
Setelah pembahasan malam itu, kini Velyn maupun Valdo enggan membahas masalah itu lagi. Bagi mereka biarkan takdir berjalan dengan semestinya. Semesta punya rencananya sendiri termasuk mengatur kehidupan Velyn yang penuh dengan lika-liku.
Semenjak Velyn masuk ke universitasnya yang baru, ia jadi tambah disibukkan dengan tugas-tugas yang ada. Rasanya tubuhnya mau remuk saja kala ia merasakan panas di area matanya. Bagaimana tidak, universitas yang dipilihkan Valdo memang universitas terbaik, hingga menuntut para mahasiswanya yang harus lebih disiplin. Tugas yang banyak dan menumpuk seperti sarapan dan makan siang bagi mahasiswa yang kuliah disana. Bahkan kini menjadi santapan makan malam untuknya.
Seharian saat liburan adalah waktu yang tepat untuk bermesraan bersama laptop kesayangannya. Berulangkali Velyn mengucek matanya, kala matanya terasa pedas menatap layar laptop yang tiada henti menjadi teman setia baginya.
"Sayang, tidur yuk!" ajak Valdo yang kini sudah siap dengan piyama yang ia kenakan seraya menyentuh punggung Velyn.
"Tugas aku itu masih banyak mas, kayanya kamu tau sendiri deh! orang kamu alumni" Valdo terkekeh, meskipun dia adalah alumni dari kampus yang sekarang Velyn masuki, tapi Valdo tidak serajin itu juga. Kepribadiannya yang bandel dulu namun sangat cerdas membuatnya mampu menyusul nilai yang ketinggalan jauh saat dirinya sering bolos kuliah.
"Ya udahlah biarin aja, yang penting kamu istirahat dulu. Ini udah malam lo" bujuk Valdo sekali lagi membuat Velyn menggeleng tanpa memperdulikan kata-kata Valdo.
Meskipun Velyn adalah mahasiswa baru, tapi ia juga harus membuktikan prestasinya. Ia tak mau di cap sebagai anak pindahan yang suka bermalas-malasan. Tidak, itu bukan diri Velyn yang sesungguhnya. Yah meskipun Velyn tidak pandai-pandai amat, tapi setidaknya ia di cap sebagai murid yang teladan.
"Kamu tuh ngerjain tugas kaya ikut Belanda aja, disuruh kerja paksa mulu. Nanti kalau kecapean kamu bisa sakit loh" tukas Valdo membuat darah Velyn naik saja. Ia melotot menatap Valdo yang sedikit memundurkan tubuhnya.
"Ini semua juga salah kamu main mindahin aku ke universitas yang baru! bagus sih bagus, coba kalo udah kayak gini! aku tuh juga capek tau!" omel Velyn tanpa henti membuat Valdo hanya mampu terdiam seribu bahasa. Sudah berapa kali dalam seminggu ini istrinya selalu mengomel tiap kali ia mengerjakan tugas yang seperti prahara dalam kehidupan tenangnya.
Sebenarnya Valdo sendiri tidak berfikir sampai sejauh itu. Bahkan tidak bisa dihitung, berapa kali dalam sehari Velyn selalu mengeluh dengan tugas yang selalu menumpuk. Baiklah, lain kali Valdo akan menyogok pihak kampus untuk mengurangi tugas, sehingga Velyn bisa istirahat dengan tenang.
Velyn yang sudah puas mengomel kini akhirnya membalikkan tubuhnya. Ia merasa kesal sekali pada suaminya ini. Entah mengapa beberapa hari ini Velyn sedikit mudah termakan emosi. Rasanya ia ingin sekali memakan bulat-bulat Valdo saat mengingat kelakuan jahilnya itu.
"Ya udah, ya udah, aku istirahat dulu ya sayang, jangan dipaksain lo kalo udah capek banget" tutur Valdo dengan lembut seraya menggaruk rambutnya. Ia melangkah menuju ranjang dan menarik selimut, menatap punggung istrinya yang kini masih sibuk mengetik tugasnya yang masih bersisa setengah itu.
__ADS_1
Sebenarnya Valdo sendiri tidak tega, ia tersenyum penuh arti ketika menatap Velyn yang masih berkutat itu. Kenapa istrinya ini semakin galak saja? benar-benar membuat Valdo kadang bisa terkekeh sendiri membayangkannya. Dulu Velyn tidak pernah seperti ini, apalagi panggilan mas itu yang selalu keluar dari mulutnya, membuat Valdo benar-benar tergoda untuk menaklukkan Velyn diatas ranjang.
Setelah dua jam berlalu, kini mata Velyn sudah tidak kuat lagi. Ia akhirnya tertidur di meja belajarnya yang tak jauh dari ranjang dimana Valdo diam-diam mengintip. Valdo memang sengaja untuk tidak tidur sedari tadi, ia hanya pura-pura saja agar Velyn tidak mengkhawatirkannya.
Setelah lima menit Velyn tertidur didepan layar laptopnya, kini gantian Valdo yang menggendong tubuh Velyn dan membaringkannya di ranjang.
Setelah menyelimuti tubuh istrinya, kini Valdo kembali dan melangkah kearah meja belajar Velyn. Mengotak-atiknya dengan satu kecepatan tinggi. Mau bagaimanapun juga ini semua adalah salahnya, masih ada kesempatan bagi Valdo mencari celah agar Velyn mau membalas budi nantinya setelah Valdo menyelesaikan tugas-tugasnya.
***
Mentari pagi menyilaukan mata Velyn, berkas-berkas cahaya mengusik matanya yang terasa berat oleh kantuknya. Namun setelah ia menggeliat, rasanya ia baru sadar sesuatu. Velyn membuka matanya lebar-lebar. Astaga! apa yang dia lakukan?!.
Velyn segera bangkit dan duduk dari ranjangnya, ia bahkan baru sadar jika Valdo ternyata sudah memindahkannya kemari. Tapi bagaimana dengan tugasnya?.
Bagaimana tidak? tugas-tugas Velyn yang belum ia ketik itu masih bersisa setengah, tapi kini secara misterius selesai begitu saja. Tuhan benar-benar menyayanginya kali ini.
"Aaaa tugas aku selesai!" teriak Velyn kegirangan membuat Valdo tersentak dan terbangun dari tidurnya yang nyaman. Ia menggaruk tengkuknya seraya menatap Velyn dengan senyuman mengembang.
"Iyalah, suamimu ini yang ngerjain" ujar Valdo seraya menguap dan menatap Velyn penuh kemenangan. Hanya seperti itu saja Velyn sudah sangat bahagia. Apalagi kalau tiap hari ia yang mengerjakan tugasnya.
"Yang bener?! kamu mas yang ngerjain tugas ku? aku pikir keajaiban" seru Velyn seraya tersenyum penuh semangat dan terkekeh sendiri. Padahal semalam ia sudah berkata kasar pada suaminya satu itu. Tak disangkanya ditengah lelapnya Velyn tertidur, Valdo masih sempat untuk membantu mengerjakan tugasnya yang kian menggunung.
"Keajaiban apa? kamu pikir aku ngelakuin itu secara gratis apa. Ada imbalan disetiap perbuatan" senyum Valdo penuh kejahilan itu membuat Velyn mengerucutkan bibirnya sebal. Benar-benar keterlaluan sekali suaminya satu ini.
__ADS_1
"Kamu nggak ikhlas deh!" kesal Velyn seraya menekuk-nekuk wajahnya membuat Valdo menyeringai dan mengisyaratkan Velyn agar mendekat kearahnya.
"Sini dong cantik, jangan ngambek gitu. Nanti aku cium loh" Velyn melangkah dengan kesal. Mau apa lagi suaminya satu ini? kalau minta aneh-aneh Velyn pasti tidak akan mau melakukannya.
Dengan terpaksa ia naik keatas ranjang dan mendekat, membuat Valdo tersenyum penuh kemenangan seraya menarik lengannya membuat Velyn ambruk dibawahnya.
"Mas!"
"Ssst, aku mau minta jatah, itu aja kok" Velyn membulatkan matanya, pipinya memerah mendengar suara Valdo yang begitu sensual terdengar ditelinganya.
Perlahan Valdo mencium bibir Velyn, ia melepaskan satu persatu kancing piyama yang dikenakan Velyn. Ciumannya mendarat semakin kebawah, membuat Velyn hanya bisa memanggil nama Valdo dengan begitu bergairah.
"Uh, mas-Valdo" hanya dengan kata itu dapat menaikkan birahi Valdo yang membuat tubuhnya semakin memanas.
Valdo dengan cepat melepaskan pakaiannya, memperlihatkan tubuhnya yang begitu atletis sempurna, ia kemudian mencium bibir Velyn lagi, menyesapnya dengan ganas.
"Sentuh tubuh aku sayang" bisikan Valdo mamou membuat wajah Velyn begitu memerah. Ia kemudian perlahan menyentuh dada bidang Valdo yang begitu seksi itu.
Valdo benar-benar tidak tahan, ia langsung saja menanggalkan semua pakaian Velyn, dan sekaligus membuka CD nya. Namun dahi Valdo mengernyit, ia menatap Velyn yang sepertinya heran dengan gerakan Valdo yang terhenti.
"Kenapa mas?"
"Kamu datang bulan sayang"
__ADS_1