
"Aku selalu ngecewain kamu ya?" Velyn yang terdiam sedari tadi menatap danau dihadapannya tersenyum pilu. Entah mengapa kisah cintanya harus cepat berlalu, setelah mereka melalui kisah yang dinamakan suami istri yang sah tanpa ikatan kontrak, sekarang semuanya seolah kembali seperti dulu.
"Aku udah terbiasa, aku akui aku memang nggak layak berada disisi kamu"
"Siapa bilang? kamu layak kok, bahkan aku pengen kita sudahi masalah kita ini dengan berdamai" Velyn tersenyum miring, bukankah beberapa hari lalu Velyn juga mengatakan hal demikian, namun Valdo malah mengusirnya karena ia menjaga perasaan Lisa yang berada di kantornya. Velyn mengerti, kini dirinya tak jauh dari berstatus sebagai simpanan Valdo saja.
"Aku juga pengen masalah kita selesai, makanya aku berusaha keras buat kamu mau dengerin kata-kata aku. Tapi kayanya usaha aku nggak ada gunanya"
"Maaf-"
"Nggak apa-apa, nggak perlu minta maaf. Aku udah cukup banyak dengar permohonan maaf dari kamu" Velyn menghela nafas, mungkin kali ini ia juga tidak bisa meminta Valdo untuk menceraikannya, karena pastinya Valdo akan menolak. Tatapan Valdo kini menjadi semakin bersalah saja, ia selalu menyesal seperti ini. Tapi ia selalu terbawa ego dan emosinya dalam sekejap ketika ia marah dan kecewa.
Namun berbeda dengan Velyn, ia tenang. Meskipun pria itu tau saat ini hati Velyn tengah terluka akibat sikapnya, tapi Velyn masih saja bertahan. Bersikap diam tanpa meninggalkannya. Tidak seperti Valdo yang selalu memilih untuk menghindar.
"Apa kita bisa kaya dulu lagi?" mungkin pertanyaan Valdo begitu spontan terhadap Velyn. Tapi ia sudah bertekad untuk memperbaiki hubungan mereka, yang harus dilakukan akan dia lakukan untuk menebus kesalahannya.
"Apa kamu bisa balikin keadaan kaya dulu lagi?" deg! pertanyaan Velyn membuat Valdo terdiam membeku. Ia bahkan tak memikirkannya terlebih dahulu. Sekarang keadaan seperti berbalik menusuknya. Valdo menatap Velyn yang kini tengah menunggu jawabannya, meskipun ia tau tatapan mata itu tidak mengarah padanya, tapi Valdo tau bagaimana perasaannya.
"Kapanpun kamu mau ceraikan aku, aku pasti siap mas. Lagipula nggak ada yang bisa dipertahankan dari hubungan kita"
"Velyn! jangan pernah ngomong gitu lagi. Aku tau aku salah, aku udah janji nggak bakal nyakitin kamu lagi, tapi aku dengan sadar malah membuat kamu tambah benci. Aku emang nggak layak buat kamu maafin, tapi jangan pernah ngomong soal perpisahan! jelas aku nggak akan pernah berpikir sejauh itu" Velyn menatap Valdo dengan pandangan berkaca, ia kemudian membuang muka sebelum tatapan mereka bertemu. Ia sudah bertekad untuk kuat, meskipun kenyataan tidak seperti apa yang ia bayangkan, tapi Velyn lebih memilih untuk mengikuti alur meskipun terkadang hasilnya pun sama.
"Kamu juga nggak bakalan pisah dari Lisa kan? lalu, apa yang kamu harapkan dari aku?" pertanyaan menohok itu seolah membuat Valdo memiliki beban, beban yang tak bisa ia tangguhkan. Kesalahannya sudah menjadikan hubungan mereka seperti saat ini, ingin dipertahankan namun sulit untuk diperjuangkan lagi. Kenapa Valdo langsung percaya pada satu kata-kata yang belum tentu itu kenyataan atau tidak? sehingga ia memilih untuk bertemu dengan jalan buntu yang ia sesali akhirnya.
"Aku cinta sama kamu Velyn, aku sayang sama kamu. Sayang aku ke Lisa-"
"Jangan pernah bilang kamu menyayangi orang lain didepan aku, karena itu ngelukai hati aku mas. Kamu nggak pernah berubah ya, padahal kamu udah janji, cuma ada aku di hati kamu. Tapi ternyata kamu buat janji itu lagi ke orang lain" meskipun Velyn berbicara secara tenang, namun terlihat ada penekanan disetiap kata-kata yang ia lontarkan. Hati Velyn amat sakit mengatakan hal itu, ia bertahan hanya untuk memperjelas hubungan mereka saja.
"Velyn, please"
"Seharusnya aku yang mohon ke kamu, aku mohon tolong bebaskan aku dari beban ini mas! tolong jangan sakiti aku lagi. Aku capek mas!" Valdo berlutut dihadapan Velyn yang kini enggan menatapnya. Ia memeluk pinggang Velyn seraya menyandarkan kepalanya pada paha wanita itu.
"Aku harus gimana Lyn? kasih aku solusi, aku harus gimana? aku cinta sama kamu sayang, aku nggak bisa tanpa kamu" tangis Valdo pecah saat itu juga, membuat Velyn tak kuasa untuk terisak. Ia lebih sakit dari apa yang Valdo kira, Velyn mengira setelah perceraian Valdo dan Lisa semuanya akan baik-baik saja. Hubungan mereka akan semakin harmonis dan Velyn akan mengatakan tentang riwayat penyakit yang dideritanya.
Namun siapa sangka, kini semuanya berbalik, hingga membuat dirinya malah terancam berpisah dari pria yang paling ia cintai. Tekanan batin itu membuat semuanya berat untuknya. Kenapa sulit sekali bagi Velyn untuk mendapatkan kebahagiaan?.
***
Setelah pembicaraan mereka yang tanpa solusi tadi, Velyn kini menaiki mobil Valdo dengan pandangannya yang datar. Ia sama sekali tidak mood untuk bicara, bahkan ia tak bersemangat sama sekali untuk menganggap Valdo yang kini ikut naik mobil dan duduk disampingnya.
Valdo pun juga sama, ia melirik Velyn dengan pandangan amat bersalah. Entah apa yang tengah dipikirkan wanita disampingnya, tapi Velyn tidak merespon apa-apa sejak perbincangan di danau tadi. Valdo bahkan tanpa sengaja melirik pergelangan tangan Velyn yang dibalut kain kasa, dengan cepat pria itu menarik lengan Velyn dan menatapnya.
"Sakit mas!"
"Jadi bener kamu ngelukai tangan kamu sendiri?! kamu udah gila ya?! malam itu kalo kamu nggak aku datangi kamu juga bakal ngelakuin hal ini? apa kamu semarah itu sama aku? sampai kamu nekat kaya gini?" amarah Valdo meluap saat ini, ia marah terhadap dirinya dan Velyn yang telah melukai dirinya sendiri. Namun berbeda dengan Velyn yang mengerutkan keningnya seraya terdiam saat Valdo buru-buru mengambil kotak obat darurat dari jok belakang mobilnya.
Valdo mengganti perban Velyn yang memang terlihat sedikit darah dari luar kain kasa itu. Memang masih satu hari, jadi kalau Velyn tidak hati-hati lukanya akan terbuka kembali. Dan saat ini dengan telaten Valdo membuka kain kasa itu, Valdo amat terkejut dengan luka sayatan itu, namun tidak lama ia mengabaikannya dan segera memberikan obat merah pada luka Velyn.
"Jangan pernah kamu berpikir buat lukain diri kamu sendiri, apapun alasannya kamu nggak berhak melampiaskan semua kecewa kamu buat ngelakuin hal kaya gini. Daripada kamu kaya gini, lebih baik kamu datang langsung ke aku dan pukul aku" Velyn masih tak menyangka jika malam itu Valdo benar-benar datang dan menemuinya, pantas saja jika dipikir mimpi, itu adalah hal yang terlalu nyata untuk disebut alam bawah sadar. Velyn tersenyum, itu berarti Valdo masih perduli padanya meskipun ia kecewa.
Setelah Valdo selesai membersihkan luka Velyn, wanita itupun segera menarik lengannya dan menunduk. Ia sedikit melirik Valdo yang menatapnya dengan masih menyisakan ekspresi kekesalan.
"Jangan pernah lakuin itu lagi ya?" Velyn mengangguk, lalu mendongak. Tanpa disadari Valdo tiba-tiba memeluk tubuh Velyn, membuat wanita itu terdiam. Bahkan Valdo menangis tanpa bersuara. Velyn hendak melepaskan pelukan itu, namu Valdo menahannya.
"Sebentar aja Lyn" suara Valdo bergetar, Velyn bahkan bisa merasakan ketakutan yang dirasakan oleh pria itu saat ini. Ketakutan yang amat mendalam saat pria itu memeluknya, Velyn kemudian membalas pelukan Valdo, membuat pria itu sedikit tenang akan perasaannya.
***
Mobil Valdo berhenti dikediamannya, pria itu melepaskan sabuk pengamannya, namun ia terdiam seketika saat melihat mata Velyn terpejam. Wanita cantik dihadapannya ini juga pernah tertidur di mobilnya saat mereka belum menikah dulu. Entah mengapa bayangan masa lalu terlihat jelas didepan matanya. Jika saja Valdo menyadarinya lebih dulu bahwa cintanya lebih penting daripada egonya, ia pasti akan membahagiakan Velyn saat itu juga.
Tapi mungkin apa yang dikatakan Velyn memang benar adanya. Valdo terlalu banyak minta maaf, yang berarti ia terlalu banyak melakukan kesalahan sampai Velyn lelah untuk mendengarnya. Berulang kali Valdo melakukan hal itu, namun ia selalu saja dikalahkan oleh egonya.
Valdo menghela nafas, ia kemudian turun dari mobil lalu kemudian membuka pintu mobil Velyn, dengan perlahan ia membuka sabuk pengaman itu dan langsung menggendong wanita itu untuk dibawanya ke kamar.
Sebelum ia mendaratkan tubuh Velyn di atas ranjang, pria itu mengamati lamat wajah wanita itu, rasanya Valdo tidak ingin melepaskannya. Namun benar apa yang dikatakannya, bahwa ia tidak mungkin menyakiti dua wanita sekaligus. Velyn menggeliat di dada bidangnya, perlahan matanya terbuka dan menatap Valdo yang masih melamun dalam pikirannya yang dalam.
Velyn tersenyum, ia mengalungkan tangannya pada pria itu hingga membuat Valdo terkejut.
"Mas"
"Heum?" Valdo menelan salivanya saat Velyn menarik kerah bajunya. Pria itu kemudian membelai lembut rambut hitam panjang dihadapannya dan menciumnya. Bau harum itu tidak pernah berubah, wangi manis strawberry yang selalu menjadi aroma ingatannya pada wanita yang kini mencium pipinya itu.
"Aku mau" gumam Velyn tepat ditelinga pria itu membuat wajah Valdo semakin memerah. Valdo tak tinggal diam, ia mencium bibir Velyn lembut seraya meremas anak rambutnya.
***
Setelah permainan panas mereka, kini Velyn terdiam seraya memunggungi tubuh Valdo yang masih tertidur pulas. Benar, kegiatan mereka hanya sebatas kebutuhan biologis saja, bukan karena cinta. Velyn mengeratkan genggamannya pada selimut yang menutupi tubuh polosnya. Mungkin saja hubungan ini yang terakhir untuk mereka, karena Velyn tidak yakin jika Valdo akan mempertahankannya.
Velyn memejamkan matanya, ia buru-buru bangkit dan segera bersiap untuk kuliahnya di pagi hari. Rasanya tubuhnya hampir remuk karena tertidur seharian akibat kelelahan meladeni pria yang ia sebut sebagai suaminya itu.
__ADS_1
Setelah selesai dengan persiapannya, Velyn segera menuju pintu, sebelum ia keluar dari kamar itu Velyn melirik tubuh Valdo yang masih terbenam dibawah selimut putih. Velyn tersenyum, ia sangat bahagia meskipun seharusnya Valdo tidak akan menjadi miliknya.
Velyn menghapus jejak air matanya, ia segera keluar dari tempat itu dan menuju kampus. Baginya hal yang paling penting saat ini adalah bertahan hidup. Lagipula Velyn tidak akan mengatakan perihal penyakitnya pada Valdo, hal itu tidak perlu karena cepat atau lambat Valdo pasti akan melepaskannya begitu janjinya tidak bisa dilanggar.
***
Halaman kampus begitu ramai saat itu, begitulah suasana jika jam kelas berganti. Ada banyak mahasiswa yang masuk dan keluar dari rutinitas melelahkan. Apalagi Velyn dan teman-temannya yang kini keluar dari gedung kampus itu.
Velyn dan Christyn melambaikan tangannya pada Dira yang hendak pulang terlebih dahulu karena urusan keluarga. Berbeda dengan Dira, mereka berdua sudah sepakat untuk berbelanja novel diskon usai jam kuliah selesai.
"Lo mau cari komik apa Lyn?" tanya Christyn yang tengah sibuk memantau kabar terbaru tentang diskonan yang berada di mall terdekat. Velyn melirik ponsel Christyn, ia berpikir sejenak seraya menimbang-nimbang.
"Kayanya, 'why be sad if you can laugh' karyanya Mario Island"
"Hah? seriusan lo? mantengin diskon novel cuma mau baca karyanya Mario Island doang?" Velyn mengerutkan keningnya seraya menatap Christyn dengan penuh tanya dibenaknya.
"Emangnya ada yang aneh ya sama selera gue?"
"Oh my God, Arvelyna Putri Chatra!"
"Chandra!"
"Terserah deh lo mau ngomong apa, tapi ya daripada lo baca novel itu mending lo liat Chaplin deh serius. Itu lebih geli daripada 'why be sad if you can laugh'. Selera lo ngeselin deh!" Velyn melongo mendengar perkataan Christyn yang mengejek novelis favoritnya. Wanita itu kemudian mencubit lengan Christyn dengan kencang membuat gadis itu berteriak kesakitan.
"Eh buset! sakit woy!"
"Iya, emang lo sakit, nggak waras. Punya nyawa berapa lo berani-beraninya ngeremehin novelis favorit gue?! emang ya, mulut kalo nggak pernah di bacain yasin suka nyembur air got kemana-mana"
"Gue Kristen!"
"Makanya, baptis tu mulut, ngomongnya sembarangan mulu!" protes Velyn membuat Christyn memutar bola matanya malas. Lagipula ia hanya asal bicara saja, tega-teganya Velyn mengatainya dengan perkataan kejam seperti itu.
"Aelah, gue bercanda Lyn, serius banget sih nih bocah. Makan angin lo ya? yang nyembur gas semua, pedes tau nggak!" Velyn menghela nafasnya, memangnya aneh ya kalau dia suka novel ber-genre komedi?. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, apalagi novel yang ia baca tidak selucu drama komedi di televisi, makanya setiap tahun novel karangan Marcel island jadi yang terbelakang untuk kategori novel terlaris.
Sejujurnya, sebelum Velyn menyukai novel-novel tersebut ia bahkan tidak tertarik sama sekali, bahkan cenderung mengabaikan novel itu. Namun ketika hatinya murung dan dilanda masalah dalam keluarganya, ia jadi tak punya sandaran untuk berbagi masalah. Sampai Velyn sempat iseng untuk membeli buku tersebut, dan benar saja sedikit demi sedikit Velyn mampu melupakan semua masalahnya termasuk melupakan bayang-bayang Valdo.
Velyn menghela nafasnya, tatapannya yang tadi dibuat kesal kini berubah menjadi tatapan murung mengingat masalahnya yang kembali menghantui pikirannya.
"Loh kok lo jadi sedih? gue kan cuma bercanda aja, maaf deh" sahut Christyn ketika melihat ekspresi Velyn itu. Tentu saja Christyn merasa bersalah, apalagi ia menghancurkan mood Velyn setelah ia berhasil membujuk wanita itu untuk hang out bersamanya.
"Bukan, gue lagi nggak mikirin itu kok, santai aja"
"Velyn!" teriakan seorang wanita membuat kedua perempuan itu mengalihkan pandangan mereka pada sosok yang tidak asing bagi Velyn tentunya. Ia mengerutkan keningnya saat wanita itu mendekat dengan tatapan bencinya seraya matanya yang memerah dan langkahnya yang tegas kearahnya.
Plakkk
"Pelakor!" tamparan dan teriakan Lisa padanya membuat Velyn terdiam seraya menahan air mata yang hendak menetes melalui pelupuk matanya.
"Aku tau beberapa hari ini Valdo nggak pulang itu pasti nemuin kamu kan? Valdo pasti ngehabisin waktunya sama kamu kan? dimana Valdo sekarang?! jawab aku?!" teriak Lisa membuat Velyn membeku, ia melihat semua orang yang menatapnya dengan pandangan tak menyangka dan berbisik menghakiminya. Seolah mengerti dengan situasi yang terjadi, Christyn menggenggam jemari Velyn dengan erat. Amarahnya kini meluap dan menatap tajam Lisa yang marah-marah tidak jelas dan berhasil mempermalukan sahabatnya didepan umum seperti ini.
"Heh! mak lampir! Velyn itu juga istri sah suami lo itu, dia aja nggak tau kalau lo sama si Valdo masih belum cerai. Lo salah kalo nyalahin temen gue, dasar orang gila!" kesal Christyn membuat Lisa melotot menatap mereka berdua, sedangkan Velyn hanya mampu terdiam tanpa ekspresi.
"Bohong! mana mungkin Velyn nggak tau kalau aku dan Valdo belum cerai. Nggak perlu ngelak, kamu itu emang pelakor Velyn! kamu hancurin masa depan aku dan anakku!" Velyn masih terdiam tanpa kata, tatapannya kosong. Ia mengingat peristiwa saat itu, saat yang sama ketika ia berada di kampusnya dulu. Waktu itu ia sendiri, dicemooh, dihina, pandangan menjijikkan seolah datang bertubi-tubi ketika ia melangkah. Persis seperti saat ini, wajahnya pucat pasi mengingat hal terburuk dalam hidupnya dan sekarang terulang kembali, bahkan lebih kejam dari sebelumnya.
"Dasar wanita pelakor!" lengan Lisa yang hendak melayangkan pukulannya pada Velyn kini tertahan oleh tangan Christyn yang melawan wanita dihadapannya. Velyn terdiam dengan pandangan kosong seolah ia tak perduli lagi dengan keadaannya yang sekarang.
"Kalo lo mau nyalahin orang, salahin suami lo itu! kalo tau dari awal si Valdo belum cerai, mana mungkin Velyn mau nikah sama cowok jahat kaya dia!" Lisa tidak tinggal diam, ia menarik rambut Christyn dan menjambaknya membuat Christyn berteriak kesakitan.
"Itu karena keluarga Velyn udah bangkrut! dia mau nguasain harta Valdo!" teriak Lisa ditengah teriakan Christyn yang membuat amarah Velyn memuncak.
"Sakit woy! dasar emak-emak rempong!" Velyn segera menghentikan tangan Lisa yang masih bertahan menjambak rambut Christyn. Wanita itu menatap tajam Lisa yang tengah dirundung amarah.
"Lepasin temen gue!" Velyn menarik lengan Lisa dan mendorongnya, membuat Lisa tersungkur dihalaman kampus dan mengaduh kesakitan.
"Chirst? lo nggak apa-apa kan?"
"Aw sakit! ah! anakku!" Velyn membulatkan matanya saat ia menatap darah segar mengalir dari sela-sela kaki Lisa. Velyn mengerutkan keningnya seraya mundur ketakutan. Rasa kecewa dan sakit bercampur menjadi satu. Tentu saja hatinya begitu hancur saat mengetahui bahwa Lisa telah hamil.
"Lisa!" suara itu bertambah membuat hati Velyn bergetar, ia masih tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya. Valdo yang awalnya hendak menjemput Velyn terkejut saat Velyn tiba-tiba mendorong Lisa dan membuat wanita itu terjatuh dengan darah yang mengalir diantara kakinya.
"Valdo?! kamu kemana aja Do? kamu nggak pulang sebulan ini, aku khawatir sama kamu" Valdo segera menggendong Lisa membuat hati Velyn bertambah hancur karena mereka.
"Anak kita Do!" Valdo mengernyit, ia menatap Velyn yang masih menatapnya tak percaya bahkan pandangan kecewa terhadapnya. Namun melihat Lisa saat ini, ia juga tak punya pilihan untuk segera membawanya pergi.
"Ikut aku Lyn, masuk mobil!" ucap tegas Valdo membuat Velyn membuang nafas beratnya seraya menahan tangis. Belum cukup ia malu akan perkataan Lisa tadi yang berteriak padanya dengan sebutan pelakor, kini Valdo pun ikut membuatnya tambah kecewa.
Velyn dengan langkah berat mengikuti Valdo dari belakang, ia menunduk diantara tatapan orang-orang yang menghakiminya. Velyn juga melepas genggaman tangan Christyn yang merasa iba padanya.
"Nggak nyangka ya ternyata cantik-cantik pelakor"
__ADS_1
"Padahal yang masih muda banyak, malah cari om-om, udah beristri lagi"
"Kemarin gue mau ngajak dia jalan, untung nggak jadi gue tembak gara-gara ada yang ngaku suaminya. Eh ternyata suami orang yang diembat" Velyn segera masuk kedalam mobil, ia tak menggubris apa yang dibisikkan orang-orang. Cacian dan juga hinaan itu sudah mendarah daging baginya. Tapi melihat kenyataan didepannya yang tambah membuat hatinya tambah sesak.
Lisa menangis sepanjang jalan karena kesakitan, sedangkan Valdo segera menancap gas untuk segera sampai di rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, Valdo segera menggendong tubuh Lisa dan membawanya pada dokter kandungan, sedangkan Velyn berdiri diluar ruangan seraya terdiam. Tangannya mengepal, semua perasaan dihatinya bercampur aduk menjadi satu. Kecewa, amarah, dan penuh kekesalan seolah memenuhi hatinya serta pikirannya.
"Sejak kapan kamu hamil?" tanya Valdo dengan datar setelah setengah jam dokter menangani Lisa dan ditemani oleh Valdo yang masih terdiam tanpa bicara. Padahal ia benar-benar ingat, ia tidak pernah menyentuh Lisa sekalipun. Mana mungkin Lisa bisa hamil begitu saja?.
"Dua bulan lalu, waktu kamu pulang dan mabuk"
"Bohong!"
"Aku nggak bohong Do!, waktu itu sehari setelah kamu cekcok sama Velyn dan kamu tinggal dirumah aku. Kamu tiba-tiba datang dan hiks... aku kira kamu ingat ternyata" isak tangis Lisa terdengar suaranya yang pilu dan bergetar. Memang benar malam itu Valdo pulang dengan keadaan mabuk, dan ia juga ingat pagi hari sudah memakai baju yang berbeda dengan baju yang dikenakannya sebelum tidak sadarkan diri. Waktu itu Valdo mengira jika Lisa hanya sekedar menggantikan bajunya saja, tapi tanpa sadar kenyataan seperti menghantam jiwanya.
Valdo memeluk tubuh Lisa, ia memenangkan Lisa yang masih terisak karena baru saja kehilangan bayinya.
***
"Velyn?" wanita itu tak mengalihkan pandangannya sedikitpun, ia masih menatap ubin rumah sakit dengan pandangan kosong sambil berdiri sedari tadi.
"Lyn?!" tanpa sadar Valdo mengguncang tubuh Velyn, membuat wanita itu terkejut dan menatap Valdo dengan pandangan datarnya.
"Aku mau tanya satu hal, kamu harus jawab sejujurnya" Velyn masih terdiam, ia menatap jemari Valdo yang menunjukkan padanya sebuah pil KB yang tidak asing baginya.
"Ini punya kamu kan? aku nemuin ini di kamar dan-"
"Iya, itu punya aku" jawab Velyn tegas dan lugas, seolah membuat Valdo kecewa seketika. Valdo mengerutkan keningnya seraya menatap mata Velyn dalam-dalam, ia tak mau terbawa emosi seperti sebelumnya hingga membuat hubungannya jadi serumit dulu.
Bagaimanapun Valdo sudah berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi dan ia akan menyelesaikan apapun masalahnya dengan kepala dingin.
"Alasannya? aku butuh alasan Velyn, aku tau pasti ada sesuatu yang buat kamu ngelakuin ini. Aku pasti bakal memahami itu" Velyn menatap Valdo dengan pandangan berkaca, ia masih tak bisa berkata-kata. Velyn terdiam, ia melepaskan jemari Valdo yang menyentuh lengannya seraya menggeleng.
"Lyn?! maksud ini semua apa Lyn? jawab aku!" Velyn membuang muka, ia terisak seraya memunggungi tubuh Valdo membuat pria itu tambah bingung.
"Apa kamu nggak pengen punya anak dari aku?" pertanyaan itu sontak membuat mata Velyn membulat. Ia terdiam seraya mengangguk lemah, membuat Valdo mengacak rambutnya frustasi.
"Kamu bohong kan! kamu pasti bohong. Jelas-jelas waktu itu kita bahas soal anak-"
"Buat apa aku bohong mas?! aku emang sengaja buat kamu berharap. Aku sengaja buat kamu kecewa seperti yang kamu lakuin ke aku!" Valdo mengerutkan keningnya, ia melayangkan tamparannya pada wanita dihadapannya membuat Velyn meneteskan air mata. Emosi Valdo sudah tidak terbendung lagi, saat ini hanya amarah yang menguasai dirinya.
Plakkk
"Kejam kamu Lyn! padahal aku udah minta maaf, aku kabulkan semua mau kamu, tapi ini balasan atas apa semua yang udah
aku korbankan?" Velyn menunduk, ia menggigit bibir bawahnya. Ia hanya mampu menatap kosong kakinya yang tengah bergetar karena ucapan Valdo serta tamparan keras darinya.
"Kamu juga pasti sengaja buat Lisa keguguran kan? kamu bukan hanya hancurin harapan aku Velyn! kamu juga merampas kehidupan bayi yang nggak bersalah. Bayi aku yang malang!" teriak Valdo membuat Velyn mengangkat pandangannya. Padahal Velyn ingat jelas, ia tidak mendorong Lisa dengan sengaja, ia bahkan hanya menghempaskan tangan Lisa yang telah menjambak Christyn. Tapi Valdo dengan gampangnya berbicara seolah Velyn adalah pembunuh.
"Mas! aku nggak ada niatan buat bikin Lisa keguguran, aku nggak-"
"Cukup!, jangan pernah panggil aku kaya gitu lagi, karena alu udah buat keputusan, kita cerai!" Velyn mengepalkan jemarinya setelah Valdo berbalik dan pergi meninggalkannya dari ruang tunggu. Velyn terisak dengan tangisannya yang telah ia tahan sedari tadi. Ternyata benar, Valdo tidak akan pernah percaya padanya, Velyn benar-benar bodoh selama ini, ia sempat berpikir untuk mempertahankan hubungan mereka, tapi nyatanya Valdo sendiri yang memutuskannya dengan sepenuh hati.
***
Isakan air mata yang tadinya keluar dari suara Velyn kini seolah terhenti. Wanita itu masih enggan berbicara, ia terdiam tanpa kata seraya mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya kedalam koper.
Setelah ungkapan Valdo menceraikannya, Velyn segera kembali ke rumah. Velyn hanya mampu berdoa semoga semuanya baik-baik saja, terlebih pada Valdo yang saat ini sedang terbawa emosi dalam dirinya. Mata sembab Velyn masih tampak terlihat meskipun ia mencoba untuk menenangkan hatinya. Hatinya yang kini masih perih dan terluka akibat kata-kata yang keluar dari mulut Valdo padanya.
Tidak apa, mungkin inilah jalan yang terbaik. Velyn meraih setelan kebaya berwarna putih, kebaya yang dulu ia kenakan saat menikah dengan Valdo. Awal pernikahan mereka sudah terlihat tidak menyenangkan, apa bedanya dengan perpisahan?. Velyn tersenyum, ia hanya berharap semoga Valdo bahagia dengan Lisa.
Hal yang tidak pernah Velyn bayangkan sampai saat ini adalah, kemarin bahkan Valdo yang ingin menceraikan Lisa, tapi ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan. Malah Velyn lah yang diceraikan dengan cara tidak terhormat.
Seharusnya, jika hari ini Velyn tidak mengalami masalah sebesar ini, mungkin ia dan Valdo akan berangkat ke Singapura menjenguk ayah. Tapi mau bagaimana lagi, rencana itu hanyalah sebuah angan yang tidak mungkin terwujudkan.
Velyn berjalan perlahan menuju anak tangga, ia membawa koper miliknya seraya membawa kebaya putih ditangannya. Perlahan Velyn turun melalui anak tangga dengan hati-hati.
Wanita itu menatap pintu kamar tamu dihadapannya, ia meninggalkan kopernya didepan pintu dan masuk kedalamnya. Velyn memasuki kamar itu, ia ingat malam pertamanya dulu, wanita itu menangis di kamar ini setelah Valdo mengusirnya.
Velyn tersenyum, ia tidak akan pernah lupa bagaimana Valdo membujuknya untuk pindah kamar menuju lantai atas. Velyn ingat semua itu, ia berjanji tidak akan pernah melupakan kenangan indah itu meskipun dirinya sudah tidak bernyawa lagi.
"Mama!" suara pria kecil yang ia rindukan menggema di telinganya membuat Velyn menoleh kearah belakang, memperhatikan sosok Nino yang berlari kearahnya.
"Nino? sejak kapan kamu ada disini?"
"Mama, Nio kangen sama sama. Tadi Nio diantar papa, katanya kita beltiga bakal tinggal sama-sama lagi" suara kecil dan harapan Nino membuat mata Velyn kembali bercucuran air mata. Bocah kecil itu pun memeluk leher Velyn dan mencium pipi wanita itu untuk menenangkannya.
"Mama jangan nangis dong, mama nggak senang ya kalau kita bakal tinggal sama-sama lagi?" pertanyaan itu sontak membuat Velyn menggeleng seraya tersenyum pada pria kecil dihadapannya.
__ADS_1
"Enggak, mama nangis karena terlalu bahagia, mama seneng banget kita bisa tinggal sama-sama lagi" meskipun apa yang dikatakan oleh Velyn adalah sebuah dusta, namun setidaknya mampu membuat Nino tersenyum senang dan kembali ceria. Velyn hanya bisa mendoakan Nino agar seterusnya anak lelaki dihadapannya itu menjadi anak yang pintar dan juga membanggakan kedua orangtuanya nanti.
"Nino juga seneng, nanti kita makan malam sama papa ya ma" Velyn mengangguk, ia memeluk tubuh mungil Nino yang amat membuatnya begitu tensng setelah hatinya gelisah untuk beberapa saat.