Velyn Love

Velyn Love
Baginda Raja dan Yang mulia Ratu


__ADS_3

Setelah berputar-putar, mobil Andra pun berhenti disebuah mini market. Meski sedari tadi Velyn hanya diam membisu tanpa mengatakan apapun, namun bisa Andra tebak bagaimana perasaan wanita satu itu.


"Udah sampai ya Ndra?" pria itu mengangguk lalu tersenyum pada wanita dihadapannya. Andra mengisyaratkan Velyn untuk segera turun dari dalam mobil, namun wanita itu tidak bergeming, malah menatap pria dihadapannya dengan pandangan kosong dan raut wajah yang tak dapat digambarkan.


"Bukannya kita janjian mau ngomongin hal semalam ya?"


"I know, nggak ada tempat selain rumah untuk membicarakan hal penting kan? dirumah aku nggak ada makanan, jadi kita belanja dulu ya" ajak Andra seraya membuka pintu mobil tanpa melihat ekspresi Velyn yang sedikit kecewa. Padahal mereka sama-sama tahu kalau mulai semalam Andra sudah pindah ketempat papanya. Tapi Andra seolah, tidak mengizinkan Velyn untuk mengetahui hal yang lebih dalam meski ia ingin.


Andra yang hendak turun dari mobil kini menghentikan langkahnya, saat sepasang tangan mendekapnya dengan hangat. Kedua tangan ysng kebih kecil dari miliknya, memeluknya seperti enggan untuk renggang. Andra masih terdiam cukup lama dengan senyuman mengembang diwajahnya, meski sebelumnya ia sempat mengernyit.


"Velyn-"


"Ndra please! dengerin aku ngomong sekali ini aja. Aku-aku cinta kamu Ndra!" meski mendadak dan tiba-tiba, namun jantung Velyn berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Jemarinya yang sedikit demi sedikit merenggang kini ditangkap oleh tangan yang lebih besar darinya, tangan hangat yang menyentuh kulit putihnya dan membuat perasaan Velyn campur aduk tak karuan.


Sudah tiga tahun berlalu, mereka melewati semua yang terjadi termasuk pengobatan Velyn yang tiada henti. Berulangkali wanita itu berpikir, menyatukan nalar juga pikirannya, sampai ia lelah dan hendak menyerah. Namun entah mengapa, semenjak Andra seolah menghindarinya, Velyn tidak bisa tanpanya. Ia sudah terbiasa dengan ucapan selamat pagi dan malam dari pria itu. Entah semenjak mereka tinggal bersama di Amerika maupun berpisah rumah ketika tiba di Indonesia.


Sudah sangat amat lama Velyn menyimpan perasaan yang tertanam dalam hatinya, kembali begitu saja tanpa ia sadari. Namun tiap kali Velyn mengatakannya, ia urung. Tangisan Andra yang ambruk didepan makam mamanya ketika jasad itu sudah berada dalam liang lahat, membuat nyalinya ciut. Apalagi saat itu keadaan Velyn masih mengambang.


"Kamu ngomong apa Lyn?" Velyn yang menunduk kini seolah tak ingin menatap Andra. Atau mungkin Andra sudah tidak lagi mencintainya, kalaupun Andra sudah melupakannya, Velyn tidak akan pernah menyesal untuk mengungkapkannya. Lagipula mereka sama-sama gagal, tidak perlu terburu-buru untuk membuka lembaran baru. Velyn juga tidak ingin menuntut dan memaksa pria itu, baginya kehidupannya akan semakin bahagia saat Andra ada didekatnya, itu lebih cukup dari apapun.


"Ah! nggak apa-apa, kalau kamu nggak dengar nanti kita omongin lagi. Keluar yuk!"


"Velyn" meski wanita itu cukup terkejut, tapi raut wajah kecewa Velyn kini perlahan mulai berubah dengan senyuman. Bagaimana Velyn tidak syok, saat Andra tiba-tiba memeluknya dengan mesra dari arah belakang, seperti apa yang dilakukannya tadi. Wajah Velyn memanas, bukan hanya itu, pipinya memerah merona meski hari belum cukup panas.


"I love you too so much Velyn" bisikan hangat serta pelukan yang membuatnya nyaman, perasaan mendebarkan dan juga aroma wangi mint yang masih sama, dengan aroma Andra yang memeluknya di Amerika. Serta ucapan sederhana yang keluar dari mulut Andra, persis seperti saat mereka menjadi satu diranjang apartemen New York, meski tidak melakukan apa-apa. Hanya saja kali ini berbeda, ada imbuhan kata too ditengahnya.


"Ndra"


"Ssst, bentar aja" Velyn mengerucutkan bibirnya, padahal tadi Andra sendiri yang berbicara bahasa baku padanya, seolah ia masih menjadi dosennya dulu. Sekarang pria itu malah bergeliat manja di punggungnya, mencium aroma rambutnya dan mengecup tengkuk Velyn dengan samar.


***


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat pria paruh baya kini menghela nafasnya. Surel yang baru ia balas dan file lainnya yang ia kerjakan sudah rampung sebelum makan siang.


"Siapa?"


"Maaf pak Anton, pak Gaisan ingin bertemu di jam makan siang, jadi-"


"Suruh masuk saja" ujarnya membuat asisten Antonio membukakan pintu untuk pria bertubuh tinggi dan memakai setelan rapi yang kini tersenyum padanya.


"Selamat siang Pak Anton"


"Siang Pak Valdo, masuk saja" ujar Antonio seraya bangkit dan mempersilahkan Valdo untuk duduk di sofa ruang kantor tersebut. Valdo pun menggulung sedikit lengannya dan mengangguk untuk menerima sambutan dari Antonio.


"Sepertinya saya mengganggu nih, padahal kan jadwal pertemuan kita masih satu Minggu lagi"

__ADS_1


"Ah nggak apa-apa Pak Valdo, santai saja kan saya sudah bilang bapak bisa kesini kapanpun anda mau. Di kantor kami ada kopi khas bali yang enak loh, nah sambil ngobrol kita nikmati kopinya yang dibuatkan Dona" ujar Antonio yang kini menatap kopi yang dibawakan oleh Dona sang asisten yang kini masuk membawakan dua cangkir kopi untuk mereka.


"Ah, pasti enak dong. Seleranya Pak Anton tidak perlu diragukan lagi" Antonio yang menyeruput kopinya kini menatap Valdo dengan sedikit terkekeh seraya mengangkat sebelah alisnya. Semenjak mereka dipersatukan dalam dunia bisnis, Valdo memang menganggap Antonio seperti ayah sendiri, sama halnya dengan Antonio yang selama ini jauh dari kehidupan putranya. Namun hal itu kini begitu berbeda, hingga membuat Antonio berani untuk muncul lagi dihadapan putra satu-satunya.


"Pak Valdo bisa saja"


"Kalau Pak Anton berkenan, saya mau mengajak anda untuk makan siang bersama. Kebetulan hari ini genap tiga tahun kematian ayah saya jadi-"


"Tentu boleh Pak Valdo, sekalian ada yang ingin saya ceritakan juga" Valdo tersenyum penuh kemenangan, ia melirik Antonio yang kini sedikit gugup akan pembicaraan mereka. Tapi Valdo yakin, dengan begini pria dihadapannya itu akan membuka jalan baginya untuk mendapatkan Velyn kembali.


Valdo yakin sekali, Velyn masih sangat mencintainya seperti perasaannya saat ini. Apapun akan ia upayakan untuk mendapatkan ia kembali meskipun dengan cara seperti ini. Setidaknya Andra sedikit menjauh dari wanitanya lalu Valdo akan masuk sebagai seseorang yang mau menerima Velyn apa adanya.


Hidangan mewah, juga koktail yang tersedia dihadapan mereka membuat Antonio tersanjung dengan selera Valdo yang berkelas serta satu selera dengannya. Daging Wagyu premium yang dipanggang medium, membuatnya memejamkan mata saat pria paruh baya itu memasukkan steak tersebut kedalam mulutnya.


"Apa anda menikmatinya Pak Anton?"


"Tidak terduga ya, ternyata kita satu selera. Jujur saja Pak Valdo, saya amat tersanjung dengan tempat dan hidangan yang sudah anda pesan" Valdo terlihat tersenyum penuh kepuasan dan mengangkat gelas koktail ditangannya, dan tentunya membuat Antonio menyambut maksud Valdo dengan menyatukan gelas mereka lalu menyesap minuman tersebut.


"Sudah saya duga, saya tidak salah memilih tempat untuk anda. Tiba-tiba, saya jadi mengingat kenangan bersama ayah saya, restoran ini adalah rekomendasi dari papa saya" ujar Valdo mencari simpati , dan benar saja mata Antonio berubah sayu dan menatap Valdo dengan wajah sendu. Setidaknya satu misi Valdo sudah terselesaikan, kini tinggal membuat Antonio berpihak padanya.


"Saya sudah sering bilang, anggap saya ayah sendiri. Meskipun kita baru kenal beberapa bulan, tapi sejujurnya saya bisa merasakan bagaimana arti kehilangan" Antonio kembali mengingat masa kelamnya, mengingat kehidupannya yang hancur setelah berpisah dari mantan istrinya. Setelah ia seperti saat ini, Antonio baru menyadari jika seharusnya ia tidak melepaskan mantan istrinya itu dengan alasan egonya yang terlalu besar.


Setelah selesai makan siang, kini mereka kembali memasuki mobil, namun berbeda dengan sebelumnya yang didampingi supir, kini Valdo yang akan menyetir oleh karena supor Valdo hendak menjemput Nino yang pulang di jam seperti ini.


"Mau saya antar langsung pak? atau mau mampir dulu?" tanya Valdo menawarkan membuat pria itu menggeleng seraya memasang sabuk pengaman di tubuhnya.


"Tidak perlu, hari ini sudah cukup. Terimakasih ya Valdo" ujar Antonio meski sedikit canggung. Ya, seperti yang sudah Valdo rencanakan, kini mereka semakin akrab saja setelah perbincangan sembari makan siang tadi, dan seperti permintaan Valdo pada Antonio yang ingin dipanggil namanya saja tanpa ada imbuhan pak ketika mereka tidak dalam lingkup pekerjaan.


"Valdo? kenapa melamun?" tanya Antonio seraya memperhatikan Valdo yang tengah menatap ke depan dengan pandangan kosong sedari tadi. Pria itu kemudian tersentak lalu menyalakan mobilnya saat ia sadar dari lamunannya yang kian mengganggu pikiran dan juga hatinya.


"Maaf pak, mungkin lagi banyak pikiran aja"


"Meskipun papa kamu tidak melihat kesuksesan kamu saat ini, tapi saya yakin papa kamu pasti bangga Valdo" deg! kata-kata Antonio yang begitu dalam dan penuh kebanggaan seolah membuat jantung Valdo berdegup lebih kencang. Meski saat ini fokus Valdo dalam mengemudi masih terkendala, tapi tidak dengan pikirannya, pikirannya yang menolak apa yang dikatakan oleh Antonio.


Kenyataannya, Gaisan mungkin akan amat sangat kecewa dengan tingkah putranya saat ini. Meski apa yang sudah ia raih merupakan usaha yang sudah ia bangun, tapi apa artinya jika semua yang ia miliki adalah suatu kegagalan dalam bentuk kekecewaan papanya yang pernah membesarkannya. Mana mungkin Valdo akan mengatakan hal itu pada Antonio, ia hanya bisa mengatakan hal yang baik meski itu adalah sebuah kebohongan. Keharmonisan antara ayah dan anak, berbagi kasih sayang dan saling menjaga dalam setiap cerita yang ia lontarkan adalah sebuah dusta demi bisa menutupi kesalahannya, demi untuk membangun citranya. Tapi didalam hatinya ia menolak kebohongan itu, dan membungkusnya lewat raut wajah Antonio yang merasa simpati kepadanya.


"Saya harap juga begitu pak" ujar Valdo sekenanya. Antonio tersenyum lalu melirik foto didepannya, foto prewedding Valdo dengan seorang wanita cantik. Meski kecil dan menjadi pajangan ditengah boneka diatas dashboard.


"Foto siapa itu Do?" tanya Antonio dengan rasa penasaran dalam hatinya. Pasalnya selama ini Valdo tidak pernah bercerita padanya tentang wanita yang menjadi idamannya. Meski ia tahu Valdo adalah seorang duda, tapi Antonio sama sekali tidak pernah bertanya maupun mengetahui bagaimana rupa drai mantan istri Valdo yang sebenarnya.


"Oh, itu foto saya dan mantan istri" jawaban yang Antonio harapkan ternyata salah besar, ia mengira Valdo hendak menikah lagi dengan seorang wanita lain. Tapi siapa sangka, pria yang duduk disampingnya masih menyimpan foto mantan istrinya. Antonio terdiam dengan raut wajah bertanya, dengan senyuman tipis Valdo melirik pria paruh baya itu dengan ekspresi penuh kemenangan. Sebenarnya ia sengaja menaruh foto dirinya dan Velyn dulu di dashboard, tujuannya yang tak lain dan tak bukan untuk memancing Antonio.


"Pak Anton pasti bingung, kenapa saya masih menyimpan foto mantan istri saya"


"Bukan gitu kok" jawab Antonio seraya tertawa renyah meski sebenarnya ia juga cukup penasaran dengan hubungan Valdo dan wanita itu.


"Nggak apa-apa kok pak, sebenarnya saya berniat untuk mengajak mantan istri saya rujuk kembali. Dulu kami berpisah karena suatu kesalahpahaman, dan saya ingin memperbaiki itu" Antonio tersenyum dan mengangguk, wajar kalau Valdo hendak mengajak mantannya untuk rujuk, dilihat dari sisi manapun wanita pilihan Valdo memang amat cantik dan Antonio menyimpulkan Valdo sangat amat beruntung.

__ADS_1


"Oh ya?! bagus dong"


"Doakan saja ya pak semoga semuanya lancar, saya yakin dia juga masih mencintai saya. Kalau nanti kami menikah kembali, saya minta tolong pak Anton jika berkenan jadi saksinya" Antonio tersenyum sumringah dan mengangguk pasti. Tentu saja ia akan sangat senang dan bangga bisa menjadi saksi kembalinya pernikahan yang rujuk. Setelah apa yang ia alami di masa lalu membuat kehidupannya seperti saat ini.


"Saya bersedia kok jadi saksi nikah kalian, saya turut bahagia kalau begitu" sekali lagi Valdo tersenyum penuh kemenangan, ia kini semakin semangat dalam mengejar Velyn kembali. Ia yakin dengan adanya Antonio, akan mempersulit Andra untuk menjadikan Velyn sebagai istrinya. Dan sebelum itu terjadi, Valdo pasti akan mendapatkan Velyn kembali apapun caranya.


***


Velyn tersenyum senang menatap layar ponselnya yang terpampang jelas foto kemesraan dirinya dengan Andra. Wanita itu menghela nafas setelah seharian mereka meresmikan hubungan. Sebentar lagi, dan Andra akan membawa ayahnya untuk melamar dirinya. Tanpa sengaja Velyn menggeser foto mereka saat berada di New York dulu, kepala Velyn yang botak dan tubuh kurusnya dan senyuman yang sama berada dibelakangnya, yang selama ini mendukungnya serta mendorongnya untuk tetap semangat. Andra, pria yang selama ini benar-benar tulus mencintainya, tanpa ragu membuang semua waktunya hanya untuk wanita seperti dirinya.


Sejujurnya Velyn amat minder, ia sadar Andra terlalu baik untuknya dan pria itu juga pantas mendapatkan yang lebih daripada wanita yang sakit-sakitan. Tapi sekuat apapun Velyn ingin Andra bahagia, ia juga tidak bisa menolak jika kebahagiaannya adalah padanya dan begitu juga sebaliknya.


Getar ponselnya dan juga panggilan masuk dari pria yang tengah ia pikirkan saat ini membuat lamunannya buyar dan beralih mengangkat panggilan Andra. Dengan jantung Velyn yang berdegup kencang ia mengangkat panggilan itu seraya tersenyum penuh bahagia.


"Hallo Ndra"


"Nerd" senyuman yang tadinya mengembang kini tiba-tiba menghilang, bibir Velyn yang melengkung keatas membentuk U kini seolah terbalik dan sedikit mengerucut, melukiskan kekesalannya pada pria diseberang sana yang kini terkekeh. .


"Geeky"


"I don't care, but clearly I love you nerd" Velyn memutar bola matanya, sepertinya kata sayang dan beibh sudah tidak lagi diperlukan ditengah kisah asmara mereka berdua, karena realitanya Andra telah menciptakan nama kesayangan untuk Velyn dengan menyebutkannya seolah tanpa dosa.


"Bisa nggak sih yang terakhir itu diganti"


"Diganti apa dong?" tanya Andra antusias dengan tawanya yang masih terdengar renyah membuat Velyn sedikit kesal.


"Ya apa kek, masa harus nerd sih. Kampungan tau!"


" Terus maunya apa? sayang? honey? darling? alay deh" ujar Andra dengan nada geli membuat Velyn semakin kesal dibuatnya.


"Sayang boleh, atau nyonya, eh bentar yang mulia ratu" tawa renyah Velyn membuat Andra ikut tertawa dibuatnya. Meskipun candaan Velyn garing, tapi Andra sangat amat bahagia sampai ia sendiri enggan untuk melepas senyumnya.


"Boleh, apapun deh buat yang mulia Ratu"


"Siap Baginda raja" tambah Velyn membuat Andra semakin terkekeh dan menghela nafasnya. Andra tersenyum dan kini keluar dari mobil, ia menatap kanar Velyn yang berada diatas bangunan rumah didepannya. Terlihat bayangan lampu yang masih menyala membuat pria itu yakin jika Velyn berada dibalik ruangan itu.


"Buka jendela kamu dong ratu"


"Hah? jendela?"


"Heum" Velyn menuruti perintah Andra meski dalam hati ia bertanya, matanya yang menatap langit malam kini berubah terkejut saat Andra melambaikan tangan dan tersenyum dibawahnya.


"Astaga! baginda Raja, kamu kok disitu sih? kenapa nggak masuk aja?!"


"Jangan turun" seketika Velyn terdiam saat ia hendak berbalik dan menjemput Andra dibawah. Matanya masih menangkap Andra yang kini menatapnya penuh pesona.


"Aku cuma pengen liat yang mulia ratu ku sebelum aku tidur malam ini" Velyn tersenyum dan melambaikan tangannya pada pria dibawah sana, ia sangat mencintai Andra sampai ia ingin sekali turun dari kamarnya dan memeluk pria satu itu.

__ADS_1


"I love you Baginda"


"I love you too Ratu."


__ADS_2