
Setelah curhatan Velyn yang panjang kali lebar tadi, kini Valdo mengajaknya untuk makan siang. Kali ini Velyn yang meminta, dan akhirnya mereka kembali untuk makan dipinggiran jalan seperti kala itu.
Siang-siang terik seperti ini dan tidak ada AC. Gelagat Valdo benar-benar seperti waktu mereka belum menikah dulu, gerah dan menatap langit-langit yang hanya beratapkan terpal. Velyn meraih es teh yang berada dihadapannya seraya menunggu menu lalapan bebek yang masih dipersiapkan oleh si penjual.
Ia melirik Valdo yang kini masih betah mengibaskan tangannya didepan wajah. Memang sepanas itu ya? Velyn saja biasa saja kok.
Namun pikiran Velyn masih dipenuhi dengan Oca. Tega sekali dia sampai mau bersekongkol dengan Angelita untuk mempermalukan dirinya. Bukannya Velyn tidak mau memaafkan, tapi Oca sendiri juga tidak mengatakan sepatah katapun setelah kedoknya terbongkar. Bahkan Oca sendiri sudah tau masalah yang terjadi dalam rumah tangganya yang begitu rumit, masih dengan teganya Oca menambah beban masalahnya hanya demi Andra.
"Sayang, kan aku udah nurutin permintaan kamu buat makan disini, masa masih cemberut gitu sih?" Velyn terhenyak kala jemarinya dipegang erat oleh Valdo. Pikirannya yang melayang itu akhirnya berakhir dengan senyuman Valdo terhadapnya.
Benarkah ini Valdo yang waktu itu? Valdo yang amat membencinya dan berharap dibenci oleh Velyn. Entah mengapa pikiran Velyn terganggu dengan perasaannya sendiri. Sesuatu yang Valdo tunjukkan sekarang adalah ketulusan atau bukan, Velyn masih tidak percaya. Tapi hanya dengan berpura-pura percaya, maka ia akan mendapatkan kenangan terindah sebelum sesuatu terjadi padanya.
Valdo tidak perlu mengetahui perasaannya, dengan begitu ketika Velyn kecewa nantinya, itu akan mudah baginya.
"Kamu masih mikirin temen kamu yang itu ya?" Velyn hanya mengangguk. Ia enggan mengatakan sesuatu tentang Oca, karena memang sudah tidak penting juga.
"Berapa banyak orang yang bakal ninggalin kamu Lyn, tapi bukan aku yang termasuk didalamnya" ucapan Valdo barusan dapat membuat hatinya terharu dan tersentuh. Jemari Valdo bahkan semakin kuat menggenggamnya. Valdo kemudian mengecup punggung tangan Velyn dan tersenyum kearahnya seraya mengusap puncak rambut Velyn dengan lembut.
Makanan yang mereka pesan akhirnya tiba, kini tangan Valdo sudah tidak lagi menyentuh punggung tangan Velyn. Valdo sedikit tersentak dengan kehadiran penjual itu yang tiba-tiba mempersilahkan mereka untuk makan.
"Oh ya, aku punya satu permintaan nih sama kamu" bisik Valdo membuat Velyn mengerutkan keningnya.
"Apa?"
__ADS_1
"Mulai sekarang, jangan panggil aku kak lagi, panggil mas" Velyn menunduk saat matanya mulai membulat sempurna dengan semburat merah yang kini menghiasi pipinya.
'Mas', bahkan Velyn benar-benar tidak terbiasa dengan panggilan itu. Maklum saja, sejak kecil ia selalu memanggil nama Valdo dengan sebutan kak.
"Enggak ah, aku-aku-"
"Malu ya? nggak usah malu gitu sayang, aku suka kalau kamu mau manggil aku mas, aku pengen kamu bener-bener jadi istriku yang seutuhnya" Velyn masih bertahan menunduk, ia meraih gelas dihadapannya dan meminum es teh itu lagi. Tenggorokannya rasanya kering, ia harus menjawab apa kali ini. Sedangkan Valdo sepertinya sudah sangat berharap.
"I-iya deh" senyuman mengembang terukir diwajah Valdo. Akhirnya Velyn mau juga akan permintaannya. Setidaknya ia akan menciptakan hubungan yang lebih harmonis dengan Velyn. Mulai dari panggilan, kebiasaan, dan juga kesabaran Valdo agar perlahan Velyn bisa luluh untuk membalas perasaannya.
"Coba dong, aku pengen denger kamu manggil aku mas" Velyn menggigit bibir bawahnya seraya memutar bola matanya. Kenapa rasanya Valdo seperti ingin mengerjainya saja ya?. Velyn yang hendak menyantap makanan dihadapannya kini jadi semakin tidak fokus saja.
"Nanti aja, kita makan dulu" bujuk Velyn membuat Valdo menunjukkan ekspresi bayinya itu. Ekspresi sok imut yang benar-benar membuat Velyn sedikit kesal, namun juga membuat dirinya menahan diri untuk terkekeh.
"Ayo dong, sekali aja. Please" mohon Valdo seraya memanyunkan bibirnya, membuat Velyn hanya mampu tertawa renyah. Suaminya ini bisa-bisanya memainkan drama lucu seperti ini.
"Mas" suara lembut itu membuat Valdo tersenyum gembira. Seperti mendapatkan uang miliyaran rupiah, tangannya mengepal dan menariknya seperti hadiah kemenangan saja.
"Makasih ya sayang ku"
"Apaan sih kak lebay deh" tawa renyah Velyn pecah melihat tingkah Valdo yang seperti anak kecil saja. Padahal Velyn hanya memanggilnya dengan satu kata itu, dan Valdo sudah bahagia tak terkira.
Apalagi kalau Valdo tau perasaan Velyn yang sesungguhnya. Velyn menggeleng, kali ini ia hanya ingin makan, perutnya sudah minta diisi semenjak tadi.
__ADS_1
***
Setelah sampai rumah kini Valdo membukakan pintu mobil untuk Velyn. Tak lupa ia juga menggandeng tangan Velyn saat hendak masuk kedalam rumah. Valdo tersenyum padanya membuat hati Velyn terasa hangat akan perasaannya.
Saat masuk kedalam rumah pun ketika mereka melewati ruang tamu, Velyn selalu melirik foto besar yang terpampang disana. Foto keduanya saat menjalani sesi pemotretan prewedding.
Saat Velyn hendak melangkah lagi tiba-tiba Valdo menghentikan langkahnya. Membuat mata Velyn menyipit.
"Kenapa kak?" tanya Velyn membuat Valdo menarik lengannya dan menggendongnya ala bridal style.
"Ah! kak Valdo apa-apaan sih" saking terkejutnya Velyn sampai berteriak, membuat pria itu hanya bisa terkekeh. Valdo berjalan kearah sofa, ia duduk disana bersamaan dengan Velyn yang sengaja ia turunkan dalam pangkuannya.
Sekali-kali Valdo juga ingin bermesraan dengan istrinya, pumpung rumah sepi dan Nino di jam seperti ini masih tidur. Velyn mengernyit, ia hendak bangkit namun pergerakannya ditahan oleh pria satu ini.
"Kak"
"Kamu manggil aku apa heumm?" Velyn membulatkan matanya. Memang ia bukan sengaja, tapi tidak terbiasa dengan panggilan baru yang diminta suaminya. Velyn menunduk, ia masih bertahan mengalungkan tangannya diantara leher Valdo.
"Mas, maaf aku lupa" gumam Velyn membuat senyuman Valdo mengembang. Velyn tersipu, ia menyembunyikan senyuman manis itu dari Valdo yang kini semakin menyeringai untuk menyentuh dagu Velyn dan mengangkat pandangannya.
"Wajah kamu merah ya, cantik banget sih istriku" Velyn memukul dada bidang Valdo. Apa-apaan suaminya ini, ia berhasil menggoda Velyn dan membuatnya memanyunkan bibirnya, serta kakinya sudah terhentak-hentak dalam pangkuannya.
"Ih kak Valdo!"
__ADS_1
"Apa? kamu bilang apa?" Velyn menutup mulutnya seraya menenggelamkan wajahnya diantara dada bidang Valdo.
"Mas, mas Valdo!" kenapa Velyn seperti kucing liar saja saat ini. Bahkan sebelumnya ia tsk berani untuk terlalu dekat dengan suaminya. Tapi lihatlah, dirinya malah dengan manja bersembunyi dibalik dada bidang Valdo membuat pria itu tertawa renyah serays mencium kening Velyn dengan gemas.