Velyn Love

Velyn Love
Kenapa?


__ADS_3

Hari sudah hampir menjelang sore, para tamu undangan juga sudah berhamburan keluar dari tadi. Namun Valdo tak kunjung kembali usai mereka melangsungkan pernikahan tadi. Bahkan ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Velyn masih enggan untuk melepaskan kebayanya, ia masih bertahan menunggu Valdo didepan teras rumahnya.


"Nak, tunggu di dalam aja sayang" bujuk bunda dan ayah yang kini tampak khawatir dengan kegelisahan putrinya. Velyn masih menggeleng, berjam-jam sudah ia menunggu kehadiran pria yang sudah sah menjadi suaminya.


"Tuh kan Yah, aku udah bilang kan kalo Valdo itu cowok brengsek. Dia nggak akan berubah dengan mudah" ujar Rega membuat mata Velyn membulat. Bahkan amarah Rahardian kini sudah hampir berada di ubun-ubun.


"Kamu ini ngomong apa Rega! jangan bicara macam-macam ya! kalo kamu nggak bisa nenangin Velyn, lebih baik kamu diam!" teriak sang ayah membuat Rega tersenyum miring seraya melangkah masuk kedalam rumah.


Sebenarnya Rega juga sudah memperingatkan keluarganya berulangkali, ia juga lelah dengan kebiasaan mereka yang selalu membela Valdo. Awalnya ia setuju saja melihat hubungan Velyn dan Valdo yang membaik akhir-akhir ini, tapi namanya juga saudara kandung, pasti ikatan batin Rega juga kuat dengan Velyn. Entah mengapa semalam sebelum pernikahan mereka berlangsung, rasanya Rega seperti hendak menghentikan pernikahan ini. Hatinya seperti tak rela dan curiga, namun ia hempaskan begitu saja. Dan ternyata perasaan gelisahnya tidak salah, Valdo benar-benar membuat Rega kecewa.


"Lyn, ini udah hampir malam lo, kamu mau sampai kapan nungguin Valdo disini? kita kedalam aja yuk" bujuk bundanya sekali lagi, namun lagi-lagi Velyn menggeleng. Ia hendak mencari kebenaran, ia penasaran dengan urusan Valdo yang penting itu hingga membuatnya pergi setelah acara selesai.


"Iya Velyn, om Gaisan kan sekarang juga lagi cari suami kamu, pasti ada hal mendesak. Bentar lagi pasti mereka kembali kok" tambah ayah membuat mata Velyn menatap kedua orangtuanya yang kini tampak memberikan Velyn pengertian.


"Oke, tapi kalian duluan aja ke dalam, aku mau nungguin kak Valdo lima menit lagi. Kalau kak Valdo belum juga datang, nanti aku pasti masuk kok" ujar gadis itu membuat kedua orangtuanya mengangguk dan terpaksa meninggalkan Velyn yang masih kekeuh akan pendiriannya.


Meskipun ada banyak pertanyaan dalam benaknya, namun Velyn hanya ingin suaminya itu kembali. Menjemputnya dan membawanya kerumah mereka. Tangan Velyn sedari tadi berkeringat dingin, ia menatap langit yang kini mulai menggelap.


Ia sudah berjanji akan selalu percaya pada suaminya. Apapun yang terjadi Velyn akan selalu menunggu Valdo hingga kembali. Namun kenyataannya, harapan yang ia idamkan kini hanyalah angan. Lima menit sudah berlalu, kini Velyn menghembuskan nafasnya seraya hendak masuk kedalam rumah. Lagipula ia juga sudah berjanji pada ayah dan bundanya bukan jika akan masuk kedalam kalau Valdo juga belum datang.


Velyn membalikkan tubuhnya, namun belum sempat gadis itu melangkah, tiba-tiba saja seorang satpam menghentikan langkahnya.


"Non Velyn!" ternyata satpam yang biasa berjaga dirumah Velyn. Velyn mengernyit ia menatap satpam itu yang tampak hendak memberikan sebuah surat padanya.

__ADS_1


"Ada apa ya pak?"


"Ini ada surat dari rumah sakit atas nama non Velyn" mata Velyn membulat dibuatnya. Ternyata itu surat dari rumah sakit setelah seminggu ia memeriksakan diri disana. Velyn segera meraih surat tersebut dan berterimakasih pada satpam yang kini tampak tersenyum ramah padanya.


Buru-buru gadis itu membuka surat tersebut, ia membaca perlahan seraya menarik nafasnya dalam-dalam. Velyn terkejut, ia memegangi dadanya kuat-kuat kala air matanya hampir terjatuh. Velyn benar-benar tidak menyangka jika ternyata ia memiliki riwayat yang sama dengan ayahnya.


"Velyn sayang!" panggilan sang bunda membuat gadis itu buru-buru menyeka air matanya seraya menaruh kertas itu didalam saku kebayanya. Velyn buru-buru mengangkat pandangannya seraya tersenyum.


"Iya bunda" Velyn akhirnya masuk kedalam dan menemui bundanya. Ia tersenyum seraya menyembunyikan wajahnya yang tadinya amat lesu. Walau bagaimanapun, tidak ada yang boleh tau akan penyakitnya saat ini.


***


Velyn kini sudah berada dikamarnya, ia melipat kebaya yang tadinya ia pakai, juga melepaskan riasan pengantin yang ada diwajahnya.


"Kenapa om Gaisan yang jemput aku bun? kak Valdo mana?" tanya Velyn yang kini mulai menampakkan wajah murungnya. Memang sejak tadi Valdo juga belum kelihatan batang hidungnya, yang ia dapat hanyalah informasi dari Gaisan yang akan menjemputnya karena Valdo juga tengah ada urusan yang mendesak.


"Valdo udah nunggu kamu katanya dirumah, ayo sayang, kita keluar, om Gaisan udah nungguin lo dari tadi" Velyn mengangguk lemas, kenapa saat bahagianya kini ada saja masalah. Belum lagi Valdo yang menghilang dengan misterius. Dan juga ditambah hasil pemeriksaannya yang menbuat hati Velyn tambah sakit dan hancur.


Kalau saja ia tau dari awal dan memeriksakan dirinya jauh sebelum perjodohan ini dilakukan, mungkin Velyn akan memilih untuk menolak. Ia tak mau Valdo memiliki istri yang tidak berguna sepertinya. Bagaimana ia kaan menghadapi Valdo nantinya? bagaimana Valdo bisa menerima dirinya dan penyakit dalam tubuhnya? fikiran Velyn buntu.


Velyn mencoba untuk tegar dan mengikuti langkah bundanya yang kini menuntun dirinya untuk keluar dari kediamannya. Ia kemudian melangkah untuk mendekat kearah Gaisan yang kink tampak tersenyum padanya.


Velyn bersalaman pada ayah dan bundanya serta Rega yang kini melepas kepergian putri mereka.

__ADS_1


"Baik-baik ya nak disana"


"Kalo ada masalah jangan ragu buat nelfon bunda" ujar bunda dan ayah yang kini beralih memeluk Velyn bersamaan.


"Kak Rega" panggil Velyn membuat Rega yang tadinya menatapnya malas kini memeluk tubuh adiknya dengan gemas seraya mengacak rambutnya.


"Kalo si Valdo macem-macem sama lo, lapor sama gue! gue bakal kasih pelajaran tuh anak" bisik Rega membuat Velyn mengangguk seraya tersenyum pada kakak laki-lakinya itu.


"Ayuk Velyn, kita berangkat sekarang" ajak Gaisan membuat senyum Velyn terulas. Ia kemudian masuk kedalam mobil dan tak lupa melambaikan tangan kepada keluarganya.


Velyn begitu sedih, disaat seperti ini, disaat ia terpuruk seharusnya ada Valdo yang menenangkan hatinya. Ditambah lagi ketika ia kini harus berpisah dengan keluarga yang selalu merawatnya dari kecil hingga dewasa.


Velyn menghela nafasnya, kini ia sudah menjauh dari rumahnya. Menjauh dari kenangan-kenangan indah bersama keluarga yang selalu menjaganya dari dulu.


"Velyn, kamu tenang aja, Valdo tadi memang ada urusan mendadak. Telfonnya nggak bisa diangkat karena lagi rapat juga. Kebetulan ada tamu penting dari Hongkong buat kerjasama" entah mengapa perkataan Gaisan sepertinya hanya menutupi apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Valdo padanya. Meskipun ia tidak mengerti hal apa yang menjadi alasan Valdo meninggalkan acara, namun sangat pasti bukan itu alasan yang sesungguhnya.


Velyn hanya mengangguk dan mengiyakan apa yang dikatakan Gaisan tanpa mau memikirkan yang lainnya. Yang pasti ia ingin mencari kejelasan pada Valdo sendiri nantinya.


"Om! stop om! itu ada orang!" teriak Velyn kala Gaisan menabrak seorang wanita yang kini tampak tergeletak dijalan. Dada Velyn berdetak kencang, ia hendak turun seraya melihat kondisi dari sang wanita yang tadi tak sengaja mereka tabrak.


Velyn buru-buru keluar dari mobil hitam itu, ia melihat seorang wanita yang kini tampak masih sadar dan membutuhkan pertolongan. Velyn benar-benar ketakutan, ia buru-buru mendekat dan hendak menyentuhnya, namun Gaisan buru-buru menarik lengan Velyn dan menelfon seseorang disebrang sana.


"Jangan Lyn, papa akan telfon seseorang. Lagian kita nggak salah, dia yang lari dan sengaja nabrakin diri. Velyn percaya sama papa, dia pasti selamat" kata Gaisan yang kini tampak menenangkan Velyn yang tengah cemas setengah mati.

__ADS_1


"Hallo, jalan pahlawan nomor 32, sekarang ya, saya tunggu" ujarnya pada seseorang disebrang sana.


__ADS_2