Velyn Love

Velyn Love
Pelukan terakhir Andra


__ADS_3

"Makasih ya buat hari ini" gumam Valdo yang kini mengantar Velyn sampai teras rumahnya. Velyn hanya tersenyum, ia ingin melupakan semua tentang Andra maupun Valdo. Dilihat dari foto itu yang terpampang jelas, serta perkataan Valdo pada Nino, Velyn bisa merasakan jika Valdo benar-benar mencintai wanita itu.


Lagipula masa depan Velyn masih panjang, ia tak mau membebani fikirannya dengan hal yang tidak-tidak. Velyn seharusnya bersyukur karena Valdo begitu pengertian padanya, meskipun sebenarnya tidak ada yang diketahui Valdo dari kehidupannya. Tapi tidak apa, ia juga tidak berhak menyimpan perasaan pada pria dihadapannya ini.


"Santai aja, aku juga senggang kok" kata Velyn seraya melangkah lagi. Hari ini adalah hari yang menyenangkan bagi Valdo, rasanya bermain bertiga bersama Velyn membuat Valdo merasakan keutuhan dalam keluarga sesungguhnya. Meskipun harapannya juga begitu, tapi entah mengapa memikirkan harapannya pada Lisa membuat hatinya berkecamuk. Rasanya ada hati kecilnya yang berbisik padanya jika dirinya mulai merasa nyaman terhadap Velyn. Tapi pikirannya selalu saja tertuju pada Lisa.


Velyn meninggalkan kediaman pria itu kemudian naik taksi. Sebelum menaiki taksi bahkan Velyn bersikap acuh tanpa membalikkan tubuhnya untuk sekedar menyapa Valdo. Sedikit pilu pria itu rasakan, tapi kenapa? harusnya ia tak perlu mengkhawatirkan Velyn. Seharusnya ia memikirkan keberadaan Lisa yang sedikit lagi hendak ia temukan.


Velyn yang kini sudah berada beberapa meter menjauh dari rumah pria itu kini menoleh, menatap Valdo yang masih setia memandangi mobil taksi yang ia tumpangi.


Velyn tersenyum tipis, ternyata ayah dan bundanya benar. Mungkin saja Valdo tidak sejahat yang ia fikirkan. Meskipun dulunya Velyn dikhianati, tapi bukan berarti tidak ada kesempatan lagi untuk keduanya saling mengenal dan berteman bukan?.


***


Velyn memasuki sebuah cafe, pandangannya mengedar. Ia menatap pria yang kini masih menunduk seraya menyesap kopi dihadapannya. Tiba-tiba saja tubuh Velyn gemetar, rasanya ia tak percaya jika dirinya akan menemui Andra sekali lagi.


Andra, orang yang paling Velyn cintai, kini sudah berbeda. Tatapannya yang hangat dan senyuman yang mengembang kini hilang seperti berganti dengan tatapan kekesalan dalam kehidupannya.

__ADS_1


"Velyn!" panggilnya dengan senyuman ramah membuat Velyn menggeleng. Bagaimanapun juga, ia sudah berjanji pada Angelita untuk menemui Andra sekali lagi dan membujuknya.


Andra hendak menyentuh punggung tangan Velyn, namun gadis itu buru-buru menarik tangannya. Ia menatap serius pada Andra yang kini tampak kecewa dengan apa yang Velyn lakukan.


"Langsung ke intinya aja Ndra, aku nggak mau basa-basi lagi. Kamu tau kan kalau Angelita hamil" hati Andra yang tadinya membaik kini berubah ngilu mendengar pernyataan Velyn barusan. Kenapa harus membawa-bawa Angelita. Bahkan ia melakukan itu tanpa sengaja dan tanpa sadar. Seharusnya Velyn tau jika dirinyalah orang yang paling Andra harapkan.


"Yang ada didalam rahim Angelita adalah anak kamu Andra, darah daging kamu. Aku pengen kamu nikah sama dia, kamu harus tanggung jawab dengan apa yang kamu lakuin" mata Andra membulat sempurna. Bagaimana Velyn bisa sekejam ini padanya, ia bisa menatap mata Velyn yang berkaca. Menangkap ketidak relaan itu dari ekspresinya.


Tapi mengapa Velyn harus menyiksa diri dengan merelakannya pada wanita lain?.


"Aku nggak mau, aku cuma cinta sama satu orang, dan kamu pasti juga udah tau" Andra bangkit, ia tak mau membuang-buang waktu lagi berbicara yang tidak penting dengan orang sejahat Velyn sekaligus orang yang paling ia cintai.


Andra melangkah keluar, namun Velyn masih terdiam seraya menahan air matanya yang hampir terjatuh. Sebelum Andra bergerak lebih jauh, kini Velyn buru-buru mengejarnya.


Velyn buru-buru menarik lengan Andra untuk kemudian mengajaknya bicara di gang sempit. Gang sempit antara cafe itu dan satu toko lagi disebelahnya. Matanya menatap Andra semakin dalam, sekali lagi Velyn terbawa. Matanya menitikkan air mata seraya masih menatap dalam-dalam kedalam mata Andra yang juga menatapnya kali ini. Andra menahan tubuh Velyn dengan satu tangannya yang ia tahan ditembok.


"Jujur sama aku Lyn" ujar Andra dengan suara beratnya yang kini juga ikut berkaca. Velyn tidak bisa berbohong, begitu melihat mata teduh itu rasanya Velyn ingin kembali pada masa-masa itu.

__ADS_1


"Iya Ndra, aku cinta sama kamu" kata Velyn seraya menyentuh pipi Andra dengan lembut. Andra menitikkan air matanya, tebakannya memang benar, ia tak pernah salah menilai Velyn. Pria itu memajukan wajahnya, mengecup bibir Velyn lembut seraya meremas kedua pundak gadis yang begitu ia cintai.


Velyn buru-buru melepaskan ciumannya, rasanya masih sama seperti saat terakhir kali Andra dengannya berciuman malam itu. Tapi kali ini keadaannya berbeda, semakin ia mendekati Andra, semakin ingin rasanya Velyn menjauh.


"Kita nggak ditakdirkan untuk bersama Andra, kamu harus tau. Semua yang kamu perbuat harus ada pertanggungjawaban termasuk bayi yang dikandung Angelita. Andra, aku emang cinta sama kamu, dan aku juga terpaksa mau nikah sama orang lain karena alasan. Aku nggak bisa ngasih tau ke kamu alasannya, tapi kamu harus tau kalau aku masih cinta sama kamu"


Andra menyatukan wajah mereka, isakan Velyn membuat Andra membeku dibuatnya. Andra tak tega, ingin menghentikan tangisan gadis dihadapannya, tapi tak cukup jika hanya menyeka air matanya saja.


"Aku minta maaf Velyn, aku salah. Nggak seharusnya aku nodai Angelita, nggak seharusnya aku khianati perasaan kamu" isak Andra bersamaan dengan mata Velyn yang kini mengalir deras air matanya.


"Udah terlambat Ndra, aku bisa maafin kamu. Tapi kamu nggak bisa lari dari masalah. Janji sama aku Andra, kamu harus lupain aku, kamu harus memulai hidup kamu yang baru"


"Nggak Velyn! nggak akan pernah! aku nggak akan mampu buat luapin kamu sayang" Velyn memejamkan matanya erat-erat. Ia meremas jemarinya kuat-kuat seraya memukul dada bidang Andra.


"Nyali kamu dimana ha?! kamu itu laki-laki Andra. Kamu harus tanggung jawab Andra!" teriak Velyn seraya terisak. Hal itu membuat Andra tak tega, pria itu lantas memeluk tubuh Velyn begitu erat membuat gadis itu membenamkan wajahnya di dada bidang Andra.


"Aku akan tanggung jawab Lyn, tapi nggak ada yang bisa maksa aku buat ngelupain kamu" Velyn mengelus punggung Andra. Biar saja ini menjadi yang terakhir setelah mereka berpisah untuk seterusnya.

__ADS_1


Velyn sudah lelah, kini ia pasrah. Meskipun rencananya tidak seindah apa yang ia bayangkan tapi gadis itu mau tidak mau harus menerimanya.


__ADS_2