
"Lyn, gue tau kok masalah lo itu nggak sederhana. Tapi Valdo nggak pantes buat lo perjuangin."
"Gue tau kok, tapi sejujurnya sebelum kita nikah dulu, gue udah jatuh cinta sama dia Ca. Lo bayangin aja deh gimana rasanya jatuh cinta sama orang yang salah. Yang cuma mau manfaatin gue. Kalo cinta itu bisa di kontrol mungkin gue udah buang jauh-jauh perasaan ini dari awal gue dikecewain" Oca membulatkan matanya, ia menatap tajam sahabatnya yang kini nampak lelah dan masih berbaring disampingnya.
Oca saja tidak menyangka jika perasaan Velyn bisa tumbuh untuk pria itu. Pria yang tidak berhak mendapatkan cinta sama sekali. Bahkan telah menyia-nyiakan Velyn dua kali.
"Jadi lo udah punya rasa sama dia?! apa dia tau?" Velyn menggeleng, kini posisinya ikut duduk dan menyilangkan kakinya disamping Oca yang terlihat masih tidak percaya dengan pandangannya itu.
"Dia nggak perlu tau Ca, kalo pun dia tau mungkin dia juga nggak bakalan perduli, atau malahan semakin benci sama gue" Oca kini menepuk pundak Velyn, ia merasa sangat kasihan pada sahabatnya ini. Oca memang tidak seberuntung Velyn mendapatkan orang tua yang harmonis dan keluarga yang hangat.
Namun kehidupan rumah tangganya tidak bisa dibayangkan bagaimana rumit dan sedihnya. Oca kemudian memeluk sahabatnya dari samping. Rambut Velyn begitu harum, dengan bau manis seperti dirinya. Tidak seperti kehidupannya yang menelan pahit-pahit apa yang harusnya ia jalani.
"Bayangin aja Ca, gimana baiknya dia sebelum pernikahan. Dia selalu antar jemput gue ke kampus, ngajakin gue dinner, dan ngasih gue cincin karena belum sempat tunangan. Gimana gue nggak luluh dan jatuh cinta?" mata Velyn memanas setiap kali mengingat perlakuan manis Valdo yang ternyata hanyalah kedok agar dirinya tak menolak pernikahan ini. Sekaligus untuk memenangkan hati papanya agar mau menandatangani surat kuasa.
"Ca, gue sebenernya salah apa?! gue sayang sama anaknya. Gue nerima dia dan Nino, gue lupain masa lalu yang pernah dia lakuin ke gue. Dan dengan bodohnya gue nggak sadar udah jatuh cinta! gue bodoh kan Ca!" Velyn memberontak dengan tangisannya yang mengalir deras. Hal itu membuat Oca menahan tubuh Velyn yang kini hendak memberontak. Oca semakin mengeratkan pelukannya. Tangisannya yang tidak pernah ia tunjukkan, kini berakhir akan cerita Velyn yang membuatnya ikut sedih.
__ADS_1
"Lyn, lo nggak bodoh Lyn. Suami lo itu yang bodoh, dia nyia-nyiain istri sempurna kaya lo, dia bener-bener jahat. Udah ya, jangan nangis lagi. Gue tau kok perasaan lo kaya gimana, tapi lo juga harus ngontrol emosi juga. Jangan sampe cuma gara-gara dia lo sampek nggak bisa ngelanjutin hidup lo" hidup memang harus berlanjut seperti apa yang dikatakan Oca. Tapi ada saatnya kehidupan Velyn terhenti. Jalan terjal yang ia lalui saat ini mungkin adalah jawaban atas kegagalan hidup yang harusnya menjadi takdir di masa yang akan datang.
***
"Lo mau sampek kapan nyari dia? udahlah lo kan udah punya istri lagi, nikmatin aja yang sekarang" pria dihadapan Valdo ini benar-benar mengesalkan sekali. Jika saja Adrian bukan temannya sejak dulu, ia pasti akan memukulnya sampai babak belur.
Adrian Prahasa, memang punya banyak bakingan dibelakangnya. Orang-orang politik, militer, medis maupun pengusaha banyak dari mereka yang mengenal baik dirinya. Tergolong masih muda namun mempunyai banyak properti dan aset disetiap perusahaan yang ia tanami modal. Itu sebabnya Valdo mengajak salah satu temannya ini untuk menjadi rekannya. Dalam hal ini salah satunya adalah menemukan keberadaan Lisa.
Valdo tau ini bukan bidang Adrian, tapi siapa sangka menempatkan Adrian sebagai salah satu petinggi perusahaan mampu membuatnya mau dan bekerjasama dan membantunya untuk menemukan mantan istrinya itu dengan bantuan bakingan dibelakangnya.
"Udah gue bilang, gue nggak cinta sama dia! gue cuma cinta sama Lisa. Gue bakal cerai setelah nemuin Lisa" Adrian meringis, ia kemudian menyesap kopi dihadapannya yang sudah dipersiapkan oleh sekretaris Valdo yang baru saja berlalu pergi, meninggalkan mereka ditempat pribadi Valdo.
Kalau saja ini bukan karena takut pada papanya, mungkin Valdo tidak akan mau membuang-buang waktu untuk mencari gadis itu. Tapi selama papa dan orangtua Velyn tidak datang kerumah maupun tau hilangnya gadis itu Valdo bisa agak santai sedikit.
"Gue udah bikin surat perjanjian sama dia, status dia cuma istri kontrak gue. Ngapain sih lo mikirin dia ha?! gue tuh ngundang lo kemari bukan mau bahas masalah rumah tangga gue!" Adrian mengernyit, selama ini dirinya memang lelaki playboy. Mencari wanita kesana kemari dan tidak pernah mau untuk berkomitmen. Tapi mendengar Valdo memanfaatkan istrinya sendiri membuat hati Adrian tergugah.
__ADS_1
Jahat sekali laki-laki dihadapannya ini. Sebejat-bejatnya Adrian ia tak pernah memainkan perasaan wanita. Jika ia tidak mau dan tidak suka, langsung saja bilang tanpa meninggalkan perasaan seperti dirinya.
"Gila, lo emang udah gila ya Do! kenapa lo mau nikah sama dia kalo lo masih mau rujuk sama si Lisa?!"
"Itu urusan gue, yang terpenting gue cuma mau lo nemuin Lisa, titik!" ucap tegas Valdo membuat Adrian mau tak mau menghela nafasnya seraya bergumam dalam hati.
Valdo memang tak mau memperdebatkan masalah Velyn. Bisa-bisa kalau Valdo sampai terpancing emosi nantinya Adrian tak mau membantunya lagi.
Kini urusan Lisa sudah selesai, tinggallah Velyn yang harus ia ketemukan. Ia tak mau nanti ada yang curiga dengan menghilangnya gadis itu. Sepertinya Valdo harus menyusun strategi agar Velyn mau kembali dan percaya lagi padanya. Toh surat itu sudah Velyn tanda tangani, maka ketika nanti Valdo menceraikannya ia takkan bisa menolak.
"Gue mau keluar dulu, lo urus yang disini" kata Valdo seraya meraih jas yang berada dibelakang kursi kerjanya dan bangkit meninggalkan lamunan Adrian yang masih bergerilya kemana-mana.
"Hey! maksud lo apa?! perusahaan siapa yang kerja siapa? awas aja lo. Valdo!" Valdo segera menutup pintu ruangan pribadinya dan menutup telinganya erat-erat. Benar-benar berisik sekali Adrian ini. Kalau saja Valdo tidak terpikirkan Velyn, mungkin ia juga malas keluar dari kantornya.
Awalnya Valdo benar-benar tidak ingin mengkhianati Velyn. Dilema dihatinya masih melanda. Namun karena papanya lah ia jadi murka. Disini Velyn memang tidak salah apa-apa, dia hanyalah sebuah alat untuk mengancam maupun membuat papanya luluh.
__ADS_1
Sekarang ini ketulusan dan juga perasaan yang Valdo rasakan itu harus ia buang sejauh-jauhnya. Valdo tidak mau perjuangannya selama bertahun-tahun menemukan Lisa berujung dirinya yang bimbang akibat perasaannya terhadap Velyn. Valdo harus menahan hati, menghilangkan Velyn dari pikirannya dan menanam cinta pada Lisa sedalam-dalamnya seperti dulu.
Lisa tidak punya siapa-siapa, sedangkan Velyn masih punya orang tua. Lisa adalah ibu kandung Nino, tapi Velyn dia hanyalah pengganti. Dan tidak berhak mendapatkan apa yang seharusnya dimiliki mantan istrinya itu.