Velyn Love

Velyn Love
Terlintas


__ADS_3

Seminggu kemudian....


Tok tok tok


"Masuk!" suara terbukanya pintu masih membuat Velyn enggan untuk mengalihkan pandangannya dari monitor dihadapannya.


"Kali ini gue yang ngasih bunga ini ke lo" suara tak asing itu membuat Velyn terperanjat kala sahabatnya Cristyn tiba-tiba saja masuk dengan membawa sebuket bunga mawar merah untuknya.


Velyn hanya mampu menghela nafasnya lelah. Sudah seminggu ini Valdo mengirimkan buket bunga besar untuknya. Tentu saja dengan bantuan pihak resepsionis dan mengantarkannya langsung padanya. Namun kali ini berbeda, Cristyn yang tadinya bersimpangan dengan karyawan itu mengambil alih tugasnya seraya hendak mengintrogasi sahabatnya sendiri.


Pasalnya ia juga heran setiap hari pastinya ada yang mengirimkan buket bunga untuk dirinya. Dan setiap kali ditanya, Velyn selalu mengelak dan seolah tidak perduli.


"Lo nggak perlu repot-repot kali Crist" Cristyn melirik kumpulan buket bunga yang berada di sofa. Benar-benar banyak sekali sampai ia sendiri terheran, siapa yang mengagumi Velyn sampai sebegininya.


Cristyn akui Velyn memang cantik, tapi dengan mengirimkan bunga seperti ini sepertinya terlalu berlebihan. Tapi memang dasar Velyn ini cueknya minta ampun, ia sampai membiarkan bunga itu tergeletak begitu saja dibawah sana.


"Gue masih penasaran, siapa sih yang ngirimin lo bunga sebanyak itu. Lo itu beneran nggak tau atau pura-pura aja sih?!" anggap saja Velyn ini memang tuli. Posisinya saja masih sama seperti saat Cristyn masuk tadi, menatap monitor serta menahan kepalanya dengan satu tangannya.


"Udahlah Crist, gue aja juga nggak tau dan nggak perduli juga. Gue masih banyak kerjaan nih, emang lo lagi senggang ya?" tanya Velyn balik seraya mengetik beberapa kata pada file yang ada didepan matanya.

__ADS_1


Cristyn menghela nafasnya, ia kemudian duduk dihadapan Velyn seraya meletakkan buket bunga itu di depan meja Velyn.


"Nggak juga sih" Cristyn menghela nafasnya, ia melirik kertas yang menggantung diantara bunga-bunga mawar yang berada dihadapannya. Rasa penasarannya kini kian bertambah saat tangannya meraih dengan cepat surat itu dari rangkaian bunga yang ia letakkan tadi.


"Hey! mau apa lo?!" teriak Velyn seraya merebut kertas yang hampir saja dibuka oleh sahabatnya itu. Kesal dirasakan oleh Cristyn yang kini tampak menekuk wajahnya seraya menatap Velyn dengan pandangan sebal penuh penasaran.


"Pelit amat sih Lyn!"


"Ye! ini tuh urusan gue, privasi gue. Wajar dong gue mau ngasih tau lo atau nggak" kesal Velyn seraya sedikit melirik kata-kata yang tertuliskan dari balik kertas ditangannya.


"I'm sorry my Wife"


Sejenak senyuman tipis terlihat dipipi merah Velyn yang kini mengembang tak jelas. Kalau sedikit saja Cristyn membuka kertas ini, mungkin ia pasti akan kaget jika Velyn sebenarnya sudah menikah.


Dengan langkah santai perlahan Velyn melangkah keluar dari supermarket. Dengan membawa dua kantong kresek berwarna putih dan belanjaan yang cukup untuk keperluan minggu ini. Wanita itu memang sengaja mampir terlebih dahulu untuk belanja sebelum melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah.


Warna langit sudah berubah menjadi jingga, tanda malam akan segera tiba. Velyn melangkah kearah tempat duduk didepan supermarket, ia menghela nafas seraya meraih botol minuman bersoda dari dalam kantong kresek yang tadi ia bawa. Tubuhnya terasa lelah kali ini Velyn menyandarkan punggungnya seraya menikmati udara sore yang begitu menenangkan baginya. Jauh lebih tenang daripada pulang ke rumah dan melihat kegigihan Valdo yang mencoba bersikap manis padanya.


"Velyn! boleh aku duduk disini?" Velyn menoleh pada lelaki yang kini tampak tersenyum padanya. Ia mendongak menatap pria yang berpakaian casual dengan jaket kulit dan kaos putih didalamnya yang membalut tubuhnya.

__ADS_1


Sejenak Velyn terdiam, ia menarik anak rambutnya yang terbang terkena angin dan menyelipkannya di belakang telinganya. Velyn mengangguk kaku, ia hanya mampu menunduk saat ini ketika Andra duduk berjarak beberapa senti dari tubuhnya.


"Gimana kabar kamu? oh ya, kuliah kamu di universitas yang baru gimana? nggak ada masalah lagi kan?" Velyn hanya tersenyum ramah seraya mengangguk. Sudah dua bulan ini tidak bertemu dengan sosok pria disampingnya itu. Ternyata Andra masih sama hangat dan ramahnya.


"Baik kok, semuanya lancar. Aku juga masih magang, kalo kamu?" tanya Velyn balik yang membuat Andra semakin salah tingkah sendiri. Pria itu menggaruk tengkuknya seraya tersenyum tipis menanggapi respon Velyn yang ternyata berbeda dari bayangannya sebelumnya.


"Ak-aku, aku juga baik kok. Tapi, aku udah cerai sama Angelita" Velyn membulatkan matanya mendengar hal itu, ia menatap Andra dengan pandangan tak percaya.


"Kenapa?! apa karena dia udah nggak ngandung anak kamu lagi?"


"Bukan!" tatapan mata Andra kini menjurus pada wanita yang kini menatap tajam dirinya. Wanita yang benar-benar Andra cintai, tapi ia sadar Velyn sudah dimiliki. Tatapan mata Andra masih sama seperti dulu, menenangkan dan membuat seolah jiwa Velyn terbang.


"Aku emang dari awal nggak pernah cinta sama dia, kepribadian dan juga sifatnya nggak cocok sama aku Lyn. Aku cuma cinta sama satu orang, meskipun orang itu nggak akan pernah bisa aku miliki" Velyn membuang muka, entah mengapa memori indahnya bersama dengan Andra terulang kembali dalam fikirannya. Mata Velyn berkaca, ia hanya mampu terdiam dan membuang segala kenangan indah itu meskipun perasaannya sudah berbeda dari yang dulu.


"Aku sadar Lyn, aku bukan orang sehebat Valdo. Dia berani buat ngelindungi kamu, dia punya segalanya, dan dia bisa jaga kamu. Sedangkan aku, aku pengecut Lyn" ungkap Andra seraya tersenyum miring. Dibalik semua yang terjadi, semuanya juga berakar dari dirinya. Mungkin Andra memang pantas mendapatkan ini semua, karena sedari awal Andra hanya mengagumi sosok Velyn tanpa bisa melindunginya. Ia hanya diam ketika orang lain menindas wanita yang paling ia cinta.


"Lyn, aku cuma mau ingatin kamu. Jangan sampai kamu nyesel kaya aku, jangan sampai kamu membiarkan orang yang paling berharga buat kamu itu lari. Karena ketika dia pergi, kita nggak akan pernah bisa mengembalikan semuanya lagi" Velyn mendongak, pikirannya terlintas akan masalahnya dengan Valdo. Ia melirik Andra lalu tersenyum. Mungkin sudah cukup Velyn mendiami suaminya selama seminggu ini. Lagipula, itu hak Valdo untuk tidak bercerita. Entah mengapa, rasanya Velyn ingin cepat-cepat pulang dan bertemu dengan suaminya.


Dengan perkataan Andra barusan membuat hati Velyn tergugah. Tidak seharusnya ia marah dan bersikap egois pada Valdo yang selama ini mati-matian meminta maaf padanya.

__ADS_1


"Andra, makasih ya" hanya itu yang dapat Velyn sampaikan ketika ia hendak bangkit dari duduknya. Andra yang sadar akan maksud Velyn kini tersenyum dengan ramah seraya mengangguk. Ia tau Velyn dan Valdo saling mencintai, itu sebabnya Andra tidak ingin lagi menggangu hubungan diantara keduanya.


Cukup melihat Velyn bahagia saja bisa membuat hati Andra sedikit lebih lega.


__ADS_2