
Usai mandi, kini Velyn bergegas untuk memasuki kamar Oca lagi. Gadis itu kemudian mengeringkan rambutnya seraya meraih tas yang ia gantung di gantungan pintu kamar.
Velyn sedikit terkejut kala melihat panggilan tak terjawab dari Valdo yang sudah sampai ribuan kali menelfonnya. Gadis itu menghela nafas, ia kemudian memilih untuk memblokir saja nomor Valdo. Setelah Velyn selesai memblokir nomor suaminya, kini dirinya beralih mengotak-atik panggilan yang tidak hanya dari Valdo, namun juga dari Rega dan bunda.
Velyn mengernyit, perasaannya mulai tidak enak saat ini. Gadis itu menggigit bibir bawahnya seraya memikirkan cara untuk menghubungi kakak dan bundanya agar mereka tidak khawatir nantinya. Hal apa yang harus ia katakan nanti? pikiran Velyn menerawang kemana-mana. Ia takut Valdo mengatakan bahwa dirinya menghilang dan kabur begitu saja.
Tapi pikiran Velyn menampik semua itu. Valdo tidak mungkin melakukan hal bodoh. Kalau dia sampai salah bicara, maka dia yang akan di salahkan. Velyn kemudian menghela nafasnya, ia kemudian memutuskan untuk menelfon Rega terlebih dahulu.
Tangannya mengepal dengan kuat, buku jarinya ikut memutih saking gugupnya. Tapi demi memastikan semuanya baik-baik saja, Velyn akan menghadapi kakaknya.
"Halo" terdengar suara Rega dari seberang sana saat setelah suara terhubung jaringan ponsel membuat gadis itu menegang.
***
Oca kini tengah bersiap untuk pulang, ia memainkan kunci mobilnya seraya berjalan santai kearah parkiran. Gayanya memang sedikit berandalan dan tomboi tentunya. Tak banyak yang mau berteman dengannya karena memang Oca memiliki karakter yang keras dan berkata pedas. Selain Velyn tidak ada yang mau berteman dengan Oca, itu sebabnya Oca sangat menyayangi Velyn bahkan seperti saudaranya sendiri.
Banyak yang heran dengan sikap Oca, tidak ada cantik-cantiknya sama sekali. Rambut pendek seleher, baju kaos longgar, celana jeans yang kebesaran serta topi yang selalu ia kenakan. Itu semua berbanding terbalik dengan kepribadian sahabatnya Velyn yang begitu feminim dan cantik. Velyn bahkan banyak didekati teman-temannya, sayangnya gadis itu punya pengalaman pahit tentang masa lalunya sehingga memilih berteman dengan Oca dan menolak untuk dekat dengan temannya yang lain.
Ketika Oca sudah sampai di parkiran, gadis itu kemudian menghampiri mobilnya. Mobil hitam sederhana yang diberikan oleh papanya. Oca memang sudah memutuskan untuk hidup sendiri semenjak orangtuanya bercerai. Raganya seperti hilang dan tak mampu menerima apa yang orangtuanya putuskan. Namun perlahan, seiring berjalannya waktu Oca mengetahui dan banyak tau tentang masalah rumah tangga, apalagi yang dialami oleh sahabatnya. Itu cukup untuk membuatnya trauma untuk tidak akan menikah suatu hari nanti.
__ADS_1
"Oca!" suara pria asing membuat Oca menoleh kala namanya disebutkan. Ia membalikkan tubuhnya seraya menatap heran pada pria yang kini menghampirinya sambil berlari.
Rahang Oca mengeras kala pandangannya melihat jelas siapa pria yang kini hendak menghampirinya. Tangannya mengepal kuat seolah ingin bersiap untuk menyalakan api kemarahan dalam hatinya. Namun Oca cukup sadar akan situasi dan kondisi yang saat ini ia alami.
"Ca, kamu sahabatnya Velyn kan?" tanya Valdo yang kini telah berada dihadapannya, terlihat bulir keringat didahinya serta nafasnya yang ngos-ngosan akibat baru saja berlari menghampirinya.
Ingin sekali Oca menghajar laki-laki dihadapannya ini. Laki-laki yang tidak bertanggungjawab, menelantarkan gadis sebaik Velyn dan kemudian mencarinya sesuka hati. Keterlaluan! memang dia pikir Velyn begitu mudahnya dibuang dan dipungut kembali. Hanya laki-laki pengecut yang melakukan itu.
"Iya, ada apa ya lo cari gue? emang Velyn kemana?" tanya Oca dengan tampang pura-pura polosnya yang memang sengaja menyembunyikan keberadaan Velyn. Kalau saja bukan demi sahabatnya, pasti Valdo akan habis dihajar olehnya. Namun Oca sadar betul, pikirannya harus seimbang dengan emosinya.
"Tadi dia nggak masuk kuliah ya?" tanya Valdo lagi membuat Oca kini benar-benar harus mengontrol amarahnya. Benar-benar laki-laki munafik. Oca sampai mengumpat dan menyumpahi Valdo dalam hati.
Lihatlah tampangnya yang begitu panik, biar saja Oca melihat sampai mana lelaki ini akan mencari Velyn dan menyerah saja.
"Ya udah kalo gitu, aku permisi dulu" Oca hanya menggeleng seraya menatap heran pria yang kini membalikkan tubuhnya seraya berjalan gontai itu. Begitu sial dirinya hari ini bertemu dengan Valdo yang keparat itu. Kalau begini caranya Velyn bisa saja dipaksa untuk pulang nantinya.
Oca kemudian masuk kedalam mobilnya, sambil memikirkan cara agar ia bisa menyembunyikan Velyn, kini Oca menancap gasnya dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan ibukota.
***
__ADS_1
"Lyn! bilang sama kakak? kenapa kamu sampai bisa masuk rumah sakit? kamu sakit apa?" pertanyaan itu seolah menjadi momok menakutkan bagi Velyn. Lihatlah sekarang, wajahnya pucat pasi seraya matanya yang membulat akibat pertanyaan dari Rega.
Rencananya Velyn tadi hanya ingin menelfon kakaknya. Namun sayang, karena kabar dari Andra yang membuat Rega tambah khawatir membuat kakaknya satu itu harus mengancam untuk bertemu, kalau tidak maka bunda dan ayahnya akan diberitahu. Pastinya nanti akan ada masalah besar jika mereka tau keadaan Velyn yang sesungguhnya.
"Kak Rega nggak perlu khawatir, aku cuma kurang istirahat aja kok. Banyak tugas, jadi harus tidur malam-malam. Aku cuma demam biasa, makanya aku nggak mau ngabarin kalian, pasti nanti kalian heboh sendiri" tukas Velyn seraya tersenyum pada kakaknya yang kini mulai menelisik setiap kata yang diungkapkan Velyn. Seolah Velyn meyakinkan diri jika Velyn memang jujur atau hanya sekedar memberikan alibi.
"Kamu nggak bohong kan sama aku?"
"Mana ada aku bohong. Aku cuma demam biasa kak, udah deh nggak usah besar-besarin. Lagian aku udah sehat kok" kata Velyn seraya memainkan sedotan dihadapannya seraya sesekali meminum jus yang sudah dipesankan oleh Rega untuknya.
"Kamu sama Valdo gimana? kalian bahagia?" tanya Rega seraya menghela nafas beratnya. Sebenarnya Rega juga tidak rela jika Velyn dinikahkan dengan seorang duda beranak seperti Valdo itu. Apalagi Rega juga tidak menyukainya, modal tampang tapi benar-benar membuatnya kecewa akan sikap jahatnya. Rega takut jika Velyn disakiti nantinya.
"Aku bahagia kok kak, kak Valdo baik banget sama aku. Dia perhatian dan sayang sama aku" senyum Velyn seolah mengembang ketika menceritakan perihal Valdo pada Rega. Seolah semua yang dilakukan suaminya itu adalah kebalikan jika dihadapan kakaknya ini.
Velyn tau, dengan sikap Rega dan kebenciannya pada Valdo, ia takkan tinggal diam jika mengetahui bagaimana sikap asli suaminya itu padanya. Setidaknya dengan berbohong seperti ini bisa memperbaiki imege Valdo di mata Rega yang sudah hilang itu.
"Jujur Lyn, aku nggak suka dan kurang setuju kamu nikah sama dia. Aku masih belum bisa move on sama apa yang udah dia lakuin dulu, aku takut kamu nanti-"
"Kak, jangan ngomong sembarangan deh. Kak Valdo itu baik banget sama aku, nggak mungkin dia mau nyelakain aku juga. Kakak harus percaya sama aku. Kalau nanti kak Valdo nyakitin aku, kak Rega yang aku kasih tau pertama kali" ujar gadis itu dengan senyuman dan tatapan hangat yang membuat Rega luluh dan mengacak rambut Velyn pelan.
__ADS_1
Sekarang Rega bisa lega, meskipun kenyataannya berbalik dengan apa yang Velyn ceritakan. Velyn madih punya keluarganya, meskipun nantinya ia mengecewakan banyak orang, tapi ia hanya berharap Rega dan bundanya akan hidup bahagia walau tanpa dirinya dan ayah.
"Maafin aku kak Rega, aku nggak bisa cerita. Aku nggak mau bikin ulah, dan bikin masalah ke kalian. Aku pengen hidup aku nggak mempengaruhi hidup kalian yang harusnya berjalan dengan semestinya."