
Jam menunjukkan pukul 06.30, masih terlalu awal untuk mengakhiri pagi. Gadis itu dengan santainya melangkah dan menengok beberapa orang yang berlalu lalang. Semakin lama, tempat tersebut semakin ramai, taman yang awalnya digunakan untuk olahraga pagi, ketika menginjak siang berganti menjadi tempat santai, maupun piknik kecil bersama keluarga.
Maklum, weekend adalah waktu yang tepat untuk menghabiskan sejenak rasa lelah setelah setiap hari bekerja, sekaligus berkumpul bersama keluarga tercinta.
"Mama" suara kecil itu mendadak membuat langkah Velyn terhenti. Sebuah jemari kecil menarik jaketnya, belum sempat gadis itu sampai disebuah stand minuman ia membalikkan tubuhnya dan menatap pria tampan kecil yang kini mendongak dan tersenyum kearahnya.
"Hay, nama kamu siapa?" kata Velyn yang kini mulai membungkuk untuk mendekatkan wajahnya kearah bocah yang kini masih enggan melepaskan jaket gadis itu.
"Nio, mama" ujarnya membuat Velyn menatap sekitar, gadis itu memperhatikan sekitarnya yang bahkan memang tidak ada yang memperhatikan bocah kecil itu. Bocah yang kira-kira berusia 2-3 tahunan, kini memanggilnya dengan sebutan mama. Dengan terpaksa Velyn menggendong bocah itu.
"Kamu mau es krim? mama kamu dimana? kamu sendiri ya?" pertanyaan itu tak digubris oleh bocah kecil itu yang tanpa sungkan mencium pipi Velyn, membuat gadis itu tertegun seraya menatap bocah tampan itu tak percaya.
"Sayang, kamu masih kecil genit ya?" ujar Velyn seraya mencubit pipinya. Sejujurnya gadis itu juga sangat menyukai anak-anak, seperti inilah mimpi Velyn nantinya, jika saja yang dipanggilnya mama adalah dirinya sungguhan pasti dia akan sangat beruntung. Membayangkan jika mempunyai buah hati dan punya suami yang bertanggungjawab, ia tak bisa memikirkan hal demikian.
Bocah kecil itu menunjuk beberapa snak yang tergantung di stand tersebut, namun Velyn menggeleng, ia lebih memilih untuk memberikan susu khusus untuk anak-anak agar bocah itu tidak sembarang jajan.
"Ini buat nio" ujar Velyn seraya memberikan susu kotak kusus untuk balita padanya.
"Mama" ujarnya lagi membuat Velyn menahan tawanya. Gadis itu kemudian berniat untuk kembali, mungkin saja kini Andra tengah menunggunya sedari tadi.
Namun ketika gadis itu membalikkan tubuhnya ia dikejutkan oleh tatapan dingin dari seorang pria yang kini segera meraih bocah kecil itu dari gendongannya.
Velyn hanya terdiam, rasa sesak di dadanya membuat gadis itu bungkam seribu bahasa. Bahkan pria itu kini membalikkan tubuhnya seraya bergumam pelan pada bocah kecil tadi yang sempat merengek memanggil Velyn dengan sebutan mama.
__ADS_1
"Mama, nio mau mama" seru bocah itu yang masih terdengar jelas ditelinga Velyn.
Pria itu menghentikan langkahnya sejenak, ia merebut susu yang diberikan Velyn tadi dan membuangnya tepat ditempat sampah yang berada disisi kiri tubuhnya.
"Nino, lain kalau bertemu orang asing jangan mau menerima barang apapun! dia bukan mama kamu, dan kamu, lebih baik menjauh dari anak saya" ujar pria itu seraya pergi menjauh dari pandangan Velyn.
Velyn hanya mampu mematung, matanya hendak menitikkan air mata, namun ia harus menahannya. Walau bagaimanapun, itu hanyalah masa lalu, masa lalu yang kelam dan penuh dengan luka. Velyn mengusap wajahnya kasar, bahkan kini ia tak sadar air matanya menetes deras dipipinya.
***
Langkah Velyn kini dengan cepat memasuki rumahnya, tanpa ia sadari bahkan kedua orang tuanya menatap gadis itu dengan pandangan aneh karena tidak biasanya Velyn bersikap dingin dan buru-buru masuk kedalam kamarnya.
"Lyn sarapan dulu nak" teriak Malia yang tak mendapat respon sedikitpun dari gadis itu yang tiba-tiba menerobos melaluinya.
"Kenapa kak? kenapa kamu berubah? aku salah apa sama kamu? hanya karena aku dulu gendut dan jelek, kamu sampai membuat kedua orang tua kita berjarak. Aku terima semua yang kamu lakukan ke aku kak, tapi apa yang kamu lakukan udah buat orang tua aku ikut sedih."
Isak Velyn yang kini melemparkan buku itu kesembarang tempat. Sejujurnya Velyn tak pernah menyimpan dendam pada pria itu, namun ia sendiri tak tau apa yang membuat kebencian Valdo membara padanya.
Velyn mulai menghapus jejak air matanya, ia mengingat kembali ketika Nino memanggilnya dengan sebutan mama, lalu tiba-tiba Valdo datang dan membuang susu pemberiannya dari tangan pria kecil itu.
Velyn kini beralih memeluk bonekanya, ia masih enggan untuk mengatakan sesuatu meskipun hatinya begitu sakit. Dingin menjalar ditubuhnya, beserta helaan nafas yang ia rasakan.
Setelah selesai mandi, gadis itu turun dari kamarnya, ia berinisiatif untuk sarapan
__ADS_1
meskipun kenyataannya ia harus sendirian. Bagaimanapun sebagai anak yang baik, ia akan selalu menghargai sarapan yang dibuat oleh bundanya dengan penuh cinta.
Perlahan gadis itu membuka tudung saji yang berada diruang makan. Ia tersenyum melihat pemandangan nasi goreng kesukaannya yang kini terpampang masih hangat diatas meja. Velyn beralih duduk, belum sempat ia memakan nasi goreng itu, sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.
"Eh, bunda" ujarnya seraya tersenyum dan melirik nasi goreng yang berada ditangannya.
"Makan nak, kamu belum sarapan kan?" pertanyaan itu membuat Velyn mengangguk. Malia beralih duduk, ia menatap putrinya menyantap sarapannya dengan lahapnya.
"Enak?" tanya Malia, disusul dengan senyuman dan anggukan Velyn ditengah-tengah kunyahannya. Malia menyentuh rambut putrinya dengan lembut, rambut hitam legam Velyn dari dulu sampai sekarang yang tidak pernah berubah.
"Bun, Velyn mau kasih tau sesuatu sama bunda" seru Velyn yang kini mulai menatap Malia dengan tatapan seriusnya. Namun berbeda dengan Malia yang kini seolah membuang muka dan hendak bangkit dari duduknya.
"Bun, kenapa bunda menghindar? apa ayah udah cerita ya soal yang tadi malam?" pertanyaan itu tak dapat dijawab oleh Malia, yang ada wanita itu malah bangkit membuat Velyn mengikuti bundanya. Jemari Velyn menyentuh lengan Malia, entah mengapa orang tuanya seperti menghindar dengan apa yang hendak Velyn utarakan.
"Bunda ingat kan dosen Velyn yang kemarin jemput Velyn itu? dia mau ngelamar Velyn bun" ucapan Velyn membuat sang bunda hanya terdiam, Malia kini beralih membalikkan tubuhnya untuk menatap putri tercintanya. Wanita itu menghela nafasnya dan mengerjapkan pandangannya kearah Velyn yang kini menatapnya dengan penuh harap.
"Maafin bunda Lyn, tapi bunda dan ayah nggak setuju" perkataan Malia membuat Velyn membelalakkan matanya tak percaya. Bahkan matanya kini mulai berkaca oleh penolakan bundanya yang begitu tiba-tiba.
"Kenapa? apa menurut bunda pak Andra bukan pria baik? aku liat bunda seneng dan suka kok sama dia? kenapa bunda dan ayah nggak setuju?" tak terasa air mata Velyn menetes. Hal apa lagi yang menghalangi tujuannya kali ini, rasanya ingin sekali Velyn membawa Andra untuk datang menemui orang tuanya.
"Lyn dengerin bunda dulu, bunda sayang sama kamu, tapi Andra bukan orang yang tepat untuk kamu Lyn."
"Tapi kenapa bun? Andra bukan orang yang miskin kok, dia laki-laki baik, keluarganya berpendidikan. Bun please! aku cinta sama Andra" kata Velyn yang kini mulai terisak.
__ADS_1
"Lyn, maafin bunda, tapi bunda punya alasan tersendiri" kata Malia yang kini meninggalkan Velyn merenung dengan tangisannya yang mulai menjadi.