
Ceklek
Suara terbukanya pintu membuat ibu dan anak yang kini tengah berbincang serius itu menatap pria yang tiba-tiba datang masuk tanpa permisi. Pria memakai sweater hitam dengan pandangan khawatirnya yang kini menatap Rahardian yang terbaring lemah dihadapan Velyn dan juga Malia membuat tubuh pria muda itu bergetar seraya melangkahkan kakinya.
"Rega! kamu udah sampek? kenapa nggak kasih tau bunda nak?" tanya wanita itu yang tak digubris oleh Rega. Lelaki itu malahan semakin mendekat kearah bangsal ayahnya.
"Ayah, bangun yah, Rega disini" ujarnya seraya menyentuh lembut punggung tangan sang ayah yang kini masih enggan untuk bergerak.
Sedangkan Velyn dan Malia saling menatap, mereka mengerti akan perasaan Rega. Pasti berat dirasakan olehnya, seperti halnya perasaan Velyn waktu mengetahui keadaan ayahnya yang sebenarnya.
Velyn melangkah mendekat, ia menyentuh punggung kakaknya yang kini masih mengeluarkan air mata seraya menciumi punggung tangan Rahardian yang dibalut infus.
"Kak" hanya itu yang diucapkan Velyn seraya menghela nafasnya, dan menahan tenggorokannya yang terasa tercekat. Velyn juga merasakan hal yang sama, ketika Rega menangis dengan isakannya yang lirih, gadis itu juga merasakan luka yang dirasakan Rega.
Velyn memeluk tubuh Rega membuat pria itu membalas pelukan adiknya. Hangat dirasakan keduanya, disusul dengan senyuman getir dari Malia yang kini hanya bisa menyemangati hatinya untuk tetap tegar.
"Papa pasti bakal baik-baik aja, kakak tenang ya" bisik Velyn lembut membuat Rega mengangguk seraya melepaskan pelukannya dari sang adik, kemudian ia beralih menatap Malia yang kini tersenyum padanya.
Rega memeluk bundanya, sebuah kerinduan karena beberapa tahun terakhir Rega tidak pulang. Hati yang dirundung pilu dalam diri Malia kini hilang sudah.
***
Setelah menjenguk sang ayah di rumah sakit, Velyn menemani kakaknya untuk makan disebuah restoran dalam mall. Sekalian Velyn juga ingin belanja dan memasak untuk bundanya dirumah sakit.
"Kakak mau pesan apa?" Rega menggeleng, tampak wajahnya murung dan masih ditekuk menandakan bahwa kekhawatiran masih melanda dihatinya.
"Aku nggak mau makan Lyn, kamu pesen aja"
__ADS_1
"Kak, jangan gitu dong, kak Rega kan baru aja pulang dari Belanda, masa nggak laper sih?" bujuk Velyn membuat Rega menatap pandangannya pada adiknya itu seraya menatapnya lamat-lamat. Ada rasa kepedihan yang mendalam dihati Rega, bagaimana ia bisa makan jika keadaan ayahnya seperti ini. Hilang sudah rasa laparnya kala mengingat keluarganya yang berantakan. Belum lagi Velyn yang hendak dijodohkan dengan pria brengsek itu.
"Permisi, mbak mas mau pesan apa" tatapan lamat dari pria itu bahkan kini mengarah pada pelayan yang tiba-tiba datang.
"Saya kopi aja mas, sama frappuccino buat adik saya" ujarnya datar membuat Velyn mengernyit. Sang pelayan segera menulis pesanan dan pergi meninggalkan kedua adik dan kakak itu masih saling memandang satu sama lain.
"Kak! kok nggak pesen makan sih!" protes Velyn membuat Rega semakin intens menatapnya.
"Kenapa kamu mau aja dijodohin sama Valdo? kamu bisa nolak kan Lyn?" Velyn tertunduk lemas. Bahkan kakaknya saja sudah tau permasalahan dalam dirinya.
Memang semenjak Valdo kawin lari dengan pacarnya tiga tahun lalu, keluarga mereka saling berseteru. Apalagi Rega, dia paling benci dengan Valdo ketika mengingat bagaimana perlakuan buruk pria itu pada adik semata wayangnya. Jangankan Rega, Rahardian saja begitu kecewa pada pria itu. Tapi satu-satunya orang yang tidak pernah menyerah dalam hubungan kedua keluarga ini hanyalah Isan.
Setiap minggu sekali Isan selalu mendatangi rumah mereka. Membawakan makanan, atau sesuatu sebagai tanda permintaan maaf dari puteranya.
"Kenapa Lyn?! jawab! atau kamu masih suka ya sama dia?" Velyn mendongak, matanya memerah menatap sang kakak yang kini tengah murka padanya.
"Tapi Valdo udah punya anak Lyn, kamu nggak inget gimana dia dulu memperlakukan kamu?" Velyn menggeleng. Mau bagaimana lagi, jika itu yang diinginkan oleh ayahnya ia juga bisa apa. Ia tidak ingin menolak ayahnya yang tengah sakit keras.
"Itu nggak penting kak, sekarang prioritas kita adalah ayah" mata Rega terpejam, sampai sebegitunya Velyn mengutamakan keselamatan ayahnya sampai-sampai ia tak memperdulikan kebahagiaannya sendiri.
Rega benar-benar menyesal, jika saja dia tidak kuliah dan bekerja diluar negeri pasti cepat atau lambat ia akan mengetahui kesehatan ayahnya yang memburuk. Jika saja waktu dapat diulang kembali, Rega pasti akan mengobati ayahnya ke dokter terbaik. Tapi sekarang semua seolah terlambat. Keinginan ayahnya adalah prioritas seperti apa yang dikatakan Velyn. Meskipun Rega sendiri tak pernah tau apa yang melatarbelakangi keinginan ayahnya untuk tetap menjodohkan adiknya dengan Valdo.
"Silahkan mbak mas minumannya" kata seorang pelayan yang tiba-tiba datang memberikan pesanan kepada mereka.
"Kak, aku ke toilet sebentar ya" Rega mengangguk lemah. Ia masih terdiam seraya berfikir tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Pikirannya kalut, kacau dan gundah datang bersamaan. Ia tak bisa memikirkan bagaimana nasib adiknya nanti jika Valdo yang menikahinya. Akankah Velyn bahagia? apakah Valdo mengubah pandangannya terhadap adiknya? jujur saja Rega benar-benar tak bisa menerima keputusan ayahnya.
__ADS_1
Rega takut nantinya hubungan mereka akan kacau dan berpisah ditengah jalan. Bagaimana dengan masa depan Velyn?, meskipun berpisah bukanlah sebuah aib, tapi Rega bisa membayangkan betapa berbedanya status yang akan disandang Velyn nantinya. Tentu saja Rega tidak akan mendoakan hal buruk seperti itu, tapi kekhawatirannya membuat fikirannya melayang kemana-mana.
"Rega!" suara tak asing itu membuat mata Rega menengadah, membulat sempurna menatap pria yang kini tersenyum seraya menunjuknya.
"Elo!" pria itu dan Rega saling bersalaman dan memeluk satu sama lain. Beberapa tahun tidak pulang saja akhirnya bertemu dengan teman lama semasa kuliah. Rega berbincang-bincang dan mempersilahkan pria itu untuk duduk menemaninya seraya menunggu Velyn kembali.
Namun baru saja batinnya mengingat Velyn, gadis itu sudah berdiri hendak mendekat dari arah toilet. Rega mengisyaratkan pada Velyn untuk segera mendekat.
Gadis itu mengernyit ketika ada seorang pria yang membelakangi tubuhnya dan duduk dihadapan Rega, orang itu tampak tak asing dengan memakai jaket jeans serta celana yang senada. Velyn menggeleng, mungkin saja itu teman kakaknya, bisa dilihat dari cara mereka bercengkrama terlihat begitu akrab.
"Ndra, kenalin adek gue" tiba-tiba saja mata Velyn membulat, senyum yang tadinya hangat kini berubah menjadi ekspresi terkejut seolah tak menyangka jika teman dari kakaknya adalah mantan pacarnya sendiri.
"Kita udah kenal kok" Velyn menelan salivanya, terlihat jelas Andra begitu santai menanggapi apa yang dikatakan Rega. Bahkan ketika Velyn terkejut, ekspresinya biasa-biasa saja. Kenapa Andra seperti tidak pernah terjadi sesuatu? kenapa bahkan tatapannya tidak seperti dulu. Ia mengabaikan Velyn begitu saja.
Hati Velyn sakit melihatnya, secepat itukah Andra melupakannya? Velyn benar-benar tak mengerti dengan jalan fikiran Andra.
"Oh ya?! kenal dimana?" Velyn hanya terdiam, ia duduk di tengah-tengah Rega dan Andra yang kini masih saling melempar senyuman sahabat.
"Mahasiswi di kampus" ujar Andra sesantai mungkin. Velyn menatap Andra dengan pandangan yang sulit diartikan, bahkan pandangannya saja tidak digubris sama sekali oleh Andra.
"Kebetulan banget ya, oh ya gimana udah punya cewek belum lo? katanya dulu pernah mau ngejar pujaan hati itu?" mata Velyn menatap nanar Rega yang kini menyinggung soal pujaan hati itu pada Andra. Velyn hanya mampu terdiam, ia sedikit melirik Andra yang kini terkekeh menanggapi pertanyaan Rega barusan.
"Gue sama dia kayanya nggak jodoh deh, lagian udah lama banget ngapain sih pakek dibahas segala"
"Hah?! bukannya lo dari dulu tergila-gila banget sama tuh cewek? dari kuliah bahkan ditembak sama junior aja sampek nolak-nolak" seru Rega membuat Velyn membulatkan matanya. Apa yang mereka bicarakan adalah dirinya? memori Velyn berputar lagi tentang buku itu. Buku putih tebal yang diberikan Andra untuknya.
Tiba-tiba hati Velyn Bergetar ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Andra. Ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang dikatakannya. Mata Velyn berkaca, ia menatap Andra dengan seksama, orang yang paling Velyn cintai.
__ADS_1