Velyn Love

Velyn Love
Piknik kecilku


__ADS_3

"Surprise!" suara daun pintu yang terbuka membuat gadis itu yang awalnya berkutat pada buku yang ia baca kini mulai tersenyum, ia beralih meletakkan buku novel bersampul hiram itu diatas meja. Senyum merekah saat ia mendapati Valdo yang tengah berdiri diambang pintu seraya menggendong buah hati mereka.


"Mama!" suara kecil itu membuat Velyn tambah semangat lagi dalam menjalani perawatan. Tidak terkecuali Nino, yang sudah menahan rindunya seharian penuh karena tidak berjumpa dengan mamanya tercinta.


"Nino, mama kangen banget nak sama kamu" peluk cium Nino saat Valdo menggendong tubuh kecil bocah itu seraya memberikannya pada Velyn yang kini menangku Nino diatas bangsal. Sedangkan Valdo kini tersenyum lembut dan duduk disebelah bangsal Velyn.


Nino memeluk mamanya dengan erat, seolah kerinduannya ia tumpahkan saat Velyn seharian kemarin tidak kunjung pulang.


"Nio kangen sama mama"


"Mama juga kangen lo sama Nino, oh ya" Nino tersenyum pada papanya saat ia merogoh kantong celana kecil miliknya. Valdo hanya bisa mengedikkan bahu kala Velyn mengernyit seraya mengisyaratkan kata 'mengapa?'. Namun namanya ayah dan anak, pasti mereka merencanakan sesuatu saat ini. Batin Velyn yang menatap penuh curiga kearah Valdo yang terlihat terkekeh dibuatnya.


"Ini buat mama, tadi Nio main di mall sama papa liat jepit lambut bagus" kata Nino sambil memberikan jepit rambut berwarna merah itu kepada Velyn. Velyn menerimanya dengan pandangan berbinar. Ia kemudian mencium wajah Nino dengan gemas. Kenapa Nino ini semakin lama semakin membuat Velyn jatuh cinta saja. Bahagianya tumbuh saat pria kecil ini selalu memanggilnya mama. Padahal kenyataannya, ia hanyalah sebagai pengganti saja, seolah-olah Nino menganggap dirinya seperti mama yang melahirkannya, mama yang sedari dulu memeluknya dari kecil.


"Wah sayang, bagus sekali. Mama suka" kata Velyn seraya memeluk tubuh Nino agar bocah kecil itu bisa tertidur di pelukannya.


"Bial papa aja yang makein, ayo pa pakein jepit lambutnya ke mama" Valdo yang sedari tadi hanya terdiam kini matanya bergerak menatap Velyn yang sepertinya ragu. Namun sedetik kemudian gadis itu langsung memberikan jepit rambut itu pada Valdo lalu mengalihkan pandangannya. Bagaimanapun juga, Velyn tak mau terlalu memberikan harapan pada Valdo. Mungkin ia bisa melayani Valdo dengan sepenuh hati, tapi tidak ingin membiarkan Valdo berlarut-larut mendekatinya dengan penuh perasaan.


Valdo kemudian mendekatkan jemarinya untuk memakaikannya di sisi kiri rambut Velyn, membuat gadis itu tersenyum tipis seraya menatap Nino lagi yang ada di pangkuannya.


"Ma-makasih" Valdo mengangguk, mau Velyn memakai jepit rambut atau tidak, gadis ini tetaplah gadis tercantik didunia.


Pandangannya yang sayu dengan keceriaannya yang kini tengah menggoda Nino membuat Valdo tambah terpesona. Mungkin Velyn belum bisa menerimanya, tapi dengan perlahan dan waktu yang berbicara pasti gadis ini akan ia miliki seutuhnya. Bukan hanya seperti raganya saat ini, tapi juga hatinya.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, kini Nino yang sedari tadi berbincang dan bermanja dengan Velyn akhirnya tertidur di pelukannya. Menatap kedua malaikat ini membuat Valdo semakin damai dan tak ingin waktu berhenti, seolah semua indah dan membuat harta berharga ini tak ternilai.


Valdo tersenyum, ia kemudian beralih bangkit dan menyuruh Velyn untuk menggeser sedikit tubuhnya yang tengah berbaring di atas bangsal. Velyn hanya menurut saja, ia tak mau tidur Nino terganggu.


Tanpa Velyn sangka, kini Valdo tiba-tiba duduk disampingnya dan merangkul pundak Velyn yang tampak tak bisa menolak karena posisinya. Rasanya duduk sedekat ini dengan Valdo membuat jantung Velyn berdetak tak karuan. Pipinya bersemu merah kala pria itu tiba-tiba menarik kepala Velyn perlahan dan membiarkan kepalanya bersandar di dada bidang miliknya.


Padahal ini sudah pernah terjadi padanya, ia juga sering diperlakukan manis seperti ini. Tapi kenapa rasanya seperti ini tiap kali Velyn dekat dengan suaminya ini.


"Kak Valdo-"


"Udah, tidur aja, biar Nino juga ikut nyandar di dada aku. Aku nggak mau kamu kecapean gendong Nino kaya gitu" ucap Valdo seraya mengelus puncak kepala Nino, membuat Velyn hanya bisa mengangguk dan sedikit mencondongkan kepala Nino kearah dada Valdo yang sengaja ia berikan bantal untuk menyangga kepala Nino.


"Besok hari minggu, kita ajak Nino piknik yuk, pasti seru. Dia juga pasti bakal seneng nanti, gimana?" pertanyaan Valdo yang tiba-tiba membuat Velyn sedikit ragu. Ini pertama kalinya mereka bertiga pergi keluar. Rasanya sedikit canggung mengingat Velyn belum akrab sepenuhnya dengan pria satu ini.


"Selama ini aku jarang banget ngajakin Nino main di luar. Aku sibuk kerja dan nggak sempat punya banyak waktu buat dia, demi Nino, kamu mau kan ikut piknik sama-sama?" Velyn menghela nafasnya, ia mendongak menatap Valdo yang tersenyum padanya. Tatapan teduh itu, seolah membuat Velyn seperti tak mampu menolak. Velyn mengalah, lagipula hanya piknik saja bukan? hitung-hitung Velyn juga ingin menghilangkan penat.


***


Setelah sehari dua malam Velyn menjalani perawatan di rumah sakit, kini akhirnya rencana yang sudah Valdo persiapkan datsng juga. Membawa keluarga kecilnya untuk liburan di hari minggu, disebuah taman dan membawa beberapa makanan kecil untuk sejenak bersantai.


Velyn turun dari mobilnya seraya menggendong Nino yang kali ini mengalungkan tangannya di leher mamanya. Sedangkan Valdo membawa tikar kecil beserta makanan yang sudah Velyn persiapkan tadi di keranjang.


Entah mengapa perhatian Valdo sedari tadi tertuju pada istrinya. Gadis yang memakai setelan dress berwarna peach itu terlihat cantik dan semakin manis. Apalagi ketika ia tersenyum, rasanya Valdo ingin mencium gemas pipinya.

__ADS_1


"Nah, kita sudah sampai, Nino mau main apa terserah deh, tapi jangan jauh-jauh ya. Mama mau siapin makanan dulu okey?" Nino hanya tersenyum ria seraya berlari menjauh dari pandangan Velyn yang masih tampak mengawasinya.


Gadis itu kemudian berbalik, menatap Valdo yang kini masih terdiam dan melamun menatapnya. Bahkan keranjang makanan dan juga tikar yang ia bawa tak kunjung diturunkan olehnya, membuat Velyn berhambur dan memanggilnya.


"Kak Valdo! ngelamunin apa sih?!" tanya Velyn tiba-tiba membuat pria itu tersentak dan buru-buru membuyarkan lamunannya tentang Velyn yang kini tampak menahan tawanya.


"A-aku nggak apa-apa kok, cuma, cuma kagum aja. Pemandangan disini indah banget ya" kata Valdo memberikan alasan, namun Velyn hanya tersenyum seraya menunduk, meraih tikar yang dibawa oleh valdo dan menggelarnya di atas rumput tepat dibawahnya.


Valdo ikut duduk saat Velyn mencoba untuk meraih keranjang makanan yang berada ditangan satunya. Sial! Valdo bahkan sampai tidak bisa konsentrasi saat ini. Padahal Velyn sudah berada didepan matanya, namun tetap saja, rasa gugup juga jantungnya yang tidak bisa di kontrol itu membuatnya gugup saja.


Perlahan Velyn mengeluarkan sandwich yang ia buat tadi pagi, serta sup ikan kesukaan Nino. Ia mengambil selai strawberry dan selai coklat dari dalam sana, serta roti tawar yang sebelumnya sudah ia panggang sebelumnya.


"Kak Valdo mau makan apa?"


"Sandwich juga boleh" Velyn kemudian meraih sandwich itu dan memberikannya pada Valdo.


"Makasih" Velyn mengangguk, ia kemudian mengoleskan selai strawberry pada roti tawar dihadapannya. Velyn masih berkutat menatap dan mengawasi Nino yang tengah bermain tak jauh dari mereka duduk. Sambil mengunyah rotinya ia bahkan tak sadar akan selai strawberry yang kini tak sengaja menempel di sudut bibirnya.


Valdo yang menyadari akan hal itu menghentikan aktivitasnya mengunyahnya sejenak. Ia kemudian menyentuh sudut bibir Velyn. Velyn menelan kunyahan terakhir dari rotinya, matanya kini bertemu dengan kedua mata itu. Mata teduh Valdo yang selalu menenangkannya.


"Bibir kamu ada selainya" Velyn mengangguk seraya berterimakasih dengan singkat. Ia memutuskan pandangan itu yang semakin tak ingin ia lihat terlalu lama. Velyn menghela nafasnya, semenjak kemarin ia ingin mengatakan hal ini, namun Velyn masih belum berani. Tapi dengan tekatnya ia sudah meyakinkan diri untuk membahasnya.


"Nggak kerasa ya kita udah nikah tiga bulan aja" Valdo mengernyit, tatapannya yang sebelumnya menjurus pada pemandangan dihadapannya kini mulai teralihkan dan fokus pada Velyn.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?"


"Tinggal tujuh bulan lagi, dan kita akan pisah" Valdo membulatkan matanya kala Velyn mengatakan hal demikian. Perasaannya yang sebelumnya bahagia, bermekaran bagai bunga-bunga kini seperti sirna, tandus oleh angin yang dibawa oleh Velyn pergi menjauh darinya.


__ADS_2