Velyn Love

Velyn Love
Makan pinggir jalan


__ADS_3

"Tapi Lyn-"


"Ca! gue tau kok sebenernya lo itu nggak cinta sama pak Andra. Lo itu cuma kagum, dan masalah nikah itu udah jadi jalan mereka, mending kita fokus aja deh ke belajar buat ulangan" timpal Velyn membuat Oca sedikit lega. Meskipun ia sendiri tidak terima dengan berita dan kenyataan itu, tapi apa yang dikatakan Velyn memang benar, 'lebih baik mencintai orang yang memang bisa untuk dimiliki, daripada mencintai seseorang yang hanya sekedar bisa untuk dikagumi'.


Oca hendak mengatakan sesuatu, namun gerakan bibirnya terhenti kala sebuah mobil berwarna hitam berhenti dihadapan mereka. Velyn terlihat acuh seraya melanjutkan membaca novel, sedangkan Oca kini tersenyum berbinar karena ada seorang pria yang membuka kaca jendela dari balik mobil itu.


Pria tampan dengan pakaian kantor yang rapi dan terlihat berkarisma. Oca tersenyum seraya menatap pria itu yang kini tersenyum padanya.


"Lyn? kalo yang itu bisa gue milikin nggak?" tanya Oca yang kini menyenggol lengan Velyn membuat gadis itu mengangkat pandangannya dan menatap pria yang kini tersenyum padanya. Mata Velyn membulat sempurna, bagaimana Valdo bisa kemari? Velyn menggeleng seraya menepuk jidatnya.


"Ayo, masuk Lyn!" perintah pria itu membuat Oca tercengang seraya menatap tajam Velyn yang kini terkekeh menatapnya.


"Dia siapa lo Lyn?" tanya Oca membuat Velyn merapihkan bukunya seraya menaruh earphone di dalam tasnya dan membisikkan sesuatu pada sahabatnya itu.


"Itu yang gue ceritain, calon suami gue" bisikan Velyn membuat mata Oca membulat. Si duda yang Velyn ceritakan itu? tampan sekali dan masih sangat muda. Entah mengapa Oca sampai iri pada Velyn yang mendapatkan pria yang tak kalah tampannya dari Andra.


"Ganteng banget Lyn"


"Udah ya, gue duluan" pamit Velyn membuat Oca masih menatap kagum pada sosok pria yang akan menjadi calon suami sahabatnya itu. Kalau jadi Velyn, Oca pasti mau lah dijodohkan dengan duda setampan itu.


Beruntungnya Velyn, Oca sampai tak bisa berfikir jernih. Ia sudah memantapkan hatinya untuk move on dari Andra. Diluar sana pasti juga banyak laki-laki tampan, bahkan lebih tampan dari Andra maupun calon suami Velyn itu.


"Kok tumben jemput aku?" tanya Velyn yang kini beralih duduk disamping Valdo yang masih tersenyum padanya.

__ADS_1


"Sengaja aja, kata tante kamu pulangnya jam seginian terus naik angkot, daripada nggak nyaman di angkot mending aku jemput aja sekalian" Velyn terkekeh, ia sedikit melirik pria disampingnya itu yang kini memakai kemeja biru dengan dasi senada yang membuatnya tambah gagah dan tampan saja.


Velyn tak banyak bicara, ia sesekali mengambil ponsel dan memainkan ponsel itu asal.


"Kamu udah makan siang belum?" tanya Valdo memecah keheningan membuat Velyn mengangkat pandangannya dan menggeleng. Karena kenyataannya ia belum makan siang dan berinisiatif untuk makan dirumah saja.


"Belum kak"


"Kita makan yuk, kebetulan aku ada tempat makan langganan aku yang enak nih" ujar Valdo membuat Velyn berfikir sejenak. Velyn menimbang-nimbang tawaran dari pria ini, wajahnya sedikit memerah karena pandangan mereka bertemu. Pun begitu dengan Valdo yang kini membuang muka menatap jalanan dihadapannya seraya fokus menyetir.


Velyn memang sangat cantik, tak heran kalau ia mempunyai pacar yang juga tampan dan serasi dengannya. Entah mengapa pikiran Valdo menerawang, ia berniat mengajak Velyn makan siang sekaligus mengatakan rencananya yang ia siapkan dengan matang. Setidaknya ia harus mengatakannya jauh hari sebelum hari itu tiba. Karena kalau tidak, baik Valdo maupun Velyn, keduanya takkan bisa menghentikan pernikahan ini.


"Gimana Lyn?" tanya Valdo lagi membuat Velyn terbangun dari lamunannya dan menggeleng mengingat perasaannya yang kini berdetak kencang.


"Boleh, dimana?"


"Deket sini aja kok, lurus aja nanti tempatnya ada di kiri jalan" Valdo akhirnya mengikuti instruksi Velyn. Terserah saja mau makan dimana, yang penting rencananya akan ia utarakan pada saat mereka makan nanti.


Velyn menunjuk sebuah tempat makan pinggir jalan, lalapan, seafood, nasi goreng. Memang sih menunya beragam, tapi apa tidak salah jika tempatnya dipinggir jalan. Belum lagi pasti panas karena tidak ada AC, ya meskipun diatasnya ditutupi sebuah terpal agar orang dibawahnya yang tengah makan tidak kepanasan, tapi tetap saja. Batin Valdo seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Turun yuk kak" ajak Velyn membuat pria itu masih mengernyit. Ia enggan, namun Velyn buru-buru menarik lengan Valdo membuat pria itu tertegun seraya menatap Velyn yang tersenyum padanya.


Benar-benar gadis dihadapannya ini, begitu cantik dan elegan. Valdo sampai dibuat bingung oleh perasaannya sendiri, ia terpaku, mulutnya bungkam melihat senyuman Velyn yang manja dan seolah membujuknya.

__ADS_1


"Kak Valdo! kok bengong?" Valdo menggeleng, ia menghela nafasnya seraya kembali pada pikirannya yang normal. Bisa gila jika ia selalu menatap wajah gadis dihadapannya ini terus menerus.


"Serius Lyn makan disini? kamu nggak salah pilih tempat kan?" tanya Valdo yang kini masih ragu dengan pemandangan jalanan yang memang terlihat panas.


"Enggak kok, disini makanannya enak. Dijamin kakak pasti suka, apalagi sambelnya, udah ayo turun" bujuk Velyn sekali lag, Valdo akhirnya menyerah saja dan memutuskan untuk mengikuti langkah Velyn.


Gadis itu tersenyum pada penjual yang kini terlihat masih menggoreng ayam. Velyn menyuruh Valdo untuk duduk dulu seraya menunggunya memesan makanan.


"Pak, pesen lalapan bebeknya dua ya, sama es teh" kata Velyn seraya menyusul keberadaan Valdo yang kini tampak mengibaskan tangannya sendiri didepan wajahnya. Sudah Velyn tebak, Valdo pasti akan merasa kepanasan. Dilihat dari tampangnya saja yang tadi harus dibujuk dulu membuat Velyn terkekeh geli.


Pasalnya Valdo adalah pemegang saham di perusahaan besar elektronik. Mana mungkin ia terbiasa dengan tempat pinggiran yang panas begini. Tapi Velyn sengaja mengajaknya kemari, karena memang ia menyukai lalapan disini apalagi sambelnya. Sudah enak, murah pula.


Velyn beralih duduk dihadapan Valdo yang kini tampak mengernyit saking kepanasannya. Gadis itu mengambil kertas menu untuk dikipaskan pada Valdo yang kini terdiam seraya menatapnya datar.


"Kenapa ngipasin aku pakek senyum-senyum kaya gitu?" tanya Valdo membuat Velyn menutup mulutnya.


"Lucu aja, emang disini sepanas itu ya?"


"Lagian kamu juga gitu, cari tempat kaya gini, kaya nggak ada yang lain aja" bisik Valdo agar penjual diujung sana tidak mendengar apa yang ia katakan. Tidak enak saja jika penjual itu tersinggung, apalagi dirinya disini hanyalah seorang pembeli.


"Kak Valdo harus cobain makanan disini, nggak bakal rugi deh. Udah murah, enak lagi" celetuk Velyn yang kini tersenyum seraya masih bertahan mengipasi Valdo yang kini menatap serius padanya.


Valdo tiba-tiba menghentikan tangan Velyn, mungkin ini saatnya Valdo mengatakan apa yang hendak ia lakukan, sekaligus mengatakan perasaannya pada mantan istrinya. Mata Velyn menatap intens Valdo yang kini terlihat hendak berucap sesuatu.

__ADS_1


"Aku, aku mau ngomong sama kamu" tiba-tiba saja jantung Velyn berdetak kencang. Ia menunggu kata-kata yang hendak dikatakan pria dihadapannya.


__ADS_2