
**Banyak banget yang komen dan ngatain Valdo. Heh para readers! emangnya cuma kalian aja yang nggak suka sama si Valdo itu? author juga tau! kalo aja si Valdo ini ada di dunia nyata, pasti udah author sentil tuh ginjalnya, tendang jantungnya sekalian biar tau rasa 😈.
Tapi sayangnya yang bikin karakter Valdo kek gitu ya author sendiri 🥺, jadi si Valdo nggak salah, disini sebenernya yang jahat itu author hiks ðŸ˜. Tapi mo gimana dong, inspirasinya author emang batasannya segitu kok. Cuma karena author ini punya ideologi Pancasila, jadi author bakal adil dan beradab kok sama Velyn, nggak bakalan jahat-jahat lagi setelah Velyn bahagia nanti. Bahkan si Valdo bakalan ngerasain akibatnya 😠😤.
Udah ya kalian baik-baik bacanya, jangan hujat Valdo, kasian dia, dibenci tanpa alasan**.
______________________________________________
Seperti biasanya, rutinitas pagi Valdo keluar dari kamarnya seraya menuruni anak tangga. Aroma wangi hasil masakan Velyn yang biasa ia hirup di pagi hari kini tak seperti biasanya.
Valdo mengernyit, ia baru ingat jika dirinya semalam mengunci Velyn dari luar karena memabg seharian gadis itu tak pulang ke rumah, bahkan pergi tanpa berpamitan pada dirinya.
Mungkin gadis itu sekarang tengah tertidur dirumah orangtuanya atau tidur ditempat temannya. Valdo tak perduli, ia mengedikkan bahu dengan acuh seraya melangkahkan kakinya kembali.
Valdo tersenyum dengan ceria, tak seperti biasanya. Mungkin karena biasanya ada gadis itu yang selalu mendominasi rumahnya ini semenjak mereka menikah. Pria itu kemudian melangkah, mendekat kearah ruang makan yang telah disiapkan oleh Santi.
Meskipun masakan Santi tidak seenak masakan Velyn, tapi setidaknya bisa menghapus pikiran gadis itu dikepalanya. Valdo kini beralih duduk di ruang makan, ia bersiap mengambil piring dan hendak sarapan.
"Apa dok?! nyonya Velyn kenapa?!" teriakan Santi membuat dahi Valdo mengernyit, pria itu kemudian bangkit dan melangkah mendekat kearah dapur yang terdapat Santi disana. Terlihat ia seperti menyiapkan kotak bekal berwarna hijau disana. Santi buru-buru merapihkan kotak bekalnya ia kemudian membalikkan tubuhnya seraya terkejut dengan kehadiran Valdo yang tiba-tiba berdiri dengan tatapan mata bertanya.
"Tu-tuan, sejak kapan tuan disitu?"
"Kamu ngomong apa tadi? ngomong sama siapa?!" Santi memegang tas bekalnya kuat-kuat. Ia mengingat setiap pesan dari Velyn jika tidak boleh ada yang tau keadaannya saat ini. Namun nyatanya kabar bahwa keadaan Velyn kini tengah keritis membuat Santi semakin panik dan tidak ada pilihan selain bicara yang sebenarnya.
__ADS_1
Toh jika tuannya ini nanti tidak perduli Santi akan tetap pergi kerumah sakit sekarang meskipun dilarang.
"Jawab Santi!" Santi memejamkan matanya erat-erat seraya menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar takut jika mendapat tatapan tajam dari majikannya satu ini.
"Nyo-nyonya sekarang ada dirumah sakit tuan, tadi pagi nyonya pingsan waktu saya bawa ke kamar. Se-sekarang keadaan nyonya keritis, dan dirawat di ruang ICU" mata Valdo membulat mendengarnya. Ia menepuk kepalanya keras-keras seraya merutuki kebodohannya.
Kenapa juga gadis itu bodoh sekali, dia mau-maunya tidur di teras dan tidak mencari perlindungan sama sekali. Valdo kemudian melangkah dengan langkah kaki keras, ia keluar seraya segera memasuki mobilnya.
"Tuan! saya juga mau ikut" teriak Santi yang kini berlari tergopoh-gopoh seraya masih membawa tas bekal yang tadinya ia siapkan.
"Nggak perlu, biar saya saja yang kerumah sakit. Kamu jaga rumah aja, nungguin mbak Marni kalau nanti datang" ucap tegas Valdo seraya menyalakan mobilnya.
Santi menatap bekal yang ia bawa dengan cemas. Ia sudah berjanji untuk kembali dan tidak akan mengatakan keadaannya pada siapapun. Namun siapa sangka jika Valdo ternyata sudah menguping apa yang ia katakan sejak tadi.
Entah apa yang difikirkan tuannya saat ini, tapi yang jelas Santi semakin cemas memikirkan nyonya Velyn. Apalagi temperamen Valdo terhadap istrinya itu.
***
Velyn kini tengah terbaring tak berdaya, kesadarannya hilang semenjak pagi tadi dirinya kejang-kejang. Tubuhnya lemah dan harus diberikan selang oksigen saat ini.
Sementara itu diluar ruangan Valdo telah tiba dengan nafas yang memburu akibat berlari kencang dari lobi hingga ruangan ICU tempat dimana Velyn dirawat. Valdo menatap kesamping, pintu kaca besar yang memperlihatkan seorang gadis dengan tubuh lemah dan wajah yang begitu pucat membuat pria itu mengerutkan kening dengan jantungnya yang kini berdebar kencang.
Ini semua salahnya, jika Valdo tidak terlalu egois maka Velyn tak akan mengalami hal seperti ini. Valdo memukul kepalanya beberapa kali. Bagiamana ia bisa setega ini dengan istrinya sendiri. Bahkan tempo hari ia juga pernah melakukan kekerasan pada Velyn.
__ADS_1
Valdo kebingungan sendiri, ia memerosotkan tubuhnya didinding rumah sakit. Pikirannya kacau saat ini. Bagaimana jika keluarga Velyn tau tentang keadaannya ataupun nanti Velyn malahan terjadi sesuatu pada dirinya.
Ceklek
"Dokter, gimana keadaan istri saya dok?" tanya Valdo dengan buru-buru seraya bangkit dan menghadang dokter itu yang terlihat mengernyitkan keningnya.
"Anda suaminya?" tanya dokter membuat pria itu mengangguk cepat.
"Anda ini bagaimana sih, kalau ada masalah dibicarakan baik-baik jangan membiarkan istri anda tidur diluar. Itu sangat berbahaya, untung nyonya Velyn sudah melalui masa keritisnya, sejak tadi pagi dia sudah kejang-kejang dan tidak sadarkan diri, tubuhnya menggigil" jelas dokter membuat Valdo semakin cemas dibuatnya. Apa bahkan sejak pagi Velyn sudah tidak sadarkan diri dan mengalami kejang-kejang? Valdo benar-benar tidak mengira jika perbuatannya akan seperti ini jadinya.
"Dok, saya mohon dok, sembuhkan istri saya. Berapapun biayanya akan saya tanggung" ksts Valdo seraya memohon membuat dokter berkacamata itu menggeleng seraya menghela nafas panjangnya.
"Mohon perhatikan ya kesehatan istri bapak, saat ini dia mengalami hipotermia akut. Sementara ini keadaannya sudah membaik, tapi lain kali jangan di ulangi" Valdo mengangguk, ia memejamkan matanya erat-erat seraya menghela nafas lega. Pasti, pastinya tidak akan terulang lagi. Ini untuk terakhir kalinya Valdo berbuat jahat padanya.
"Oh ya, pasien sudah bisa dijenguk, tapi jangan sampai mengganggu istirahatnya" lanjut dokter sebelum ia pergi dan meninggalkan Valdo yang kini masih enggan untuk masuk.
Tatapannya menjurus pada Velyn yang kini terlihat begitu pucat dengan bibirnya yang membiru itu. Valdo memang ingin menyingkirkan Velyn, tapi tidak seperti ini caranya. Menyakitinya hanya untuk mengusir dia dari kehidupannya bukan dunia ini.
Sesal dirasakan Valdo saat Velyn kini tengah terbaring tak berdaya. Lalu? kemana sajakah dia kemarin hari yang selalu membuat ulah dan onar pada istri yang selalu melayaninya dengan sepenuh hati.
Inikah balasan Valdo padanya? balasan yang sama sekali tidak setimpal dengan usaha dan kerja keras Velyn menjadi istri yang terbaik namun tak pernah ia hargai.
"Maafin aku Lyn" gumam Valdo seraya memejamkan matanya erat-erat. Merengkuh ketakutan akibat perbuatannya sendiri.
__ADS_1