
Valdo masih menaruh kepala Velyn di dada bidangnya, ia memejamkan matanya sejenak seraya menatap Velyn yang kini mendongak untuk menatapnya. Valdo menyentuh wajah gadis itu, benar-benar lembut. Gadis sempurna dengan pandangan mata yang indah ini ternyata bisa sekuat ini menghadapi kenyataan hidup yang begitu menyakitkan untuknya.
"Kenapa kamu cerita ini semua ke aku?"
"Karena aku percaya sama kamu kak, aku percaya sama orang tua aku yang bilang, kalau kamu nggak akan sama lagi kayak dulu. Dan aku akan belajar buat jadi istri terbaik untuk kamu kak" tutur gadis itu membuat Valdo semakin mengeratkan pelukannya pada Velyn yang kini menarik nafasnya dalam-dalam.
Velyn mencium aroma mint pria ini, begitu nyaman ia rasakan. Begitupun dengan Valdo, entah kenapa setelah Velyn mengatakannya, is urung untuk melanjutkan rencananya. Sebenarnya Valdo tidak pernah tau apakah tujuannya itu benar atau salah. Tapi dengan menyakiti kepercayaan Velyn, itu sama saja menjerumuskannya. Jelas-jelas Velyn adalah gadis yang baik, kenapa dari dulu Valdo tidak menyadari itu. Gadis mungil dengan mata lebar dan pipi yang tembam, kini tumbuh menjadi seorang gadis yang dewasa, cantik dan juga anggun.
"Makasih Lyn, makasih kamu udah mau nerima aku dan Nino. Aku minta maaf, tentang masa lalu kita. Aku minta maaf akan keegoisan aku dulu" Velyn yang awalnya ragu untuk membalas pelukan hangat itu, kini dirinya memberanikan diri untuk membalasnya. Ia yakin akan keputusannya, mulai sekarang, Velyn akan belajar, mencintai Valdo dan menjadi istri terbaik untuknya.
***
Seminggu berlalu, persiapan demi persiapan pernikahan antara Valdo dan Velyn akhirnya tuntas dan tinggallah acaranya yang hendak berlangsung sebentar lagi.
Pantulan wajah Velyn di cermin begitu menawan, riasan pengantin dengan kebaya berwarna putih. Semuanya sempurna, apalagi kebaya ini adalah kebaya milik mendiang ibu kandung Valdo. Satu hari sebelum hari H pernikahan Valdo memang menyiapkan khusus untuk Velyn.
"Anak bunda cantik banget, nggak nyangka sebentar lagi putri bunda yang cantik ini bakal diambil sama orang. Bunda jadi sedih deh" kata bunda yang kini berdiri tepat disamping Velyn duduk seraya menyempurnakan riasannya. Velyn tersenyum malu, namun sedetik kemudian ia bangkit dan menatap lekat bundanya yang kini tengah berkaca.
Velyn memeluk bundanya, jangankan bundanya, ia sendiri tak menyangka akan secepat ini dirinya akan pergi dari rumah kesayangannya ini.
__ADS_1
"Bunda" isak Velyn membuat bundanya buru-buru menyadarkan Velyn agar tidak mengeluarkan air matanya. Bisa-bisa makeup nya luntur nanti.
"Hey nak, jangan gitu, calon suami kamu aja belum lihat cantiknya anak bunda loh, masa mau ngilangin makeup. Jangan nangis ya nak" bujuk bunda membuat Velyn mengangguk seraya tersenyum.
Setelah selesai make up, kini Velyn dan bundanya keluar dari dalam kamar. Bunda memegang lengan Velyn dan menuntunnya kebawah sana. Tepat dimana Valdo kini sudah bersiap dengan jas hitam dan kemeja putih serta dasi berwarna hitam dibaliknya, ia juga memakai peci dan duduk didepan sang penghulu.
Tak banyak tamu yang diundang, hanya beberapa kerabat dan keluarga terdekat. Termasuk sahabat Velyn, siapa lagi kalau bukan Oca.
Ketika Velyn melangkahkan kakinya menuruni tangga, semua mata memandangnya. Termasuk Valdo yang kini terpaku akan keanggunan gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Ayah, Rega, dan Gaisan juga tersenyum akan kedatangan Velyn yang kini tersenyum pada semua orang.
Velyn tak mau ambil pusing, ia menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya kasar. Ia mencoba untuk menahan kegugupannya yang kini sudah hampir membuatnya pingsan saja. Grogi akan tatapan orang-orang yang menatapnya kali ini, apalagi Valdo.
"Mempelai sudah siap" tanya penghulu yang kini bersiap untuk menjabat tangan Valdo.
"Siap pak"
"Baik, kita langsung mulai saja" Sang penghulu mengambil secarik kertas, ia bersiap untuk membacakan akad dan mas kawin untuk kedua mempelai.
Tangan sang penghulu terulur, begitupun Valdo yang kini menjabat tangan penghulu tersebut kala hendak mengambil gadis cantik disampingnya.
__ADS_1
"Saudara Rivaldo Gaisan bin Tirta Gaisan saya nikahkan engkau dengan Arvelyna Putri Chandra binti Rahardian Chandra dengan mas kawin berupa uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Arvelyna Putri Chandra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Para saksi sah!"
"Sah!" pada akhirnya mereka kini sudah sah menjadi seorang suami istri. Valdo kini menatap Velyn yang masih malu-malu, Velyn lalu mengecup punggung tangan suaminya, sedangkan Valdo kini beralih mencium kening Velyn dengan lembut.
Baik Velyn maupun Valdo, kini mereka merasa lega. Pria itu tersenyum, namun ada satu hal yang membuat perhatiannya tertuju pada wanita yang kini tengah berdiri diambang pintu, ia mengepal jemarinya kuat-kuat. Menangis sesenggukan seraya membuang muka pergi dari sana.
Deg!
Valdo buru-buru bangkit, ia berlari mengejar sosok wanita yang ia kenali itu. Orang-orang disana bahkan mencoba untuk memanggil Valdo, termasuk Gaisan yang kini tampak khawatir. Namun Valdo tetap saja berlari, ia bahkan tak perduli dengan pandangan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Kak Valdo!" Velyn mengerutkan keningnya, kenapa Valdo begitu buru-buru dan seperti mengkhawatirkan sesuatu. Perasaan Velyn benar-benar tidak enak.
"Bunda"
"Mungkin Valdo ada kepentingan mendadak, kamu jangan cemas ya sayang" ujar sang bunda mencoba menghibur putrinya yang kini tampak bingung.
__ADS_1