Velyn Love

Velyn Love
Rencana ayah dan anak


__ADS_3

Cahaya mentari membangunkan Velyn kala ia merasakan cahaya emas itu menyilaukan matanya. Gadis itu menatap sekeliling dan tak menemukan siapa-siapa disana. Ia juga baru ingat semalam Velyn sudah melakukannya dengan Valdo.


Pipi Velyn mendadak memanas, ia melirik tubuhnya yang kini hanya tertutupi selimut saja. Bahkan dibawah sana ada noda merah bekas keperawanannya yang sudah hilang.


Ia mengingat malam itu, malam panjang yang panas dan ia habiskan bersama suaminya. Suara terbukanya pintu kamar mandi membuat tubuh Velyn tersentak, menatap pria yang kini hanya memakai handuk sepinggang seraya tersenyum lembut padanya.


Velyn menyembunyikan wajahnya dibawah selimut. Meski Valdo sudah melihat semuanya, entah mengapa masih ada perasaan malu dalam hatinya.


Valdo dengan jahil berlari kearah Velyn seraya membuka selimut wanita itu. "Kenapa masih malu sih sayang?, aku kan udah liat semuanya" godaan Valdo membuat Velyn hanya mampu menggigit bibir bawahnya seraya merasakan aroma mint yang selalu menempel pada tubuh Valdo.


"Ngeselin ih!" Velyn mencoba untuk bangkit, namun pinggangnya seperti mau copot saja rasanya. Sakit sekali kala kakinya hendak melangkah.


"Aw!" Valdo benar-benar membuat Velyn kali ini tidak bisa berjalan sepertinya. Velyn meringis, pahanya terasa benar-benar linu sekali. Sedangkan sang pelaku hanya mampu terkekeh. Maklum saja, ini yang pertama untuk istrinya.


"Mau aku bantu mandi?" Velyn membalikkan pandangannya menatap horor pada Valdo yang kini mulai nakal menarik manja selimut yang masih menutupi tubuh Velyn.


"Nggak usah jahil deh!" Velyn mencoba untuk bangkit dan mengabaikan kelakuan suaminya yang masih seperti bocah itu. Velyn benar-benar dibuat kesal olehnya, sudah dibuat sakit seperti ini, tapi pria itu malah seenaknya mengerjai Velyn.


Velyn mencoba untuk bangkit, ia hendak melangkah dengan kakinya, namun belum sempat kaki itu berjalan tiba-tiba saja Valdo dari belakang mengangkat tubuhnya, bersamaan dengan selimut yang menutupi tubuh Velyn.


"Kak Valdo!"


"Udah tau nggak bisa jalan, masih tetep aja maksa"Velyn hanya menurut saja saat Valdo mulai berperilaku lembut padanya. Ia bahkan menyembunyikan wajahnya yang terlihat merona oleh senyuman Valdo yang begitu menawan untuknya.

__ADS_1


***


Velyn kini melangkah mendahului Valdo meskipun langkahnya agak sedikit pincang. Gadis itu masuk kedalam mobil dengan buru-buru. Pria yang kini berjalan dibelakangnya hanya bisa mengulas senyum seraya terkekeh geli melihat tingkah istrinya ini ketika sedang marah.


Valdo memutuskan untuk mengajak Velyn pulang saja setelah sarapan pagi selesai. Ia tau Nino pasti akan mencari keberadaan mereka jika bangun-bangun tidak mendapati mama dan papanya yang berada dirumah.


"Jangan cemberut terus dong sayang, nanti cantiknya hilang loh" kata Valdo seraya duduk disamping Velyn yang masih betah untuk membuang mukanya seraya mengerucutkan bibirnya. Benar-benar membuat Valdo tambah gemas saja.


Bagaimana tidak marah jika Valdo seenaknya sendiri. Ditengah ketidakberdayaan Velyn saat hendak mandi tadi, Valdo dengan sengaja membuat Velyn kelelahan untuk kesekian kalinya. Yah meskipun perlakuannya cukup lembut tapi tetap saja membuat Velyn benar-benar kesal.


"Sayang, kamu kalo kaya gitu terus ke aku, aku juga bakalan gituin kamu terus loh nanti" ancam Valdo dengan seringainya ditengah mengendarai mobil. Ia melirik Velyn yang masih tak perduli. Namun masih bisa ia lihat matanya yang membulat sempurna.


"Kan semalam aku udah bilang, kita bikin adek buat Nino, jadi nggak cukup dong kalo main cuma sekali" kata Valdo seraya mengerem mobilnya ditengah lampu merah yang menyala, membuat Velyn dengan geram mencubit perut Valdo.


"Aw aw, sakit sayang!" omel Velyn ditengah teriakan Valdo yang disusul tertawa renyahnya membuat Velyn tambah kesal saja. Bukannya tidak mau melayani suaminya, tapi Valdo ini benar-benar tidak punya perasaan sama sekali. Ia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan seperti yang dilakukannya tadi pagi.


Setelah sampai rumah pun Velyn juga buru-buru untuk keluar dari dalam mobil, mengacuhkan panggilan Valdo dan melangkah cepat dengan langkahnya yang sedikit gontai.


Baiklah, Valdo memang keterlaluan. Tapi ia juga lelaki. Laki-laki normal mana yang tidak tergoda ketika melihat pemandangan di depan mata yang begitu indah. Saat ini pikiran kotor dan ambisi itu ia hilangkan sejenak. Valdo akan mencari cara agar Velyn mau memaafkannya.


***


Valdo perlahan mengintip kegiatan istrinya itu yang tengah menyuapi Nino didalam kamar. Valdo benar-benar bingun harus melakukan apa agar Velyn mau memaafkannya. Dilihat dari tatapannya tadi dan tidak keperduliannya membuat Valdo harus berfikir keras.

__ADS_1


Valdo menghela nafasnya, ia mulai melangkah masuk untuk membicarakannya pada Velyn. Pumpung ada Nino, maka tidak ada lagi alasan Velyn untuk pergi.


"Wah, Nino lagi makan ya?" celetuk Valdo seraya masuk kedalam kamar membuat senyuman Nino mengembang. Lain halnya dengan Velyn yang masih membuang muka.


"Papa!" Velyn tersenyum masam. Ia melirik Valdo yang kini duduk disampingnya seraya menatap senyum pada Nino yang kini tengah duduk seraya memainkan robot-robotan ditangannya.


"Nino sayang, kamu disuapin papa ya. Mama mau ke toilet nih" Valdo membulatkan matanya menatap Velyn yang kini memberikannya mangkuk bubur padanya. Terlihat senyum Velyn yang tidak ikhlas itu serta bola matanya yang memutar membuat Valdo menghela nafas.


Kali ini Valdo menyerah, seraya menatap kepergian Velyn, pria itu berpikir keras. Meskipun ia tidak berpengalaman banyak dalam menangani masalah wanita, tapi ia takkan mencari Adrian lagi.


Ia sudah tidak percaya lagi dengan perkataan temannya satu itu. Begitu menjerumuskan baginya. Valdo berpikir sejenak, seraya tersenyum pada putranya ia melanjutkan kegiatan Velyn tadi untuk menyuapi Nino.


"Mama lagi malah ya sama papa?" tanya Nino dengan polosnya membuat Valdo hanya bisa tersenyum kecut seraya menggeleng. Anak kecil ini begitu sensitif dan peka juga rupanya.


"Enggak kok sayang, mama mungkin lagi sakit perut aja tadi" Nino hanya mengangguk. Ia kemudian memberikan gambar yang telah ia buat sebelumnya pada sang ayah.


"Nino buat sendili" Valdo tersenyum tatakala melihat gambar itu. gambar ala anak kecil dengan crayon yang menampilkan keluarga bahagia, mama, papa dan Nino yang berada ditengahnya.


"Ini mama, ini papa, ini Nino" tunjuk Nino satu persatu membuat Valdo tersenyum seraya mencium pipi Nino dengan gemas.


Entah mengapa, tiba-tiba ide cemerlang datang di dalam otak kecilnya. Valdo tersenyum seraya melirik Nino penuh harap.


"Nino, mau nggak bantuin papa?" tanpa ragu, Nino mengangguk dengan semangat. Apapun yang akan dilakukan papanya nanti, Nino pikir itu adalah hak yang paling seru.

__ADS_1


Valdo membisikkan sesuatu pada putra kecilnya itu. Dengan senyum mengembang Nino kemudian mengangguk.


__ADS_2