
"Aku nggak bakalan ceraiin kamu Lyn!" mata Velyn membelalak, ia menatap Valdo penuh arti. Velyn membuang muka kala Valdo kini tersenyum padanya. Velyn tidak boleh luluh, ia tak ingin menjadi yang kedua juga tak ingin melanjutkan hubungan yang rumit ini.
"Kebahagiaan kakak bukan sama aku, kalau kakak mempertahankan pernikahan ini hanya karena kasihan, itu sama aja kakak egois sama diri kakak sendiri" Velyn menghela nafasnya, ia menjeda kalimatnya sejenak seraya menelan ludahnya kasar.
"Kak Valdo harus ingat, Nino juga masih punya ibu, ibu kandung yang pastinya juga sayang banget sama dia. Aku nggak mau jadi orang ketiga buat kalian. Aku bisa bantu kakak buat dapetin warisan om Gaisan, tapi aku mohon bebasin aku" kata-kata Velyn benar-benar membuat hati Valdo jadi tambah sakit. Kenapa Velyn tidak bisa melihat ketulusannya?. Setelah berpikir panjang Valdo menyadari, jika dirinya punya perasaan terhadap istrinya ini. Perasaan yang dulunya hanya untuk Lisa, kini berpindah pada Velyn.
Entah mengapa Valdo sampai begitu bodoh telah terlambat menyadarinya. Saat ini dirinya tidak ingin kehilangan Velyn. Valdo menangkup pipi Velyn, ia menatapnya lamat-lamat membuat Velyn sedikit terkejut dibuatnya. Valdo menangkap kedua pandangan itu, pandangan sendu dengan mata yang berkaca.
"Bilang sama aku kalau kamu nggak pernah cinta sama aku" Velyn mengernyit, ia masih membiarkan kedua tangan suaminya menangkup wajahnya seraya menatapnya serius. Seolah mencari jawaban atas pertanyaan satu itu.
Valdo masih menunggu jawaban dari Velyn. Jawaban yang setidaknya harus ia mengerti dan membuatnya berhenti.
"Sebelumnya dia benar-benar nolak pernikahan ini, sampai mau kabur segala."
Perkataan bunda seperti terus terbayang dibenaknya. Valdo ingin memastikan sekali lagi, ia ingin memastikan perasaan Velyn yang memang tidak pernah menginginkan pernikahan ini sebelumnya. Jika benar begitu, maka Valdo akan amat kecewa.
"Velyn! jawab aku! bilang kalau kamu emang nggak pernah mau pernikahan ini terjadi?!" Velyn tak mengerti, ia menggeleng seraya menjauhkan diri dari tatapan Valdo yang tajam itu. Bukannya Valdo yang selama ini selalu membuatnya sengsara dan hanya memanfaatkan Velyn saja.
Velyn berpikir sejenak, mungkin sebaiknya ia tak perlu menjalani pernikahan ini sebelumnya. Apalagi Valdo tadi bilang ia takkan menceraikannya. Velyn memejamkan matanya erat-erat. Velyn sebenarnya benar-benar mencintai Valdo, sangat mencintainya. Seberapa jauh ia bersembunyi pikiran dan hatinya selalu menetap pada satu bayangan yaitu pria yang kini masih menunggu jawaban darinya. Tapi, semakin Velyn mencintainya, semakin Velyn ingin menjauh, sejauh-jauhnya dari Valdo.
__ADS_1
Terlepas dari apa maksud Valdo menanyakan hal itu, terlepas dari pria ini benar-benar tulus padanya atau tidak, Velyn sudah ditakdirkan untuk pergi. Velyn menggeleng, ia meneteskan bulir air mata yang tidak bisa ia tahan sedari tadi.
"Aku nggak pernah cinta sama kamu kak Valdo! aku cuma dipaksa! kalau bukan karena ayah yang memohon dan sakit keras, aku nggak bakalan mau nikah sama kamu!"
"Bohong! kamu pasti cinta kan sama aku Lyn, kalau nggak, kenapa kamu tetep perduli sama aku meskipun aku selalu bersikap nggak baik ke kamu. Kenapa kamu tetep bertahan dan nggak milih buat pergi dari awal" nafas Velyn memburu, ia menatap mata Valdo dengan pandangan tajam. Rasanya hatinya juga ikut terluka ketika berbohong seperti ini. Raganya menolak untuk berkata jahat pada Valdo, tapi itu harus dilakukan mengingat dirinya yang memang tidak bisa mendekat.
"Semua yang aku lakuin demi keluarga aku kak Valdo! ini nggak ada hubungannya sama perasaan aku. Aku nggak mau nambah beban mereka dengan mengecewakan mereka. Aku bertahan karena aku nggak mau bunda dan ayah tau tentang ini semua. Dan kamu harus ingat satu hal kak, ketika kamu ngajuin perjanjian kontrak itu, aku nggak pernah keberatan sama sekali, aku-"
"Cukup Velyn!, apa kamu masih nggak ngerti sama perasaan aku?!" teriak Valdo seraya memeluk erat tubuh Velyn. Menempelkan dadanya yang bergetar dan berdenyut kencang akibat merasa nyaman ketika memeluk gadis itu. Pun sama dengan jantung Velyn yang berdetak tak karuan.
Velyn memejamkan matanya erat-erat, tangisnya pecah. Ia tau perasaan Valdo, tapi Velyn benar-benar tak bisa jujur saat ini.
"Aku udah bilang kan kak sebelumnya, dan tambahan dari syarat kontrak itu udah jelas. Nggak ada yang boleh jatuh cinta diantara kita"
"Aku udah nggak perduli sama kontrak sialan itu! kalau perlu, aku bakal hancurin kontrak itu dan nggak akan ada lagi yang namanya pernikahan kontrak. Asalkan aku bisa hidup sama kamu, aku bakal lakuin" Velyn membeku dibuatnya. Apa yang Valdo katakan barusan? Velyn benar-benar tak percaya. Setengah hatinya senang akan hal itu, namun setengahnya lagi ia masih tak bisa menerima Valdo karena kekurangan dan kepercayaannya.
"Aku nggak bisa kak, maaf. Kesalahan bisa dimaafin, masalah bisa diperbaiki, tapi kamu nggak bisa maksain perasaan aku kak" Valdo memejamkan matanya erat-erat. Ia menggenggam jemari Velyn, tanpa penolakan gadis itu hanya diam memberikan kesempatan bagi Valdo untuk mencerna kalimatnya yang tadi ia utarakan.
"Maaf kak, kalau dari awal aku tau gimana keadaan aku dan penyakit ini yang udah lama tinggal di tubuh ku, aku nggak akan mungkin mau menerima perjodohan ini. Kamu pantes dapetin yang lebih baik kak Valdo" gumam Velyn dalam hatinya seraya membuang muka. Ia tak kuat menatap pandangan Valdo yang begitu penuh harap padanya.
__ADS_1
Sedangkan Valdo, ia terlanjur mencintai Velyn. Didepan matanya ini hadir seseorang gadis yang selalu ia cintai. Tapi amat begitu jauh dari hatinya. Kenapa? kenapa penyesalan selalu datang di akhir.
Kenapa Valdo tidak menyadarinya dari awal. Kenapa ia masih perduli pada Lisa, padahal didekatnya ada orang yang paling Valdo cinta. Saat ini, janji itu tidaklah penting lagi untuknya. Kalau saja Valdo tidak gegabah, mungkin ini semua takkan pernah terjadi.
Ini kah yang disebut karma?. Saat Valdo ingin memperjuangkan Velyn dan ia malah harus mundur dan pergi menjauh.
"Oke, oke kalau itu yang kamu mau. Tapi aku pengen kamu tetep jadi istri aku meskipun kita bakal cerai nantinya. Aku pengen kamu layani aku sebagai suami, dan aku akan tetap nafkahi kamu"
"Kak, aku-"
"Please jangan nolak Lyn" sebelum Velyn mengatakan sesuatu Valdo segera menarik tubuhnya, Valdo menyatukan wajah mereka, membuat Velyn memejamkan matanya.
"Meskipun aku bakal bebasin kamu, meskipun aku akhirnya nggak bisa milikin kamu selamanya, tapi seenggaknya, aku bisa nikmatin hariku bersama orang yang paling aku cinta meskipun cuma bentar" Velyn membuka matanya. Ia bisa melihat ketulusan dari Valdo yang begitu amat mengharapkannya. Velyn meremas selimut dibawahnya. Ia hanya bisa menahan tangis saat terluka dengan keadaan.
"Aku cinta sama kamu Velyn, maafin aku. Maaf untuk perbuatan aku selama ini yang nggak pernah baik sama kamu. Dan maaf karena terlambat menyadari perasaan aku sendiri. Aku cinta Lyn sama kamu."
"Aku juga cinta sama kak Valdo, maafin aku juga kalau aku nggak bisa menjalani hidup yang panjang sama kamu kak. Maaf."
Hanya kata itu yang dapat Velyn katakan dalam hatinya, setitik keberanian tak dapat menggugah hatinya untuk mengatakan kejujuran yang harusnya ia ungkapkan.
__ADS_1