terganggu kini berubah sedikit menjadi lebih tenang.
"Permisi? ada apa bapak memanggil saya?" tanya wanita cantik itu pada Rega yang kini membalikkan tubuhnya dan menatap wanita itu dengan pandangan muram. Wanita cantik yang memakai blouse berwarna putih dengan pita hitam di tengah kedua kerahnya, serta rok span senada, membuat penampilan wanita itu kian membuat Rega semakin tidak bisa menahan emosinya.
"Kamu nggak perlu bicara formal Mega" ujar pria itu membuat Mega masih bertahan berdiri didepan pintu menunggu Rega yang kini semakin mendekat kearahnya.
"Saya pikir, saya akan bekerja lembur lagi kali ini"
"Iya, kamu harus bekerja lembur buat aku" Rega menjatuhkan kepalanya tepat di bahu Mega, membuat wanita itu menghela nafas seraya mengusap kepala pria itu dengan lembut. Setelah ayah Rega meninggal, hanya Mega satu-satunya orang yang mampu menguatkannya. Pria itu hanya mampu bersikap lemah pada wanita satu itu karena sejujurnya Rega tidak ingin membuat keluarganya tambah khawatir.
"Kamu ada apa lagi? rambut kamu ketombean? kan udah aku bilang, kalau keramas jangan lupa pakai conditioner" ujar Mega membuat Rega terkekeh seraya mengangkat kepalanya. Benar-benar gadis dihadapannya itu, menghancurkan suasana sedihnya saja. Padahal kali ini Rega ingin di manja, tapi malah begini akhirnya. Rega menarik pipi Mega membuat gadis itu mengaduh kesakitan.
"Rega! apaan sih? sakit tau!" kesal Mega pada pria satu itu yang kini tampak lebih kesal lagi daripada dirinya.
"Lagian kamu, udah tau muka aku kaya orang lagi frustasi, malah becanda kaya gitu"
"Frustasi? punya banyak cewek ternyata bisa frustasi juga ya? atau jangan-jangan kamu frustasi gara-gara kekurangan gaya cara berma-"
Cup
Kecupan kecil mendarat di bibir Mega, membuat wajah gadis itu memerah seketika dan memundurkan tubuhnya saat Rega mencoba untuk meminta lebih. Pria dihadapannya ini benar-benar serakah, suka meminta tanpa izin dahulu, bahkan memanfaatkan situasi untuk menciumnya secara sukarela.
"Aku nggak pernah main kaya gitu kok, kalaupun aku mau, aku bakal ngelakuin sama kamu"
"Rega! kamu mesum banget sih jadi cowok! makanya jadi cowok itu jangan suka tebar pesona. Kamu nih sadar nggak sih kalo wajah ganteng kamu itu berbahaya, sampek ada tante-tante yang nyamar jadi temen deket, supaya bisa keruangan pribadi kamu!. Kenapa kamu nggak langsung ngusir dia? bilang aja dia itu lebih cantik dari aku kan? atau lebih seksi?" ujar Mega tersungut-sungut, membuat pria itu terkekeh dan segera meraih jemari Mega untuk duduk di atas sofa. Sebenarnya Rega sangat suka dengan kecemburuan Mega yang seperti saat ini. Pipinya yang mengembung itu membuat Rega tambah mencintai gadis itu. Bahkan hatinya masih saja sempat berdebar meskipun hubungan mereka sudah terjalin selama beberapa tahun belakangan ini.
"Sayang, aku cuma cinta sama kamu aja kok. Soal wanita tadi, aku bisa jelasin kok. Aku juga pengen kamu dengerin keluh kesah aku. Karena cuma kamu yang bisa aku andelin buat dengerin semua masalah aku," ujar Rega lemah membuat Mega beralih menatap pria yang duduk disampingnya itu dengan tatapan iba. Mega tau apa yang Rega alami selama ini, semua kesulitan dan masalahnya menjadi masalah untuknya juga. Pria yang tampak kuat diluar, sebenarnya adalah pria yang paling rapuh yang pernah ia kenal.
"Kamu tau kan, kalau masalah kamu adalah masalah aku juga. Jadi jangan ragu buat cerita, aku pasti bakal selalu ada buat kamu" ujar Mega seraya memeluk tubuh pria itu yang kini membalas pelukan Mega dan mengusap lembut puncak kepalanya.
***
Bayangan kelam membuat pikiran wanita itu kacau, jemarinya mengepal kuat saat ia meremas bantal sofa diapangkuannya. Masalah demi masalah datang silih berganti, membuat hati Malia remuk dan hancur, apalagi kejadian hari ini yang membuat dirinya tambah syok dan tidak bisa berkata apapun.
Siang ini Malia tidak sengaja melihat Velyn yang keluar dari ruangan dokter spesialis kandungan. Wanita itu kebetulan hanya ingin mampir untuk membeli obat mag. Namun siapa sangka, ia harus pura-pura tidak melihat sambil mengamati apa yang dilakukan oleh Velyn setelah membeli obat. Dan mungkin saat itu juga Velyn baru mengetahui keberadaannya. Dapat dilihat dari wanita itu yang tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan mencoba untuk menghindar agar tidak berpapasan dengannya.
Tapi siapa sangka, dibalik sikap Velyn yang menghindari Malia malah mengundang rasa penasaran dibenaknya. Malia dengan sengaja mendatangi dokter yang ditemui Velyn sebelumnya, ia mengajak dokter itu untuk bicara empat mata. Meskipun lelah menunggu seharian karena jadwalnya sangat padat, namun disela istirahat siang, untung saja dokter itu mau memberikan informasi terkait anaknya.
"Sebenarnya saya tidak bisa bilang apa-apa, karena Nona Velyn berharap untuk merahasiakan ini dari siapapun. Tapi karena anda bersikeras, dan tentunya anda juga berkaitan langsung dengannya, jadi saya terpaksa mengatakan yang sebenarnya"
"Dokter, saya mohon jangan berbelit-belit. Saya cuma mau tau keadaan putri saya" ujar Malia dengan serius membuat dokter itu menghela nafas berat dan melepaskan kacamata yang dikenakannya sejenak.
"Putri anda terkena penyakit Leukimia" sontak saja Malia berdiri dari duduknya, ia menutup mulutnya tak percaya seraya menahan air matanya yang hendak jatuh meskipun madih berada disudutnya.
"Ibu, anda tenang dulu. Silahkan duduk sebentar" ujar dokter itu yang merasa paham akan situasi yang dialami oleh Malia. Meskipun begitu, hal ini penting untuk diceritakan pada pihak keluarga karena dokter itu juga adalah seorang wanita, terlebih seorang ibu yang mempunyai posisi sama seperti Malia.
"Bagaimana dok? keadaan anak saya bagaimana? anak saya nggak mungkin sakit leukimia kan dok? enggak mungkin!"
"Ibu Amalia, lebih baik anda tenang dulu ya. Saya sangat mengerti apa yang ibu rasakan saat ini. Tapi tolong dengarkan saya baik-baik. Nona Velyn juga sedang mengandung, itu sebabnya dia datang kemari hari ini"
"Apa?!" semakin mendengar ucapan dokter, Malia semakin tidak bisa mengontrol emosinya. Malia terisak, ia mengutuk dirinya sendiri dalam pikirannya.
"Bayi dalam kandungannya bisa membahayakan dia, karena kalau sampai bayi itu dipertahankan, maka akan ada efek dimana sang ibu tidak akan bisa melakukan pengobatan kemoterapi. Jika kemoterapi dilakukan, maka bayi itu akan gugur dalam pengobatan karena kandungannya yang sangat lemah"
"Jadi maksudnya?" Malia mulai bisa menangkap satu persatu perkataan dokter, ia tidak sanggup mendengar apapun saat ini. Hatinya terlalu sakit untuk menahan segala yang Velyn rasakan sendirian.
"Iya, Nona Velyn memilih jalan untuk mempertahankan bayinya yang belum tentu itu bisa diselamatkan atau tidak" Hati Malia hancur berkeping-keping. Bagaimana rasanya jika anak perempuan satu-satunya mendapatkan musibah seperti itu?. Malia menangis sejadi-jadinya, ia menyesal, menyesal karena telah mengatakan hal kasar pada putrinya sampai-sampai putri kecilnya itu keluar dari rumah.
Seandainya saja Malia mendengar apa yang dikatakan Rega, mungkin saja ia tidak akan terlalu egois seperti ini. Pikirannya yang dangkal membuat hatinya sempit, sampai menganggap bahwa perkataan orang adalah hal yang penting yang harus terus di perhatikan. Tapi ketika terjadi seperti ini, tidak ada yang lebih berharga dari keluarga sendiri.
__ADS_1