Velyn Love

Velyn Love
Sehari setelah menikah


__ADS_3

Velyn masuk kedalam kamar tamu, ia menyandarkan punggungnya tepat pada pintu yang baru saja ia kunci. Velyn memerosotkan tubuhnya, ia memeluk lututnya seraya menumpahkan air matanya. Kenapa nasibnya begitu pilu? apakah Velyn pernah menyakiti seseorang hingga kini datang karmanya? atau ini hanyalah sebuah cobaan dari Tuhan?.


Belum selesai satu masalah, dan kini timbul masalah lainnya. Setelah dirinya berniat menerima Valdo apa adanya, ternyata dirinya baru mengetahui bahwa Velyn hanyalah seorang pengganti.


Namun tak apa, itu juga pilihan Valdo. Sejujurnya ia sudah mulai merasakan perasaan lebih terhadap pria yang kini sah menjadi suaminya itu. Namun kini hatinya seperti dihancurkan berkali-kali lipat oleh pria yang paling ia percayai.


"Aku pikir kakak memang udah berubah, tapi ternyata aku salah. Kak Valdo, kenapa kamu mengecewakan kepercayaan aku kak? apa karena kakak cuma kasian sama kehidupan aku?" isak Velyn seraya menyeka air matanya.


Velyn mencoba untuk bangkit, kakinya yang semula lemas kini dengan tegar berdiri bersama kekuatannya yang tersisa. Ia menjatuhkan dirinya diatas kasur, menenggelamkan wajahnya diantara bantal.


Disaat Velyn butuh sandaran, disaat gadis itu butuh motivasi dan semangat. Kini semuanya seolah luntur begitu saja. Harapan sederhana, dan juga keinginan ayahnya kini semuanya rapuh bersamaan dengan surat kontrak pernikahan yang Valdo berikan untuknya.


"Maafin Velyn yah, Velyn udah ngecewain ayah. Dimalam pertama Velyn menikah, Velyn sudah mendapatkan hadiah berupa talak satu dari kak Valdo. Maafin Velyn ayah nggak bisa memenuhi harapan ayah" gumam Velyn seraya memeluk erat guling berwarna putih itu begitu erat.


***


Suara alarm membuat pria yang kini tengah tertidur pulas itu menggeliat, mencoba menggerayangi nakasnya seraya segera mematikan jam beker yang terus berbunyi tanpa henti.


Buru-buru pria itu bangun, mengacak rambutnya yang berantakan seraya mengumpulkan nyawanya yang menghilang. Kini perhatian Valdo tertuju pada setelan kemeja dan jas kantor yang menggantung didepan cermin begitu rapi. Ia tidak ingat meletakkannya disitu, namun Valdo mengabaikannya, masa bodoh lah yang penting kali ini ia harus cepat-cepat mandi dan bersiap untuk kekantor. Setelah selesai dengan acara mandinya, pria itu kini hendak meraih dasi yang menggantung dihadapannya tepat didepan cermin yang memantulkan tubuh Valdo saat ini.


Tok tok tok


Belum sempat tangannya bergerak sebuah ketukan mengejutkannya dan membuat Valdo menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Kak, udah siap-siap ya? aku bawain teh nih" suara lembut tersebut membuat Valdo semakin merasa bersalah saja. Valdo kemudian menghela nafasnya seraya agak berteriak memanggil nama Velyn.


"Masuk aja! pintunya nggak aku kunci" ujarnya dan setelah itu terdengar suara engsel pintu yang bergerak.

__ADS_1


Velyn berdiri diambang pintu, ia menatap suaminya dengan seksama. Pakaian yang telah ia siapkan akhirnya ia pakai juga. Velyn melangkah mendekat, ia meletakkan teh yang berada ditangannya diatas nakas kamar Valdo.


"Biar aku bantu pakein dasi" ucap Velyn seraya melangkah mendekat saat menerima persetujuan dari anggukan Valdo padanya.


Velyn bergerak memakaikan dasi berwarna oranye itu pada kerah Valdo, pria itu dapat melihat dengan jelas wajah Velyn yang begitu dekat. Hangat dan nyaman, pandangan matanya teduh seperti tanpa beban.


"Maaf kak, tadi aku masuk kamar kak Valdo tanpa izin. Aku cuma mau siapin baju kantor kakak aja, takut bangunin kamu, jadi aku langsung masuk. Kalo kakak nggak suka-"


"Nggak apa-apa, kamu boleh kok keluar masuk kamar aku. Sebenarnya kan ini kamar kamu juga" kata Valdo membuat Velyn yang kini telah selesai memakaikan dasi hanya bisa tersenyum lembut seraya mengangguk.


Velyn kembali melangkahkan kakinya, ia mengambilkan teh untuk suaminya dan menyuruh Valdo untuk duduk ditepi ranjang. Velyn ikut duduk, namun ia enggan mendekat, bisa dibilang jarak mereka kini hampir satu meter kala Velyn menunggu Valdo untuk menghabiskan teh-nya.


Velyn menatap lamat-lamat kamar ini, ia menatap kesamping disebelah jendela. Baru sadar jika foto pernikahan antara Valdo dan mantan istrinya terpajang disana. Padahal pagi tadi ia sama sekali tak memperhatikan. Sejujurnya hati Velyn sedikit ngilu melihat pemandangan itu, namun apa haknya untuk menuntut. Velyn menghela nafasnya seraya memejamkan matanya dalam-dalam.


"Lyn" Velyn tersadar dalam lamunannya, ia tersentak seraya meraih cangkir yang diberikan Valdo padanya. Ia buru-buru bangkit dan pergi begitu saja.


Valdo menggeleng, ia buru-buru mengambil tas kerjanya seraya melangkah keluar kamar. Tanpa disadari aroma masakan yang berbeda dari biasanya membuat indera penciumannya meningkat tajam. Velyn terlihat tengah menata sarapan dibawah sana, ia juga bercengkrama sedikit dengan Santi pembantu rumahnya.


"Nyonya udah biar saya saja, nanti nonya telat loh" ujar Santi yang kini hendak meraih piring yang disiapkan oleh Velyn. Velyn menggeleng, ia tampak memang begitu berniat mempersiapkan ini semua sendiri.


Tanpa sadar Valdo menyunggingkan senyum tipis diwajahnya. Memperhatikan Velyn yang tetap kekeuh saat Santi tidak enak hati membiarkan gadis itu menggantikan tugasnya.


"Mbak Santi, aku kan udah bilang, tugas kamu sekarang cuma bersih-bersih aja. Mulai sekarang, aku yang bakal masak sama nyiapin makan" tutur Velyn menbuat Santi menggaruk tengkuknya. Bagaimana tidak sungkan jika jelas-jelas Velyn adalah nyonya dirumah ini dan ia dengan senang hati tanpa sengaja membantu tugas Santi. Bisa-bisa tuannya nanti marah kalau mengetahui hal ini.


"Aduh tapi nyonya, nanti tuan-"


"Tuan apa?" sela Valdo yang kini berdiri di anak tangga seraya menajamkan matanya menatap Santi yang kini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Mbak Santi nggak apa-apa kok, mulai sekarang tugas masak itu biar aku yang nanganin. Kalau mbak Santi nggak enak, mbak bantuin aku aja ya. Nggak apa-apa kan kak?" tanya Velyn seraya tersenyum pada Valdo yang kini melangkah dan duduk tepat disamping Velyn berdiri.


"Nggak masalah kok" jawabnya membuat Velyn tersenyum berbinar seraya memberikan kode pada Santi agar dirinya tidak khawatir.


"Ya, ya udah deh kalo gitu, tapi kalo nyonya Velyn capek atau lagi keluar biar saya aja yang nanganin semuanya" sambung Santi membuat Velyn menepuk pundak wanita yang lebih tua beberapa tahun dari Velyn itu seraya tersenyum ramah.


"Boleh kok mbak" Santi akhirnya pamit untuk kebelakang, sedangkan Velyn kini beralih mengambilkan piring untuk Valdo sarapan.


"Kamu masak apa?"


"Nasi goreng aja kak" ujar Velyn singkat seraya mengambilkan beberapa centong nasi goreng untuk suaminya.


Valdo sempat tertegun, hanya nasi goreng saja tapi wanginya sampai membuat Valdo terbangun dari nyawanya yang sedikit menghilang di pagi hari. Valdo benar-benar tidak sabar ingin mencicipi bagaimana enaknya masakan Velyn. Mengingat ia pernah memberinya cupcakes yang begitu lezat, Valdo sampai tak pernah membayangkan bagaimana enaknya masakan Velyn lainnya.


"Makasih" ucapnya singkat kala Velyn memberikan piring putih berisikan nasi goreng dengan taburan bawang goreng diatasnya.


Velyn mengangguk, ia duduk disamping Valdo seraya menunggunya makan. Pria disampingnya ini benar-benar tampan, jika saja pernikahan ini bukanlah sebuah perjanjian saja. Pasti akan sangat menyenangkan jika ia dengan tulus mencintai dan dicintai orang seperti Valdo.


Wanita yang menjadi istri Valdo sebelumnya itu, dia begitu beruntung. Valdo sampai mencintainya seperti ini, Velyn sangat bersyukur karena disisa hidupnya, ia bisa menjalani kehidupan pernikahan yang pernah ia inginkan. Meskipun ini semua hanyalah palsu dan hanya angan Velyn semata untuk merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


'Lebih baik kaya gini, kak Valdo bisa kembali sama mantan kamu, dan aku nggak perlu capek-capek buat cari jalan agar bisa buat kamu bahagia tanpa aku' gumam Velyn dalam batinnya seraya masih menatap Valdo yang menyantap nasi gorengnya dengan lahap.


"Kamu kok nggak makan?" tanya Valdo yang kini membuat mata Velyn membulat dan membuyarkan lamunannya. Gadis itu buru-buru menggeleng, ia memang sengaja untuk sarapan nanti saja setelah Valdo selesai makan.


"Nanti aja kak, belum lapar kok" kata Velyn membuat Valdo masih mengunyah nasi goreng dimulutnya dengan cepat.


" Masakan kamu enak, makasih ya" Velyn mengangguk lemah, dipuji seperti ini saja jantungnya merasa berdebar. Alangkah baiknya jika Velyn tidak lagi berharap lebih pada pria satu ini.

__ADS_1


__ADS_2