Velyn Love

Velyn Love
Kesempatan


__ADS_3

Langkah Velyn turun dari sebuah mobil berwarna putih, ia tersenyum kearah Adrian yang dengan senang hati mengantarkannya ke rumah sakit. Rasanya jantung Velyn berdetak kencang mengingat pertemuannya dengan dokter spesialisnya.


Ia tau resiko apa yang ia dapatkan jika ia melakukan pengobatan ini nantinya. Tubuh yang kurus kering, rambut perlahan akan habis tak tersisa. Entah Valdo akan menerimanya lagi atau tidak. Pada saatnya nanti, ia tidak akan secantik ini lagi. Bayangan itu terhapus seketika saat pundaknya ditepuk pelan oleh pria yang kini tersenyum padanya.


"Kamu nggak apa-apa kan Lyn? kok gugup gitu?" Velyn hanya mampu menggeleng, ia membalas senyuman Adrian.


"Nggak usah takut, aku yakin kamu pasti bisa lewati ini. Apapun yang terjadi sama kamu nanti, Valdo pasti bakal nemenin kamu. Aku janji itu bakal terjadi" Velyn tersentak, ia mengerutkan keningnya seraya menatap Adrian dengan pandangan bertanya.


"Kenapa kamu yang harus janji? kita kan nggak tau pasti apa yang bakal Valdo lakuin nanti."


"Karena aku yakin sama sahabat aku, aku yakin tentang cinta dan obsesi dia ke kamu. Dia bener-bener sayang sama kamu Lyn, aku percaya cuma dia yang bisa bikin kamu bahagia" Velyn menunduk, apa yang dikatakan Adrian benar-benar membuat Velyn malu. Bisa-bisanya ia meragukan kesetiaan Valdo, yang seharusnya percaya pada Valdo adalah dirinya bukan Adrian.


Velyn benar-benar dibuat ragu dengan hatinya sendiri. Ia menghela nafas, merasakan atmosfer ketenangan saat Adrian menghibur dirinya barusan.


"Makasih, kamu udah yakinin aku Yan. Aku juga percaya, dia pasti bakal nemenin aku walaupun kita nggak tau hasilnya akan gimana nantinya" Adrian memang lelaki baik. Velyn hanya mampu berdoa semoga Adrian menemukan wanita yang diidamkannya, hanya wanita baik yang pantas bersanding dengannya.


"Ya udah, masuk yuk!" Velyn mengangguk patuh, ia kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah sakit itu. Namun pergerakan matanya seperti menangkap seseorang yang tak asing baginya. Pria itu membantu seorang wanita masuk kedalam mobil. Meskipun jarak mereka cukup jauh, tapi perawakan dan juga gerak-gerik dari pria itu Velyn tidak salah mengenali.


"Mas Valdo!" Adrian terperanjat saat Velyn mulai menyusul mobil hitam itu menjauh dari parkiran. Segera setelah itu, Adrian menarik lengan Velyn dan menatap kepergian mobil itu dari sana.


"Ian, aku tadi liat mas Valdo. Nggak salah lagi, itu pasti dia. Tapi kenapa mas Valdo bawa perempuan? terus itu juga bukan mobilnya. Yan, kamu tadi liat kan?" Adrian tidak yakin dengan apa yang dilihat wanita dihadapannya ini. Pasalnya memang benar mobil itu bukanlah milik Valdo. Tapi memang tidak asing untuknya juga.


Adrian menggeleng, tidak mungkin Valdo menyembunyikan sesuatu dari Velyn lagi. Ditambah pria itu akan menceraikan Lisa cepat atau lambat.


"Lyn, kamu salah liat mungkin. Itu bukan mobil Valdo, bisa jadi kan dari belakang emang mirip."

__ADS_1


"Tapi Yan, aku bener-bener yakin kalo itu mas Valdo"


"Terus kamu pikir ngapain dia kesini? kalo dia ada apa-apa nggak mungkin dia nggak ngabarin kamu kan?. Mungkin kamu salah liat kali" Velyn hanya mampu menggeleng. Apa mungkin apa yang dikatakan Adrian benar?. Apa tadi Velyn terlalu memikirkan Valdo saja, hingga Valdo selalu terbayang dipikirannya.


"Mungkin kamu bener, aku salah liat" Velyn membalikkan tubuhnya, kemudian berjalan cepat memasuki rumah sakit. Pikirannya yang tadi perlahan ia lupakan begitu saja. Ia tak mau terbebani oleh perasaannya yang tak pasti. Tapi nanti, setelah ia pulang dari rumah sakit pastinya ia akan mengintrogasi suaminya.


***


"Puas kamu udah buat aku nggak bisa memperbaiki hubungan aku sama istri ku?!" tatapan tajam itu tak dihiraukan oleh Lisa yang kini menatap arah jalanan seraya tersenyum menang. Memang ia sengaja menabrakkan dirinya demi bisa menghabiskan waktu dengan Valdo. Meskipun itu akan melukai beberapa bagian tubuhnya.


Dan benar saja, ketika mendengar dirinya kecelakaan Valdo langsung bergegas untuk menemuinya dirumah sakit, bahkan meninggalkan mobilnya dirumahnya.


"Dengan kamu bersikap kaya gini ke aku, itu udah cukup buktiin, kalau kamu sebenarnya belum bisa lupain aku dan masih perduli sama aku" Valdo tersenyum sinis. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Lisa yang begitu bodoh, sampai ia mau mengorbankan diri hanya demi mencari perhatian dirinya.


"Selama kita masih belum cerai, kewajiban aku cuma buat nolong kamu Lis. Aku nggak mau papa ku ngelakuin hal kotor yang sia-sia. Dan ternyata aku yang bodoh, aku ketipu sama muslihat kamu."


Kenapa kebahagiaannya harus ia rasakan dalam sesingkat itu. Sedangkan Lisa masih belum bisa menikmati hidup bersama orang yang paling ia cintai. Ini semua karena wanita itu. Wanita yang membuat hidup Lisa bagaikan neraka. Lisa tidak memilih untuk pergi, ia tidak memilih untuk bersembunyi. Hanya karena membela wanita itu, papa Valdo sekarang telah berhasil membuat Valdo sendiri membencinya. Ini tidak adil baginya. Lisa benar-benar sebatang kara, ia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.


"Do, aku nggak milih buat pergi, itu semua bukan kehendak aku Valdo. Kita udah punya Nino, bahkan kita belum cerai, sedangkan wanita itu-"


"Stop Lisa! jangan pernah ngomong kalau kita bakal balikan. Itu semua nggak akan pernah terjadi. Bahkan aku yang bakal merasa bersalah kalau aku nerusin hubungan kita ini, karena nyatanya aku cuma cinta sama Velyn!"


"Velyn lagi! Velyn lagi! dulu kamu pernah bilang kalau kamu nggak mau dijodohin sama dia kan Do! kamu bilang kalau kamu jijik sama cewek gendut kaya dia. Kenapa sekarang kamu berubah?" Lisa mengusap kasar wajahnya yang penuh dengan genangan air mata. Ia menatap Valdo dengan sinis seraya tersenyum penuh arti.


"Oh, aku tau. Karena dia udah nggak gendut lagi, karena dia udah cantik? makanya kamu lebih milih dia ketimbang aku yang sekarang. Kamu cuma liat fisik dia doang Valdo-" tiba-tiba saja Valdo mengerem mobilnya secara mendadak, membuat tubuh Lisa terjingkat kedepan dan hampir membuatnya jatuh jika saja ia tidak mengenakan sabuk pengamannya.

__ADS_1


"Diam kamu Lisa! kamu nggak tau soal perasaan aku. Cukup! aku turun disini aja" Valdo sudah sangat begitu kesal. Ia buru-buru keluar dari mobil itu dan membiarkan Lisa menangis tersedu-sedu atas kepergiannya.


***


Langkah lemas pria itu memasuki rumah besar yang kini menjadi persinggahan untuknya selama ini. Pikirannya dipenuhi oleh beberapa peristiwa dan masalah yang terjadi padanya baru-baru ini.


Valdo segera masuk dan menaiki anak tangga. Terlihat guratan lelah diwajahnya setelah selama ini ia ditimpa beberapa hal yang belum bisa ia selesaikan sepenuhnya.


Belum sempat ia sampai anak tangga paling atas, matanya terperanjat kala melihat notifikasi dari ponsel yang baru saja ia buka. Valdo membulatkan matanya, ia buru-buru turun kembali dan berlari kearah luar rumah. Ia menghentikan langkahnya saat melihat sebuah mobil menurunkan seorang wanita yang begitu tidak asing baginya.


Valdo membulatkan matanya, padahal ia tadi baru sadar meninggalkan Velyn di kantor.


Panggilan tak terjawab dari istrinya juga pesan chat yang beberapa jam lalu membuat dirinya begitu khawatir dan berlari untuk segera menjemputnya.


Sayangnya, kini Valdo dibuat kecewa oleh kebersamaan Adrian dan juga Velyn yang membuat hatinya ngilu seketika. Apa Velyn dan Adrian punya hubungan? apakah laki-laki pengganti setelah mereka bercerai nanti adalah Adrian? sahabatnya sendiri?.


Valdo meringis, ia kemudian tertawa dengan ekspresi kecewa seraya masuk kembali kedalam rumah. Rasanya hati Valdo benar-benar sakit mengingat kedekatan mereka. Tapi apa yang bisa Valdo lakukan? Velyn juga ingin berpisah darinya. Tiga bulan lagi, kebersamaan mereka akan hilang begitu kontrak itu telah berakhir.


"Makasih ya Yan kamu udah repot-repot nganterin aku pulang"


"It's okay. Nggak perlu sungkan-sungkan kalo punya temen kaya aku, nggak ada ruginya dimanfaatin"


"Kamu nih ngomong apa sih, aku nggak mungkinlah manfaatin kamu. Oh ya, mau mampir dulu?" tawar Velyn seraya tersenyum pada Adrian yang kini menggeleng seraya tersenyum padanya.


"Nggak ah, aku mau nongki-nongki ganteng. Sayang banget malam minggu kaya gini nggak bisa senang-senang" memang kebiasaan Adrian selesai melepas penat selama seminggu bekerja hanya club malam dan para wanita penghibur favoritnya.

__ADS_1


Katakan saja jika perbuatan Adrian begitu bejat, tapi itu semua juga bukan murni kesalahannya. Melainkan hidupnya selama ini yang begitu kacau ditengah ketidakharmonisan keluarganya.


"Kalo gitu, aku masuk duluan ya. Kamu ati-ati di jalan" Adrian mengangguk seraya tersenyum, ia kemudian menatap kepergian punggung Velyn yang semakin menjauh darinya. Tak lupa senyuman terulas dipipi Velyn sebelum ia memasuki rumah besarnya.


__ADS_2