
Prankkkk
Foto pernikahan Velyn dan Valdo terjatuh begitu saja saat Valdo tengah mempelajari berkas ditangannya. Pria itu melepaskan kacamatanya seraya melirik foto prewedding yang sudah berserakan disudut ruangan kantornya. Valdo kemudian berdiri, ia melangkah menghampiri frame yang pecah itu, pria itu berjongkok untuk mengambil foto tersebut, namun karena kurang hati-hati jemari telunjuknya terkena serpihan kaca yang membuatnya berdesis. Darah menetes mengenai foto Velyn, pria itu meringis dan ******* jarinya tadi.
Dering ponsel di saku celananya membuat pria itu seketika berdiri, ia segera mengangkat panggilan itu tanpa pikir panjang. Entah mengapa pikirannya tidak enak sejak foto Velyn terjatuh tanpa sebab.
"Halo" mata Valdo membulat seketika, sejenak nafasnya seperti terhenti, jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Velyn!" Valdo menjatuhkan ponselnya, matanya memerah menahan sakit yang ia terima saat setelah mendengar kabar yang mengejutkan disebrang sana.
Rumah sakit...
"Lyn, kamu harus bertahan Lyn" ucap Valdo seraya ikut berlari mendorong bangsal yang didorong oleh beberapa suster untuk membawa Velyn segera ke ruang ICU. Velyn yang berlumuran darah, tergelatak tak sadarkan diri dengan wajahnya yang begitu pucat.
"Maaf pak, silahkan tunggu di luar dulu"
"Tolong, tolong istri saya sus, selamatkan dia saya mohon"
__ADS_1
"Bapak berdoa saja, kami pasti akan melakukan yang terbaik" ujar suster itu kemudian segera menutup pintu membuat Valdo hanya mampu mengintip dari balik kaca pintu dengan matanya yang kini kian memerah.
"Sayang, kamu harus bertahan, demi keluarga kita" gumam Valdo lirih seraya berjongkok, merasakan rasa sakit akibat orang yang ia sayangi terbaring di dalam sana. Air mata Valdo berlinang, ia menutup kedua wajahnya yang tengah menangis saat ini.
Valdo benar-benar hancur saat mendengar Velyn kecelakaan. Ia begitu takut jika terjadi sesuatu pada istrinya, apalagi tubuh Velyn sepertinya terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
Jadi begini rasanya sakit hati melihat orang yang kita sayang terbaring tak berdaya. Valdo bahkan tak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Velyn ketika mengingat keadaan Ayah yang tiap kali diopname. Bahkan hidup Ayah sudah diujung tanduk, hingga membuat Velyn terpaksa menuruti keinginannya meskipun ia tak mau.
Setelah seperti saat ini, penyesalan yang Valdo alami kian bertambah mengingat masa lalu Velyn yang ia siksa dulu. Valdo bahkan mencampakkan Velyn dan menyakiti hatinya, disaat hatinya sedang rapuh. Valdo benar-benar pecundang yang tak tau malu, bahkan setelah semuanya ia masih menyebabkan Velyn salah paham dengan sikapnya yang tergesa-gesa dan tidak peka.
"Sebenarnya aku nggak punya cita-cita, setelah liat keluarga aku yang harmonis, bunda dan ayah yang saling mencintai, aku jadi pengen seperti mereka. Aku cuma pengen punya suami yang baik hati kaya ayah, aku nggak akan mandang siapa? dan gimana suami aku nanti, aku bahkan nggak masalah kalaupun dia nggak kaya, yang penting dia mau tanggung jawab dan bahagian aku sebagai istrinya."
"Keinginan aku cuma satu kak sebelum cerai, aku pengen ngerasain gimana rasanya jadi seperti bunda yang bahagia."
Bayang-bayang ucapan Velyn seolah menghantui pikiran Valdo, ia telah mengecewakan Velyn yang tengah bersedih memikirkan keadaan ayahnya, namun penderitaan itu masih bertambah saat Valdo menyakitinya.
"Itu papa!" ujar Nino yang digandeng oleh seorang bapak-bapak membuat pria itu tersenyum dan memerintahkan Nino untuk kembali pada papanya.
__ADS_1
"Ya sudah, om antar sampai sini ya. Kamu tenang aja, pasti mama kamu bakal baik-baik aja"
"Iya om, telimakasih dah bantu mama ya om" pria itu mengangguk dan menatap Nino yang kini berlari kearah Valdo. Isakan Valdo yang terdengar pilu membuat tubuh Nino bergetar. Mengapa papanya menangis? padahal kata om tadi keadaan mamanya akan baik-baik saja.
"Papa" suara lembut itu membuat Valdo tersadar, ia kemudian mengangkat pandangannya dan memeluk buah hatinya.
"Papa, mama pasti bakal sembuh kok" Valdo mengangguk, meskipun isakannya masih terdengar, tapi Valdo terlihat sudah mulai tenang berkat kehadiran Nino.
"Nino!" Valdo tercengang melihat kening Nino yang terlihat memar dan sedikit darah keluar dari luka itu. Sebenarnya apa yang terjadi? bahkan Valdo pun hanya sebatas mengetahui jika Velyn mengalami kecelakaan. Tapi mengapa Nino juga sepertinya ikut terluka.
"Kening Nino kenapa?" pertanyaan itu membuat mata Nino berkaca, semakin lama semakin membuat Nino terisak dan menangis tak karuan.
"Huaaa papa, mama kecelakaan gala-gala Nino" akhirnya Nino pun menceritakan segalanya meskipun dengan tangisannya yang menjadi. Segera setelah itu Valdo memeluk putranya dengan erat seraya memejamkan matanya. Valdo sampai tidak percaya jika Velyn mengorbankan hidupnya demi anak yang bukan anak kandungnya. Entah mengapa rasa bersalah itu selalu menghantui dirinya tiap kali Velyn memberikan kejutan untuknya. Kini ia hanya mampu berharap semoga Velyn lekas membaik dan tidak terjadi apapun padanya.
Valdo masih terdiam menatap Velyn dari balik pintu kaca dihadapannya. Meskipun Velyn tidak terlihat dalam pandangannya, Valdo yakin dibalik tirai yang menutupinya itu, ada sebuah perjuangan dari istrinya yang kini mencoba untuk bertahan.
Satu jam kemudian…
__ADS_1
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Valdo saat setelah dokter keluar dari dalam ruangan Velyn yang kini sudah terbuka itu.
"Keadaan pasien sudah lebih baik, anda bisa mengunjunginya setelah kita memindahkan nyonya Velyn ke ruangan lain. Jangan ganggu istirahatnya dulu ya, ada luka di bagian leher dan kepalanya bocor akibat benturan keras. Kami sudah melakukan upaya yang terbaik untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi. Dan syukurlah, istri anda adalah orang yang kuat, dia melalui semuanya dengan baik" Valdo menghela nafas leganya, ia kemudian mengucapkan terimakasih pada dokter yang kemudian pergi melaluinya.