Velyn Love

Velyn Love
Dibully lagi


__ADS_3

Mata Velyn semakin memanas kala ia berjalan cepat menuju toilet kampus. Sepanjang perjalanan banyak puluhan mata memandangnya dengan pandangan yang sama. Saling menghina dan mencemoohnya.


"Hu, dasar cewek nggak tahu diri!"


"Cewek jahat"


"Nggak tau malu emang!"


Suara-suara itu bisa Velyn dengar begitu jelas meskipun Velyn mencoba untuk menutupi telinganya dan menunduk. Velyn semakin berjalan cepat menuju kamar mandi saat ia mulai merasakan atmosfer mencekam yang membuat dadanya semakin sesak.


Ingatan Velyn kembali saat ia duduk di bangku SMP dan banyak yang membully dirinya. Rasanya peristiwa itu seperti datang kembali lagi dan dengan cepat membuat rasa takut itu kembali. Velyn mengeratkan genggamannya pada tas miliknya dan masuk kedalam toilet yang sepi.


Velyn masuk kedalam salah satu bilik dan menguncinya dari dalam. Ia duduk di atas kloset seraya menunduk menahan air matanya yang sedari tadi hendak menetes. Tak berselang lama Velyn dikejutkan oleh sebuah air yang mengguyurnya dari arah atas bilik itu yang terlihat menjatuhkan ember merah kedalamnya.


Velyn berteriak seraya meneteskan air matanya saat tubuhnya mulai basah dan merasakan dingin disekujur tubuhnya. Velyn melirik bawah, ternyata memang benar, ada seseorang yang sengaja menyiramnya dan langsung pergi saja dari sana saat langkah kaki itu samar-samar terlihat dari balik pintu dimana Velyn mengamatinya.


Velyn sudah tidak perduli lagi, ia ingin pulang saja saat tangisnya mulai pecah. Velyn menghapus jejak air matanya. Sebenarnya siapa yang membocorkan rahasianya seperti ini? apa dugaan Velyn benar, apakah Oca pelakunya?. Mengingat dirinya dan Oca pernah bertengkar karena masalah ini membuat Velyn berpikir keras tentangnya.


Mereka tidak tau saja apa yang sebenarnya terjadi, tidak ada yang mau mendengarkan penjelasan Velyn. Semua orang merasa benar dengan pendapatnya. Kenapa rasanya sungguh sakit? bahkan tiada satupun yang membelanya. Velyn menggeleng, seharusnya ia tahu resiko menjalani hubungan dengan Andra akan begini akhirnya. Setulus-tulus cintanya, itu akan kalah dengan banyaknya fans Andra yang membuat Velyn tambah sengsara mau dia salah ataupun benar. Itu sebabnya Velyn tidak mau mempublikasikan hubungannya dulu dengan pria itu.


Tapi sekarang, setelah hubungannya berakhir, ia malah dicecar dengan berbagai kata-kata memalukan dan hinaan dari semua orang. Velyn menghapus jejak air matanya, ia mencoba untuk bangkit dan membuka pintu dihadapannya. Namun sialnya pintu itu tak kunjung terbuka. Velyn sudah mencobanya berkali-kali, tapi hasilnya tetap saja, nihil. Velyn memerosotkan tubuhnya dan meringkuk dibawah, kepalanya terasa pening saat ini.

__ADS_1


Suara dering ponsel Velyn membuat gadis itu buru-buru mengangkat panggilan itu. Ditengah kesadarannya tubuh Velyn merasa lemah dan menggigil akibat bajunya yang basah. Ia sudah tidak kuat lagi, tubuhnya begitu lemah, samar-samar ia mendengar suara pria yang begitu lembut membuatnya tersenyum tipis seraya menahan tangisnya yang kini hampir saja pecah.


"Istri ku, kamu lagi apa? udah makan siang belum?" tanya Valdo membuat senyum Velyn terulas meskipun ditengah tangisannya. Disaat seperti ini, suara Valdo mampu memberikan Velyn penyemangat, membuat Velyn merasa lebih tenang daripada sebelumnya.


"Kak, kak Valdo, aku. Tolong a-aku minta tolong" setelah itu Velyn menjatuhkan ponselnya. Ia tidak kuasa lagi menahan pening dikepalanya, Velyn langsung tak sadarkan diri kala dirinya mencoba untuk mengatakan sesuatu lagi.


***


"Halo?! sayang! kamu kenapa?" rahang Valdo mengeras saat menyadari Velyn tak lagi tersambung melalui panggilannya. Pria itu kemudian mencoba untuk menelfon Velyn lagi seraya bangkit dan menatap cemas kesegala arah. Valdo begitu khawatir, pasti terjadi sesuatu pada gadis itu.


Valdo menggebrak meja saat temannya satu itu memperhatikannya dengan tatapan mengejek. Padahal sebelumnya ia memohon-mohon untuk menemukan Lisa, dan sekarang lihatlah, ia malah khawatir sambungan telfonnya putus dari istrinya. Adrian mencibir dalam hati. Sekarang sudah tau kan bagaimana rasanya punya orang yang berharga, makanya jangan suka menyia-nyiakannya.


"Urusin tuh kerjaan lo! gue mau cabut dulu" perintah Valdo membuat Adrian hanya tersenyum miring seraya masih duduk ditempatnya semula dan memainkan pen yang berada ditangannya.


Setelah setengah jam berlalu, kini Valdo sudah sampai di kampus tempat Velyn kuliah. Ia tak mau berlama-lama ataupun basa-basi mencari Velyn kesana kemari. Valdo langsung menuju ruang satpam yang berada di depan gerbang. Ia langsung melihat CCTV dari pos pemantauan. Valdo terpaksa harus menyogok dua satpam itu agar mau bekerjasama.


Perlahan Valdo diperlihatkan seluruh bagian ruangan yang terlihat dan dipasangi kamera CCTV. Valdo bisa melihat keberadaan Velyn yang berada di kantin, ia langsung pergi saat ada dua gadis yang seperti meliriknya. Tak lama kemudian ia melihat Velyn yang masuk kedalam ruang kelasnya, namun sesuatu yang membuat Valdo geram terjadi.


Saat gadis itu masuk kedalam kelas dengan teganya seseorang gadis yang duduk paling depan melemparkan telur pada Velyn yang baru saja masuk. Valdo mengepalkan tangannya. Sialan! siapa yang berani-beraninya menyakiti orang yang paling dia cinta, maka Valdo tidak akan membiarkannya lepas begitu saja.


Valdo melangkahkan kakinya dengan kasar, ia tak perduli dengan tatapan para mahasiswi yang menatapnya penuh kagum. Saat ini Valdo memang masih menggunakan atribut kantoran seperti biasa, tapi dua kancing atas kemejanya yang terbuka serta tubuhnya yang memang tercetak jelas dari balik kemeja itu membuat wanita saja pasti akan terpesona olehnya.

__ADS_1


Valdo masuk kedalam toilet yang tadinya dimasuki oleh Velyn yang terlihat dari CCTV ruang keamanan. Ia melihat bilik yang sengaja diganjal oleh sapu dan langsung membukanya.


Benar saja firasatnya, Velyn kini pingsan dengan tubuhnya yang basah. Wajahnya terlihat begitu pucat serta bibirnya yang membiru tergeletak diatas lantai.


"Velyn! kamu kenapa sayang? bangun Lyn, aku mohon bangun, jangan bikin aku takut sayang" ujar Valdo seraya menangkup wajah Velyn dan menggoyangkan tubuhnya. Namun tetap saja Velyn tidak kunjung sadarkan diri.


Valdo memeluk Velyn dengan erat, ia menggenggam jemari Velyn dan menggosok-gosokkannya dengan tangan miliknya. "Velyn, kamu pasti kuat sayang, aku bakal bawa kamu ke dokter."


***


Setelah sampai di rumah sakit Valdo segera menggendong tubuh Velyn dan membawanya masuk. Ia meminta pada suster untuk menangani istrinya segera.


Setelah sejam lebih menunggu keadaan Velyn yang tengah di tangani oleh dokter Valdo harus kembali bersabar. Ia hanya ingin Velyn segera siuman, Valdo tidak ingin Velyn kenapa-kenapa. Pria itu kemudian menghadang dokter dan menanyakan keadaannya.


"Gimana dok kondisi istri saya?"


"Saya kan sudah bilang sebelumnya, istri anda itu sudah pernah masuk kemari dengan keadaan yang sama. Dia itu tidak tahan dingin kenapa berendam air es segala sih! untung saja keadaannya tidak terlalu parah seperti kemarin, kalau tidak dia bisa meninggal" ancam dokter dengan kata-kata penekanannya pada kata meninggal. Valdo membelalak, ia buru-buru mengintip keadaan Velyn dan menatapnya dari balik jendela dengan pandangan tak percaya.


"Apa dok?! tapi istri saya sekarang baik-baik saja kan dok? dia masih bisa sembuh kan?" padahal ia pikir Velyn hanya tersiram air biasa, tapi ternyata Valdo tak menyangka jika gadis itu sengaja disirami air es.


"Pak Valdo tenang saja, jangan terlalu gegabah, ibu Velyn masih bisa diselamatkan, untung bapak membawanya tepat waktu" meskipun dokter ingin mengatakannya, tapi dokter terlanjur berjanji pada Velyn sebelumnya. Ia tak ingin membuat masalah diantara keluarga pasiennya. Kini masalah penyakit Velyn yang lebih serius lagi harus ia simpan rapat-rapat.

__ADS_1


__ADS_2