Velyn Love

Velyn Love
Dukungan


__ADS_3

"Bareng yuk!" ajak pria yang kini menurunkan jendela mobilnya seraya tersenyum pada wanita yang kini mengerutkan keningnya. Velyn kemudian beralih menatap kedua temannya yang kini saling senggol seraya memberikan kode untuk masuk dan tersenyum menggoda pada gadis itu.


"Tapi-" belum sempat Velyn melanjutkan perkataannya tiba-tiba saja Adrian dengan sengaja membuka pintu itu untuk meyakinkan diri Velyn. Toh mereka hanya berteman saja. Hanya saja, Velyn sedikit canggung dengan dua temannya yang kini memperhatikannya seperti itu.


"Masuk aja Lyn"


"Iya, kita dukung kok" sahut Cristyn dan Dira bergantian membuat mata Velyn membulat seraya melirik Adrian yang kini tampak tersenyum penuh arti.


Velyn menghela nafas gusarnya, ia kemudian masuk kedalam mobil itu dengan perasaan campur aduk. Sejujurnya Velyn ingin memberitahu kedua temannya itu bahwasanya dirinya dan Adrian sudah lama saling mengenal, dan mereka adalah seorang teman. Tapi Velyn takut jika keduanya berpikir yang tidak-tidak nantinya.


Ia takut teman-temannya menganggapnya bisa naik posisi karena backing dari Adrian.


"Pak Adrian sama Velyn cocok juga ya, pak Adrian itu masih muda, ganteng lagi. Beda sama pak Valdo, ternyata kelakuannya kaya gitu, untung si Velyn belum sampek di apa-apain" bisik Cristyn pada Dira yang kini menatap kepergian mobil itu tepat didepan matanya.


"Tapi, banyak yang bilang kalo pak Adrian itu playboy lo"


"Masa sih?" tanya Cristyn dengan matanya yang menelisik serta jiwa gosipnya yang meronta.

__ADS_1


"Yaelah Crist, gosip kaya gitu udah banyak yang tau kali. Gue cuma berharap, semoga si Velyn nggak dimainin sama tuh cowok" ungkap Dira seraya menyilangkan tangannya diatas dada membuat Cristyn hanya mampu mengiyakan kata-katanya.


***


"Thanks ya Yan, lain kali aku bisa kok pulang sendiri" ujar Velyn seraya hendak melepaskan sabuk pengamannya, namun sedetik kemudian tangan Adrian menahannya, membuat gadis itu menaikkan sebelah alisnya seraya mencoba melepaskan tangannya dari jemari Adrian.


"Aku tau kamu marah karena gara-gara aku, semua karyawan jadi gosipin kamu. Aku minta maaf ya?" Velyn menatap mata Adrian yang penuh dengan penyesalan. Sebenarnya Velyn tidak bermaksud untuk marah pada Adrian. Ia hanya banyak berfikir saja dan tidak mau digosipkan lagi sebagai penggoda atasan termasuk terlalu memperlihatkan hubungan diantara keduanya. Meskipun Velyn tau dirinya dan Adrian hanya berhubungan sebatas teman saja, tapi tetap saja gosip itu lebih kejam daripada kenyataan.


"Aku nggak marah sama kamu kok. Tapi, akan lebih baik kita nggak perlu deket-deket waktu kerja. Aku nggak mau dicap sebagai cewek penggoda. Kita emang temenan, tapi bisa nggak kita bersikap sewajarnya kalo lagi di kantor. Aku mohon" Adrian terdiam sesaat, ia menatap manik mata Velyn yang menunjukkan permohonan padanya.


Adrian mengangguk lemah, ia kemudian menunjukkan senyum paksa yang dibalas senyuman ketenangan dari wanita yang kini melanjutkan untuk melepaskan sabuk pengamannya itu lalu beralih membuka pintu mobil dan keluar dari sana.


Velyn melangkah kedalam rumah besar itu, langkah gontai serta gerakan kepala memutar menimbulkan bunyi yang cukup membuat siapa saja yakin bahwa wanita itu kini tengah kelelahan.


Belum sempat Velyn menghela nafasnya kala ia membuka pintu tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh tatapan datar dari Valdo yang seolah mengintimidasi dirinya.


"Ada hubungan apa kamu sama Adrian?" suara sinis itu mampu membuat Velyn membulatkan matanya seraya menatap Valdo dengan amarah yang ia tahan. Valdo tidak tau saja, Velyn sebenarnya amat lelah kali ini. Mentalnya tak terlalu kuat meladeni sikap pria yang kini seolah menghakiminya.

__ADS_1


"Nggak ada. Aku udah lama kenal sama Adrian, dia temen aku" ucap Velyn tegas seraya hendak melangkah melalui Valdo yang kini tampak masih menatapnya dengan tampang emosi.


"Atau, dia laki-laki pengganti setelah kamu nanti pergi?" Velyn menghentikan langkahnya ketika Valdo mengatakan hal demikian. Ia menunduk, merasakan atmosfer dingin saat Valdo mendekat kearahnya dan mengitari tubuhnya.


Jadi, itu yang Valdo pikirkan sedari tadi. Mata Velyn terpejam beberapa detik, saat ini ia tak mau berdebat. Valdo sendiri tidak sadar akan perlakuannya kemarin, tapi saat ini ia malah seenaknya menuduh Velyn yang tidak-tidak.


"Aku peringatkan kamu Lyn. Aku masih suami sah kamu!"


"Aku juga masih istri sah kamu mas! seharusnya kamu sadari itu dulu daripada sibuk peringatin orang, sedangkan kamu sendiri nggak ingat sama status kamu!" Velyn benar-benar lelah, ia kemudian melangkah menjauh dari Valdo dan menaiki anak tangga. Membiarkan mata Valdo mengarah pada setiap gerakannya.


"Kamu salah paham Lyn, dan kamu juga nggak boleh ada hubungan sama Adrian" gumam Valdo selepas punggung Velyn terlihat pergi dan memasuki kamar mereka.


***


Caldo membuka pintu kamar Nino, malam sudah semakin larut namun ia masih enggan memejamkan matanya. Ia mengintip ibu dan anak itu yang tengah tertidur lelap dengan pelukan hangat yang diberikan Velyn pada putranya.


Valdo tersenyum, ia menyandarkan punggungnya di ambang pintu. Semenjak perlakuannya pada malam itu Velyn selalu tidur dengan Nino. Entah sampai kapan istrinya itu akan perang dingin padanya. Tapi satu hal yang mengganggu pikiran Valdo saat ini. Kedekatan diantara Velyn dan juga Adrian.

__ADS_1


Valdo mengusap kasar wajahnya, ia kembali menutup pintu dengan perlahan seraya melangkah keluar. Langkahnya tiba-tiba terhenti kala dering ponsel membangunkan lamunannya yang sudah melayang kemana-mana.


"Halo-" Valdo menjeda kalimatnya sejenak, matanya membulat dengan tatapan dinginnya.


__ADS_2