Velyn Love

Velyn Love
Wanita lain


__ADS_3

"*I-technology itu perusahaan milik alumni kita loh, aduh nggak nyangka banget kalo kita bisa lolos dan magang ditempat itu. Berasa kaya ngimpi tau nggak!"


"Gue juga nih, mudah-mudahan kita ditempatin di departemen yang sama ya Dir*"


Pujian dan juga ulasan dari teman-teman Velyn tadi membuat fokusnya terganggu. Memangnya siapa yang tidak mengenal perusahaan IT sebesar itu. Bahkan yang dimaksud alumi dari kampus itu adalah suaminya sendiri.


Sudah seminggu lamanya kabar dari Valdo juga tak kunjung membuaat Velyn berhenti untuk khawatir. Tapi, apalagi yang dapat ia lakukan. Sangat mustahil untuk pindah ke perusahaan lain saat ini.


Velyn yang sedari tadi membaca novel dikamarnya kini beralih bangkit, pertanyaan itu muncul lagi saat ia tak mau mengingatnya. Sebenarnya apa yang Valdo rahasiakan darinya? mengapa Valdo begitu mudah ingkar janji padanya?.


Velyn pun juga sama, ia terlalu mudah percaya pada pria yang sudah berulangkali membohonginya. Mau bagaimanapun Valdo tetaplah suaminya. Meskipun status mereka hanyalah perjanjian diatas kertas. Kini tinggal lima bulan lagi, waktu yang tersisa untuk memangkas perasaannya perlahan. Agar Velyn tidak terlalu sakit hati akan kekecewaan yang ia buat sendiri.


Suara bel pintu membuat mata Velyn membulat, ia menatap jam diatas nakas yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Memangnya siapa yang bertamu di jam larut seperti ini?. Velyn mengernyit, ia buru-buru keluar dari kamarnya seraya mengintip lantai bawah yang terdengar suara bel pintu untuk yang kedua kalinya.


Ruangan juga tampak sepi. Velyn yakin, Santi juga pasti sudah tidur. Velyn berinisiatif untuk membukakan pintu saat ia terpaksa harus turun kebawah dengan langkah malas.


Setelah sampai di depan pintu, ia sedikit mengernyit mengingat kesadarannya akan siapa tamu yang datang. Velyn sedikit mengintip pada jendela, ia membulatkan matanya saat melihat Valdo yang tengah pingsan dan dibopong oleh seseorang pria.


Buru-buru Velyn membuka pintu, ia menatap kearah pria yang tadi membantu Valdo dan menatap mereka secara bersamaan.


Mata mereka saling bertemu, meninggalkan kesan saling tak menyangka dan terkejut satu sama lain pada pandangan kesekian kalinya.


"Adrian! mas Valdo kenapa?" Velyn mencoba untuk meraih tubuh Valdo yang terlihat lemas dari tubuh Adrian yang kini masih menatapnya tak percaya.

__ADS_1


'Mas Valdo?' panggilan itu cukup akrab sekali, membuat Adrian cukup paham betul dan baru saja menyadari seketika bahwa istri baru temannya itu adalah wanita dihadapannya ini.


Wanita yang kini tampak khawatir dan mencoba untuk membangunkan Valdo dari efek mabuknya. Entah mengapa melihat status dan juga hubungan Velyn dengan Valdo ada rasa ngilu dihati Adrian yang mendalam.


"Adrian makasih ya udah anterin mas Valdo, maaf udah malam banget, aku nggak bisa persilahkan kamu masuk" ucap wanita itu dengan perasaan penuh penyesalan dan juga wajah bersalahnya, membuat Adrian hanya bisa mengangguk.


"Nggak apa-apa kok Lyn, aku juga harus pamit dulu. Kamu jaga Valdo baik-baik ya, dia lagi mabuk berat" Velyn sedikit melirik Valdo yang kini masih berada dalam bopongannya. Ia tersenyum kaku seraya mengiyakan perkataan Adrian padanya.


Tak lama setelah Adrian benar-benar pergi dari kediamannya, Velyn dengan susah payah membawa Valdo ke lantai dua. Tepat dimana kamar mereka berada.


Velyn segera merebahkan tubuh Valdo diatas kasur seraya menatapnya penuh dengan tanda tanya dan rasa kecewa yang semakin besar. Aroma alkohol yang tercium di indera penciumannya membuat Velyn menggeleng seraya segera melepaskan sepatu yang masih dikenakan Valdo.


"Sebenarnya kamu kemana mas selama ini? apa yang kamu lakuin di luar?" gumam Velyn seraya menyentuh wajah Valdo yang sedikit masih bisa menggeliat. Tiba-tiba saja tanpa di duga tangan Valdo menyentuh jemari Velyn, membuat gadis itu terkejut saat Valdo mulai membuka matanya sedikit.


"Li, Lisa!" panggilan itu membuat Velyn terkejut sekaligus hatinya yang tadi sedikit tenang berubah masam dan remuk. Lisa? kenapa Valdo menyebutkan namanya lagi? bukankah ia pernah bilang jika ingin meninggalkan Lisa demi dirinya?.


Velyn benar-benar tidak tahan, semakin ia memikirkan semakin hatinya tambah sakit lagi. Jangan-jangan selama Valdo pergi, ia mencari keberadaan Lisa. Kenapa juga Valdo mabuk-mabukan jika bukan karena wanita itu.


Valdo yang mengetahui bahwa wanita di bawahnya hendak melarikan diri, kini mulai dengan tegas membalikkan tubuhnya, hingga tubuh Velyn kini yang berada dibawah. Velyn yang hendak melawan telah kehabisan tenaga akibat kekuatan Valdo yang begitu besar.


"Mas, lepas mas! aku bukan Lisa!" teriakan Velyn bahkan tak diindahkan sama sekali oleh Valdo. Seolah ia tak mendengar apa yang Velyn katakan.


Valdo dengan ganas mencium bibir Velyn dan ********** dengan kasar. Kedua tangannya bahkan dicengkeram oleh Valdo secara bersamaan. Velyn yang kini hanya memakai piyama terusan membuat Valdo semakin gencar untuk merobek semua pakaian Velyn membuat tubuhnya terekspos.

__ADS_1


Valdo segera melucuti pakaiannya sendiri seraya menahan tubuh Velyn menggunakan tubuhnya. Valdo benar-benar tak bisa mengendalikan efek dari minuman keras yang sudah mencuci otaknya saat ini.


"Jangan mas!"


"Lisa!"


Velyn merasakan sesuatu yang menyakitkan dihatinya. Ia juga merasakan sakit setiap kali Valdo memaksa miliknya untuk terus masuk. Namun Valdo benar-benar tak sadar akan hal itu, ia mencium, menyentuh Velyn dengan aksinya namun tetap memanggil nama itu lagi.


Velyn hanya bisa pasrah, ia menangis, menangis dalam diam, dalam dekapan Valdo yang membayangkan orang lain dalam posisinya.


Setelah puas, Valdo akhirnya ambruk disamping tubuh Velyn, ia membisikkan sesuatu yang membuat hati Velyn tambah hancur lagi.


"Sudah tiga tahun aku cari kamu, akhirnya kamu sekarang ketemu" Velyn bangun dari tidurnya, ia melangkah menuju kamar mandi dengan bajunya yang sudah robek-robek akibat perbuatan Valdo padanya.


Velyn terisak, air matanya menggenang dengan deras. Apa yang dimaksud Valdo? apa maksudnya selama ini ia sudah menghabiskan waktunya dengan Lisa yang sudah ia temukan?.


Velyn benar-benar bodoh, ia memukul-mukul kepalanya sendiri seraya memerosotkan tubuhnya dan menutupi bajunya yang telah rusak akibat perbuatan Valdo.


"Kenapa aku sakit? kenapa aku harus kecewa? bukannya ini yang kamu pengen Lyn? bukannya kamu pengen banget mereka rujuk, dengan begitu kamu bisa pergi secepat yang kamu mau?" Pikiran Velyn dapat mengatakan itu dengan mudah. Namun ia juga tidak bisa membohongi hati, bahwa cintanya hanya untuk Valdo seorang. Velyn memang munafik, ia seolah pasrah tapi dihatinya merasakan hal yang tidak rela.


Seharusnya Velyn tidak berharap banyak, berharap bahwa apa yang dikatakan Valdo benar-benar dari dalam lubuk hatinya. Nyatanya saat ini Valdo melakukanya dengan Velyn seraya membayangkan wanita lain bersamanya. Atau jangan-jangan selama Valdo menghilang, suaminya itu memang sengaja memuaskan hasrat dengan Lisa yang sudah ia ketemukan.


Mengingat dirinya yang pulang tanpa kesadaran, ditambah lagi dengan Adrian disampingnya. Velyn tidak pernah curiga, karena ia selalu percaya pada apa yang suaminya lakukan diluar sana. Bukan karena Velyn sengaja dibutakan oleh cinta. Tapi mengingat dan menghargai hubungan mereka sebagai pasangan suami istri.

__ADS_1


Velyn selalu berusaha, menghindarkan rasa sakitnya demi mendengar penjelasan dari Valdo setelah semua yang terjadi. Ia bahkan tidak terkejut apalagi panik ketika orang yang dikenalnya selama ini adalah Adrian, dia yang mengantarkan Valdo dengan keadaan tidak sadar.


Tapi, sekali nama itu disebutkan, entah mengapa. Kepercayaan itu seolah hilang dengan pikirannya yang berandai-andai. Pikiran negatif yang seharusnya tidak Velyn pikirkan.


__ADS_2