
"Kalau mbak Santi tau soal ini semua, janji ya sama saya jangan pernah bilang ke siapapun."
Santi benar-benar tidak mengerti, kesabaran apa yang dimiliki nyonyanya satu ini. Ia telah ditindas seperti ini namun masih bisa menutupinya rapat-rapat. Padahal dulu tuan Valdo tidak pernah melakukan hal seperti itu. Yang Santi tau, tuannya adalah pria yang lembut meskipun kadang galak juga.
Kalau saja Santi jadi majikannya ini, pasti ia akan meminta cerai saja, dan melaporkannya pada polisi. Enak saja mempermalukan perempuan seperti binatang, memangnya dia keluar dari batu yang retak apa. Pikir Santi saking emosinya.
"Mbak?" Santi membuyarkan lamunannya dan kembali menyimak apa yang dikatakan Velyn.
"I-iya nyonya, saya pasti bakal tutup mulut kok" meskipun Santi begitu amat penasaran dengan permasalahan kedua pasangan suami istri ini hingga mereka saja pisah ranjang, tapi ini juga bukanlah urusannya. Santi takut ia salah bicara, takut kalau nyonya Velyn tersinggung atau malah sedih nantinya.
***
Setelah kejadian semalam, tiada senyuman keceriaan seperti biasa dari wajah Velyn. Meskipun ia masih mau memasak dan tidak perduli masakannya akan dimakan atau tidak, tapi setidaknya Velyn sudah melakukan tugasnya dengan baik.
Hal itu membuat Santi begitu miris melihatnya. Sejak tadi pagi nyonyanya begitu irit dalam berbicara. Dan lihatlah memar pada tubuhnya itu. Lengan, leher, dan dahi yang kini ia biarkan begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa.
"Nyonya, den Nino sudah bangun, nyonya mau-"
"Mbak, nggak perlu ngasih tau saya. Mulai hari ini panggil baby sitter Nino aja" ujar Velyn yang kini masih berkutat menggoreng ayam dihadapannya.
__ADS_1
Santi sampai menggeleng, tidak biasanya Velyn bersikap acuh tentang Nino. Ia sampai berfikir apalagi yang dilakukan tuan Valdo sampai nyonya Velyn menjadi seperti ini. Bahkan ia sepertinya takut ketika mendengar nama Nino disebutkan.
"Nyonya, kalau aden cari-cari nyonya gimana?" Velyn menarik nafasnya dalam-dalam, ia menatap langit-langit dapur seraya menyeka air matanya yang menetes perlahan. Velyn juga tak tega, apa lagi mengingat hal kemarin yang membuat dirinya terguncang. Kecelakaan Nino juga bukan salahnya. Tapi Valdo sudah memperingatkan dirinya untuk tidak lagi menemui Nino.
Velyn benar-benar menyayanginya Nino seperti putranya sendiri. Wanita mana yang tega menyakiti seorang anak kecil yang lucu seperti itu. Tapi Velyn tetap gigih, ia takut apabila Valdo melakukan hal seperti semalam.
"Nggak apa-apa, bilang mama lagi sibuk" Velyn begitu pucat kali ini, kantung matanya menghitam akibat semalam tidak bisa tidur. Bibirnya sedikit membiru karena kejadian semalam. Santi benar-benar kasihan, ia hendak meraih tubuh Velyn yang lemah itu.
"Nyonya kayanya lagi nggak sehat ya, istirahat saja dulu, biar saya saja yang selesaikan" Velyn buru-buru menggeleng. Ia tau kekhawatiran Santi, tapi ia juga tak ingin dianggap lemah.
"Mbak Santi urus Nino aja dulu, bentar lagi juga selesai kok. Nanti saya pasti istirahat" kata Velyn seraya tersenyum lembut membuat Santi mau tidak mau menuruti permintaan Velyn saja. Meskipun sebenarnya Santi juga amat mengkhawatirkan majikannya satu ini.
"Ba-baik nyonya" Santi memandangi nyonyanya seraya mengerutkan dahi. Baru beberapa hari menikah saja sampai seperti ini. Santi saja sampai tidak betah jika harus membiarkan Velyn menerima kekerasan ini. Tapi bagaimana lagi, ia juga hanya bekerja. Tugasnya hanya untuk bersih-bersih bukan untuk mencampuri urusan majikannya.
Siapa lagi kalau bukan Valdo, suami yang telah menganiayanya semalam. Velyn buru-buru membereskan makanannya, ia juga sudah menyiapkan kotak bekal jika nanti Valdo tidak sempat untuk sarapan. Velyn bukan pura-pura lupa dengan kejadian semalam. Malahan ia sangat sakit hari dengan apa yang Valdo lakukan padanya.
Namun kali ini ia juga tidak ingin lupa akan tugasnya dan batasannya. Setelah mereka bercerai nanti, tidak akan ada lagi beban yang mengganggunya.
"Kak, sarapan dulu" Valdo menatap malas Velyn yang kini sudah menaruh nasi diatas piring beserta ayam goreng lengkap dengan sayuran yang menemaninya.
__ADS_1
Valdo hanya mengibaskan tangannya didepan wajah. Melihat penampilan dan juga pandangan Velyn saja Valdo sudah muak. Pria itu kemudian berlalu saja tanpa memperdulikan istrinya yang kini mengerutkan keningnya seraya melangkah mendekat dan berangsur berlari kala Valdo melangkah cepat seperti terburu-buru.
"Kak, kalo kak Valdo nggak sempet sarapan di rumah, kakak bisa bawa bekal yang udah aku siapin kok" kata Velyn seraya menghadang Valdo. Tersenyum manis meskipun dengan raut wajah pucatnya serta memar di bagian tubuhnya yang terlihat jelas didepan mata Valdo.
Valdo mengambil kotak bekal berwarna oranye itu. Velyn tersenyum tenang, tatkala Valdo melangkah seraya membawa kotak bekal itu bersamanya. Meskipun diwajahnya tiada rasa berterimakasih maupun senyuman sama sekali, tapi entah mengapa Velyn merasa sedikit senang.
Sampai Velyn melihat langkah Valdo berhenti diruang tamu tepat disamping tempat sampah dan membuang bekal yang tadinya diberikan olehnya.
Velyn membulatkan matanya, Valdo benar-benar keterlaluan. Dia benar-benar kesal kali ini, padahal jam menunjukkan masih pukul setengah tujuh pagi. Itu hanya akal-akalan Valdo saja bukan berangkat pagi-pagi.
Velyn melangkahkan kakinya dengan geram, ia melangkah mendekati Valdo yang kini masih berdiri didepan mobilnya seraya memainkan ponsel.
"Maksud kakak apa?" tanya Velyn dengan nada keras dan pandangannya yang tersungut-sungut akibat amarahnya yang meledak. Susah payah ia membuatkan sarapan itu, dan Valdo benar-benar tidak menghargainya.
"Kalo kak Valdo nggak mau makan masakan aku nggak perlu dibuang juga! emangnya kamu pikir, masak nggak pakek tenaga!" nafas Velyn memburu saking emosinya. Ia menatap Valdo yang kini seolah acuh dan mengabaikan perkataan Velyn yang membuat moodnya hari ini semakin memburuk saja.
"Kak Valdo! kamu pengecut!" teriak Velyn seraya membalikkan tubuhnya dan melangkah kedalam rumah tanpa mempedulikan tatapan mata Valdo yang kini kian menahan amarahnya.
Kalau saja Valdo tidak ingat temperamennya yang kelewatan tadi malam pasti sudah habis Velyn pagi ini ditangannya. Namun Valdo masih bisa berfikir dengan jernih, hari ini ia harus berangkat kerja dan melupakan yang lainnya.
__ADS_1
Biar saja kelakuannya yang tadi malam itu dirasakan oleh Velyn agar dirinya kapok dan tidak berani macam-macam.
Fokusnya kali ini hanyalah menemukan Lisa, bukan memperdulikan lainnya. Termasuk memikirkan Velyn yang kini semakin ia benci saja dalam kehidupannya.