Velyn Love

Velyn Love
Maaf


__ADS_3

"Aku mau ke kamar Nino dulu sebelum berangkat ke kampus" pamit Velyn seraya bangkit saat hendak meninggalkan Valdo sarapan yang hanya bersisa beberapa sendok saja.


"Lyn!" Valdo menarik lengan Velyn membuat langkah gadis itu terhenti. Velyn mengernyit, ia menatap Valdo yang kini bangkit seraya segera meneguk air putih dihadapannya.


"Lyn, aku mau ngomong sesuatu sama kamu" entah mengapa saat Valdo mengatakan demikian, rasanya jantung gadis itu berdetak tak karuan. Ia hanya takut tiba-tiba Valdo menceraikannya atau berniat meninggalkan Velyn begitu saja.


Selama ini, Velyn hanya ingin menjadi seorang istri yang berbakti. Walaupun tidak mendapat cinta maupun nafkah batin, tapi setidaknya keinginannya terpenuhi.


"Ada apa?" tanya Velyn seraya mengangkat pandangannya.


"Aku mohon, kalau kita di depan Nino kita baik-baik ya. Jangan sampai Nino curiga kalau kita ada masalah"


"Memangnya diantara kita ada masalah ya kak? aku nggak ada masalah kok sama kakak," mata Valdo memejam erat, ia menatap binar dimata Velyn yang tengah sedikit termakan emosi. Hal ini wajar, karena Valdo yang memulainya.


"Aku ijinin kamu buat cari pengganti aku setelah kita cerai nanti. Aku nggak akan halangi kamu kalau kamu mau nikah lagi sebelum kontrak surat itu berakhir. Begitupun sebaliknya, aku akan jalani ini sama mantan istri aku, biar kita sama-sama impas. Tapi jangan ada yang sampai tau masalah ini" Velyn menghempaskan tangannya, ia menatap Valdo dengan pandangan kesal. Pasti Velyn sudah gila jika ia termakan penampilan dari suaminya ini.

__ADS_1


Jelas-jelas semalam ia sudah dikecewakan, namun Velyn masih tetap saja mendambakan hatinya. Lebih baik ia menjauh saja dari Valdo, tugasnya hanya sebagai istri bukan? tidak lebih. Jika diluar anggap saja ia masih single, begitu kan pikiran Valdo tadi.


"Kak Valdo bener, selain menjalankan tugas aku sebagai istri aku juga nggak berhak ngatur kehidupan pribadi kamu. Tapi bukan kamu juga yang berhak ngatur aku" ujar Velyn seraya melangkah, menerobos tubuh Valdo yang kini tampak terduduk lemas seraya menghela nafasnya.


Velyn menaiki anak tangga, ia mengabaikan Valdo yang entah saat ini berfikir soal apa. Rasanya Velyn benar-benar salah menilai Valdo selama ini, mana Valdo yang sesungguhnya ia sendiri tidak tau. Kalau saja keadaannya tidak seperti saat ini, dan Velyn tidak memiliki riwayat penyakit kanker. Bisa jadi semalam Velyn benar-benar dengan bodoh menumpahkan perasaannya dan memohon pada suaminya atau tidak akan pernah menandatangani kontrak itu.


Velyn perlahan membuka pintu kamar Nino, ia menatap bocah tampan yang kini tengah terlelap dalam mimpinya. Langkahnya mendekat, ia meraih rambut hitam miliknya. Benar-benar seperti malaikat.


"Nino, andaikan mama ini mama kandung kamu nak. Mungkin mama masih punya kesempatan dan keinginan untuk bangkit. Tapi Nino tenang aja, sebentar lagi mama kandung kamu pasti akan kembali, kalian bakal jadi keluarga bahagia" Velyn kini bangkit, air matanya yang hendak jatuh ia tahan begitu saja. Meskipun Nino bukan anak kandungnya, tapi Velyn begitu sayang padanya.


Velyn membuang muka, ia hanya berharap semoga Valdo tidak mendengar apa yang ia katakan barusan. Jika Valdo terlanjur mendengarnya, ia hanya berharap jika suaminya itu tidak mengerti apa maksud yang tersirat dalam setiap kalimatnya.


Velyn melangkah, menerobos tubuh Valdo yang kini tampak menatapnya. Langkahnya buru-buru hendak berangkat saja, daripada hatinya semakin memanas jika mendengar setiap kata menyakitkan dari mulut pria tak berperasaan ini.


"Velyn, maaf!" kedua lengan Valdo memeluk erat tubuh Velyn yang kini menegang. Terpaku pada pria yang kini tiba-tiba memeluknya dari belakang. Membisikkan kata 'maaf' yang membuat mata Velyn membulat.

__ADS_1


"Kenapa kakak minta maaf sama aku, kakak seharusnya minta maaf sama orangtuaku. Seharusnya kalau kakak masih cinta sama mantan istri kamu, kamu nggak perlu ceraikan dia, dan kamu nggak perlu nerima perjodohan ini"


"Lyn, sebenarnya aku cuma perduli sama kebahagiaan Nino. Aku terpaksa nikah sama kamu, supaya kehidupan Nino terjamin, papa bilang dia bakal mewariskan seluruh hartanya pada Nino kalau aku bersedia nikah sama kamu. Maaf, aku nggak jujur sama kamu Lyn!"


"Jadi aku cuma pion bagi kamu, aku cuma kamu manfaatin aja. Kak, aku bener-bener kecewa sama kamu"


"Lyn!" Velyn mencoba memberontak, ia melepaskan diri dari pelukan Valdo yang membuat hatinya tambah sakit saja.


"Cukup kak! kakak nggak perlu pura-pura baik sama aku lagi! kamu nggak perlu pura-pura peduli karena nyatanya kita nikah cuma buat menuhin tujuan kamu" entah mengapa mendengar perkataan Velyn demikian membuat hati Valdo remuk. Memang kata-katanya tadi begitu menyakitkan, tapi itu ia lakukan agar Velyn tidak lebih merasa sakit lagi jika nanti ia mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Valdo tau, di malam pertama mereka yang seharusnya menjadi malam terindah baginya, malah menjadi malam kelam dengan tertulisnya sebuah perjanjian. Velyn pasti sangat sakit dengan hal itu. Harapannya sebelum menikah, impiannya ketika telah masuk dalam kehidupan Valdo ia hancurkan begitu saja hanya karena egonya.


Velyn melangkahkan kakinya kasar turun dari lantai atas. Ia meneguhkan hatinya agar tidak mudah rapuh dan luluh. Velyn benar-benar tidak menyangka jika Valdo mengatakan hal yang membuat dirinya semakin kecewa dan benci padanya.


"Maaf Lyn, tapi aku nggak bisa mengabaikan Lisa begitu aja. Karena dia masih tanggung jawab aku, dia juga nggak punya siapa-siapa Lyn, cuma aku yang dia punya saat ini" gumam Valdo yang kini mengintip kepergian Velyn dari dalam rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2