Velyn Love

Velyn Love
Tidak akan cerai


__ADS_3

Velyn turun dari dalam mobil hitam milik Valdo, setelah berpikir panjang ia memutuskan untuk kembali pada pria satu ini. Meskipun begitu bukan berarti Velyn akan mempercayai Valdo lagi sama seperti dulu. Ia hanya tak ingin bunda curiga maupun bertanya-tanya. Ditambah lagi keadaan ayah begitu kritis membuatnya tak tega jika harus membuat bunda tambah khawatir nantinya.


Velyn menghela nafasnya, ia melirik rumah besar dihadapannya. Ketika melihatnya saja, selalu muncul bayangan dimana Valdo selalu bersikap kasar dan tak mau menghargainya. Velyn takut, ia sedikit melirik Valdo yang kini turun dan melangkah kearahnya, mengulurkan tangannya seraya mengulas senyum. Velyn ragu, mungkinkah ini sungguhan? atau ini hanyalah gimik dari Valdo untuk menyakitinya lagi.


Bisa saja kan ketika masuk rumah nanti senyuman di wajahnya berubah menjadi tatapan masam dan kejam yang biasa ia saksikan setiap hari. Velyn ragu, ia menggigit bibir bawahnya seraya menunduk. Takut untuk menerima uluran tangan dari suaminya itu.


Valdo yang mengerti akan situasi kini ia mulai tersenyum lembut, jemarinya menyentuh lengan Velyn tanpa permisi dan menariknya dengan lembut menuju kearah teras rumah. Velyn hanya bisa mengekor, ia mengikuti langkah Valdo meskipun agak sedikit ragu.


"Velyn, jangan takut, aku nggak akan bohong sama kamu. Aku udah minta kesempatan lagi dari kamu, nggak mungkin aku sia-siakan kesempatan itu" Velyn hanya terdiam mendengar apa yang Valdo katakan. Atmosfer yang tadinya mencekam kini seolah hilang kala Valdo tiba-tiba mensejajarkan tubuhnya dan mengecup kening Velyn begitu lama. Gadis itu menelan ludahnya. Beginikah rasanya menikah dan menjadi seorang istri? hangat ia rasakan saat Valdo menyentuh lembut pipinya dan menggandeng tangannya lagi untuk masuk kedalam rumah itu.


Velyn sedikit melirik tembok ruang tamu yang tadinya dihiasi frame besar foto pernikahan Valdo dengan mantannya kini berubah menjadi foto dirinya dengan Valdo saat mereka melakukan sesi pemotretan prewedding di pantai. Velyn sebenarnya agak terkejut, bukankah seharusnya foto ini dibuang saat Valdo tau jika keberadaannya masih di gudang?.


"Mama!" suara ceria itu muncul dari anak tangga, bocah kecil itu kemudian berhambur dan berlari kearah Velyn dan Valdo. Velyn melepaskan genggaman tangannya dari Valdo dan menatap Nino yang kini memeluk lututnya seraya merengek untuk minta digendong.


Velyn hanya terdiam, ia takut sekali dengan ancaman Valdo saat itu. Saat Valdo menamparnya dan menuduhnya telah mencelakai Nino. Velyn ingat itu semua. Valdo yang melihat ekspresi Velyn seperti itu langsung bisa menyimpulkan, betapa traumanya Velyn saat ia mengatakan hal yang tidak-tidak pada gadis itu. Velyn telah berbaik hati membawa Nino ke rumah sakit, dengan tergesa-gesa ia sampai tidak sempat untuk sarapan. Namun apa yang Velyn dapatkan hanyalah sebuah hinaan keji dari dirinya.


"Tuan, nyonya Velyn tidak pernah kasar pada den Nino. Tadi pagi, aden nyariin tuan tapi dia nggak sengaja jatuh dari tangga. Akhirnya nyonya bawa Nino kerumah sakit. Bahkan berangkat pun belum sempat sarapan, saya tawari waktu nungguin aden, nyonya malah nggak mau, dia cuma nangis sambil megangi tangan den Nino tuan."

__ADS_1


Meskipun Valdo mengetahui itu semua tapi dengan sengaja Valdo membiarkan hubungan Nino dan Velyn berjarak. Valdo membuat Velyn trauma sampai ia hanya bisa diam dan kaku ketika lututnya dipeluk oleh pria kecil yang kini merengek padanya. Bahkan Nino hampir saja menangis.


"Vel-" ucapan Valdo tiba-tiba terhenti tatkala Velyn tiba-tiba mendorong sedikit tubuh Nino hingga Nino sedikit menjauh dari Velyn. Velyn melangkahkan kakinya menuju kamar tamu. Terlihat Nino menangis seraya berlari menyusul keberadaan Velyn yang kini masuk kedalam kamar itu, dengan pintu yang terkunci dari dalam.


Astaga! ini semua salah Valdo, ia sampai tak menyangka jika Velyn sampai menjauhi Nino seperti itu. Valdo beralih melangkah, ia menggendong Nino yang kini masih berteriak histeris sambil memanggil mamanya itu.


"Mama, Nino kangen sama mama!" teriak Nino seraya masih menangis merengek pada papanya yang kini membawa Nino pergi menjauh dari kamar itu.


***


Valdo yang tadinya menidurkan putranya kini telah turun dan hendak masuk kedalam kamar tamu. Kamar yang ia berikan untuk Velyn semenjak gadis itu menjadi istrinya. Valdo menyentuh daun pintu dan menurunkannya perlahan. Pintunya tidak dikunci, Valdo mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar. Ia tak menemukan keberadaan Velyn di ranjang, malahan Velyn saat ini tidur di meja riasnya seraya terduduk dan meringkuk.


Entah mengapa perasaan aneh itu kini datang sekali lagi. Menyentuh relung hatinya yang terdalam sebelum Valdo mengangkat kepalanya untuk menjauh dari wajah Velyn. Kini jarak antara wajahnya dengan wajah istrinya begitu dekat, seperti Valdo bisa merasakan nafas Velyn yang berhembus dan menerpa pori-pori kulit wajahnya.


"Entah kenapa, semakin aku merasa bersalah, semakin aku nggak pengen kehilangan kamu Lyn" gumam Valdo seraya menyatukan wajahnya dengan wajah Velyn yang kini masih tidak terganggu dengan aktivitas Valdo.


***

__ADS_1


Velyn menggeliat, ia memegangi kepalanya yang sedikit pening. Matanya mengerjab beberapa kali kala merasakan pelukan diantara perut dan pinggangnya. Velyn membulatkan matanya kala Valdo ternyata tidur disampingnya seraya memeluk tubuhnya, seperti apa yang dilakukannya saat malam dirumah bundanya.


Gadis itu mengedarkan pandangannya, ia terkejut ketika dirinya sudah berada di kamar yang berbeda. Kamar besar dengan ornamen mewah ini bukanlah kamar tamu melainkan kamar Valdo. Bisa Velyn tebak jika Valdo yang membawanya kemari.


Velyn bisa melihat jelas, wajah tampan Valdo yang kini terlihat manis saat tengah tidur itu. Jakunnya yang kini berada didepan mata Velyn membuatnya menelan ludahnya kasar. Velyn tersenyum, wajahnya memerah mengingat perlakuan Valdo yang tiba-tiba baik padanya. Tapi perasaannya tiba-tiba terasa ragu lagi. Apa benar yang dikatakan Valdo bukan pura-pura?. Velyn menggeleng, lagipula ia tidak perlu memikirkan ingin percaya pada pria ini atau tidak, Valdo juga bilang yang ia butuhkan hanyalah maaf dari Velyn, dan ia tidak keberatan dengan hal itu.


Velyn malahan berpikir, mungkin Valdo mau menerimanya hanya karena rasa simpati. Valdo hanya merasa kasihan saat keluarga Velyn tertimpa musibah. Itu wajar, dan Velyn memakluminya. Itu juga lebih baik daripada Valdo merasakan perasaan yang sama terhadapnya. Karena perasaan itu tidak boleh dimiliki oleh Valdo padanya. Velyn sadar betul, kondisinya saat ini tidak akan pernah bisa membuat orang lain bahagia.


"Kamu udah bangun sayang?" suara itu membuat Velyn buru-buru bangkit dan melepaskan pelukan Valdo. Velyn memeluk lututnya seraya terdiam saat Valdo mulai menguap dan beralih duduk bersebelahan dengannya.


"Kenapa aku bisa tidur disini?"


"Ini kan kamar kita sayang, kita udah suami istri, jadi sah-sah aja kalau tidur sekamar" Velyn menggeleng. Ia menatap sisi tembok yang sebelumnya berisi foto pernikahan Valdo dengan Lisa kini berganti foto prewedding dengan dirinya. Foto yang hampir sama yang dipajang di ruang tamu namun dengan tema dan kebaya yang berbeda.


Valdo yang awalnya hanya duduk kini beralih memeluk pinggang Velyn dari samping. Velyn memejamkan matanya erat-erat ia merasakan kehangatan Valdo yang disalurkan untuknya. Begitu hangat dan nyaman, Velyn memang menikmatinya. Siapa suruh ia jatuh cinta pada Valdo duluan. Velyn melepaskan pelukannya dari pria yang kini mengerutkan keningnya itu.


"Kak, kita emang udah nikah, tapi perjanjian tetep perjanjian. Setelah satu tahun, kita juga bakal bercerai" Valdo menarik rambutnya kebelakang. Kenapa Velyn selalu membahas hal ini?. Valdo benar-benar tidak habis fikir, apa ini karma untuknya karena telah menelantarkan Velyn sebelumnya?. Ia sudah memutuskan untuk tak mau lagi membahas soal perceraian, dan dia akan memperbaiki semuanya, tapi sepertinya Velyn benar-benar tidak bisa melihat ketulusannya.

__ADS_1


"Aku nggak bakalan ceraiin kamu Lyn!" mata Velyn membelalak, ia menatap Valdo penuh arti.



__ADS_2