
Setelah hari yang melelahkan untuknya kini Velyn akhirnya bisa bernafas lega. Ingin rasanya ia bersantai sejenak kala ia masih dengan asik merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya yang empuk.
Tidak lama setelah itu suara langkah kaki terdengar menggema ditelinganya. Benar saja Valdo sudah pulang dijam seperti ini. Tumben sekali.
"Mas, tumben pulang jam segini?" tanya Velyn seraya bangkit dan duduk di ranjangnya. Padahal ini baru jam empat sore, biasanya bahkan Valdo bisa sampai jam tujuh malam baru kembali ke rumah.
"Besok aku ada dinas ke luar kota jadi hari ini pulang agak awalan" Velyn beranjak berdiri ketika Valdo mendekat. Ia meraih tas Valdo dan meletakkannya di meja belajarnya. Tak lupa Velyn juga mencoba untuk melepaskan dasi yang dikenakan suaminya itu.
"Berapa hari?" tanya Velyn dengan wajahnya yang sedikit murung itu. Valdo hanya bisa mengulas senyum. Ia meraih dagu Velyn dan mengangkat pandangannya hingga mata mereka bertemu.
"Cuma tiga hari kok sayang, kenapa? kok cemberut gitu? kamu pasti bakalan kangen kan sama aku?" Velyn hanya bisa mengerucutkan bibirnya sebal. Mulai lagi gombalan pria ini. Meski memang sejujurnya apa yang dikatakan Valdo ada benarnya tapi ia tak mungkin mengakuinya. Gengsi.
"Siapa bilang aku kangen. Enggak kok!" seru Velyn seraya menanggalkan dasi Valdo dan menggantungnya didalam lemari.
Kenapa juga Velyn harus berbohong seperti itu?, semakin ia berkata tidak, semakin terlihat jelas nada dan raut kebohongan pada dirinya.
"Masa sih? tapi nanti kalo aku udah pulang kita bisa-"
"Bisa apa?!" belum sempat melanjutkan perkataannya yang menggoda, Velyn buru-buru menyanggahnya. Sejujurnya Velyn tau arah pembicaraan Valdo yang mesum itu. Apalagi tatapannya kali ini membuat Velyn hanya bisa bergidik membayangkan bagaimana permainan Valdo ketika di ranjang.
"Yah, aku harap kamu nggak lupa aja sama utang kamu, yang kamu kasih tau tadi pagi" Velyn memukul ringan dada Valdo membuat pria itu terkekeh. Lucu sekali istrinya ini saat sedang kesal. Namun bisa dilihat semburat merah dipipinya yang tengah malu-malu akan ingatannya tadi pagi saat membujuk suaminya yang tengah kesal itu.
"Iya mas, aku inget kok, ih nyebelin" Valdo tiba-tiba mengangkat tubuh Velyn dan mendudukkannya dalam pangkuannya. Ini sudah biasa dilakukannya.
Setidaknya meskipun mereka tidak bisa melakukannya untuk saat ini, tapi Valdo ingin menikmati seharian bersama istrinya sebelum mereka takkan berjumpa untuk beberapa hari.
__ADS_1
"Mas! ih kamu nih"
"Bentar aja sayang, besok kan kita nggak bakal ketemu beberapa hari. Aku tuh pasti bakal kangen banget sama kamu" peluk Valdo dengan manja. Namun tidak dengan Velyn yang masih merasa kesal. Mungkin efek hormon karena PMS, itu sudah biasa baginya.
"Minggu depan aku bakalan mulai magang mas" gumam Velyn ditengah pelukannya seraya menghela nafas. Valdo semakin mengulas senyumnya yang berbinar ditengah pelukan Velyn padanya.
"Oh ya?! terus udah ditentuin dimana kamu bakal magang?" Velyn menggeleng, ia kemudian mengangkat pandangannya seraya tersenyum pada Valdo yang kini tampak membalas tatapannya.
"Belum, mungkin Lusa. Yah, anak baru kaya aku bisanya apa. Aku tuh sebenernya masih belum PD mas. Aku belum siap buat magang" Valdo mengerti dan paham dengan situasi Velyn saat ini. Apalagi wanita yang berada dipangkuannya ini adalah tipe yang serius.
Meskipun Velyn tidak sepandai dirinya, tapi Velyn lebih serius dalam mengerjakan sesuatu daripada Valdo.
"Sayang, kamu pasti bisa kok, kamu jangan pesimis kaya gitu. Percaya diri sama kemampuan kamu itu yang terpenting"
"Tapi mas, aku tuh nggak tau apa-apa soal kerjaan kantoran. Aku belum paham" Valdo tersenyum hangat. Ia mencoba untuk menyemangati Velyn agar tidak putus asa.
Secara dirinya adalah owner perusahaan. Bos besar yang akan mewarisi usaha orangtuanya. Pastinya pelajaran Velyn tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan pekerjaannya sehari-hari.
***
"Pendidikan jurusan Manajemen Bisnis bertujuan untuk mempersiapkan para pemimpin dunia industri maupun dunia wirausaha yang inovatif, dengan praktik dan teori bisnis yang sesuai dengan perkembangan zaman-" Valdo memberikan arahan dan pelajaran mendasar bagi Velyn yang kini mulai menyimak apa yang ia bicarakan.
Tak lupa Velyn juga mencatat beberapa poin-poin penting kala Valdo menjelaskan detail pekerjaan dan management yang produktif. Dengan telaten Velyn berusaha untuk memahami sedikit demi sedikit apa yang suaminya jelaskan.
Setelah menjelaskan semuanya kini tinggal Velyn memberikan catatannya kepada Valdo. Rasanya dijejali pelajaran yang seperti itu membuat kepalanya benar-benar pusing kali ini.
__ADS_1
Padahal Valdo hanya menjelaskan poin pentingnya saja. Dan Velyn bertugas untuk duduk dan menyimak apa yang dibicarakan olehnya.
"Oke, bagus. Sekarang aku mau liat buku kamu" perintah Valdo membuat Velyn memberikan buku bersampul hijau pada Valdo. Valfo mulai menjelaskannya lagi, ia juga menunjukkan kata tambahan yang penting dan harus diperhatikan lebih.
"Mas, kalo yang ini, ini maksudnya gimana? tanya Velyn ditengah ia membaca beberapa istilah dan memberikannya pada Valdo. Valdo mengernyit. Ia lalu menjelaskannya lagi pada Velyn yang masih sedikit bingung.
Sesekali Valdo juga mengerjai istrinya itu, ia tidak ingin Velyn terlalu serius dalam belajar. Itu akan membuat konsentrasinya buyar jika dia tidak sedikit santai.
Velyn yang hendak menyantap coklat ditangannya kini mulai mengerucut sebal pada Valdo yang tiba-tiba meraih lengannya dan memasukkan coklat itu pada mulutnya.
"Mas, kamu apa-apaan sih?! nyebelin deh"
"Udah malam lo, kamu mau nyemil terus nanti gendut" Velyn membulatkan matanya, ia menatap tak percaya pada Valdo yang mengatakan hal demikian.
"Kalo aku gendut lagi, kamu nggak mau terima aku gitu?" Velyn melipat kedua tangannya diatas perut seraya menatap Valdo dengan penuh rasa kesal.
"Emm gimana ya?" Velyn membuang nafasnya kasar. Sudah ia duga, pasti kalau dirinya masih sama gendutnya seperti dulu Valdo juga tidak akan mau menerimanya. Velyn juga tidak mungkin berada disini dan menjadi wanitanya.
Velyn bangkit dari kursinya. Ia sudah lelah ditambah bosan. Apalagi perkataan Valdo yang membuat hatinya sedikit ngilu tentang ingatannya pada masa lalu. Kalau dipikir-pikir lagi, ketika Velyn nanti sudah tidak cantik lagi karena penyakitnya, akankah Valdo masih bisa menerimanya?.
Velyn bergelut dengan pikirannya sendiri. Is membayangkan seperti apa dirinya nanti jika penyakitnya sudah menggerogoti tubuhnya. Pastinya akan lebih kurus, hilang sudah rambutnya, dan begitupun pudar cinta Valdo padanya.
"Sayang" Velyn menghentikan langkahnya saat ia hendak naik keatas ranjang untuk merebahkan tubuhnya yang merasa sangat kelelahan.
"Mau kamu nanti gendut, kurus, atau yang lainnya. Aku nggak perduli, aku nggak akan memandang kamu sebelah mata. Aku cinta kamu apa adanya, aku bukan Valdo yang dulu lagi Velyn" Velyn memejamkan matanya erat-erat. Matanya memanas mendengar apa yang Valdo katakan.
__ADS_1
Benarkah? atau ini hanyalah bualan saja karena kenyataannya Velyn masih cantik dan sempurna. Ketika nanti Velyn sudah tidak sempurna lagi, barulah Valdo akan menyadari penampilan dan kesempurnaan lebih penting seperti apa yang pernah ia rasakan dulu.